Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now

Antara Tuhan dan Kaka

Foto: Twitter @KAKA.

Orang-orang boleh mengingat Liga Champions 2006/07 sebagai ajang balas dendam Milan atas Liverpool, tetapi di sana juga ada cerita tentang Kaka yang membuat Manchester United amburadul di semifinal.

Jika Kaka memang cukup sering berbincang-bincang dengan Tuhan, saya ingin sekali mencuri dengar percakapan mereka.

Kaka adalah manusia biasa. Yang biasa ia lakukan adalah berserah. Sedari kecil, menurut pengakuannya, keluarganya mendidiknya agar menjadi penganut Kristen yang taat. Kaka pun tumbuh menjadi sosok yang religius.

Kaka sering berdoa. Oleh karena itu, ia merasa punya koneksi kuat dengan penciptanya. Manakala terhindar dari mala dan petaka, Kaka pun tahu harus menengadah kepada siapa.

Apakah ini adalah hubungan mutualisme, hanya Kaka dan Tuhan yang tahu. Kalau saya boleh mengira, pastilah Tuhan menjadikan Kaka yang begitu berserah sebagai anak emas-Nya.

“Sebab di bawah kolong langit ini, tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehNya kita dapat diselamatkan.”

Oktober 2000, ketika kepalanya terbentur ke dasar kolam renang, Kaka nyaris tamat. Bukan cuma karier sepak bolanya yang bisa berakhir lebih cepat, tetapi juga segala berkah untuk tubuhnya.

Benturan tersebut membuat ruas tulang belakang keenam di lehernya retak. Semestinya cedera tersebut cukup serius, tetapi Kaka masih bisa keluar dari kolam renang dan berbicara kepada adiknya.

Yang ia rasakan cuma sakit kepala hebat. Maka, yang adiknya sarankan adalah segera mendapatkan pertolongan pertama. Namun, begitu Kaka mengalami mimisan, keluarganya memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit.

Hari itu, Kaka sedang menikmati liburan di rumah kakek dan neneknya di Caldas Novas, 758 kilometer dari Sao Paulo. Dengan mobil, jarak antara kedua kota bisa ditempuh dalam waktu 9 jam, tetapi ada beberapa penerbangan—termasuk yang murah—yang bisa membawamu dalam waktu satu setengah jam saja.

Bagi Kaka, liburan dadakan itu adalah keberuntungan yang tidak disangka-sangka. Gara-gara mendapatkan akumulasi kartu kuning, ia tidak bisa memperkuat tim junior Sao Paulo yang pada akhir pekan itu tengah bertanding di Kejuaraan Junior Paulista.

Alih-alih menjadi akhir pekan yang menyenangkan, Kaka justru mendapatkan petaka. Hasil pemeriksaan sinar-X di rumah sakit belum menunjukkan bahwa cedera yang ia alami cukup serius. Yang ia dapatkan hanyalah beberapa jahitan kecil.

Begitu kembali ke Sao Paulo dan berlatih dengan timnya pada Senin dan Selasa, barulah Kaka mengetahui bahwa ia berhadapan dengan kenahasan. Tak tahan lagi dengan sakit kepala yang ia rasakan, Kaka mengadu kepada para pelatihnya.

Dari pemeriksaan lanjutan via sinar-X sekali lagi, baru diketahui bahwa ruas keenam tulang belakang Kaka di bagian leher retak. Sepanjang November dan Desember, Kaka mesti mengenakan penyangga leher untuk memulihkan cedera tersebut.

“Orang-orang bilang bahwa saya bisa saja lumpuh dan kehilangan kemampuan saya untuk berjalan atau bermain sepak bola. Saya tidak percaya pada keberuntungan. Yang saya yakini, Tuhan sudah melindungi saya,” kata Kaka.

Banyak yang menyangka bahwa Kaka menjadi religius karena kejadian itu. Namun, tidak begitu ceritanya. Buat Kaka, hubungannya dengan Tuhan tidaklah transaksional, tetapi relasional. Ia punya hubungan kuat sedari awal dan itulah yang menjaganya dari waktu ke waktu.

Bagi Kaka, Tuhan ada di sepanjang jalan hidupnya.

Maka, ketika ia memenangi sebuah pertandingan atau berhasil meneror pertahanan lawan, Kaka mendedikasikan sepenuhnya kepada Dia. Kaka, tentu saja, percaya bahwa kemenangan itu hadir karena beragam faktor. Namun, pada akhirnya ia memilih berpasrah: Kemenangan itu datang karena Tuhan mengizinkannya untuk memilikinya.

Sedemikian patuhnya Kaka sampai-sampai ketika ia berada di puncak karier muncul ucapan yang menyebut bahwa “Tuhan mengidolai Kaka”. Tentu ini adalah candaan belaka. Namun, melihat bagaimana Kaka bermain di atas lapangan, kamu tidak bisa mengelak dari prasangka bahwa Kaka adalah anak baik yang mendapatkan hadiah sepadan dari penciptanya.

Kaka lahir dari keluarga kaya, parasnya tampan, postur tubuhnya tinggi juga tegap. Sekali melihatnya, kamu akan tahu bahwa dari sikapnya yang sopan ia tumbuh dalam lingkungan yang terpelajar dan terdidik.

Bahwa kemudian ia jago dalam bersepakbola, itu hanyalah bait-bait tambahan dalam naskah hidupnya yang sudah kadung sempurna.

