Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now

Antonio Conte dan PR yang Masih Berserakan di Inter Milan

Foto: Twitter @Inter

Inter cuma meraih sebiji kemenangan dalam 7 pertandingan terakhir di lintas kompetisi. Pakem 3 bek Conte sudah tak ampuh lagi, nih?

Antonio Conte melangkah gontai dari Santiago Bernabeu. Kekalahan Inter Milan jadi penyebabnya. Anak asuhnya itu dibungkam Real Madrid 2-3 pada matchday ketiga Liga Champions tengah pekan lalu.

Hasil tersebut begitu menyebalkan karena memperpanjang rapor jelek Inter belakangan ini. Jika ditotal, mereka cuma mampu menggamit sebiji kemenangan dalam 7 pertandingan terakhir di lintas kompetisi.

Inter sekarang bertengger di peringkat keenam klasemen Serie A. Lebih parah lagi di tabel Liga Champions, Nerazzurri berada di posisi paling buncit--di bawah Borussia Moenchengladbach, Shakhtar Donetsk, dan Madrid.

Inter punya cita-cita besar bersama Conte: Meraih Scudetto. Ini tidaklah mustahil, sebab Conte memang bukan pelatih kaleng-kaleng. Tiga gelar Serie A pernah disabetnya bersama Juventus, ditambah dengan sepasang titel Supercoppa Italia.

Soal aksi revolusioner, Conte pakarnya. Lihat saja keberaniannya saat merantau ke Chelsea 2016/17. Tak tanggung-tanggung, dia tetap mengaplikasi pakem tiga bek saat tim-tim Inggris kebanyakan masih menggunakan skema empat bek.

Dengan format dasar 3-4-2-1, Conte sukses menggamit 13 kemenangan beruntun di Premier League. Singkat cerita, dia sukses membawa Chelsea juara liga di tahun pertamanya. Luar biasa, bukan?

Yang jadi soal, apa yang dilakukan Conte di Chelsea dan di Inter tidak sama. Betul bahwa dia masih menggenggam pakem tiga bek. Namun, sekarang Conte menggunakan dua penyerang, berbeda semasa di The Blues yang bertumpu pada tiga pemain di garda terdepan. 

Conte saat ini bersandar pada Romelu Lukaku dan Lautaro Martinez sebagai juru gedor. Sejauh ini tak ada masalah dengan itu. Agresivitas mereka masih terjaga. Toh, Inter masih sanggup memproduksi 15 gol--ketiga terbanyak di Serie A.

Akan tetapi, problem Inter ada di departemen pertahanan. Nyatanya sudah 10 kali gawang mereka bobol. FYI, jumlah itu dua kali lipat dari torehan Juventus dan AC Milan. Malah, Inter kalah jauh dari Hellas Verona yang baru kemasukan 3 gol sejauh ini.


Terus, apa hubungannya dengan format 2 penyerang? 

Begini, tak ada slot penyerang sayap pada pakem dasar 3-4-1-2 . Secara matematis, wing-back yang punya tugas lebih untuk membantu serangan dari sisi tepi.

Berbeda dengan skema dasar 3-4-3. Dalam wadah itu wing-back berbagi peran dengan penyerang sayap. Setidaknya, mereka tak terlalu intens dalam melakukan overlap, sebagaimana yang diterapkan Conte bersama Chelsea.

Kala itu Conte menggunakan Victor Moses dan Marcos Alonso untuk menciptakan overload di sektor depan. Naiknya kedua pemain ini digunakan untuk mengompensasi masuknya dua winger Chelsea ke area half-space.

Beruntung saat itu Conte punya Eden Hazard, Willian, dan Pedro Rodriguez, untuk beroperasi di area half-space. Kombinasi ketiganya ampuh, terutama dalam menghadapi lawan yang menggunakan back four. Para winger Chelsea itu bisa mengeksploitasi celah antara bek sentral dan full-back.

Belum lagi dengan eksistensi N'Golo Kante. Selain punya daya jelajah luas, pemain 29 tahun itu juga jago untuk urusan intersep dan tekel. 


