Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now

AC Milan Jitu Membeli Pemain, Bagaimana di Bursa Transfer Musim Dingin?

Twitter @acmilan

Ada dua nama yang dikabarkan tengah AC Milan bidik: Mohamed Simakan dan Kouadio Kone. Keduanya masih muda dan sama-sama dari Liga Prancis. Kira-kira cocokkah buat Milan?

Salah satu faktor kesuksesan AC Milan sejauh ini adalah kejelian dan kejituan mereka dalam pembelian pemain. Oleh karena itu, pergerakan mereka di bursa transfer musim dingin layak mendapatkan perhatian.

Ibarat balapan Formula 1, jendela transfer adalah pit stop buat Milan. Ini adalah momentum untuk menginjeksi bahan bakar serta memperbaiki komponen dengan efektif dan efisien.

Tidak ada yang lupa 'kan kalau pasukan Stefano Pioli itu masih jadi capolista sejauh ini? Sudah 40 poin mereka kumpulkan dari 17 laga. Sebuah pencapaian luar biasa buat klub yang rutin finis di papan tengah selama 7 musim terakhir.

Well, itu semua tak bisa dilepaskan dari kontribusi Zlatan Ibrahimovic, Rafael Leao, Theo Hernandez, dan Simon Kjaer. Perlu diingat bahwa mereka adalah personel yang Rossoneri gaet pada bursa transfer musim lalu. Perlahan tapi pasti, mereka mulai menunjukkan dampak signifikan.

Lihat Ibrahimovic. Walaupun sudah uzur --usianya sudah 39 tahun--, kontribusinya tak main-main. Total 10 gol ia buat dari 7 pementasan liga. Kemudian Leao yang makin komplet. Striker 21 tahun itu sudah mencetak 5 gol dan menyumbang 4 assist.

Tak ketinggalan Hernandez yang sukses menyumbang 4 gol dan 3 assist. Dia tumbuh menjadi salah satu full-back yang diperhitungkan sekarang.

See? Cukup merepresentasikan bahwa jendela transfer merupakan termin penting kebangkitan Milan. Dari yang semula rada semenjana sampai akhirnya muncul sebagai kandidat juara.

Lantas, bagaimana pergerakan Milan di bursa transfer musim dingin ini? Adakah pemain yang mereka bidik?

Mohamed Simakan

Rumor transfer Mohamed Simakan ke Milan sudah jadi santapan sejak jendela transfer dibuka. Pakar transfer Italia, Fabrizio Romano, menyebut bahwa Milan telah menyiapkan 15 juta euro untuk menebus Simakan dari Strasbourg.

Negosiasi keduanya cenderung lunak. Kedua pihak dikabarkan sepakat meski Strasbourg awalnya mematok 20 juta euro buat bek sentral berusia 20 tahun itu.

Wajar, sih, karena Simakan merupakan pemain vital Strasbourg. Bersama Kenny Lala, Simakan menjadi personel yang rutin dipilih pelatih Les coureurs, Thierry Laurey. Ia sudah 19 kali mentas dari 19 laga Ligue 1. Dalam rentang waktu itu pula dia sukses memproduksi masing-masing satu gol dan assist.

Secara garis besar, nilai jual Simakan adalah kemampuan fisiknya. Dia tergolong cepat untuk bek berpostur 187 sentimeter. Itu juga didukung dengan kejeliannya dalam membaca permainan lawan.

Menurut WhoScored, Simakan mengukir rata-rata 1,6 intersep per laga --terbanyak ketiga di Strasbourg. Sebagai pembanding, jumlah itu masih lebih banyak dari Kjaer sebagai bek dengan intersep tertinggi Milan --di angka 1,3.

Oh, ya, Simakan juga lumayan soal pendistribusian bola. Dia jadi salah satu kurir pilihan Laurey dalam  fase pertama build-up serangan.

Nah, karakteristik Simakan ini bakal cocok dengan skema Pioli yang gemar membangun serangan dari lini belakang. Dari lini pertama, arsitek pelontos tersebut memaksimalkan peran Kjaer sebelum disalurkan ke Franck Kessie dan Ismael Bennacer di area tengah.

