Ambisi Sambi

Foto: Arsenal.com.

Albert Sambi Lokonga menjadi nilai positif dari sekarut masalah yang ada di Arsenal saat ini.

Sulit untuk membantah bahwa Michael Jordan adalah ikon. Tidak hanya untuk NBA, tetapi juga olahraga basket secara keseluruhan.

Jordan lebih dari sekadar atlet. Sebagai ikon, ia mampu menyedot banyak perhatian dan mengangkat pamor NBA hingga ke penjuru dunia. Pada masa kejayaannya, banyak orang yang rela menonton NBA karena hanya ingin melihat Jordan mentas dengan Chicago Bulls.

Sedemikian berpengaruhnya Jordan sampai-sampai pesonanya bahkan ikut mengangkat Nike sebagai sebuah brand. Tak mengherankan apabila ada banyak atlet—tak cuma dari kalangan basket, tetapi juga olahraga lain—mendongak dan menjadikannya sebagai panutan.

Kamu bisa mencari satu per satu atlet yang berkomentar soal Jordan dan bakal menemukan banyak contoh. Salah satunya adalah gelandang anyar Arsenal, Albert Sambi Lokonga.

Banyak orang menjadikan berbagai macam hal sebagai bahan bakar penyemangat atau bahan dasar pijakan yang membuatnya termotivasi. Bagi Lokonga, penyemangat itu adalah Jordan. Banyak waktu ia habiskan untuk membaca berbagai macam cerita soal pria yang juga pernah pensiun sejenak untuk bermain bisbol itu.

Maka, tak lama setelah kepindahannya ke Arsenal berstatus resmi, Lokonga tak ambil pusing buat urusan nomor punggung. Menyadari, nomor 23 lowong usai ditinggal David Luiz, pemuda 21 tahun itu pun memutuskan untuk mengenakannya.

Semua karena Jordan.

***

Lokonga, seperti halnya ketika Jordan memilih untuk bergabung dengan Universitas North Carolina, membuat keputusan besar dalam hidupnya: Ia memilih merantau ke Inggris usai 10 tahun membela Anderlecht.

Keputusan tersebut terbilang besar karena keluarga Lokonga memiliki kenangan buruk ketika anak mereka memutuskan pergi dari zona nyaman pada usia muda. Kakak Lokonga, Paul-Jose M'Poku, juga seorang pesepak bola. Pada usia 16 tahun, ia sudah merantau ke Tottenham Hotspur dan hidup sendiri. 

Sayangnya, karier M'Poku tak berkembang dengan baik. Setelah dua tahun berstatus sebagai pemain Spurs, ia kemudian berpindah-pindah dari satu klub dan liga sampai akhirnya, pada 2021, tercatat sebagai pemain Konyaspor di Liga Turki.

Orang tua Lokonga tak mau kejadian serupa terulang. Maka, mereka mewanti-wanti sang anak untuk tidak tergiur pindah pada usia muda. Namun, bagi Lokonga, ini adalah risiko yang mesti ia ambil. Ketika menerima tawaran Arsenal, ia mengaku sudah mempertimbangkan masak-masak.

"Pindah ke Arsenal adalah langkah terbesar yang pernah saya ambil. Ini langkah besar pertama saya bermain di negara lain. Saya merasa percaya diri dan itu memang yang harus saya lakukan," ucap Lokonga usai diresmikan Arsenal.

Lokonga memang terlahir dari keluarga sepak bola. Selain kakaknya, ayahnya juga pernah menjadi pemain sepak bola di Kongo. Namun, kariernya yang tak cemerlang membuatnya beralih profesi menjadi pengontrol lalu lintas udara di Belgia.

Adapun, Lokonga terjun ke dunia sepak bola usai bergabung dengan Anderlecht. Sebenarnya, ia juga diterima oleh Klub Belgia lain, Standard Liege, tetapi orang tuanya melarang karena di sana sudah ada M'Poku.

"Ayah saya memutuskan untuk tidak menempatkan kami di tim yang sama untuk menghindari perbanding-bandingan yang tidak perlu," ucap Lokonga.

Jalan karier Lokonga lurus begitu memilih Anderlecht. Bakatnya mulai tercium setelah dirinya menjadi salah satu pemain terbaik di akademi Anderlecht bersama Jeremy Doku. Saat usianya menginjak 17 tahun, ia sudah bermain sebanyak tujuh kali bersama tim utama Anderlecht.

