Apakah Taktik Rangers-nya Steven Gerrard Memang Mirip Liverpool?

Foto: RangersFC

Kami coba mendedah taktik Rangers-nya Steven Gerrard. Memang ada beberapa aspek yang mirip Liverpool, tapi Gerrard juga punya sejumlah detail yang membuat Rangers-nya berbeda.

Pada November 2016, sebuah tawaran datang menghampiri Steven Gerrard. Tawaran itu diberikan oleh Pete Winkelman, bosnya MK Dons. Oleh Winkelman, Gerrard ditawari posisi sebagai manajer. Kebetulan, sejak Oktober, MK Dons butuh manajer baru usai Karl Robinson dipecat.

Pada saat bersamaan, kontrak Gerrard dengan LA Galaxy juga akan habis, dan dia tak berniat melanjutkan karier sebagai pemain di tempat lain. Winkelman melihat itu sebagai peluang dan merasa Gerrard bisa jadi manajer yang tepat untuk mendongkrak performa MK Dons. Belum lagi pamor Gerrad juga dinilai bagus untuk meningkatkan popularitas klub.

Pada akhirnya, tawaran itu Gerrard tolak. Dia merasa terlalu dini untuk beralih karier ke dunia kepelatihan. Namun, hanya dua bulan setelah menolak tawaran tersebut, Gerrard menerima pinangan Liverpool untuk menjadi pelatih tim U-18. Dari situ karier kepelatihannya kemudian dimulai.

Setelah 18 bulan menangani Tim U-18 dan juga U-19 Liverpool, Gerrard mendapatkan tawaran lain. Dia diminta untuk jadi Manajer Rangers. Namun, tak seperti tawaran dari MK Dons, kali ini Gerrard menerimanya. Mantan Kapten Liverpool itu kemudian resmi menjadi manajer Rangers pada 1 Juni 2018.

Dua tahun sebagai manajer, Gerrard berhasil membawa Rangers jadi salah satu klub yang paling disorot di Eropa. Penyebabnya tentu karena prestasi mereka. Memang, klub berjuluk The Gers itu belumlah dapat piala. Namun, apa yang mereka tunjukkan sejauh musim 2020/21 ini berjalan sungguh luar biasa.

Di Scottish Premiership, Rangers belum terkalahkan. Dari 14 laga yang sudah mereka lalui, 12 di antaranya berakhir dengan kemenangan. Yang lebih mengesankan, Rangers baru kebobolan 3 gol dan sudah memasukkan 37 gol. Dalam partai terbesar liga musim ini--Derbi Old Firm melawan Celtic--mereka juga mampu meraup kemenangan.

Pada babak fase grup Liga Europa, Rangers juga belum pernah kalah. Bahkan mereka berhasil jadi pemuncak klasemen Grup D, mengungguli Benfica, Lech Poznan, dan Standard Liege. Benfica yang di atas kertas lebih diunggulkan dari mereka juga berhasil ditahan imbang di kandangnya. Belum lagi pada babak kualifikasi, Rangers berhasil menyingkirkan Galatasaray.

Keberhasilan itu tentu spesial, mengingat secara skuad Rangers terhitung biasa-biasa saja. Dalam bursa transfer musim panas, Gerrard hanya menghabiskan dana 9 juta poundsterling untuk belanja. Pemain termahal yang dibeli adalah Kemar Roofe yang didatangkan dengan harga 3,5 juta poundsterling dari Anderlecht.

Skuad musim ini juga masih dihuni oleh veteran-veteran Premier League seperti Allan McGregor, Jermain Defoe, Steven Davis, hingga Scott Arfield. Gerrard memadukan mereka dengan pemain-pemain potensial macam Alfredo Morelos, Joe Aribo, Ryant Kent, hingga Ianis Hagi.

Lantas, dengan skuad yang pas-pasan itu, apa yang membuat Gerrard bisa membawa Rangers jadi tim yang spesial? Memangnya bagaimana taktik yang diterapkan oleh pria 40 tahun itu? Apa memang mirip taktik Liverpool-nya Juergen Klopp kayak yang sering dibicarakan beberapa orang? Coba kita dedah.

