Apa yang Salah dengan Arsenal?

Foto: @Arsenal

Kami mencoba mendedah statistik Arsenal musim ini. Hasilnya: Kreativitas mereka buruk, kualitas peluang mereka jelek, dan crossing-crossing yang dilepaskan para pemainnya tak banyak berguna.

Saat ditunjuk jadi manajer, Mikel Arteta punya misi untuk bisa mengembalikan kejayaan Arsenal. Itu jelas sebuah misi yang besar. Untuk mewujudkan misi itu, hal yang kemudian dia lakukan adalah mendatangkan pemain anyar ke Stadion Emirates.

Pemain pun tak sembarang dipilih. Arteta hanya menghadirkan sosok pemain yang dinilai cocok dengan sistem permainannya. Dia diberi kebebasan untuk membeli pemain demi tercapainya visi dan misi.

Willian Borges sampai tergiur dengan visi dan misi Arteta tersebut. Sebelum Willian memutuskan bergabung dengan Arsenal di bursa transfer musim panas lalu, Arteta menyampaikan visi dan misinya kepada pemain asal Brasil tersebut.

"Ketika saya berbicara dengan Arteta, dia memberitahu saya mengapa dia mengontrak saya selama tiga tahun. Pertama, dia ingin lolos ke Liga Champions lalu memenanginya sebelum saya pergi. Itulah yang saya dengar," ucap Willian dilansir Talksport.

Ambisi pria asal Spanyol itu terlihat realistis setelah dia sukses meraih gelar juara FA Cup di setengah musim perdananya. Selain itu, Gabriel Magalhaes dan Thomas Partey bisa didaratkan ke Emirates Stadium. Belum lagi Pierre-Emerick Aubameyang yang berhasil diperpanjang kontraknya hingga tiga tahun ke depan.

Semuanya seakan berjalan lancar untuk Arsenal dan Arteta. Sampai akhirnya, Arteta sadar visi dan misinya terlalu sulit untuk diwujudkan.

***

Jose Mourinho membalikan badannya, mengarah ke belakang bench Tottenham Hotspur. Raut mukanya lega usai Tottenham Hotspur sukses mengalahkan rival sekota mereka, Arsenal.

Sekali lagi, Mourinho berhasil membawa tim yang dilatihnya menang atas The Gunners. Kalau ditotalkan, Mourinho sudah menang sebanyak 12 kali atas Arsenal sepanjang karier kepelatihannya.

Tak cuma menang, Mourinho juga memperlihatkan bahwa Arteta belum matang sebagai seorang pelatih. Sebab, pada laga itu, Mourinho menang dengan gaya Mourinho yang biasanya; membuat timnya kompak dalam bertahan dan kemudian menaklukkan lawan lewat serangan balik.

Arteta seharusnya sudah tahu itu karena dua pekan sebelumnya, Mourinho menunjukkan hal yang sama saat Spurs menang atas Manchester City. Saat Mourinho menang atas gurunya Arteta, Pep Guardiola.

Arteta tak belajar. Dia masih saja membuat Arsenal menampilkan permainan buruk seperti yang mereka tunjukkan dalam tiga laga terakhir di Premier League. Tak ada solusi dari alur serangan Arsenal yang sangat monoton. Arsenal terlalu sering melakukan umpan-umpan silang yang tidak bermanfaat.

Saat melawan Spurs, Arsenal melakukan 44 umpan silang. Lucunya, dari 44 umpan silang itu hanya dua yang mampu diterima pemain Arsenal dan menjadi tembakan on target. Willian menjadi pemain yang paling banyak melepaskannya di laga itu dengan total 16 kali.

Kalau ditotal hingga gameweek ke-11, Arsenal sudah melakukan 225 umpan silang. The Gunners menempati posisi sebagai tiga klub yang sering melakukan umpan silang di Premier League.

Grafis: Sky Sports

Seringnya Arsenal melepas umpan silang tak lepas dari arah alur serangan mereka yang dominan menuju sisi tepi. Sejak musim lalu saat Premier League kembali dihelat setelah rehat Pandemi, Arteta memang memfokuskan serangan lewat kedua tepi.