Pada musim 2019/20, pemain kelahiran Brussels itu mulai mendapatkan menit bermain secara reguler di tim utama. Ada 26 pertandingan di semua kompetisi dan empat assist sanggup Lokonga berikan untuk Anderlecht. Ini membuktikan bahwa sebagai gelandang tengah, ia cukup piawai mengkreasikan peluang.

Kehadiran Vincent Kompany sebagai pelatih Anderlecht membuat nama Lokonga makin bersinar. Bagi eks bek Manchester City itu, nama Lokonga sudah mendapatkan garansi untuk sering-sering mucul dalam starting line-up.

"Bagi saya, kualitas Lokonga sangtlah menonjol. Saya bisa melihat ia memiliki banyak kemajuan. Siapa yang sangka dia masuk daftar tunggu skuad Belgia untuk Piala Eropa 2020," ucap Kompany seperti dilansir Football London.

***

Selalu ada hikmah yang bisa diambil dari setiap kejadian yang tidak mengenakkan. Permainan apik Lokonga dan Emile Smith Rowe adalah garis keperakan di langit di balik tumbangnya The Gunners tumbang pada laga perdana Premier League versus Brentford.

Pada babak pertama, Lokonga mendapatkan tugas untuk lebih menjaga kedalaman. Mikel Arteta memberikan role kepada Lokonga untuk membantu pertahanan dan Granit Xhaka lebih agresif ke depan.

Saat bertahan, Lokonga cukup pintar dalam membaca permainan lawan. Ia memiliki ketenangan dan penempatan posisinya apik. Ini membuatnya mudah saja menutup jalur umpan lawan.

Pada laga tersebut, Lokonga mencatat dua intersep. Catatan tersebut merupakan yang tertinggi di antara para pemain Arsenal yang tampil pada laga tersebut.

Pada babak kedua, Lokonga tampil lebih agresif. Tak jarang umpan-umpan vertikalnya membelah pertahanan dari Brentford. Apesnya, pekerjaan rumah Arsenal soal lini depan yang tumpul belum juga dibenahi.

Setelah laga melawan Chelsea dan Brentford, fans Arsenal boleh semringah dengan kehadiran Lokonga. Ia bisa memberi warna yang berbeda di lini tengah The Gunners.

Lokonga sangat baik dalam melepaskan diri dari pressing lawan. Ia seperti sudah tahu ke mana bola akan diarahkan sebelum bola itu sampai ke kakinya. Keberaniannya untuk melakukan dribel saat ditekan juga patut mendapatkan acungan jempol.

Untuk urusan posisi, Lokonga memang cukup versatile. Ia bisa dengan baiknya bermain sebagai gelandang bertahan atau gelandang tengah. Namun, kala ditugaskan menjadi box-to-box, Lokonga bisa menjalankannya dengan baik karena memiliki kemampuan melepaskan operan dan juga dribel yang cukup baik.

Kehadiran Lokonga dinilai bisa meminimalisir kelemahan Arsenal musim lalu: Minimnya gelandang yang bisa melakukan dribel masuk ke kotak penalti lawan dan membantu kinerja Smith Rowe atau Martin Odegaard dalam merancang serangan.

Menurut catatan WhoScored, ketika masih memperkuat Anderlecht musim kemarin, Lokonga rata-rata melakukan percobaan 1,2 dribel per laga. Dari total rata-rata tersebut, 0,9 di antaranya sukses.

Menariknya, Lokonga juga tak canggung ketika bertahan. Selain andal dalam intersep dan memotong umpan lawan, Lokonga kerap melakukan tekel-tekel untuk merebut bola. Rata-rata, pada musim kemarin, ia melakukan 2,3 tekel per laga dengan 1,6 rata-rata sukses.

Tentu saja, Lokonga memang menjanjikan. Persoalannya sekarang, apakah Arsenal sudah menemukan taktik dan sistem yang betul-betul pas sehingga bisa memaksimalkan seluruh pemainnya?

Buat Arsenal, apa yang terjadi pada tim mereka sekarang bukan sekadar mencari dan menyusun potongan puzzle yang pas. Namun, mereka terlebih dahulu mesti merumuskan gambar besar seperti apa yang mau mereka susun. Dari situ, barulah mereka bisa mencari kepingan puzzle untuk mengisi gambar besar tersebut.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.