Apa Real Madrid Sudah Siap Kehilangan Sergio Ramos?

Ilustrasi: Arif Utama.

Melihat performanya pada musim lalu dan musim ini, Sergio Ramos masih menjadi sosok vital untuk pertahanan Real Madrid. Apakah Los Blancos sudah siap kehilangan dirinya kalau dia hengkang?

Ada satu tudingan tidak sedap yang acap ditujukan kepada Real Madrid: Los Blancos adalah klub yang tak bisa menghargai jasa pemain hebatnya.

Tudingan tersebut, terlepas dari Anda setuju atau tidak, bukannya tanpa dasar. Iker Casillas jadi salah satu contohnya. Memulai karier di akademi Madrid, Casillas justru tak pensiun di El Real.

Eks Kapten Madrid itu hengkang ke FC Porto sebelum pensiun dengan status bebas transfer. Tak ada laga perpisahan atau pelepasan yang sakral untuk pemain yang menghadirkan tiga trofi Liga Champions dan lima gelar La Liga untuk Los Blancos tersebut.

Casillas mengaku iri dengan Xavi Hernandez dan Steven Gerrard yang tak dibiarkan pergi begitu saja. Dalam jumpa pers kepergiannya ke Porto, Casillas tak kuasa menahan tangis.

"Situasi di Madrid sedang tidak baik. Saya selalu menjadi perhatian baik itu positif maupun negatif. Saat ini, saya membutuhkan ruang untuk bernapas," ucap Casillas saat itu.

Casillas bukan satu-satunya legenda dibiarkan pergi begitu saja oleh Madrid. Raul Gonzalez dan Fernando Hierro juga mengalami nasib serupa.

Kritik untuk Madrid datang, salah satunya dari eks direktur olahraga mereka, Predrag Mijatovic. Menurutnya, Madrid tak memberlakukan para pemainnya dengan pantas.

"Raul memiliki sejarah yang luar biasa di Real Madrid, tetapi pergi dengan cara yang buruk. Dan itu berlaku juga untuk Fernando Hierro dan Iker Casillas," tutur Mijatovic.

***

Madrid, tentu saja, bisa menyanggah segala tudingan itu. Mereka bisa saja beralasan bahwa dalam hidup klub sebesar mereka, tidak ada ruang untuk bersikap sentimental.

Raul memang memiliki perlakuan khusus di Madrid. Sampai-sampai dioramanya di museum Madrid juga mendapatkan perlakuan serupa--cuplikan video gol-gol Raul diiringi oleh sajian musik “Nessun Dorma”. Namun, jika sudah waktunya satu orang pemain pergi, ya, tidak ada alasan untuk menahan-nahannya.

Casillas dibiarkan ke Porto, Raul ke Schalke 04, sementara Hierro dipersilakan mencari peruntungan di Al Rayyan, lalu kemudian Bolton Wanderers. Semuanya alami saja.

Sebesar-besarnya Madrid, mereka tidak takut untuk menanggung konsekuensi. Betul bahwa koleksi gelar juara mereka segudang, tetapi berkawan dengan kegagalan pun bukan barang baru buat Los Merengues.

Kalau kegagalan tersebut datang, mereka tinggal bangun, menyeka lutut, dan berjalan lagi, seolah-olah yang namanya kegagalan itu tidak pernah terjadi.

Raul pergi? Well, Madrid sudah punya Cristiano Ronaldo. Hierro hengkang? Yah, penggantinya memang tidak seberapa, tetapi Ivan Helguera dan Francisco Pavon masih bisa menambalnya.

Kalau ingin menyentil Madrid, kasus kehilangan Claude Makelele rasa-rasanya lebih menohok. Zinedine Zidane sendiri sampai ikut menyesalinya. Kepergian Makelele, kata Zidane, bak kehilangan mesin ketika Madrid sedang sibuk mempercantik mobilnya.

Lantas, ketika ada kabar bahwa kapten mereka saat ini, Sergio Ramos, berniat hengkang, kita mengingat lagi bagaimana El Real acap bersikap acuh tak acuh terhadap pemain bintang yang bakal pergi.

Persoalannya, kalau kita berkaca pada kasus Makelele, apakah Madrid sudah siap kehilangan Ramos?

Sampai saat ini, belum ada pembicaraan soal perpanjangan kontrak antara Madrid dan Ramos. Menurut laporan Marca, Madrid dan Ramos sudah melakukan pembicaraan soal masa depan sang pemain. Namun, pembicaraan di antara kedua belah pihak tak kunjung menghasilkan kesepakatan.