Di atas kertas, Gerrard menggunakan formasi dasar 4-3-3. Kalau dilihat dari sini doang memang mirip, sih, sama Liverpool yang formasi dasarnya juga 4-3-3. Namun, 4-3-3 yang dipakai Gerrard ini unik. Kenapa unik? Karena, di lini depan dia tidak pakai penyerang sayap untuk mengapit penyerang tengah.

Gerrard tidak memiliki penyerang sayap seperti Sadio Mane atau Mohamed Salah yang cepat, bisa melakukan tusukan dari samping, dan punya dribel ciamik. Oleh karena itu, Gerrard menggunakan dua pemain bertipikal "nomor 10" untuk jadi dua pemain terluar di lini depannya. Biasanya kedua pemain itu adalah Kent dan Hagi. Keduanya diposisikan di lini depan untuk mengapit Morelos sebagai penyerang tengah.

Memiliki dua pemain bertipikal "nomor 10" dalam formasi 4-3-3 membuat shape Rangers berubah menjadi 4-3-2-1 ketika bertahan. Kent atau Hagi jadi ada di posisi yang lebih dalam dari Morales. Ini juga berbeda dengan Liverpool yang tetap menggunakan shape 4-3-3 saat bertahan atau berubah menjadi 4-5-1 flat saat menghadapi tim yang lebih superior dalam penguasaan bola.

Dengan shape 4-3-2-1, Gerrard mencoba mencoba meminimalisir jalur umpan antara bek tengah dan gelandang tengah lawan. Ini membuat lawan mau tidak mau mengarahkan serangan mereka ke samping via full-back. Dari sini, Gerrard kemudian akan menginstruksikan Kent atau Hagi untuk bergerak ke samping melakukan pressing terhadap full-back lawan.

Agar full-back lawan tidak mudah lolos, Kent atau Hagi kemudian dibantu gelandang yang paling dekat dengan mereka, plus full-back, agar menghasilkan overload di sisi tersebut. Imbasnya, lawan tidak memiliki opsi umpan. Harapan Gerrard, lawan bakal kehilangan bola atau jadi melepaskan umpan lambung.

Taktik overload di sisi lapangan ini yang cukup mirip dengan Liverpool-nya Klopp. Di Liverpool, ketika lawan menyerang dari sisi kanan, Mane akan mendapatkan bantuan dari Gini Wijnaldum dan Andy Robertson dalam melakukan pressing. Harapannya juga sama: Lawan melepaskan umpan lambung dan umpan lambung tersebut bisa dihalau oleh Virgil van Dijk yang jago dalam duel udara.

Rangers memang tidak memiliki Virgil van Dijk, tetapi mereka mempunyai duet Connor Goldson dan Filip Helander yang jago duel udara. Berdasarkan catatan Twenty3, keduanya memenangi 72% duel udara musim ini. Taktik itu juga yang membuat Rangers terhindar dari serangan-serangan berbahaya lawan-lawannya, sehingga jumlah kebobolan mereka juga sedikit.

Selain itu, Gerrard juga menginstruksikan timnya menerapkan garis pertahanan tinggi. Tujuannya untuk membuat jarak antarlini jadi rapat, sehingga meminimalisir ruang yang bisa dieksploitasi lawan. Selain itu, kompaksi juga membuat Rangers jadi lebih andal dalam memenangi second ball; ketika ada pemain yang kehilangan bola, ada pemain lain yang siap mengambil second ball itu untuk mendapatkan penguasaan bola kembali.

Garis pertahanan tinggi ini juga dipadukan dengan offside trap yang baik. Anak-anak asuh Gerrard muncul sebagai tim dengan keberhasilan paling tinggi dalam urusan menjebak lawan ke posisi offside pada ajang Scottish Premiership musim ini. Dua urusan di atas, entah kebetulan atau tidak, juga sama dengan apa yang dilakukan Liverpool.