Tak heran, Arteta membuat perubahan pola dari 4-2-3-1 ke 3-4-3. Dalam pola 3-4-3 itu, pemain di sisi tepi menjadi lebih banyak. Ini karena Kieran Tierney yang tampil di posisi tiga bek sering maju dan memberikan opsi serangan tambahan di sisi kiri. Belum lagi dua pemain depan Arsenal juga sering bergerak melebar.

Awal-awal, sih, Arsenal tampil cukup bagus dan mampu merengkuh gelar Piala FA. Namun, semakin ke sini, strategi tersebut mulai gampang dibaca dan dihentikan oleh lawan.

Leicester City dan Wolverhampton Wanderers sukses meredam sisi sayap The Gunners dengan menggunakan pola yang sama, 3-4-3. Sementara Spurs menggunakan Mohamed Sissoko dan Pierre Hoejberg untuk membantu Serge Aurier dan Sergio Reguilon agar bisa memberikan overload di sisi tepi guna menghentikan serangan Arsenal.

Sebenarnya, Arteta kadang-kadang mengubah polanya menjadi 4-3-3 atau 4-4-2. Namun, tetap saja gaya bermain yang diusung masih mengandalkan umpan silang dari sisi tepi.

Dalam pola 4-3-3, para gelandang justru sering berdiri sejajar dan minim kreativitas. Oleh karena itu, tak ada pemain yang bisa mengisi ruang antar lini lawan untuk menciptakan opsi serangan dari tengah.

Sialnya, sayap-sayap yang biasa dimainkan Arsenal tak tampil seperti winger-winger kekinian. Willian dan Bukayo Saka jarang merangsek ke tengah untuk melepaskan upaya yang mengancam gawang lawan. Kedua winger Arsenal malah cenderung bergerak menyisir dan menyelesaikannya dengan umpan silang.

Padahal, Arsenal memiliki winger eksplosif yang punya kemampuan masuk ke dalam kotak penalti lawan seperti Reiss Nelson dan Nicolas Pepe. Namun, Keduanya tak juga tak banyak mendapat kesempatan tampil di Premier League oleh Arteta. Nama terakhir justru bermasalah saat diberikan kesempatan.

Foto: @arsenal

Buruknya cara menyerang berimbas pada hasil yang didapatkan. Arsenal baru membuat 10 gol di pentas Premier League sejauh ini. Angka itu lebih sedikit dari seorang Dominic Calvert-Lewin yang sudah mengemas 11 gol untuk Everton di Premier League. 

Arsenal jadi tim keempat paling sedikit mencetak gol (cuma di atas West Bromwich Albion, Burnley, dan Sheffield United). Boro-boro membuat gol, membuat kesempatan mengancam gawang lawan aja Arsenal kepayahan. Sampai saat ini, Arsenal baru menghasilkan 71 chances created di Premier League.

Sekadar catatan, jika dibandingkan dengan tim Big 6 lain, angka chances created Arsenal itu jadi yang paling jelek. Bahkan dengan Spurs yang ratan penguasaan bolanya lebih rendah saja Aubameyang cs. kalah jauh. Spurs musim ini sudah mencatatkan 94 chances created.

Ya, bagaimana mau buat kesempatan kalau menembus kotak penalti lawan saja kesulitan. Rata-ratanya, Arsenal cuma melakukan 5,5 upaya dari dalam kotak penalti. Catatan itu membuat Arsenal menjadi tim paling terburuk keempat di Premier League dalam urusan melepaskan shots dari dalam kotak.

Apesnya lagi, total tembakan Arsenal juga minim. Cuma ada rata-rata 9,6 tembakan per laga yang dicatatkan 'Meriam London' sepanjang Premier League hingga saat ini. Angka itu jauh sekali dibanding dengan Manchester City yang menjadi tim paling banyak melepaskan tembakan dengan rata-rata 15,9.

