Apa yang Bisa Conte Lakukan untuk Tottenham?

Antonio Conte saat melatih Internazionale. (Instagram/@antonioconte)

Tottenham sedang kacau balau dan tak ada sosok yang lebih tepat untuk menangani mereka saat ini dibanding Antonio Conte. Lalu, apa saja yang bisa dan akan dia lakukan?

Tak butuh waktu panjang bagi Tottenham Hotspur untuk menunjuk pengganti Nuno Espirito Santo. Pada Senin (1/11/2021) Tottenham mengumumkan berakhirnya kerja sama mereka dengan Nuno. Pada Selasa (2/11), mereka resmi mengontrak pelatih baru dalam diri Antonio Conte.

Pertanyaannya, apakah Conte sosok yang tepat untuk memperbaiki permainan sekaligus mengatrol prestasi Tottenham?

Tottenham mengakhiri musim 2020/21 dengan buruk. Mereka memecat Jose Mourinho menyusul hasil imbang dengan Everton pada 16 April. Waktu itu Tottenham tidak langsung mencari pelatih pengganti. Alih-alih, mereka mempercayakan tim pada Ryan Mason. Mason adalah mantan pemain Tottenham yang pensiun dini pada 2018 akibat cedera kepala. Sejak 2018, dia telah kembali ke klub untuk menangani akademi.

Di bawah kendali Mason, peringkat Tottenham di liga tak membaik. Meski sanggup meraih empat kemenangan dari enam laga, Tottenham sudah tertinggal jauh dari tim-tim yang ada di atasnya. Oleh karena itu, mereka pun cuma bisa finis di posisi ketujuh. Selain itu, Mason juga gagal membawa Tottenham menang dalam final Piala Liga menghadapi Manchester City.

Meski demikian, Mason memang tak diproyeksikan memegang jabatan pelatih tim utama secara permanen. Mason bertahan sampai akhir musim karena Tottenham lebih memilih untuk mencari pelatih setelah semuanya rampung. Mereka ingin kembali memainkan sepak bola proaktif intensitas tinggi seperti pada era kepelatihan Mauricio Pochettino dan, untuk itu, mereka memilih untuk mulai lagi dari nol.

Benar saja, sebelum musim 2021/22 dimulai, pelatih-pelatih yang diincar Tottenham adalah pelatih-pelatih yang dianggap mampu membawa tim tampil "menyerang dengan cair dan atraktif". Ada nama Hansi Flick, Paulo Fonseca, Gennaro Gattuso, bahkan Pochettino sendiri. Tak ketinggalan, dalam daftar tersebut juga ada nama Conte.

Akan tetapi, upaya Tottenham menggoda nama-nama tersebut berujung kegagalan. Flick memilih ke Timnas Jerman, Pochettino tidak dilepas oleh Paris Saint-Germain, Gattuso ditolak para suporter karena dianggap seksis, Fonseca gagal diyakinkan, dan Conte menilai Tottenham tidak bisa memenuhi ambisinya.

Maka, berpalinglah Fabio Paratici, Direktur Olahraga Tottenham, kepada sosok Nuno yang sebelumnya mampu membuat Wolverhampton Wanderers jadi tim solid di Premier League. Nuno resmi ditunjuk pada 30 Juni 2021 dan pada 1 November dia telah kehilangan pekerjaannya.

Di bawah asuhan Nuno, Tottenham bahkan lebih buruk dibanding era Mourinho. Sama seperti Mourinho, Nuno juga memainkan sepak bola defensif. Bedanya, Mourinho masih bisa membuat Son Heung-min dan Harry Kane bersinar. Sementara, selama dilatih oleh Nuno, kedua penyerang papan atas itu melempem. Maka, terpuruklah Tottenham di urutan ke-9 klasemen Premier League.

Menyusul kekalahan telak 0-3 dari Manchester United, manajemen Tottenham bergerak cepat. Penampilan The Lilywhites pada laga tersebut betul-betul mengenaskan dan manajemen pun menilai Nuno tak lagi mampu dipercaya mengangkat prestasi tim. Nuno dipecat, Conte didapat.

Nuno Espirito Santo yang malang. (Instagram/@spursofficial)

Agak aneh, memang, melihat Conte akhirnya mau menerima pinangan Tottenham. Dia pernah menolak Tottenham dan sepak bola yang dimainkan tim-tim asuhannya tidaklah seprogresif tim-tim asuhan Juergen Klopp atau Pep Guardiola. Akan tetapi, ini bukan berarti Conte sosok yang salah untuk Tottenham. Justru sebaliknya.

Dalam autobiografinya, Giorgio Chiellini menuliskan bahwa kekuatan terbesar Conte adalah "reset". Artinya, ketika Conte menangani sebuah tim, dia akan menjadikan tim itu seratus persen miliknya. Dia bakal membuat tim tersebut melakukan apa yang dia mau sampai ke detail terkecil. Dia akan 'membunuh' siapa pun yang tidak mau menuruti perkataannya.

Tottenham butuh sosok seperti Conte. Tottenham butuh sosok yang bisa menyatukan tim baik di dalam maupun luar lapangan. Sudah lama sekali sejak Tottenham terlihat memiliki kohesivitas, terutama dalam permainan. Belum lagi, mereka sempat diterpa isu Kane bakal hengkang. Alhasil, makin rapuhlah tim ini.

