Anak Paling Bahagia di Dunia

Gavi saat berlaga melawan Bayern Muenchen. Foto: @pablogavi10

"Saya adalah anak paling bahagia di dunia." Kata-kata itu keluar dari mulut Gavi usai menjalani debut bersama Barcelona.

Ingatan Manuel Batalla akan sosok Gavi masih melekat meski tidak sepenuhnya utuh. Saat itu, Gavi masih berusia 6 tahun. Tapi, Batalla melihat ada yang istimewa dari anak asuhannya itu di akademi La Liara Balompie.

Berbekal pandangan tersebut, Batalla kemudian meminta anaknya untuk mengabadikan momen-momen Gavi selama berada di La Liara Balompie. Tujuannya sederhana: Ingin meninggalkan rekam jejak bahwa ia pernah melatih (calon) pemain terbaik dunia.

"Dia berbeda dengan anak-anak lain di dalam tim," kata Batalla kepada MARCA.

Keyakinan Batalla bahwa Gavi memiliki masa depan cerah sangat teramat besar meski kebersamaan mereka hanya berumur dua tahun. Batalla pun masih mengingat kelebihan-kelebihan Gavi di lapangan.

Pertama, kata Batalla, Gavi punya kepercayaan diri yang tinggi. Kedua, Gavi dapat menggunakan kaki kanan-kiri dengan sama baiknya. Ketiga, visi bermain Gavi jauh meninggalkan rekan-rekannya.

"Anak rendah hati yang memiliki gairah (dalam sepak bola)," ucap Batalla.

Batalla tidak heran jika Gavi dapat menembus skuad utama Barcelona saat berusia 17 tahun. Ia pun sangat berbahagia dan selalu menanti eks anak asuhnya tersebut bermain. "Kami tidak akan melihat permainan La Liara, tapi kami akan melihat Gavi."

Tidak hanya Batalla yang bangga dengan keberhasilan Gavi. La Liara Balompie pun mengeluarkan pernyataan resmi bahwa mereka pernah menjadi saksi perjalanan karier sepak bola pemain bernama lengkap Pablo Martin Paez Gavira itu.

"Ketika kamu berusia 6 tahun, kami tahu ada sesuatu yang berbeda dan spesial dalam diri kamu."

***

Setelah dua tahun belajar dan berlatih di La Liara Balompie, Gavi bergabung dengan akademi Real Betis. Ada banyak waktu yang ia berikan untuk sepak bola. Pelan dan pasti, kemampuan olah bolanya terus meningkat.

Hanya tiga tahun Gavi berlatih di akademi Real Betis. Setelah itu, saat ia berusia 11 tahun, La Masia membukakan pintu untuknya.

Sama seperti anak-anak lain, Gavi berlatih dengan sungguh-sungguh. Kemampuannya terus meningkat tajam. Perkembangannya jauh meninggalkan rekan-rekannya. Orang-orang La Masia pun terbius dengan kelihaian olah bola Gavi. Salah satunya adalah mantan pelatih Gavi di La Masia, Franc Artiga.

"Dia sangat berbakat," kata Artiga kepada Goal. "Dia mampu mengubah apa yang akan dia lakukan dalam sepersepuluh detik, dan berimprovisasi."

Gavi adalah pemain yang sangat kompetitif. Ia selalu ingin menang. Tak peduli siapa lawan yang dihadapi meski berusia lebih tua darinya, kemenangan menjadi hal utama yang selalu ia kejar.

Mentalitas yang kuat membuat Gavi masuk skuat Barcelona U-19 saat berusia 17 tahun. "Sangat sulit untuk menemukan pemain dengan kemampuan sepertinya, terlebih dengan kecepatan eksekusinya," ucap Artiga.

Fisik Gavi pun berkembang cukup baik. Perkembangan itu turut menopang kemampuan dribelnya. Menurut Artiga, Gavi selalu tahu cara melindungi bola dengan baik di kakinya. Pergerakan, olah bola, dan kecepatan eksekusi jadi nilai plus seorang Gavi.

Ronald Koeman pun terpikat dengan kemampuan Gavi. Maka, ketika akan mengarungi La Liga 2021/22, Koeman memanggil Gavi untuk bergabung. 

Awalnya, Gavi begitu akrab dengan bangku cadangan. Dua laga La Liga ia lalui tanpa menit bermain.

Kesempatan Gavi baru datang pada pekan ketiga saat Barcelona melawan Getafe di Stadion Camp Nou. Meski tidak masuk starting line-up dan bermain pada menit ke-77, kemampuan Gavi mulai diperhitungkan Koeman.