Perlu digarisbawahi, selain wing-back yang mumpuni, format tiga bek membutuhkan gelandang ciamik buat menyeimbangkan area tengah, apalagi dengan metode garis pertahanan tinggi.

Gol pembuka Madrid lalu adalah bukti bobroknya lini pertahanan Inter. Achraf Hakimi yang mendapatkan pressing ketat dipaksa membuat kesalahan yang kemudian berbuah gol buat El Real.

Garis pertahanan yang tinggi jelas jadi faktor utama. Kondisi makin parah karena Inter memang tak punya stok gelandang bertahan yang ampuh. Dari 7 gelandang yang ada, cuma Roberto Gagliardini yang berposisi alami sebagai gelandang bertahan. Namun, performa eks Atalanta itu belum stabil. Sama halnya dengan Arturo Vidal.

Marcelo Brozovic paling mending, sih. Namun, dia lebih berperan sebagai distributor ketimbang destroyer. Conte juga sudah menyiasatinya dengan memasang Nicolo Barella dan Stefano Sensi sebagai gelandang dinamis. Masalahnya, itu belum cukup untuk menyeimbangkan lini tengah Inter.


Ketimpangan itulah yang membuat Inter rentan terhadap serangan balik. Sudah dua kali gawang mereka bobol via skema counter attack. Jumlah itu terbanyak kedua di Serie A, padahal wing-back Inter sebenarnya sudah cukup aktif dalam membantu serangan. Hakimi sudah menyumbang 2 assist di Serie A. Disusul Ashley Young dan Aleksandar Kolarov yang masing-masing telah mengoleksi satu assist.

Oh, iya, nama yang disebut belakangan itu rutin dipasang sebagai bek tengah, sama halnya dengan Danilo D'Ambrosio. Kemampuannya dalam mengolah bola jadi faktor mengapa mereka mengisi trio pertahanan Conte. Setali tiga uang dengan Cesar Azpilicueta semasa rezimnya di Chelsea.

Akan tetapi, menggeser full-back ke pos bek tengah bukannya tanpa risiko. Ya, garis pertahanan menjadi tinggi dan rawan untuk dieksploitasi tim lawan. Belum lagi dengan lemahnya mereka dalam mengantisipasi through pass.

Toleh saja sepasang gol Gervinho di pekan keenam lalu. Seluruhnya lahir via through pass. Inter pun gagal meraup tiga angka dari Parma.

Untuk divisi pertahanan, Conte sendiri masih belum memilih bek tengah reguler. Stefan de Vrij baru 4 kali diturunkan. Kemudian Alessandro Bastoni di 3 pertandingan. Sementara Milan Skriniar dan Andrea Ranocchia baru mengecap masing-masing 2 laga di Serie A. 

Pendeknya, Conte masih meramu tiga bek tengah idealnya. Dengan tambahan Kolarov, dia butuh dua sosok lagi yang stabil dalam menjaga kedalaman. Harusnya, sih, De Vrij dan Ranocchia. Catatan intersep dan tekelnya terbilang mentereng. Plus, spesialisasi mereka dalam duel udara.

***

Nah, duel versus Atalanta pada Minggu (8/11/20) bisa menjadi pembuktian buat Conte. Lagi pula, La Dea jago untuk urusan bikin gol. Di Serie A musim lalu saja mereka sukses mencetak 98 gol. Catatan mereka sekarang juga tak buruk: 17 gol dari 6 laga. Jumlah itu hanya kalah dari Sassuolo.

Kabar baiknya, form Atalanta juga sedang jeblok. Cuma satu kemenangan yang mereka raih dalam 4 laga termutrakhir. Itu termasuk kekalahan 0-5 dari Liverpool tengah pekan lalu. 

Harusnya Inter bisa berjaya bila menilik rapor merah Atalanta baru-baru ini. Asal Conte bisa menyelesaikan PR-nya yang masih berserakan.

Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now