Anomali Jules Kounde

Foto: @LaLiga.

Jules Kounde adalah anomali, ia tak seperti bek-bek Eropa kebanyakan yang memiliki tubuh tinggi besar. Namun, ia bisa menutup kekurangannya itu dengan baik.

Nama Jules Kounde tenar dalam dua bursa transfer musim panas terakhir. Musim lalu, bek Sevilla itu diincar Manchester City dan Manchester United. Tentu saja kamu harus menjadi istimewa untuk bisa menjadi incaran klub-klub besar seperti mereka.

Setelah ketertarikan dua penghuni Manchester itu memudar, Kounde tidak kekurangan peminat. Sekarang, giliran Chelsea yang menginginkan jasa pemain berusia 22 tahun itu. Adalah pakar transfer sepak bola Eropa, Fabrizio Romano, yang pertama kali mengabarkan ketertarikan The Blues.

Kabarnya, Chelsea dan Kounde sudah setuju secara personal dengan kontrak hingga 2026. Saat ini tinggal menunggu kesepakatan antara Chelsea dan Sevilla selaku pemilik Kounde. Juara Liga Champions 2020/21 itu juga dirumorkan memasukkan nama Kurt Zouma sebagai pelicin kedatangan Kounde.

***

Kounde lahir di Paris, Prancis. Namun, tak sampai satu setengah tahun setelah ia lahir, keluarganya memutuskan untuk pindah ke Landiras sekitar 40 menit dari Kota Bordeaux. Di Landiras itu, Kounde memulai karier sepak bolanya. Kounde sudah bergabung dengan klub amatir di daerahnya sejak usia lima tahun.

Kounde bukanlah anak yang bisa bisa menerima kekalahan dengan baik. Mereka yang mengenalnya sedari kecil pernah bersaksi bahwa kala berusia delapan tahun, Kounde selalu berulah kalau tim sepak bolanya menderita kekalahan.

Pernah sewaktu-waktu, Kounde menendang ibunya saking frustasi karena timnya kalah terus. Tak mau kejadian terus menerus berlanjut, si ibu membawa Kounde ke psikiater. Sang psikiater memberikan masukan kalau kepada sang ibu untuk membalas perlakuan Kounde.

Tentu ini terdengar absurd. Saran si psikiater itu menyebut bahwa kalau Kounde pulang lalu berulah, si Ibu diminta untuk membalasnya dengan tendangan juga. Anehnya, perlakuan itu yang membuat Kounde kembali menjadi tenang.

Kounde mampu melewati masa frustrasinya dengan baik. Karier sepak bolanya pun juga semakin cemerlang ketika "naik kelas" ke tim U-13 Bordeaux. Persoalannya, sekalipun pernah punya masalah dengan temperamen, Kounde kenyataannya cukup pemalu. 

Ini membuat kariernya di tim muda Bordeaux berjalan lambat. Pelatihnya kala itu meminta Kounde lebih berisik dan komunikatif di atas lapangan. Untuk membuat Kounde lebih aktif dan berisik, tim memberinya ban kapten.

Keputusan tersebut tepat karena Kounde, mau tidak mau, harus bisa berkomunikasi dan memberikan komando kepada rekan-rekannya di lapangan. Kounde pun berhasil membantu tim muda Bordeaux menang 24 kali dari 26 laga.

Penampilan Kounde yang kian apik membuatnya bisa merasakan debut di tim senior Bordeaux pada usia 19 tahun. Tepatnya pada Januari 2018, Kounde melakoni pertandingan perdananya di tim senior saat Les Girondins bersua Troyes di ajang Ligue 1.

Debutnya terbilang memukau karena ia membantu sektor pertahanan tampil kokoh. Gawang Bordeaux pun nirbobol—mereka menang 1-0 pada laga tersebut. Pada musim itu, Kounde bermain sebanyak 18 kali di pentas Ligue 1.

Kounde semakin intens mendapatkan kesempatan bermain di tim utama Bordeaux. Musim berikutnya, ia bermain sebanyak 51 kali di semua kompetisi. Catatannya pun cukup baik dengan torehan 1,3 tekel, 1,4 intersep, dan 4,9 sapuan di Ligue 1. Jumlah tekel dan intersep yang relatif seimbang itu menunjukkan bahwa Kounde tidak sekadar kokoh, tetapi juga bagus dalam membaca arah operan lawan.