Artinya, Ramos bisa pergi dari Madrid dengan status bebas transfer di musim panas mendatang. Beberapa klub besar seperti Paris-Saint Germain, Manchester City, hingga Manchester United dikait-kaitkan dengan bek tengah berusia 34 tahun itu.

Nama-nama pengganti sudah mulai diisukan mendarat ke Santiago Bernabeu. Salah satu yang paling santer adalah David Alaba dari Bayern Muenchen. Akan tetapi, itu masih sebatas rumor, belum ada kepastian dari Madrid atau Bayern perihal transfer David Alaba.

Melihat performa musim lalu, Ramos memiliki peran penting untuk Madrid merengkuh gelar La Liga. Ramos bahkan menjadi pencetak gol kedua terbanyak Madrid di La Liga dengan 11 gol. Di Madrid, dia hanya kalah dari Karim Benzema yang mencetak 21 gol pada kompetisi yang sama.

Jumlah gol Ramos bahkan jauh lebih banyak dari Vinicius Junior dan Marco Asensio yang notabene berposisi sebagai penyerang sayap. Tak usah gol, tingkat harapan membuat gol (xG) Ramos juga tinggi.

xG Kapten Timnas Spanyol musim lalu itu mencapai 10,65, tertinggi kedua usai Benzema.

Atribut bertahan Ramos untuk Madrid musim lalu juga mengesankan. Ada rata-rata 1,3 tekel, 1,4 intersep, dan 2,8 sapuan yang dibuat Ramos di ajang La Liga 2019/20.

Catatan apik itu membuat Madrid menjadi tim paling sedikit kebobolan dengan jumlah 25 gol. Los Blancos pun bisa keluar sebagai juara usai mengumpulkan 87 angka.

Ketika Ramos absen, Madrid malah memble. Tengok saja hasil Madrid di Liga Champions musim lalu. Tiga laga tanpa adanya Ramos, Madrid kalah dua kali dan cuma sekali menang.

Puncaknya pada leg kedua babak 16 besar melawan Manchester City. Di situ Ramos absen dan Madrid menderita kekalahan 1-2. Dua gol yang bersarang ke gawang Madrid merupakan blunder dari lini belakang yang kehilangan komandonya.

Musim ini, peran Ramos masih sama vitalnya. Bek bernomor punggung empat itu sudah mengemas dua gol dari 14 laga yang sudah ia mainkan.

Catatan bertahannya juga masih mengagumkan dengan rata-rata 1,1 tekel, 1,4 intersep, dan 2,7 sapuan per pertandingan. Angka sapuan Ramos tertinggi kedua setelah Raphael Varane yang membuat rata-rata 3,7 sapuan.

Selain itu, angka rata-rata 1,4 intersep per pertandingan juga menunjukkan bahwa Ramos masih cukup awas dalam membaca pergerakan bola dan, oleh karenanya, arah serangan lawan.

Yang jadi persoalan, Ramos cukup jarang turun gelanggang musim ini. Eks pemain Sevilla itu lebih sering berkutat dengan cedera. Saat ini saja Ramos harus menepi selama kurang lebih tujuh pekan akibat cedera yang membekapnya.

Tanpa kehadiran Ramos, Madrid terlihat sangat ringkih. Di pentas La Liga, Madrid sudah delapan kali tak meraih kemenangan dengan rincian empat imbang dan empat kalah. Mereka kini duduk di posisi ketiga dengan 43 angka.

Kejadian serupa juga tersaji di Liga Champions. Madrid hampir tersingkir dari turnamen yang sudah 13 kali mereka juarai itu. Pada fase grup, Ramos tak bermain sebanyak tiga kali. Dua laga tanpa Ramos, Madrid malah tumbang.

***

Tak cuma konsistensi permainan (kalau turun bertanding), kehadiran Ramos juga bisa menjadi sosok leader di dalam tim Madrid. Ramos masih mampu mengayomi pemain-pemain muda yang dimiliki Madrid.

Ramos bisa menjadi tandem yang sepadan untuk Varane yang masih kerap ceroboh dalam bertahan. Mental Ramos yang tak mau kalah juga bisa menolong Madrid saat situasi tertinggal.

Alih-alih membiarkan dia pergi, Madrid sebaiknya justru mencari pelapis yang sama baiknya atau menambah amunisi di lini pertahanan mereka. Dengan begitu, mereka memiliki pemain yang bisa meng-cover ketidakhadiran Ramos ketika dia absen.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.