Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now

Agar Timnas Indonesia Tak Sekadar Hampir

Foto: Twitter @PSSI

Lima kali masuk final, Indonesia tak pernah sekalipun mencicipi rasanya juara Piala AFF. Bagaimana dengan tahun ini?

Timnas Indonesia hanya sebatas hampir juara sepanjang gelaran Piala AFF. Lima kali masuk final, Indonesia tak pernah sekalipun mencicipi rasanya juara.

Piala AFF 2010 menjadi salah satu yang paling menyakitkan untuk dikenang. Apalagi, di situ Indonesia mentas dengan pemain-pemain terbaiknya.

Cristian Gonzales yang tampil menawan di kompetisi lokal telah dinaturalisasi. Pelatih Timnas Indonesia, Alfred Riedl, juga bisa memasukkan nama Irfan Bahcdim yang memilih berwarganegara Indonesia. Ahmad Bustomi dan Firman Utina juga sedang dalam usia emas sebagai duet di lini tengah.

Indonesia membuka turnamen juga sangat gemilang. Malaysia yang menjadi lawan digasak dengan skor 5-1. Fase grup pun dilalui dengan sempurna. Salah satunya juga mengalahkan Thailand dengan skor 2-1.

'Garuda' lolos dengan meraih tiga kemenangan. Mereka juga sanggup menciptakan 13 gol dan cuma kebobolan dua kali.

Penampilan ciamik berlangsung di babak semifinal melawan Filipina. Dalam pertarungan dua leg, Indonesia menang dengan skor 2-0. Dua laga tersebut membuktikan betapa tak sia-sianya Indonesia menaturalisasi Gonzales.

Tibalah Indonesia di partai puncak. Lawan yang dihadapi juga Malaysia. Tim yang digasak di laga pembuka dengan skor 5-1.

Optimisme yang membuncah dari suporter Indonesia malah menjadi bumerang. Adegan laser yang mengganggu Markus Horison hingga dugaan pengaturan skor membuat Indonesia tumbang di Stadion Bukit Jalil dengan skor 0-3.

Apes, di leg kedua yang berlangsung di Gelora Bung Karno, Indonesia cuma bisa menang 2-1. Alhasil, Malaysia yang keluar sebagai juara dengan agregat 4-2.

****

Tahun ini Piala AFF kembali digelar. Mestinya, turnamen sepak bola antarnegara Asia Tenggara itu digelar tahun lalu. Akan tetapi, pandemi COVID-19 yang melanda seluruh dunia membuat turnamen ditunda satu tahun meski memakai judul Piala AFF 2020.

Sama seperti 11 tahun lalu, Indonesia juga datang dengan kepercayaan diri yang tinggi. Persiapan yang matang ditambah ramuan ciamik dari Shin Tae-yong membuat kans Indonesia menjadi juara terbuka lebar.

Seperti yang sudah-sudah, federasi mengirim tim untuk melakukan pemusatan latihan menjelang turnamen digelar. Kali ini, Turki yang menjadi tempat bagi Egy Maulana Vikri dan kolega berlatih dan beruji coba.

Bertepat di Antalya, Turki, Indonesia sudah melakoni tiga uji coba yakni melawan Afghanistan, Myanmar, dan klub lokal. Dari uji coba yang sudah dilakukan, ada beberapa poin positif dan juga yang harus dibenahi oleh Evan Dimas dan kolega. Apa saja itu?

Hal yang Mesti DIbenahi Timnas Indonesia

Shin Tae-yong tampak geram dengan para pemain Timnas Indonesia di sesi latihan beberapa waktu lalu di Jakarta. Dalam latihan passing, para pemain cenderung pasif dan tidak antusias untuk meminta bola atau bergerak.

Pasifnya para pemain Timnas juga terlihat dalam uji coba melawan Afghanistan 16 November lalu. Saat mendapatkan pressing dari pemain lawan, para pemain terlihat kesulitan untuk melakukan operan. Hal ini tentu karena kurang aktifnya pemain untuk membuka ruang dan meminta bola kepada rekan.

Oleh sebab itu, para pemain sering sekali melakukan kesalahan sendiri. Salah passing dan buang-buang bola banyak terjadi di laga melawan Afghanistan, khususnya babak pertama.