Klopp adalah manajer yang seringkali menekankan pentingnya sebuah klub memenangi second ball. Oleh karena itu, sejak awal-awal kedatangannya, Roberto Firmino dkk. sering ia fokuskan untuk berlatih memenangi second ball.

Hasilnya, Liverpool jadi tim yang jago memenangi second ball dan nyaman bermain umpan-umpan panjang --yang amat riskan dilakukan jika sebuah tim tak jago memenangi second ball. Soal offside trap, itu juga salah satu strategi dari garis pertahanan tinggi yang diterapkan The Reds. Musim lalu Liverpool jadi tim tersukses dalam urusan menjebak lawan ke posisi offside.

Satu hal lagi yang sama antara Rangers-nya Gerrard dan Liverpool-nya Klopp adalah tiga gelandang dalam formasi 4-3-3 bermain narrow (rapat) ketika bertahan. Ini, selain digunakan untuk meminimalisir celah, juga dilakukan untuk mempersulit lawan memindahkan bola dari satu sisi ke sisi lainnya.

Kalau itu soal bertahan, bagaimana dalam hal menyerang? Mari kita balik lagi ke dua pemain bertipikal "nomor 10" di lini depan Rangers. Di sini, Kent atau Hagi lebih sering bergerak di area tengah, untuk masuk mendekati (atau ke dalam) kotak penalti. Gambarannya seperti Liverpool di era Klopp awal-awal di mana Philippe Coutinho dan Adam Lallana diplot sebagai penyerang sayap.

Satu hal yang jadi pembeda lagi mungkin ada pada bantuan gelandang dalam proses serangan. Jika di Liverpool Henderson atau Wijnaldum lebih fokus hanya sebagai jembatan atau gelandang "nomor 8", maka di Rangers ada Arfield yang sering muncul sebagai "nomor 10" tambahan dalam situasi menyerang.

Oleh karena itu, shape Rangers dalam situasi menyerang acap berubah menjadi 4-2-3-1 dengan catatan 3 pemain di belakang Morales berada dalam posisi narrow (rapat). Alhasil Arfield jadi salah satu pemain yang moncer musim ini di mana dia sudah mencetak 3 gol dan memberi 4 assist

Sementara untuk sisi sayap, Gerrard menyerahkannya kepada duo full-back Borna Barišić dan James Tavernier untuk menggalang serangan. Keduanya pun moncer karena musim ini sudah mencatatkan total 8 assist pada ajang Scottish Premiership. Mirip, lah, ya sama duet Trent Alexander-Arnold dan Robertson di Liverpool.

Yang menarik, Gerrard juga bisa membuat Rangers bermain dengan kecepatan tinggi bahkan sejak build-up. Penempatan posisi yang baik dari para pemainnya, ditambah dengan sistem yang sudah dibangun dengan baik membuat Rangers bisa kapan saja meloloskan diri dari lawan-lawannya, sehingga tak kesulitan mencetak gol.

Ini berbeda dengan Liverpool yang dalam dua musim terakhir tampil lebih sabar dalam membangun serangan, juga karena lawan sering menerapkan low-block ketika menghadapi mereka. Sementara Gerrard juga diuntungkan karena Scottish Premiership "lebih mudah" untuk dieksploitasi ketimbang Premier League.

Dalam beberapa hal, Rangers-nya Gerrard memang mirip dengan Liverpool-nya Klopp. Namun, seperti yang sudah kami jabarkan di atas, Gerrard memiliki detil-detilnya sendiri. Detil-detil itu juga yang menjadi pembeda antara Rangers dan tim-tim lain.

Detil-detil dalam taktik Gerrard itu juga yang bisa jadi penentu apakah di akhir musim nanti pria pemilik medali Liga Champions itu bisa membawa piala ke Ibrox Stadium atau tidak. Hingga kini, peluang terbuka lebar untuk mengakhiri puasa gelar sembilan tahun terakhir.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.