Singkat kata, Tottenham sedang kacau balau. Padahal, mereka sebetulnya memiliki skuad yang tidak buruk. Pemain-pemain mereka memang bukan yang nomor satu, tetapi tim ini punya potensi untuk bersaing memperebutkan satu tempat di zona Liga Champions sebagai kuda hitam.

Hal pertama yang akan dilakukan Conte nanti adalah berbicara dengan semua pemain, terutama para pemimpin tim seperti Kane, Son, dan Hugo Lloris. Setelah itu, Conte bakal memberi mereka sebuah tes untuk menguji komitmen. Ini sudah dilakukan Conte berulang kali di tim yang dia asuh sebelumnya. Mereka yang tidak lulus uji komitmen ini sudah pasti akan disingkirkan.

Dari situ, Conte akan memiliki sekelompok pemain dengan visi yang sama. Baru kemudian, setelah itu, Conte bisa mulai menyusun strategi permainan. Kemungkinan besar, Conte bakal menggunakan formasi andalannya, entah 3-5-2 atau 3-4-2-1. Pasalnya, Tottenham punya pemain-pemain yang (mestinya) bisa bermain dalam pakem tersebut.

Di posisi bek tengah, trio Cristian Romero, Eric Dier, dan Davinson Sanchez kemungkinan bakal jadi andalan. Romero dan Sanchez menjadi stopper di kanan dan kiri, sementara Dier difungsikan sebagai libero di tengah karena dia memiliki kemampuan olah bola dan passing range yang lebih baik.

Di tengah, Conte biasanya memainkan satu regista dan dua mezzala. Untuk mengisi pos regista, kemungkinan Oliver Skipp yang akan dipercaya olehnya karena selama ini dialah yang jadi pengatur permainan Tottenham. Sedangkan, untuk peran mezzala, ada Giovanni Lo Celso dan Tanguy Ndombele yang bisa digunakan.

Namun, skenario itu adalah untuk formasi 3-5-2. Jika Conte menggunakan pakem 3-4-2-1, tentu komposisi di tengah akan berbeda pula. Di pakem 3-4-2-1, dua gelandang tengah yang digunakan adalah seorang breaker dan seorang gelandang box-to-box. Pierre-Emile Hojbjerg bisa mendapat tempat sebagai seorang breaker jika Conte memutuskan memakain formasi ini. Hojbjerg akan didampingi, kemungkinan besar, oleh Ndombele yang punya mobilitas dan skill olah bola tinggi.

Sementara itu, pos wing-back kanan bakal diperebutkan dengan sengit oleh Matt Doherty dan Emerson Royal. Perlu diingat bahwa Doherty didatangkan oleh Tottenham setelah tampil apik sebagai wing-back (bukan full-back) bersama Wolverhampton. Dengan bimbingan Conte, bisa jadi dia akan kembali menemukan penampilan terbaiknya.

Adapun, di kiri situasinya tak jauh beda. Ada Ben Davies dan Sergio Reguilon yang siap berebut tempat utama. Mereka berdua sama-sama piawai membantu serangan dan melepas umpan silang. Dua hal itu yang biasanya dicari Conte dari seorang wing-back. Itulah mengapa ketika melatih Internazionale dia mendatangkan Ashley Young.

Emerson Royal, calon wing-back andalan Conte. (Instagram/@spursofficial)

Beralih ke lini depan, Kane dan Son kemungkinan besar bakal menjadi pilihan utama. Jika Conte menggunakan pola 3-4-2-1, dia bisa memainkan Lucas Moura, Seteven Bergwijn, maupun Dele Alli sebagai pendamping. Alli sendiri bisa juga dimainkan di tengah tetapi insting mencetak golnya membuat pemain 25 tahun tersebut lebih baik dimainkan di depan.

Lalu, bagaimanakah Tottenham akan bermain?

Berlawanan dengan persepsi publik, Conte bukanlah pelatih defensif, melainkan pelatih yang bisa mengoptimalkan komposisi skuad yang ada. Ketika komposisi skuad hanya memungkinkan dia untuk mengandalkan counter attack, itu yang akan dilakukannya, seperti di Timnas Italia pada Euro 2016. Namun, ketika dia memiliki pemain yang memungkinkan untuk tampil proaktif, ya, begitulah tim itu akan tampil, seperti Internazionale musim lalu.

Tottenham sendiri saat ini masih diperkuat pemain-pemain milik Pochettino yang didesain untuk memainkan sepak bola proaktif. Sejak Pochettino pergi, potensi itu sayangnya tak pernah dimaksimalkan karena manajemen menunjuk pelatih yang salah. Conte memang tidak sepenuhnya sama dengan Pochettino tetapi dia adalah sosok yang mampu menciptakan sistem untuk mengoptimalkan potensi skuad.

Maka dari itu, Conte untuk saat ini adalah pilihan terbaik Tottenham. Mungkin saja Conte bukan solusi yang paling pas untuk proyek jangka panjang Tottenham dan itulah mengapa dia cuma dikontrak 1,5 tahun. Namun, dia bisa menjadi penjembatan. Setidaknya, Conte akan membuat Tottenham kembali bermain dalam sebuah sistem yang jelas. Selain itu, dia juga akan menularkan mental juara kepada tim London Utara ini. Yang jelas, ketika Conte pergi nanti, Tottenham akan berada dalam kondisi yang lebih baik dari sekarang.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.