Kerepotan melawan pressing lawan memang harus dipecahkan oleh Shin. Sebab, fragmen yang sama juga terjadi saat Timnas U-23 melawan Australia di babak kualifikasi Piala Asia. Di situ, Timnas U-23 yang juga dilatih Shin sangat kesulitan melepaskan diri dari pressing pemain lawan.

Hal lain yang mesti dibenahi oleh pasukan Shin Tae-yong adalah stamina dan konsentrasi penuh selama 90 menit. Dua uji coba yang berlangsung di Turki memperlihatkan buruknya konsentrasi pemain jelang pertandingan usai.

Pada pertandingan melawan Afghanistan, Indonesia kebobolan di menit ke-86. Gol bermula dari buruknya koordinasi Victor Igbonefo dan Fachrudin Ariyanto.

Melawan Myanmar, Indonesia kebobolan di menit ke-76. Para pemain tak sigap dalam mengantisipasi bola mati dari lawan.

Masalah stamina dan konsentrasi juga berpengaruh pada intensitas permainan Indonesia. Melawan Myanmar misalnya, mereka tak lagi menekan dan mendapatkan kans membuat gol di 15 menit akhir babak kedua.

Hal Positif dari Timnas Indonesia

Shin sepertinya sudah menemukan komposisi yang pas untuk Timnas Indonesia. Pada pos gelandang, Shin selalu memainkan trio Ricky Kambuaya, Rachmat Irianto, dan Evan Dimas bahkan dari babak playoff Kualifikasi Piala Asia 2023 melawan China Taipe.

Peran dan tugas masing-masing pemain pun sudah sangat jelas. Rian akan bertugas sebagai pemotong serangan lawan. Dalam dua uji coba melawan Afghanistan dan Myanmar, pemain Persebaya itu total membikin enam intersep, dua tekel, dan dua sapuan.

Sementara, rekan setimnya yakni Ricky Kambuaya akan menambah kuantitas di kotak penalti lawan. Postur serta ketenangannya di depan gawang mampu menambah opsi sumber gol Indonesia. Kambuaya sudah memperlihatkan kapasitasnya saat bersua Afghanistan.

Lalu, ada Evan Dimas yang bertugas menjadi kreator serangan. Sentuhan serta operan dari pemain Bhayangkara FC itu masih sangat dibutuhkan oleh Indonesia.

Kemudian, Timnas juga memiliki lini depan yang cukup cair. Siapa saja yang dimainkan, mereka bisa menjalankan peran yang memang diinginkan oleh pelatih asal Korea Selatan itu.

Ezra Walian, Dedik Setiawan, dan Kushedya Hadi punya kemampuan sebagai pemantul dan membuka ruang yang baik. Ketiganya bisa memberikan ruang bagi para winger yang kemungkinan akan diisi Irfan Jaya, Witan Sulaeman, Ramai Rumakiek, atau Egy Maulana Vikri untuk menusuk ke dalam kotak penalti.

Pergerakan yang cair dari para pemain depan tentu bisa merusak organisasi pertahanan lawan. Mereka bisa saling tukar posisi karena sama-sama memiliki penyelesaian peluang yang mumpuni.

Hal positif lain yang didapatkan Timnas Indonesia jelang Piala AFF adalah Elkan Baggott. Bek milik Ipswich Town itu tampil sempurna dalam debutnya membela Timnas Indonesia melawan Afghanistan.

Penempatan posisi, kecermatan membaca umpan, serta keberanian melakukan duel menjadi nilai positif yang dituangkan Baggott. Empat intersep menjadi cukup bukti betapa baiknya Baggott membaca operan lawan. Pemain berusia 19 tahun itu tinggal ditandemkan dengan sosok yang tepat di lini belakang.

****

Di Piala AFF, Indonesia tergabung di Grup B bersama Vietnam, Malaysia, Kamboja, dan Laos. Grup ini tak bisa dibilang mudah karena 'Garuda' punya rekor perjumpaan yang buruk melawan Vietnam dan Malaysia di dua tahun belakangan.

Namun, dengan hal positif yang sudah diperlihatkan di Turki ditambah pembenahan pada titik lemah, bukan tak mungkin Indonesia akan keluar dari babak grup dan menjadi juara Piala AFF 2020. Semoga.

Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now