Andrea Pirlo dan Perjudian Juventus

Ilustrasi: Arif Utama

Benarkah mengangkat Pirlo sebagai pelatih adalah panic decision Juventus?

Namanya Andrea Pirlo. Sembilan hari setelah ditunjuk sebagai pelatih tim U-23, ia diangkat sebagai pelatih kepala Juventus.

Dunia pernah memiliki satu penjudi ulung. Namanya Fyodor Dostoevsky. Penulis. Novelis. Orang Rusia.

Setelah novel pertamanya yang berjudul 'Orang-orang Malang' sukses, Dostoevsky dan 14 kawannya dijatuhi hukuman mati atas tuduhan membelot Tsar. Konon, ia dapat giliran ditembak mati saat kloter kedua. Maut nyaris tipis menjemput ketika utusan Tsar akhirnya datang membawa pengumuman keparat: Hukuman mati dibatalkan.

Dasar Dostoevsky memang makhluk bengal. Bukannya hidup tenang setelah lolos dari kematian, ia malah makin tergila-gila dengan judi dan menjadi penjudi akut.

Hidupnya berantakan. Sudah begitu, ia terikat kontrak yang mengharuskannya untuk menyerahkan buku kepada sebuah penerbit. Kontrak ini tak sembarangan karena si penerbit berhak atas segala macam tulisan Dostoevsky tanpa royalti.

Pada suatu waktu di tahun 1866, Dostoevsky di ujung tanduk. Kontrak gila macam tadi ditambah hidup ugal-ugalan membuatnya tak punya banyak waktu untuk menulis novel.

Apa boleh buat, dia harus menulis buru-buru. Dostoevsky menulis tentang apa yang dia ketahui dan alami: Berjudi.

Untunglah Dostoevsky tak sendiri. Saat berusia 45 tahun, ia menikahi remaja 19 tahun bernama Anna Snitkina. Dengan kecerdasan dan daya imajinasinya, Snitkina membantu Dostoevsky menulis.

Dostoevsky mendiktekan ide dan cerita gagasannya, Snitkina yang menerjemahkannya ke dalam bahasa tulisan. Kerja sama gila ini berhasil. Dalam kurun 3 minggu, Dostoevsky merampungkan novel yang pada akhirnya diberi judul 'The Gambler' ini.

'The Gambler' memang tak sehebat 'Orang-orang Malang' atau 'Crime and Punishment'. Namun, 'The Gambler' bukan karya gagal. Kisah itu cukup berhasil mendesak pembaca untuk mengambil keputusan dengan mempertaruhkan semua yang dimiliki dalam hidup. Lewat cerita itu pembaca melihat orang-orang sakit dalam perjudian yang bersorak atas manisnya kemenangan dan ikut ciut menghadapi kekalahan.

Sekali lagi Dostoevsky menang dalam perjudiannya. Yang pertama ia berjudi melawan maut, yang kedua ia berjudi melawan kematian karier.

****

Olahraga, termasuk sepak bola, adalah dunia yang penuh perjudian. Ada pemain bintang yang menandatangani kontrak dengan klub antah berantah, ada pelatih yang melakukan pergantian pemain yang membikin alis para penonton terangkat di situasi genting.

Ada klub yang menggelontorkan uang yang sanggup menutup utang-utang klub kecil untuk mendatangkan seorang pemain. Ada pula Juventus yang mengangkat Pirlo sebagai juru taktik. Perjudian-perjudian itu berpadu menjadi misteri probabilitas yang terus-menerus menyandera sepak bola.

Para pembesar di Turin berang karena Juventus tersingkir dari Liga Champions 2019/20 akibat tersandung keunggulan gol tandang Lyon di babak 16 besar. Maurizio Sarri didepak dari kursi kepelatihan. Apa boleh buat, Gianluigi Buffon dan Giorgio Chiellini kini harus menyapa Pirlo dengan sebutan Mister.

Keputusan tersebut terkesan terburu-buru karena Pirlo nihil pengalaman sebagai pelatih. Kecerdasannya sebagai saat masih berstatus sebagai pemain memang tidak main-main. Salah satu bentuk kegeniusannya muncul saat semifinal Piala Dunia 2006.

Menjelang akhir babak perpanjangan waktu melawan Jerman, Pirlo menerima bola liar di depan kotak penalti lawan. Tentu saja ia menjadi incaran para pemain Jerman. Namun, Pirlo tak membuang bola, apalagi panik tak menentu.

Pirlo mengerti ke mana harus menempatkan bola: Ke dekat kaki kiri Fabio Grosso. Itu adalah assist ekstravaganza karena lahir di dalam kotak penalti yang padat dalam sepersekian detik. Perhitungan Pirlo tak meleset. Sekali Grosso menendang, bola bersarang di gawang Jerman.

Masalahnya, melatih tak sama dengan bermain. Sebelum diakui sebagai genius taktik, Pep Guardiola harus merangkak bersama Barcelona B. Begitu pula dengan Zinedine Zidane di Real Madrid.

Lagi pula, cerita tentang pemain hebat yang tak langsung berhasil di karier pelatihan pertamanya juga bukan cerita langka. Tak heran jika keputusan Juventus untuk mengangkat Pirlo disebut tak berbeda dengan panic buying. Seketika, 'Si Nyonya Tua' tampak seperti klub amatir.

Namun, Juventus bukan klub amatir. Juventus adalah klub yang sanggup membalikkan keadaan dari pesakitan calciopoli menjadi entitas modern yang tak terjerat utang.