Saya tidak ingin berprasangka yang bukan-bukan, tetapi ketika menciptakan Kaka, Tuhan barangkali sedang menunjukkan kuasa-Nya bahwa ia bisa membuat satu orang yang melampaui orang-orang lainnya.

Andai Kaka hadir sebagai karakter dari sebuah film yang digarap dengan semena-mena oleh produser, penulis, dan sutradaranya, kita pasti tidak akan menganggapnya manusiawi. Ia pasti sudah menjadi Fahri pada ‘Ayat-Ayat Cinta’.

Di lapangan, Kaka acap berperan sekaligus sebagai trequartista, fantasista, dan protagonista untuk AC Milan. Ia adalah pusat dan “tuhan” untuk semesta kecilnya sendiri, yakni sepertiga akhir lapangan.

Pada puncak kariernya, tak ada yang bisa menghentikan Kaka. Banyak yang menyebut bahwa puncak Kaka terlampau singkat, tetapi barangkali memang begitulah hidup: Ia singkat dan oleh karenanya perlu kita rayakan.

Kaka adalah manusia biasa terakhir yang memenangi Ballon d’Or. Penghargaan akbar itu ia angkat pada 2007, sebelum entitas-entitas di luar batas akal bernama Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo memonopolinya.

Tidak ada yang bisa memperkarakan mengapa Kaka meraih Ballon d’Or tahun itu. Di lapangan, ia memang nyaris tak terhentikan. Ia seperti meniupkan ruh ke dalam bola dan memperlakukan benda itu sekehendak hati dan kepalanya.

Kaka tinggi dan berbadan tegap. Ia tidak seperti “nomor 10” yang biasanya bertubuh lebih pendek dan karenanya punya kedekatan dengan pusat gravitasi yang memungkinkan mereka bergerak lebih gesit dengan bola. Meski demikian, Kaka bisa menggiring bola dengan luwes dan mengatur kecepatan ketika menggiring bola semau dirinya.

Kaka juga bukan pemain yang flamboyan seperti, katakanlah, Ronaldinho. Namun, ia bermain dengan megah. Berulang kali kamu bisa melihatnya meluncur seperti terbawa angin dan membelah ruang di antara para bek.

Pada 2007 itu, Kaka membawa pulang trofi Liga Champions untuk Milan, yang kelak menjadi satu-satunya trofi Liga Champions dalam kariernya. Orang-orang boleh mengingat musim itu sebagai musim balas dendam Milan atas Liverpool karena mereka menundukkan The Reds 2-1 di final setelah dua tahun sebelumnya tersungkur di Istanbul. Namun, simak bagaimana Kaka membuat Manchester United amburadul di semifinal.

Ketika United memenangi leg I dengan skor 3-2, situsweb resmi UEFA memberi judul ‘Rooney Menihilkan Milan’. Rooney memang menjadi pahlawan United lewat sepasang golnya, tetapi judul itu tidak menjelaskan keseluruhan cerita.

Malam itu, Kaka juga mencetak sepasang gol. Untuk yang pertama, ia membukukannya setelah mengubah kecepatan lari dan memotong ruang di antara dua bek. Operan pendek biasa yang tadinya ia terima di area sepertiga akhir lapangan mendadak berubah seperti umpan terobosan.

Dengan mengubah kecepatan larinya secara tiba-tiba, Kaka bisa meluncur dengan cepat ke dalam kotak penalti. Bek United, Gabriel Heinze, sebisa mungkin mengejar dan berusaha menutup pergerakannya. Namun, Heinze gagal. Sebelum tekelnya bisa menjangkau bola, Kaka sudah melepaskan sepakan ke tiang jauh.

Untuk yang kedua, prosesnya lebih komikal. Lewat dua sentuhan, Kaka membuat tiga orang menjadi amatiran sekaligus. Pertama-tama, ia mengangkat bola hingga melengkung seperti pelangi untuk menghindari kejaran Darren Fletcher. Setelahnya, ia membuat sentuhan kecil dengan kepalanya kepada bola, tepat ketika Heinze dan Patrice Evra berusaha menutupnya.

Sentuhan kecil dengan kepala itu seolah-olah sebuah perintah: “Hiduplah, biarkan aku mempermalukan kedua idiot ini.” Bola kemudian berbelok arah, sementara Heinze dan Evra bertabrakan dengan nahasnya. Kaka pun bebas dan dengan leluasa melepaskan sepakan terarah ke gawang Edwin van der Sar.

United boleh berkata bahwa pada malam itu, mereka tampil dengan barisan pertahanan yang compang-camping; Rio Ferdinand dan Nemanja Vidic cedera sehingga mereka memasang John O’Shea sebagai bek kanan, Wes Brown dan Heinze sebagai bek tengah, dan Evra sebagai bek kiri. Namun, boleh jadi apa yang terjadi di hadapan mereka memang berada di luar kehendak.

Malam itu, dan malam berikutnya sepekan kemudian di Milan, tempat leg II berlangsung di bawah guyuran hujan, United memang tidak berdaya saja.

Pada leg II itu, Kaka dan Clarence Seedorf mempertontonkan bagaimana United tidak bisa datang dengan kemampuan setengah-setengah ke hadapan mereka. Milan menang 3-0 dan lolos ke final.

Sir Alex Ferguson boleh berkata bahwa kegagalan tersebut adalah pengalaman berharga buat dua pemain mudanya, Cristiano Ronaldo dan Wayne Rooney. Namun, boleh jadi ceritanya tidak seperti itu; peran mereka dalam semesta Kaka waktu itu memang menjadi pecundang.

Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now