Sementara soal urgensi, Milan sebenarnya belum butuh-butuh amat tambahan personel di divisi pertahanan. Sejauh ini Rossoneri baru kemasukan 19 gol di Serie A --terbaik keempat setelah Juventus, Napoli, dan Verona. Itu sekaligus jadi bukti ciamiknya duet Kjaer dan Alessio Romagnoli sebagai bek sentral.

Lagipula, Pioli masih punya Matteo Gabbia, Pierre Kalulu, Leo Duarte, dan Mateo Musacchio sebagai serep. Meski, ya, secara kualitas keempatnya masih belum sepadan dengan Kjaer serta Romagnoli.

Paling banter, sih, Gabbia. Selain jago mendistribusikan bola, bek 21 tahun itu juga kerap memenangi duel udara. Rata-ratanya menyentuh 2,5 per laga. Jumlah itu cuma kalah dari Ibrahimovic dan Romagnoli. Jadi cukup masuk akal kalau Pioli 6 kali memasangnya sebagai starter di Serie A.

Namun, tak ada salahnya menggaet Simakan. Kecepatan serta kemampuan fisiknya bisa melengkapi karakteristik bek-bek Milan sekarang. Toh, usianya juga masih muda. Simakan bisa jadi pilihan ideal untuk proyek jangka panjang Milan.

Kouadio Kone

Langkah Milan buat membidik Kouadio Kone rada nyentrik, nih. Pasalnya, pemain 19 tahun ini bukan mentas di level teratas liga top Eropa. Dia main untuk Toulouse yang saat ini berada di Ligue 2.

Namun, bakat terkadang tak tahu tempat. Banyak pemain hebat muncul di klub medioker. Kone salah satunya --setidaknya itu yang dianggap oleh pencari bakat Milan.

Kone mengadu nasib ke Toulouse pada 2016 setelah menimba ilmu di Paris FC and AC Boulogne-Billancourt. Dua tahun kemudian dia mendapatkan debutnya bersama Les Violets.

Eksistensinya makin kentara pada musim 2019/20. Kone tampil 13 kali dan 11 di antaranya sebagai starter. Meski, ya, Toulouse mesti terdegradasi karena jadi juru kunci.

Namun, dari situ Kone mulai menegaskan posisinya sebagai gelandang reguler Toulouse. Pun setelah kursi pelatih berganti ke Patrice Garande.

Kone bisa disebut sebagai gelandang box-to-box. Mobilitasnya tinggi dan punya daya jelajah luas. Ambil contoh pada musim lalu, Kone dipasang sebagai gelandang tengah dalam pakem 4-1-4-1. Tugasnya rada kompleks: Membantu Quentin Boisgard yang bertugas lebih ofensif plus melindungi back-four seperti yang diemban Ibrahim Sangare.

Maka jangan heran kalau aksi defensif Kone terhitung apik. Rata-rata tekel dan intersepnya menyentuh 2,7 dan 1,5 per laga. Spesialiasi ini yang dibutuhkan Milan. Karena, ya, Pioli memerlukan gelandang dinamis untuk mengisi format 4-2-3-1.

Betul bahwa Milan masih punya empat gelandang tengah sekarang. Akan tetapi, Pioli masih belum menemukan serep ideal Kessie. Bennacer dan Sandro Tonali cenderung bermain lebih dalam. Sementara Rade Krunic masih kurang perform. Itulah mengapa Kessie penting buat Pioli. Cuma sekali dia absen di Serie A musim ini.

Dari tipikal permainan, sih, Kone terbilang cocok buat menjadi pelapis Kessie. Selain punya atribut defensif, dia juga terhitung aktif dalam membantu serangan. 


Kendati demikian, kans Milan untuk mendapatkan Kone mulai menipis. Media Prancis, L'Equipe, mengabarkan bahwa gelandang U-19 Prancis itu bakal merapat ke Borussia Moenchengladbach. Mereka berani membayar Toulouse 9 juta euro plus bonus 1 juta euro. Jumlah itu dua kali lipat dari angka yang disodorkan Milan.

So, bagaimana, Rossoneri?

Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now