Alfa, Omega, Paul Pogba

Foto: Instagram @Paulpogba.

Di lini tengah Manchester United yang lebih mirip seperti sebuah Lego ketimbang puzzle, ada Paul Pogba. Kendati sering terganggu cedera, ia tetaplah sosok penting buat United.

Manchester United berprogresi, tetapi belum sepenuhnya utuh. Di dalam kepala Ole Gunnar Solskjaer, ada sebuah gambar besar yang masih kehilangan kepingan di sana-sini.

Solskjaer barangkali adalah panasea—atau setidaknya begitulah yang United harapkan padanya. Ketika ia datang, United adalah tubuh berpenyakit dengan simtom menahun. Repotnya, sudah tahu tubuh sedang sakit, yang sibuk mereka lakukan justru bersolek.

Tak peduli berapa banyak gincu yang kau bubuhkan, kalau tubuhmu tak beres, toh, akan kolaps juga. Selama bertahun-tahun, United sibuk mendatangkan pemain-pemain mahal tanpa ada kontribusi berarti ke klub. Dari Angel Di Maria hingga Radamel Falcao, dari Romelu Lukaku hingga Alexis Sanchez.

Di antara mereka yang didatangkan pada era babak-belur itu, ada Paul Pogba. Sampai saat ini, Pogba masih menjadi enigma: Apakah dia pembelian yang berhasil atau gagal? Namun, menyebut Pogba tak berguna adalah anggapan yang malas.

Sampai sebelum kedatangan Bruno Fernandes, Pogba secara konsisten menjadi salah satu kreator peluang terbanyak untuk ‘Iblis Merah’. Maka, sempat muncul perkiraan bahwa United akan membangun lini tengah mereka di sekeliling Pogba.

Pada akhirnya, perkiraan itu tidak terbukti. Pogba bukan alfa, bukan pula omega untuk lini tengah United. Meski demikian, ia tetaplah kepingan penting.

Jika Solskjaer menjadikan Bruno sebagai alfa (titik mula) lini tengah yang ingin ia bangun, sejauh ini omega-nya (titik akhir) belum terllihat. Di antara semua itu, barulah ada Pogba.

Lini tengah United-nya Solskjaer memang unik. Alih-alih seperti sebuah puzzle, ia lebih mirip susunan Lego. Dengan pemain-pemain yang memiliki atribut beragam, Solskjaer bisa menyusunnya sesuai kebutuhan. Namun, selayaknya Lego, salah kepingan bentuknya pun tak akan elok.

Ambil contoh alasan Solskjaer memilih menduetkan Fred dan Scott McTominay sebagai poros ganda dalam formasi 4-2-3-1. Di antara Fred dan McTominay, tak ada satu pun yang berperan sebagai holding midfielder. Kendati begitu, keduanya saling melengkapi.

Fred dan McTominay sama-sama memiliki energi, tetapi menyalurkannya dengan cara berbeda. Fred, yang lebih mobile dan liat, biasa mendapatkan peran sapu jagat; ia bisa menjaga zona, pemain, sekaligus melakukan intersep dan tekel di seluruh penjuru lapangan.

Sementara itu, McTominay—meski cukup piawai mengawal zona dan pemain—lebih sering berperan sebagai gelandang box-to-box. Ini disebabkan gaya main McTominay yang lebih direct dan kemampuannya dalam menyelesaikan peluang serta memberikan operan lebih baik daripada Fred.

Sejauh ini, duet keduanya adalah yang paling seimbang untuk lini tengah United. Berbeda, misalnya, jika Fred diduetkan dengan Nemanja Matic. Alih-alih bermain sebagai gelandang box-to-box, Matic biasanya berperan sebagai holding midfielder. Ia lebih suka mengontrol segalanya dari kedalaman ketimbang bergerak dinamis seperti McTominay.

Maka, apabila Fred berduet Matic, kelemahan yang muncul biasanya adalah minimnya pergerakan dinamis di lini tengah. Selain itu, salah satu di antara keduanya biasanya lambat menutup ruang.

Lantas, bagaimana dengan Pogba? Well, ini yang menarik. Jika Bruno adalah kreator utama dan punya peran besar menciptakan peluang di sepertiga akhir lapangan, Pogba berbeda.

Sebagai gelandang, Pogba punya kemampuan komplet: Ia cerdas, tetapi juga bertenaga; punya flair, tetapi juga cukup ulet. Pogba adalah perwujudan sempurna dari best of both worlds. Kendati begitu, dari musim ke musim, United seperti kebingungan bagaimana sebaiknya memainkannya.

Idealnya, ketika ia bermain bersama Bruno, gelandang ketiga yang bisa dimainkan semestinya adalah seorang holding midfielder yang bisa memberikan keseimbangan. Namun, satu-satunya gelandang yang bisa memainkan peran tersebut di United hanyalah Matic.

Andai Matic masih seperti beberapa musim silam, perkara ini selesai. Namun, dengan usia yang hampir 33, Matic tidak sedinamis sebelumnya. Maka, ini bisa menjadi problem.

Opsi lain adalah memainkan Fred sebagai jangkar. Namun, mengingat Fred terbiasa untuk menjelajah lapangan, ia bukan pilihan ideal untuk menjadi seorang holding midfielder. McTominay? Seperti yang sudah dibilang sebelumnya, ia lebih cocok menjadi gelandang box-to-box.

Inilah yang membuat keberadaan Pogba menjadi tricky. Cara paling ideal untuk memainkannya adalah dalam format tiga gelandang dengan holding midfielder atau empat gelandang seperti yang terjadi pada laga melawan AC Milan di leg II babak 16 besar Liga Europa.

Ketika masuk pada babak kedua—menggantikan Marcus Rashford—, Pogba bermain bersama Bruno, Fred, dan McTominay. Ketika Fred dan McTominay bisa memberikan keseimbangan, kinerja Pogba dan Bruno untuk menjadi katalis di sepertiga akhir lapangan menjadi lebih mudah.

Pilihan lain adalah memainkan Pogba dan Bruno sebagai gelandang dalam formasi 4-4-2 berlian. Namun, untuk memainkan ini pun tetap membutuhkan seorang gelandang yang bisa bermain sebagai holding midfielder. Jadi, jangan heran apabila dalam beberapa bursa transfer ke depan, mereka mengincar gelandang yang bisa menjadi holding midfielder.

Kendati demikian, bukan berarti Pogba tidak akan berkontribusi maksimal. Sempat terganggu cedera dan COVID-19, Pogba masih bisa menunjukkan bahwa dirinya adalah salah satu pemain paling penting di klub.

Meski baru bermain 1.344 menit di Premier League musim ini, Pogba masih bisa mengkreasikan 0,87 umpan kunci per 90 menit. Catatan tersebut masih kalah dari Bruno ataupun Luke Shaw, tetapi untuk pemain yang baru bermain 19 kali (sepuluh laga lebih sedikit dari jumlah penampilan Bruno di Premier League), catatan tersebut terbilang lumayan.

Peran lainnya yang bisa Pogba ambil adalah sebagai opsi untuk mencetak gol dari second line. Sejauh musim ini berjalan, Pogba acap muncul menjadi pemecah kebuntuan ketika United kesulitan untuk mendobrak lini pertahanan yang rapat. Golnya ke gawang Fulham hanya satu contoh dari apa yang bisa ia lakukan ketika tim lawan bertahan dengan kerapatan dan garis pertahanan rendah.

So, sekalipun Pogba bukanlah awal dan jelas bukan kepingan terakhir untuk melengkapi lini tengah United, boleh jadi dialah yang akan mengaitkan itu semua.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.