Direktur sepak bola Sevilla, Monchi, pun mencium bakat Kounde. Juli 2019, Sevilla mendatangkan Kounde dengan harga sebesar 25 juta euro. Kounde pun menjadi pemain termahal Sevilla saat itu. Perjudian Sevilla berbuah manis. Kounde berhasil mengantarkan Los Nervionenses menjadi juara Liga Europa pada musim perdananya.

Penampilan pemain kelahiran 12 November 1998 itu pada laga final melawan Inter Milan terbilang luar biasa. Ada 6 sapuan dan 2 blok yang ia buat sepanjang laga. Sevilla pun menang dengan skor 3-2 di laga tersebut.

***

Jika melihat posturnya, Kounde adalah anomali. Pada umumnya, para bek tengah Eropa bertubuh tinggi. Namun, Kounde tak memiliki itu—tinggi badannya "hanya" 178 cm. Sisi baiknya, ia bisa menutupi kekurangan tersebut dengan sangat baik.

"Kounde adalah seorang bek tengah yang modern. Dia tidak besar dan memiliki kekuatan secara fisik. Namun, dia sangat fleksibel dan intuitif. Ini adalah atribut terbaik untuk pesepak bola saat ini," ucap eks Kapten Sevilla, Pablo Alfaro, seperti dilansir The Athletic.

Ya, kalau mau melihat sisi baiknya, Kounde adalah tipikal bek tengah modern. Untuk melakukan aksi defensif, ia tidak melulu kudu berduel, tetapi cukup membaca permainan dan memotong operan-operan pemain lawan.

Selain itu, ia juga memiliki keunggulan dalam hal tekel. Jumlah tekelnya musim lalu di La Liga mencapai 31 dengan 23 di antaranya berhasil membuat timnya menguasai kembali bola.

Atribut lain yang Kounde miliki adalah kecepatannya. Oleh karena itu, tak heran kalau ia kerap dimainkan di pos bek tepi kanan. Bersama Timnas Prancis di Piala Eropa 2020, Kounde dimainkan sebagai pelapis Benjamin Pavard di pos full-back kanan. Kounde pun mendapat panggilan Cafu oleh rekan-rekan setimnya.

"Dalam latihan dia mengambil bola di sisi tepi dia berlari dan kami teriak 'ini dia Cafu'," ucap Diego Carlos. "Dia maju dan baru kembali setelah selesai dan bola masuk ke gawang. Dia memiliki kekuatan di kakinya," tambahnya.

Kounde memang memiliki kemampuan melepas operan yang apik. Ia sangat nyaman dengan bola dan memiliki ketenangan. Oleh karena itu, bola tak gampang lepas darinya meski sedang berada dalam tekanan pemain lawan.

Sepanjang 2020/21, akurasi operan Kounde mencapai 90 persen per 90 menit. Rata-rata progressive passes-nya (alias operan ke depan untuk mempercepat bola berada sedekat mungkin dengan gawang lawan) juga tinggi, ada di angka 4,16 per laga. Catatan passing under pressure-nya juga baik di angka 85,4 persen musim lalu.

Atribut apik Kounde rasanya akan cocok dengan skema Chelsea di bawah Thomas Tuchel. The Blues sendiri bermain dengan pola 3-4-3 dan menerapkan garis pertahanan yang tinggi.

Di sini, Kounde bisa mengisi posisi bek tengah kanan untuk meng-cover Reece James atau Callum Hudson Odoi yang berada di pos wing-back. Kecepatan Kounde juga bisa menjadi penyelamat saat garis pertahanan tinggi tak bisa berjalan dengan baik.

Kemahiran Kounde dalam melepas passing juga bisa membantu Tuchel yang gemar bermain operan pendek dari bawah. Kalau sudah begini, sulit untuk melihat sisi buruk dari transfernya ke London Barat. Kecuali, tentu saja, Tuchel harus berpikir bagaimana caranya menghadapi lawan yang doyan melepas crossing ke kotak penalti.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.