Alvaro Morata, Si Nomad yang Makin Lengkap

Foto: Twitter @juventusfc.

Bersama Juventus, Morata mulai berevolusi. Dia menjadi striker yang lebih komplet dari sebelumnya.

Antonio Diaz mempertontonkan sulap yang tak biasa di suatu malam. Dia berjalan menerobos penonton dan mengajak sepasang kekasih untuk naik ke panggung.

"Ini akan menjadi trik terbaik yang pernah Anda lihat," ucap ilusionis beralias El Mago Pop itu.

Diaz kemudian menggandeng tangan perempuan itu, menuntunnya bergerak setengah lingkaran ke kanan. Si pria cuma tertawa sambil melihat sang kekasih membelakanginya.

Sembari Diaz berbicara dengan kekasihnya, si pria mengeluarkan cincin dan berlutut. Seketika semua pentonton tahu kalau itu bukan sulap, itu aksi lamaran.

Selalu ada dua probabilitas untuk aksi semacam ini. Mungkin diterima, mungkin juga ditolak mentah-mentah. Ya, segawat itu risikonya.

Untungnya, perempuan itu memilih kemungkinan pertama. Setelah membalikkan badan, dia tersenyum lalu memeluk pasangannya, pertanda lamaran diterima.

Tahu aksinya bisa mengikat atensi, Diaz kemudian mengangkat kedua tangannya di atas. Macam selebrasi yang dilakukan para pesulap selepas pamer trik. 

Tapi, bukan Diaz yang jadi bintang panggung saat itu. Alvaro Morata-lah yang jadi aktornya. Dialah pria yang dimaksud. Dia melamar Alice Campello, yang kemudian jadi istrinya sampai detik ini.

***

Morata selalu punya cara spesial, karena dia memang bukan pemain biasa. Kariernya sudah cemerlang semenjak remaja. 

Lihat saja keberhasilannya mengantar Spanyol juara Piala Eropa U-19 dan U-21. Yang bikin paripurna, Morata juga berhasil menyabet titel Sepatu Emas pada kedua turnamen itu.

Morata juga mendapatkan privilege karena berstatus pemain Real Madrid yang notabene salah satu klub terbaik di dunia. Meski, ya, tumbuh besar di El Real tak selalu berujung manis. Tak sedikit alumni mereka yang gagal, sebut saja Roberto Soldado, Jose Manuel Jurado, dan Javi García.

Namun, bukan istimewa namanya kalau berakhir seperti orang kebanyakan. Morata tak seperti para pendahulunya itu. Dia berhasil menjaga eksistensinya sampai sekarang. Walau tak lagi menjadi bagian Madrid.


Awal musim 2020/21, Morata memulai petulangannya ke Juventus. Ini kali kedua dia membela klub Turin tersebut. Sebelumnya mereka pernah beriringan dua musim, tepatnya pada edisi 2014/15 dan 2015/16.

Tak buruk. Morata sukses menyumbang 27 gol dan 18 assist dari 93 laga bersama Juventus di lintas kompetisi. Di sana pula dia mendapatkan sepasang titel Serie A dan Coppa Italia serta satu trofi Supercoppa Italia.

Betul, sih, kalau Morata memang intens jadi pelapis di lini depannya Massimiliano Allegri. Pada musim 2014/15, misalnya, dari 27 pementasan di Serie A, cuma 11 kali dia masuk starting XI. Allegri kala itu lebih condong ke Carlos Tevez dan Fernando Llorente untuk mengisi pos striker di wadah 3-5-2.

Nasib Morata masih tak berubah semusim berselang. Striker berpostur 1,90 meter itu masih kerap duduk di bench meski Tevez dan Llorente sudah hengkang.

Malah Paulo Dybala dan Mario Mandzukic yang jadi pilihan utama Allegri. Padahal keduanya baru diboyong awal musim itu juga. Belum ditambah dengan Simone Zaza yang baru ditebus Juventus dari Sassuolo.

Namun, jangan salah. Produktivitas Morata lumayan bagus walau terhambat jam terbang. Masing-masing 7 gol dan assist dibuatnya dari 1.456 menit tampil di Serie A.

Dengan kata lain, Morata cuma butuh 104 menit untuk menyumbang gol atau assist.Dia masih lebih efektif dari Zaza yang mencatatkan 137 menit per gol/assist dan Mandzukic di angka 146.

Makanya Madrid tak pikir panjang buat mengaktifkan buy-back clause Morata di musim 2016/17. Ini bisa dibilang sebagai siasat transfer mereka. Toh, semusim berselang mereka melego Morata seharga dua kali lipat ke Chelsea.

Namun, Morata tak lama singgah di Stamford Bridge. Cuma 1,5 tahun. Chelsea memulangkannya ke klub masa kecilnya, Atletico Madrid.

Pada setengah musim La Liga 2018/19, Morata bikin 6 gol. Tak cukup banyak memang. Akan tetapi, itu membuatnya jadi topskorer kedua tim setelah Antoine Griezmann.

Kuasanya baru tampak di edisi berikutnya. Tepatnya, setelah Griezmann cabut ke Barcelona. Morata jadi produsen gol terbanyak Atletico dengan 16 gol di semua ajang.

Namun, manajemen Atletico memilih untuk meminjamkan Morata ke Juventus. Salah satu pertimbangannya, ya, karena Diego Simeone baru mendapatkan Luis Suarez. Secara cuma-cuma pula.

