Aaron Ramsey di Juventus: High Risk, Low Return

Aaron Ramsey memperkuat Juventus di Liga Champions. (Instagram/@aaronramsey)

Kalau masih mau bermain sepak bola, Aaron Ramsey harus rela mendapat pemotongan gaji karena Juventus sudah benar-benar tidak menginginkannya.

Oke... Harus mulai dari mana kita untuk bicara soal ini?

Aaron James Ramsey. Lahir 26 Desember 1990 di kota kecil bernama Caerphilly yang berjarak 11 kilometer dari Cardiff. Menurut laman Wikipedia-nya, Ramsey mulai bermain sepak bola pada umur sembilan tahun. Sebelum itu, olahraga kesukaan dia adalah rugbi. Di usia itu Ramsey pun mesti memilih apakah dia bakal menggeluti rugbi atau sepak bola karena ada dua klub, dari dua olahraga itu, yang memperebutkannya.

Namun, seperti kita tahu semua, Ramsey memilih sepak bola. Dia menerima pinangan dari Cardiff City dan memulai kiprah di akademi klub tersebut pada 1999. Tujuh tahun berselang dia dipromosikan ke tim utama. Ramsey menjalani debut untuk Cardiff City pada laga pemungkas musim 2006/07. Debut ini membuatnya jadi pemain termuda yang pernah bermain untuk The Bluebirds di kompetisi resmi.

Musim berikutnya, Ramsey kian sering mendapat kesempatan bermain untuk Cardiff. Waktu itu Cardiff masih bermain di Championship. Akan tetapi, Ramsey sempat beberapa kali berhadapan dengan klub Premier League di ajang turnamen domestik. Dari sinilah kemudian muncul ketertarikan dari Manchester United, Arsenal, dan Everton.

Memang mudah untuk jatuh cinta pada Ramsey. Dia bukan tipikal pemain Britania (masa itu) yang kaku dalam bergerak dan lebih mengandalkan kekuatan fisik. Gerak tubuh Ramsey lebih lentuk, sentuhan kakinya amat lembut, dan dia bisa melakukan hal-hal yang mungkin dibayangkan orang lain pun tak bisa. Ramsey, pendek kata, adalah seorang fantasista.

Kendati menyukai Manchester United sejak kecil, pilihan Ramsey justru jatuh pada Arsenal. Masuk akal, memang, karena Arsenal kala itu dikenal ramah terhadap pemain muda, terlebih pemain muda yang punya gaya main seperti Ramsey. Maka, pindahlah Ramsey ke Arsenal pada 2008 dengan nilai transfer 4,8 juta paun.

Sebelas tahun lamanya Ramsey bermain untuk Arsenal. Di tahun-tahun pertamanya, dia sempat dipinjamkan ke Nottingham Forest dan Cardiff City. Namun, selain itu, dia selalu menjadi pemain inti di The Gunners. Keberadaannya mampu membuat tim tampil lebih dinamis dan atraktif. Gol-gol penting juga lahir dari dirinya, termasuk gol kemenangan atas Chelsea di Final Piala FA 2017.

Selama sebelas musim itu, Ramsey bermain 371 kali dan mencetak 65 gol serta 65 assist untuk Arsenal. Tiga gelar Piala FA pun berhasil dia persembahkan. Dengan catatan demikian, muskil untuk menyebut masa-masa di Arsenal sebuah kegagalan bagi Ramsey. Akan tetapi, di balik itu semua, Ramsey sebetulnya menyimpan sebuah persoalan bernama cedera.

Delapan belas kali Ramsey mengalami cedera selama di Arsenal. Inilah yang membuat dirinya "cuma" bermain 371 kali. Total, selama 11 musim di Arsenal, Ramsey absen dalam 179 pertandingan. Problem ini dibawa pula oleh Ramsey ke Italia saat bergabung dengan Juventus pada 2019.

Juventus mendapatkan Ramsey secara bebas transfer dan, ketika itu, kepindahan ini tampak ideal. Juventus butuh sosok gelandang dinamis dan kreatif seperti Ramsey. Ramsey sendiri butuh tim yang lebih kompetitif dan bisa menggaransi trofi. Akan tetapi, untuk mewujudkan kepindahan Ramsey ini, Juventus mesti berkorban cukup banyak.

Sampai musim terakhirnya di Arsenal, Ramsey digaji 110 ribu paun per pekan. Angka ini saja sebetulnya sudah terbilang besar, bahkan untuk standar Premier League sekalipun. Menurut data Professional Football Scouts Association (PFSA), saat ini gaji rata-rata pemain Premier League adalah 60 ribu paun per pekan. Tiga tahun lalu, gaji Ramsey sudah hampir dua kali lipat angka tersebut.

Sekali lagi, kita harus memahami cara pandang Juventus waktu itu. Mereka tahu bahwa Ramsey rentan cedera. Namun, ketika bisa bermain, pria 31 tahun itu bisa membuat perbedaan. Juventus waktu itu (dan sampai sekarang) membutuhkan sekali pemain seperti Ramsey. Sehingga, Si Nyonya Tua pun berani menawarkan gaji yang nilainya jauh lebih besar: 200 ribu paun per pekan.

Mungkin ada yang pernah membaca bahwa gaji Ramsey adalah 400 ribu paun per pekan dan itu juga benar. Namun, 400 ribu paun itu belum termasuk pajak. Di Italia, nilai gaji pemain yang diumumkan selalu nilai sebelum dipotong pajak. Maka, benar bahwa Ramsey menerima 400 ribu paun per pekan tetapi separuhnya harus dia serahkan ke pemerintah Italia sehingga nilai gaji bersihnya adalah 200 ribu paun per pekan.