Udah gitu kualitas peluang yang dimiliki Arsenal juga buruk. Klub yang berdiri pada 1886 itu hanya mencatatkan 11,73 expected goals (xG) musim ini. Jumlah itu adalah yang terburuk kelima di Premier League.

Salah satu hal yang bisa dilakukan Arsenal untuk menambah variasi serangan adalah dengan memainkan sosok kreatif di belakang penyerang. Pemain itu bisa bertugas membuka ruang, mengkreasikan peluang, dan menjadi opsi umpan dari pivot Arsenal dalam melakukan build-up serangan.

Ini juga dikarenakan build-up Arsenal sering kali mampet, tak bisa sampai depan. Arsenal cuma mencatatkan umpan 2258 umpan di area lapangan lawan sepanjang Premier League musim ini. Angka itu kalah jika dibanding milik Manchester United atau Chelsea, dan jauh dibanding catatan klub seperti Liverpool.

Sebenarnya, Arsenal memiliki Mesut Oezil yang bisa jadi sosok pembeda. Oezil kita tahu adalah pemain yang kreatif dan bisa bergerak antarlini lawan. Penempatan posisinya tak jelek dalam melakukan build-up. Oezil juga piawai membuat umpan dan mengkreasikan peluang untuk menjadi gol.

Namun, Oezil malah dipinggirkan oleh Arteta. Pemain asal Jerman itu tak masuk ke dalam skuat Arsenal di Premier League maupun Europe League.

Oke, anggap Oezil sudah tak ada dalam skuat Arsenal. Kalau begitu, Arteta masih memiliki Emile Smith-Rowe atau Ainsley Maitland-Niles yang bisa bergerak maju (vertikal) untuk menciptakan opsi serangan. Maitland-Niles tampil apik di lini tengah saat Arsenal mengalahkan Rapid Wien di pentas Liga Europa.

Saat itu, Maitland-Niles mampu membuat assist untuk gol yang dibuat Smith-Rowe. Proses golnya juga terjadi karena Maitland-Niles mampu merangsek dari tengah dan masuk ke kotak penalti lawan.

Sayangnya, Maitland-Niles atau Smith-Rowe belum diberi kesempatan tampil reguler di Premier League. Padahal, keduanya bisa dicoba sebagai opsi sebelum bursa transfer musim dingin pada Januari nanti dibuka.

Pentingnya Arsenal memiliki pemain kreatif yang bisa bergerak vertikal dan mengkreasikan peluang ini tercermin dari angka expected assist (xA) para pemain mereka yang rendah. Bayangkan saja, pemain dengan xA tertinggi untuk Arsenal di Premier League musim ini adalah Hector Bellerin dengan catatan 1,45.

Para pemain sayap seperti Willian hanya mencatat 1,24, sedangkan Saka memiliki catatan 0,68 dan Pepe 0,13. Gelandang macam Dani Ceballos pun hanya punya angka yang sama dengan Willian, sedangkan Xhaka cuma memiliki angka 0,08 dan Partey 0,03.

Bahkan Danny Wellbeck, eks-pemain mereka yang kini ada di Brighton, saja memiliki xA di angka 1,45. Rekan satu tim Wellbeck yakni Adam Lallana (yang lebih sering menghabiskan waktu di ruang perawatan) saja memiliki xA hingga 1,33.

Arsenal jelas membutuhkan sosok yang bisa mengkreasikan peluang, karena dengan peluanglah mereka bisa mencetak gol dan kemudian memenangkan pertandingan. Jika tak menemukan sosok itu, Arsenal masih akan tetap menjadi Arsenal yang sekarang. Payah.

***

Arteta pernah berujar, dirinya butuh beberapa bursa transfer lagi untuk bisa membangun skuat yang bagus dan sempurna. Namun, pendukung The Gunners tentu tak bisa menunggu lama untuk melihat timnya kembali tampil baik dan menakutkan di Premier League.

Toh, transfer musim panas lalu pun tak (atau khusnudzon saja, belum) berefek apa-apa.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.