Tak ada tembakan yang Gavi lesakkan selama 17 menit. Ia hanya mencatatkan 12 umpan sukses dari 15 percobaan. Namun, pergerakan Gavi di tengah lapangan dan sepertiga akhir pertahanan lawan cukup menjanjikan.

Setelah 17 menit yang mendebarkan itu, Gavi menjadi orang paling bahagia di dunia. Mimpi yang ia rawat dengan telaten akhirnya terwujud saat berusia 17 tahun.

"Saat ini, saya adalah anak paling bahagia di dunia," kata Gavi selepas pertandingan kepada Barca TV. "Banyak hal yang berkecamuk di kepala saya. Ada sedikit rasa gugup. Namun saya bermain sebaik mungkin. Di saat seperti ini, saya hanya ingat keluarga, teman, semua pelatih, La Masia."

Dua laga berikutnya, saat Barcelona menghadapi Bayern Muenchen dan Granada, Gavi lagi-lagi menjadi pemain cadangan. Namun, pada pekan kelima La Liga, ia masuk starting line-up.

Dalam laga melawan Cadiz, Gavi bermain sebagai gelandang sebelah kiri. Pergerakannya dominan berada di tengah lapangan dan sepertiga akhir. Ia pun menjadi penyuplai bola ke sisi kiri dan tengah.

Gavi pun kembali menjadi starting line-up saat Barcelona menjamu Levante. Dalam pertandingan itu, posisinya beralih menjadi gelandang sebelah kanan. Kepercayaan Koeman kepada Gavi terus hidup. Pada pekan ketujuh melawan Atletico Madrid, misalnya, Gavi bermain sejak menit pertama.

Tumbuh dan berkembang selama 6 tahun bersama La Masia, Gavi akrab dengan gaya bermain Juego de Posicion. Itu terlihat dari kemampuannya dalam menempatkan diri di lapangan. Pemahaman positioning-nya sudah layak mendapatkan pujian.

Gavi dapat merancang serangan melalui umpan-umpan pendek, menghubungkan lini belakang-depan, mengisi ruang-ruang kosong, dan sesekali membantu serangan dengan melepaskan tembakan dari luar kotak penalti.

Improvisasi Gavi pun terbilang cukup mengesankan. Ketika penyerang bermain lebih dalam, ia tidak ragu untuk masuk ke dalam kotak penalti. Pergerakan dinamis Gavi membuat rekan-rekannya mudah mencari opsi umpan.

Agresivitas Gavi dalam fase menyerang terlihat juga dari rata-rata 1,64 shot creating actions (SCA) per laga. Sederhananya, SCA adalah atribut ofensif, mulai dari umpan, dribel, memenangi pelanggaran, yang dapat menciptakan tembakan.

Ketika menggiring bola di area pertahanan sendiri, Gavi seringkali mendapat tekanan dari pemain depan maupun gelandang lawan. Namun, ia selalu menemukan celah dan melepaskan diri dengan umpan cerdas atau dribel. Keputusan-keputusan yang ia ambil cepat dan efektif.

Kemampuan itu juga yang membuat Luis Enrique memasukkan Gavi dalam skuat Timnas Spanyol pada laga semifinal UEFA Nations League melawan Italia. Enrique pun langsung menurunkan Gavi sejak awal laga.

Karena itu, Gavi mengukir rekor sebagai pemain termuda yang menjalani debut bersama Spanyol di usia 17 tahun 63 hari. Sebelumnya, rekor tersebut dipegang oleh Angel Zubeita pada tahun 1936. Zubeita saat itu bermain pada usia 17 tahun 284 hari.

Selepas pertandingan, Enrique memberikan pujian setinggi langit. Gavi, kata Enrique, adalah masa kini dan masa depan Spanyol.

“Dia bermain seolah-olah di halaman belakang rumahnya. Dia adalah masa kini dan masa depan tim nasional," kata Enrique sebagaimana mengutip BBC.

***

Gavi sudah mendapatkan apa-apa yang ia inginkan untuk memulai karier profesionalnya. Namun, ada banyak hal yang harus ia asah. 

Artiga menuturkan, Gavi boleh saja memiliki insting yang mumpuni, tetapi ia tetap harus melatih kemampuan dalam hal membaca permainan lawan. Dan yang dibutuhkan Gavi, kata Artiga, hanya waktu.

"Jika dia melakukan hal-hal dengan baik dan berada di lingkungan yang baik, kita akan memiliki Gavi selama bertahun-tahun (di Barcelona)."

Meski masih mengantungi sejumlah kelemahan, setidaknya Gavi sudah mengembalikan muruah Barcelona sebagai produsen (calon) pemain terbaik di dunia --bukan klub yang sering belanja besar-besaran. 

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.