Meski begitu, nilai 200 ribu paun per pekan itu tetap luar biasa. Dia mendapat nyaris dua kali lipat gajinya di Arsenal dan menjadi salah satu pemain Serie A dengan gaji tertinggi. Juventus berani berjudi dengan risiko tinggi demi Ramsey. Namun, lagi-lagi, seperti kita tahu semua, hasilnya nyaris tidak ada.

Gol terakhir Ramsey untuk Juventus lahir nyaris setahun lalu. Selama tiga musim dia sudah absen 35 kali karena cedera. Musim ini, Ramsey baru bermain 3 kali di Serie A dengan dua di antaranya sebagai pengganti. Ramsey juga cuma bermain 90 menit sebanyak dua kali di Serie A sampai sejauh ini. Ya, dia punya satu gelar Scudetto, tetapi namanya lebih kerap terpampang di daftar absen atau daftar pemain cadangan.

Sebelum datang ke Juventus, di setengah musim terakhir bersama Arsenal, Ramsey mengalami cedera cukup parah saat berhadapan dengan Napoli di Liga Europa. Cedera itu membuat Ramsey harus bergabung dengan Juventus pada musim panas dengan kondisi masih menjalani rehabilitasi.

Namun, Ramsey sendiri diuntungkan dengan perubahan yang terjadi di Juventus. Pada musim panas 2019 itu Juventus memberhentikan Massimiliano Allegri dan menggantikannya dengan Maurizio Sarri. Di atas kertas, gaya main Sarri kompatibel dengan cara main Ramsey.

Di bawah asuhan Sarri, setelah pulih dari cedera, Ramsey banyak dimainkan sebagai pemain nomor sepuluh dan sebenarnya dia cukup bagus. Pergerakan-pergerakan apiknya membuat lini serang Juventus sedikit lebih hidup. Dia juga sukses mencetak satu gol ke gawang rival bebuyutan Juventus, Internazionale.

Sayangnya, setelah itu pandemi virus Corona melanda dan segalanya tak lagi sama. Kompetisi harus mengalami penundaan dan ini berimbas pula pada hilangnya momentum Ramsey yang juga sempat terjangkit virus. Juventus memang masih bisa juara Serie A di musim 2019/20 itu tetapi tak ada seorang pun yang bisa mengatakan mereka bermain bagus.

Maka, Sarri pun dipecat lalu digantikan oleh Andrea Pirlo. Meski ada pergantian pelatih, Ramsey sebetulnya masih diuntungkan dengan kondisi yang ada. Pandemi membuat skuad Juventus menipis dan Pirlo mesti menggunakan semua pemain yang tersedia. Ditambah lagi, Pirlo punya rencana jelas untuk Ramsey.

Awalnya, Ramsey dimainkan sebagai gelandang hibrida. Di atas kertas, posisi Ramsey adalah gelandang kiri. Akan tetapi, pada praktiknya, ketika tim sedang menyerang, Ramsey akan maju untuk menjadi second striker. Ketika Juventus dalam fase transisi menyerang ke bertahan pun Ramsey masih berada di posisi itu. Baru ketika Juventus sudah benar-benar bertahan, Ramsey kembali ke sebelah kiri.

Dengan peran itu, Ramsey sempat memukau juga. Dia sukses menghasilkan sejumlah peluang terutama untuk Cristiano Ronaldo. Akan tetapi, cedera membuat semuanya berantakan. Ramsey makin sering absen dan tak pernah punya momentum untuk bangkit kembali sampai detik ini. Allegri yang kembali melatih Juventus pada awal musim ini malah sudah berulang kali "mengusir" Ramsey dari Continassa (meskipun ini lebih dikarenakan Ramsey tidak kompatibel dengan taktik Allegri).

Yang menarik, meski sering sekali absen dan tidak berada dalam kondisi fit saat bersama Juventus, Ramsey selalu bisa mengerahkan segalanya untuk Timnas Wales, termasuk di Euro 2021 lalu. Dari sini kemudian muncul pertanyaan. Kenapa bisa ada dua Aaron Ramsey yang berbeda?

Ramsey sendiri tahu bahwa dia rentan cedera. Oleh karena itu, dia sampai memiliki tim pribadi untuk senantiasa menjaga kebugaran fisiknya. Akan tetapi, mengapa kebugaran fisik itu cuma tampak saat Ramsey mengenakan seragam Timnas Wales?

Entahlah. Tak ada yang benar-benar tahu jawabannya kecuali Ramsey sendiri dan Tuhan. Yang jelas, rangkaian cedera Ramsey membuatnya gagal bersinar di Juventus. Instabilitas di skuad Juventus dengan tiga pergantian pelatih dalam tiga musim terakhir juga tidak membantu. Tim tidak bisa tampil optimal dan Ramsey turut menanggung akibatnya.

Bagi Ramsey sendiri, angkat kaki dari Torino adalah solusi terbaik karena dia jelas-jelas sudah tak diinginkan. Hanya, permasalahannya sekarang adalah soal gaji. Besarnya gaji Ramsey membuat Juventus sulit mencari peminat. Kuncinya sekarang ada di Ramsey sendiri. Kalau dia memang masih mau bermain, dia mesti rela menerima pemotongan gaji. Sesederhana itu.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.