Antara Glasgow, Clyde, dan Hampden Park

Foto: @EURO2020

Bila Glasgow sebuah jantung, Clyde adalah pembuluh yang mengirimkan darah ke sana setiap detiknya. Hamden Park melengkapi keduanya. Ia mengukuhkan diri sebagai arena kebanggaan Skotlandia.

Lembah luas, di mana Sungai Clyde membelah dari timur ke barat, di sanalah Glasgow lahir. Bila ia sebuah jantung, Clyde adalah pembuluh yang mengirimkan darah ke sana setiap detiknya. "Glasgow membuat Clyde dan Clyde membuat Glasgow," begitu kata pepatah terkenal.

Pertalian Glasgow-Clyde membuat kota ini menjadi salah satu pusat perdagangan di Eropa. Tembakau menjadi salah satu komoditi dagang terbesar mereka di abad 17. Sementara sabun, gelas hingga tekstil, menjadi industri yang tumbuh di Glasgow dua abad setelahnya. Tak terkecuali dengan kapas yang berhasil menyediakan lebih dari sepertiga lapangan kerja pada waktu itu.

Fokus industri Glasgow kemudian bergeser ke pembuatan kapal pada tahun 1840-an. Saking kondangnya, galangan kapal Glasgow memasok seperlima kebutuhan kapal dari akhir abad 19 hingga Perang Dunia Pertama.

Sadar akan potensi goyahnya ekosistem akibat dampak industri, pemerintah lantas memusatkan perhatian mereka pada perbaikan tata kota. Taman-taman dan jalan raya mulai direstorasi. Sama halnya dengan alun-alun umum dan kebun komunal yang mengalami proses perluasan. Pohon-pohon besar juga ditanam selama era ini.

Pepohonan dan hutan merupakan bagian penting dari lanskap bersejarah Glasgow. Fossil Grove adalah prasasti yang membuktikan itu. Fosil akar dari sebelas pohon Lepidodendron yang ditemukan pada 1887 tersebut menunjukkan bahwa Glasgow memang lekat dengan jenggala.

Sebagai kota dengan sejarah panjang, Glasgow memiliki sistem pengaturan di pinggiran kota yang mencakup Tembok Antonine (benteng rumput di atas fondasi batu) warisan Romawi. Ia membentang di sepanjang batas utara kota dan menghampiri beberapa arena olahraga bersejarah. Hampden Park salah satunya.

Foto: Flickr

Hampden Park, final Piala FA Skotlandia 1980.

George McCluskey mencetak gol kemenangan buat Glasgow Celtic di babak tambahan. Seharusnya, pertandingan berakhir dengan normal setelah wasit George Smith meniup peluit panjang. Namun, Old Firm selalu memberikan pengecualian.

Bukannya pulang, ribuan penggemar Rangers justru bertahan di dalam Hampden Park. Apalagi tujuan mereka kalau bukan untuk mengganggu parade juara Celtic. Mereka menyerbu lapangan saat suporter-suporter The Bhoys bergabung dengan para pemain yang bergerombol memamerkan trofi. Kerusuhan pun tak dapat dihindarkan.

“Ini seperti adegan yang sekarang keluar dari 'Apocalypse Now'," kata komentator pertandingan, Archie MacPherson. Benar kata dia, "Pada akhirnya, jangan membohongi diri sendiri. Para pendukung ini memang saling membenci”.

Celtic dan Rangers adalah dua raja Glasgow. Mereka berseberangan hampir di segala lini. Mulai dari ras, kelas, politik, sampai agama. Satu-satunya persamaan mereka adalah keduanya saling membenci. Bisa dibilang, perseteruan Celtic dan Rangers ini bukan perang antarsesama Glaswegians atau Skotlandia murni. Sejarah mencatumkan bahwa Irlandia juga termasuk di dalamnya.

