Apa yang Membuat Barcelona Cupu di Hadapan Real Madrid?

Foto: Twitter @realmadrid

Barcelona, oh, Barcelona. Di kandangnya sendiri, mereka takluk dari Real Madrid 1-3 pada El Clasico, Sabtu (24/10/20).

Barcelona merana di El Clasico. Mereka takluk 1-3 dari Real Madrid pada La Liga pekan kelima, Sabtu (24/10/20. 

Ini agak di luar dugaan, sih. Soalnya Madrid baru saja dilumpuhkan Shakhtar Donetsk 2-3 di Liga Champions tengah pekan lalu. Mereka bahkan takluk dari tim promosi Cadiz di fixture sebelumnya.

Barcelona memang sempat keok dari Getafe. Namun, mereka sedikit terselamatkan karena sukses melibas Ferencvaros di Liga Champions. Apes, hitung-hitungan itu tak mengubah apa-apa. Bukan Barcelona, justru Madrid yang kali ini berjaya.

So, apa yang membuat Barcelona begitu cupu di hadapan Madrid?

Pertama, tentu saja, melempemnya Lionel Messi. Menyitat Whoscored, dia telah kehilangan penguasaan bola sebanyak 9 kali--tertinggi di antara seluruh pemain.

Ini bukan kebetulan. Toh, La Pulga memang nihil kontribusi dalam lima El Clasico terakhir. Dengan kata lain, Madrid sudah mafhum bagaimana caranya menghentikan Messi.

Paling kentara, ya, kejelian Zinedine Zidane dalam menyumbat sisi kiri Barcelona. Perlu digarisbawahi, sektor tersebut memang jalur primer serangan Barcelona di musim ini. Ya, persentase serangan mereka dari sisi kiri menyentuh 43%, berbanding jauh dengan lini tengah dengan 28% dan sayap kanan di angka 29%.

Itulah mengapa Zidane menyuruh Nacho Fernandez untuk tetap menjaga kedalaman, berbeda dengan Ferland Mendy yang aktif membantu serangan di tepi kiri. Pun dengan Federico Valverde yang diinstruksikan buat membantu Casemiro buat mengover sisi kanan pertahanan.

Skema pertahanan Zidane sempat jebol di menit 8. Aktornya, ya, Fati setelah menerima umpan silang dari Alba. Akan tetapi, cuma sekali itu saja kombinasi mereka berbuah hasil.

Oke, Barcelona memang masih punya Philippe Coutinho. FYI, eks pemain Inter Milan itu punya peranan penting di bawah rezim Ronald Koeman. Dia diberi kepercayaan untuk mengover peran Messi sebagai playmaker. Tak hanya itu, Coutinho juga menjadi false nine.

Gamblangnya, Coutinho adalah alternatif serangan Barcelona saat Messi tumpul. Itu dibuktikan dari torehan masing-masing 2 gol dan assist di lintas ajang musim ini.

Sial bagi Koeman, Coutinho tak mempan di hadapan Madrid. Dia alpa dalam memproduksi umpan kunci dan cuma mencatat satu tembakan efektif dari 5 percobaan.

Well, Koeman sempat menyiasatinya dengan mengalihkan serangan ke sisi kanan. Sayangnya, sektor yang dihuni Pedri itu memang tak cukup eksplosif.

Padahal, Sergino Dest dari departemen full-back tampil lumayan, lho. Pemain asal Amerika Serikat itu sukses melakukan 6 dribel dari 7 percobaan. Setengahnya, dia lakukan di sepertiga area pertahanan Madrid.


Problem terbesar Barcelona, apa lagi kalau bukan divisi pertahanan? Lihat saja gol pembuka Madrid bikinan Valverde. Lesakan itu tumbuh dari buruknya koordinasi lini belakang dan tengah. Khususnya, saat mereka terlambat menutup pergerakan Valverde yang berlari dari area tengah.

Lemahnya Barcelona dalam mengantisipasi through pass kembali terpampang di gol Luka Modric. Dalam hal ini Frenkie de Jong, sebab dia lalai mengawal eks gelandang Tottenham Hotspur tersebut.

Pakem Koeman yang mengusung double pivot dalam skemanya memang masih cukup riskan. Oh, iya, arsitek Belanda itu mencanangkan format 4-2-3-1. Berbeda dengan para pelatih Barcelona sebelumnya yang intens mengaplikasi skema 4-3-3.

Semestinya dua gelandang ini bisa bergantian melindungi back-four selain sebagai distributor bola. Terlebih peran gelandang begitu vital karena Barcelona kerap mencanangkan garis pertahanan yang tinggi--termasuk tingginya intensitas sepasang full-back dalam membantu serangan. Namun, De Jong dan Sergio Busquets tak jarang kedapatan out of position.

Saking buruknya pertahanan Barcelona, Madrid bahkan bisa saja mencetak 2 gol tambahan. Untung Neto tampil gemilang karena sukses menepis sepasang peluang emas tim tamu.


Secara garis besar, Madrid memang layak buat menang di El Clasico kali ini. Pertama, mereka berhasil meredam Messi plus sektor kiri yang jadi andalan Barcelona. Kedua, ya, kejelian Sergio Ramos cs. dalam mengeksploitasi titik lemah Barcelona.

Sementara pesan untuk Barcelona, sudah semestinya mereka memompa agresivitas sektor kanan. Itu demi mengantisipasi buntunya jalur kiri yang jadi arus serangan primer mereka. Plus, kekalahan ini juga membuktikan bahwa masih banyak celah dalam pakem 4-2-3-1 yang diusung Koeman.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.