Menariknya, kedatangan kedua Morata di Juventus tak ubahnya seperti yang sudah-sudah: Jadi serep di lini depan. Sekarang pesaingnya bukan cuma Dybala, tetapi juga Cristiano Ronaldo.

Tidak, situasinya tidak sama saat keduanya masih main bareng di Madrid. Saat itu Ronaldo masih bermain di penyerang sayap. Jadi, Morata tidak berebut tempat dengan dirinya. Adalah Benzema yang jadi kompetitor Morata selama berseragam Madrid.

Namun, sekarang, Ronaldo sudah beralih posisi menjadi striker. Terlebih Andrea Pirlo intens mengaplikasi pakem 4-4-2. Dengan kata lain, dia cuma butuh sepasang penyerang. Kalau tidak Ronaldo, ya, Dybala.

Makanya tidak ada garansi bagi Morata buat tampil reguler di Juventus. Kalaupun ada, dia mesti rela menjadi "pelayan" Ronaldo. Pasalnya, superstar 35 tahun itu merupakan goalgetter utama La Vecchia Signora.

Toleh saja kuantitas tembakan Ronaldo yang mencapai 4,8 per laga. Jumlah itu menjadi yang tertinggi di Serie A sejauh ini. FYI, rata-rata tembakan di tiap pertandingan Morata cuma mencapai angka 2.

Catatan Ronaldo itu kemudian berbanding lurus dengan jumlah xG-nya yang mencapai 12,36. Unggul jauh dari Morata dengan 5,12.

Namun, sebenar-benarnya pemain adalah mereka yang bisa memenuhi kebutuhan tim. Itulah yang diberikan Morata untuk Juventus. Karena, ya, pada dasarnya dia dibutuhkan untuk melengkapi peran Ronaldo di garis terdepan. Bisa itu sebagai alternatif pencetak gol, bisa juga pengakomodir peluang.

Faktanya Morata sudah mengemas 5 assist di Serie A. Torehan ini menjadi yang terbanyak di antara seluruh koleganya. Konversi xA (Expected Assist) Morata juga ciamik: 3,72. Jumlah itu bahkan lebih baik dari Federico Chiesa yang mengumpulkan 3 assist dengan xA sebesar 3,73.

Peran yang dimainkan Morata bersama Juventus saat ini memang rada berbeda dibanding di Atletico, Chelsea, dan Madrid. Di ketiga klub itu, dia lebih fokus untuk memproduksi gol dan bukan sebagai penyokong striker utama.

Menyitat WhoScored, rata-rata umpan kunci Morata saat ini mencapai 1,4 per laga. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dibanding saat berseragam Atletico, Chelsea, dan Madrid.

Paling banter rata-rata key pass per laga Morata mencapai 1,1. Saat bermain di Chelsea 2017/18. Logis, sih, karena dia ditugaskan untuk melayani Eden Hazard sebagai tombak utama The Blues.

Akan tetapi, Morata hanya bisa mengumpulkan 6 assist dari total 31 pertandingan di Premier League. Jauh lebih efektif sekarang karena dia sudah bikin 5 assist dari 13 pertandingan liga.

Gamblangnya, peran Morata lebih komplet di Juventus. Selain sebagai konverter peluang, dia dituntut lebih aktif dalam menjemput bola ke tengah. Kemudian meneruskannya ke Ronaldo.

Pertandingan versus Parma bisa dijadikan rujukan. Di sana Morata sukses mencetak satu gol dan 2 assist--salah satunya untuk Ronaldo. Nah, assist Morata ke Ronaldo ini cukup menarik. Dalam situasi open play, dia melepaskan umpan silang yang kemudian disambar Ronaldo via sundulan kepala.

Total Morata melakukan 43 sentuhan di laga tersebut, dan lebih dari setengahnya di area tengah. Terhitung hanya 9 kali dia melakukan sentuhan di dalam kotak penalti lawan.


Terus, bagaimana soal jumlah gol?

Begini, kalau di Serie A, sih, jumlah golnya minim. Baru 4 gol dibuatnya. Jauh lebih sedikit dari Ronaldo yang sudah mencapai 15.

Tapi, lain cerita di Liga Champions. Morata memimpin daftar topskorer dengan 6 gol, bersama dengan Marcus Rashford, Erling Haaland, dan Neymar. Ini sekaligus membuktikan bahwa Morata mampu menjadi alternatif Juventus saat Ronaldo absen atau lagi seret gol.

Lihat saat Juventus bertandang ke Dynamo Kiev pada matchday pertama. Ronaldo saat itu mesti absen gara-gara terjangkit COVID-19. Praktis, Morata yang jadi tumpuan utama Pirlo di garda terdepan. 

Hasilnya? Juventus menang 2-0 dan Morata yang mencetak seluruh gol itu.

Tak berhenti di sana, Morata juga jadi penyelamat Juventus saat menjamu Ferencvaros di matchday keempat. Golnya di injury time membawa Matthijs de Ligt cs. menang atas utusan Hongaria itu. Kalau bukan gara-gara Morata, mungkin Juventus gagal lolos sebagai juara Grup C, lho.

***

Citra Morata sebagai nomad memang tidak terbantahkan. Toh, sudah empat klub dia singgahi dalam kurun empat tahun ke belakang. Di lain sisi, sulit dimungkiri bahwa Morata adalah nomad spesial. Kalau tidak, mengapa Madrid, Chelsea, Atletico, serta Juventus menginginkannya.

Dan bersama Juventus sekarang ini, Morata mulai berevolusi. Menjadi striker yang makin komplet.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.