Pada 1707, Skotlandia mengalami peningkatan drastis pada sektor pertanian setelah menandatangani Perjanjian Persatuan dengan Inggris. Dengan kata lain, mereka membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah banyak.

Saat itulah penduduk Irlandia melakukan migrasi secara masif. Mereka, yang kebanyakan pengangguran, melintasi Laut Irlandia dan menuju Skotlandia untuk mencari pekerjaan. Para imigran Irlandia inilah yang nantinya terlibat dalam revolusi industri Skotlandia, juga pada pembangunan jalan raya dan rel kereta api. Sementara itu, kelaparan besar yang melanda Irlandia pada 1840-an menjadi pemicu gelombang invasi kedua. Hingga 1901, tercatat ada lebih dari 200 ribu orang Irlandia yang menetap di Skotlandia.


Kendati Celtic dan Rangers adalah tuan tanah Glasgow, Hampden Park bukanlah kepunyaan mereka. Adalah Queen's Park F.C yang benaung di sana sejak lebih dari satu abad silam. Jauh dari kedua raksasa itu, kehebatan Queen's Park kini cuma sekadar mengandalkan sejarah. 

Menjadi kampiun Liga Premier Skotlandia pun mereka tak pernah. Mentok, cuma Piala Skotlandia yang mereka raih. Sebanyak 10 gelar ditorehkan Queen's Park, lumayan. Tapi itu tak genap sepertiga dari torehan Rangers atau cuma seperempat kepunyaan Celtic.

Tapi jangan salah, Queen's Park merupakan satu-satunya tim Skotlandia tersukses di ajang Piala FA. Ya, mereka pernah mendapatkan undangan buat bersaing dengan klub-klub Inggris di turnamen tertua itu. Hebatnya lagi, The Spiders berhasil dua kali mencapai babak final di edisi 1884 dan 1885. Sampai akhirnya eksistensi mereka di sana usai setelah Asosiasi Sepak Bola Skotlandia terbentuk dan melarang klub-klubnya berpartisipasi di Piala FA.


Di mata Skotlandia, Inggris adalah rival. Bahkan keduanya pernah berduel di arena rugbi sebelum bertanding sepak bola. Saking panasnya pertandingan rugbi internasional pertama itu memecahkan rekor pertandingan olahraga beregu di dunia dengan jumlah pentonton terbanyak. BBC mencatat 4.000 penonton hadir dalam laga tersebut, tergolong besar di era 1872.

Sementara Hampden Park juga tak luput akan pertarungan dua saudara tua itu. Sebanyak 91 ribu penonton menjadi saksi kemenangan 4-1 Skotlandia atas Inggris pada 18 April 1942.

Well, sebagai stadion nasional sepak bola Skotlandia, Hampden Park telah menjadi medium atas beberapa pertandingan bersejarah. Final European Cup (Liga Champions) 1960, 1976, dan 2002 serta final Piala Winners 1966.

Hampden Park pernah menjadi saksi atas keberhasilan Skotlandia menembus Piala Dunia 1974 lewat kemenangan 2-1 atas Cekoslovakia. Dalam cerita lainnya, Diego Maradona juga sempat mencetak gol di sana kala Argentina melakoni laga persahabatan dengan Skotlandia.


Melansir Worldstadiumdatabase, Hampden Park berada di peringkat 13 UEFA sebagai stadion terbaik di Eropa. Mengungguli stadion-stadion bersejarah macam Old Trafford, San Siro, Santiago Bernabeu, Stade de France, dan Stadio Olimpico.

Pada Euro kali ini, Hampden Park kedapatan jatah menggelar empat pertandingan. Rinciannya Tiga laga di fase grup dan satu sisanya babak 16 besar. Tapi sayang, Skotlandia gagal memanfaatkan tuah Hampden Park. Andrew Robertson cs. menelan dua kekalahan di sana (ditambah satu kali imbang versus Inggris di Wembley). Skotlandia pun finis di posisi paling buncit dan mesti angkat koper lebih dini.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.