Untuk memahami keputusan nyeleneh Juventus ini rasanya kita harus kembali kepada omongan si bos besar, Agnelli. Dalam konferensi persnya, Agnelli mengisyaratkan bahwa urgensi tertinggi Juventus saat ini adalah mengembalikan spirit yang menguar entah ke mana.

Memperbaiki atmosfer ruang ganti adalah target pertama di awal musim 2020/21. James Horncastle dalam tulisannya menyebut di bawah kepelatihan Maurizio Sarri, belakangan Juventus melangkah selayaknya orang yang menjadikan juara Liga Champions sebagai mimpi.

Masalahnya, Agnelli ogah menjadikan gelar Liga Champions sebagai mimpi. Gelar itu harus menjadi kenyataan.

Para penjudi ulung tak sembarangan bertaruh, mereka selalu tahu bagaimana caranya mengakali peluang. Untuk bisa mengakali peluang, seseorang harus bermain pintar, memahami sistem luar dalam.

Dostoevsky memenangi perjudian keduanya dengan menggunakan kisah seorang penjudi. Tulisan yang cuma dikerjakan selama 3 minggu itu bisa begitu hidup karena Dostoevsky memang seorang penjudi.

Ia tahu bagaimana rasanya mempertaruhkan segala hal yang ia punya di tangan bandar. Ia pernah tertawa di hadapan kemenangan dan meraung di depan kekalahan.

Pun rasanya demikian dengan Agnelli. Barangkali akan lebih mudah baginya untuk memvisualisasikan ide menjuarai Liga Champions bersama Pirlo. Bukan karena Sarri pelatih bapuk, tetapi karena Pirlo pernah menjadi juara Liga Champions meski tak bersama Juventus.

Pirlo mungkin juga akan lebih klik saat Agnelli bicara soal atmosfer ruang ganti. Bukan karena Sarri tak paham ruang ganti, tetapi karena Pirlo pernah mengalami sendiri bagaimana rasanya diamuk Antonio Conte di ruang ganti, karena Pirlo pernah hidup di ruang ganti Juventus selama beberapa tahun. Toh, Juventus-lah yang menyelamatkan Pirlo saat dibuang dari AC Milan.

Menggaet Pirlo yang sudah memahami dan mengenal Juventus adalah cara Agnelli mengakali peluang. Pertanyaannya selanjutnya tentu bagaimana Pirlo mengakali peluang tersebut. Apa modalnya di meja judi selain karisma? Toh, karismanya juga bisa tergerus seandainya ia tak merengkuh hasil positif.

Gagasan taktik yang juga ikut meluluskannya dari Coverciano tentu menjadi modal utama Pirlo sebagai pelatih anyar Juventus. Dalam tesisnya, Pirlo menjelaskan bahwa kunci sepak bolanya bukanlah posisi, tetapi fungsi.

Wajar jika Pirlo menggunakan gagasan ini dalam ide kepelatihannya. Selain karena begitulah sepak bola modern, ide tersebut jugalah yang digunakan para pelatih Pirlo saat mengasahnya dulu.

Ambil contoh saat di AC Milan. Karena waktu itu Milan menggunakan Clarence Seedorf dan Rui Costa sebagai dua pemain nomor 10 klasik sejati, Pirlo terpaksa harus diutak-atik.

Dari situ, Carlo Ancelotti menduplikasi ide Carlo Mazzone. Ia memanfaatkan visi Pirlo dan menjadikannya sebagai penghubung permainan tepat dari depan lini pertahanan dalam skema 4-3-1-2. Terlebih, ketika itu Milan memiliki Gennaro Gattuso dan Seedorf yang tak pernah lelah berlari di area tengah. Pirlo akhirnya dapat merancang permainan tanpa tanggung jawab bertahan.

Sistem yang dipahami karena pernah dialami itulah yang digunakan Pirlo di Juventus sekarang. Di laga perdananya sebagai pelatih Juventus, Pirlo menang besar. Tak cuma karena bisa menghajar Sampdoria 3-0, tetapi juga karena dianggap bisa menerjemahkan tesisnya ke pertandingan.

Jantung permainan Juventus pada laga itu adalah Aaron Ramsey dan Weston McKennie. Dengan McKennie bekerja keras merebut bola dan menghalau serangan lawan, Juventus bisa memiliki banyak pilihan dalam menyerang. Dengan aksinya di lapangan tengah, Ramsey memastikan bahwa para penyerang akan dapat menerima bola.

Sayangnya, ide Pirlo tak berjalan mulus pada laga kedua. AS Roma yang menjadi lawan menggunakan 3 bek dan 2 gelandang tengah yang ikut turun sehingga Juventus kalah jumlah dalam skema pressing. Pirlo mesti berhati-hati dengan percobaannya karena di masa kepelatihan Sarri, kualitas pertahanan Juventus merosot. Bahkan saat juara Serie A 2019/20, mereka kebobolan 43 kali.

Menilai dari dua pertandingan saja tentu tak masuk akal. Jangan lupa bahwa, ya, itu tadi, Pirlo juga belum punya pengalaman sebagai pelatih. Akan tetapi, setidaknya dalam dua pertandingan itu Pirlo berani mencoba keluar dari permainan ala Sarri, permainan yang membuat Juventus menjadikan gelar juara Liga Champions sebagai mimpi. 

Musim masih kepalang panjang. Pertanyaan yang belum terjawab masih terlalu banyak. Pirlo jelas bisa gagal. Juventus mungkin sekali gigit jari. Namun, siapa tahu, Pirlo bisa menutup musim sebagai Dostoevsky di lapangan bola bersama Juventus. Namanya juga berjudi.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.