Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now

Analisis: Memuji Kecerdikan Spurs dan Jose Mourinho

Foto: Instagram @spursofficial

Atas semua yang dilakukan pada laga melawan Manchester City, rasanya Spurs layak menjadi salah satu kandidat juara.

Awal musim selalu berjalan serupa bagi Tottenham Hotspur. Mereka tak pernah menjadi tim yang diunggulkan untuk juara. Paling-paling, mereka hanya dikategorikan untuk memanaskan persaingan ke kompetisi Eropa.

Situasi di musim 2020/21 mungkin berbeda. Setelah mencatat tujuh laga tanpa kekalahan, Minggu (22/11), Spurs mengalahkan Manchester City 2-0 lewat gol yang dicetak oleh Son Heung-min pada menit kelima dan Giovani Lo Celso (65’).

Kemenangan ini seakan menegaskan bahwa cerita-cerita soal Spurs yang dulu mulai tak valid. Dalam laga ini, terlihat bagaimana Spurs berhasil menang tanpa menguasai pertandingan dan hanya memiliki sedikit peluang.

Spurs bermain tanpa bek kanan utamanya, Matt Doherty, yang absen karena positif COVID-19. Sementara itu, City tak menurunkan Raheem Sterling dan Sergio Aguero dari menit pertama karena baru saja mengikuti latihan setelah sembuh dari cedera.

Absennya Doherty--sekaligus menghadapi City--tak membuat Jose Mourinho mengubah tatanan formasinya, ia tetap mempertahankan pola 4-3-3. Perubahan yang ia lakukan adalah memainkan Steven Bergwijn, yang terakhir bermain sebagai starter Oktober lalu.

Laga pun dimulai. Baru lima menit berjalan, Spurs berhasil mencetak gol lewat Son setelah menerima umpan Tanguy Ndombele. Harry Kane layak mendapatkan pujian khusus karena gol ini tercipta lewat aksinya yang menarik perhatian dua bek tengah Spurs.

Usai ketinggalan, City mengurung pertahanan Spurs dengan melakukan pressing. Meski terlihat menggunakan formasi 4-3-3, City sesungguhnya tampil dengan skema 4-2-4 di lapangan dengan menggunakan Bernardo Silva, Ferran Torres, Gabriel Jesus, dan Riyad Mahrez di depan.

Empat pemain di lini depan tak cukup membuat serangan City mengancam. Permainan rapat Spurs membuat serangan mereka amat jarang berakhir dengan kesempatan terbuka. Dari 22 percobaan, 11 di antaranya berhasil diblok.

Tembok lain juga dihadapi oleh City dalam lagi ini, yakni Hugo Lloris. Per WhoScored, kiper asal Prancis tersebut membukukan lima penyelamatan dalam laga ini, yang tiga di antaranya dilepaskan oleh pemain City lewat umpan lambung.

Sadar bahwa upaya di dalam kotak penalti tak membuahkan hasil, City juga mencoba mencari peluang dari luar kotak penalti. Namun, rapatnya kotak penalti Spurs membuat upaya tersebut lagi-lagi tak berhasil.

Spurs cukup apik dalam meredam skema City. Saat tidak memegang bola, hampir semua pemainnya--kecuali Son--berada di kedalaman dan menutup rapat area depan kotak penalti. Keberadaan mereka membuat opsi serangan City hanya berada di kedua sisi lapangan.

Poin penting lainnya dari cara bermain Spurs adalah bagaimana pemain-pemain mereka tak mempan terkena pressing pemain-pemain City. Malah, mereka sengaja memancing pemain-pemain City untuk melakukan pressing sehingga ruang pun terbuka dengan sendirinya.

Ditambah dengan posisi para pemainnya lebih banyak berada dalam kedalaman, jadilah Spurs beberapa kali melakukan serangan balik. Maka, jangan heran apabila Spurs cuma mendapatkan 33% penguasaan bola plus total 6 attempts (berbanding total 27 attempts milik City).

Spurs juga fokus untuk memenangi second ball. Dua gelandang, Pierre-Emile Hojbjerg dan Tanguy Ndombele, mendapatkan tugas ini guna menciptakan serangan balik. Langkah mereka semakin mudah karena pemain City jarang terlibat perebutan bola saat gagal di kesempatan pertama.

Apresiasi khusus juga rasanya pantas diberikan kepada Kane dan Bergwijn. Meski dipasang sebagai pemain depan, mereka rutin membantu pertahanan untuk memberikan pressing kepada pemain lawan yang membantu serangan.

Keberadaan Kane dan Bergwijn akhirnya memaksa City melibatkan pemain lebih banyak saat menyerang. Rodri dan Kyle Walker, yang jarang naik membantu serangan, lantas dilibatkan untuk membantu mengkreasikan peluang.

Banyaknya jumlah pemain yang terlibat dalam serangan lantas membuat pertahanan City kosong. Gol kedua Spurs yang diciptakan oleh Lo Celso tercipta lewat situasi serangan balik yang disebabkan oleh kosongnya sisi kanan pertahanan City.

Melihat bagaimana pertahanan mereka yang solid, membuat Spurs rasanya perlu dimasukkan ke dalam bursa persaingan juara. Mereka sudah memiliki bekal yang kuat dan apa yang mereka lakukan saat menghadapi City bisa menjadi acuannya.

Untuk lini depan, rasanya tak ada lagi yang perlu diperbaiki dari Son dan Kane. Keduanya amat padu dan memiliki kemampuan yang sama--baik untuk menjadi pelayan maupun penyelesai. Sekarang, tinggal bagaimana Mourinho mempertahankan performa keduanya hingga akhir musim.

Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now