Balada Dybala

Foto: @PauDybala_JR

Sudah terlalu lama Juventus asyik dengan Ronaldo sampai memarginalkan Dybala. Sekaranglah waktunya mereka kembali mengandalkan La Joya.

Topeng itu kembali muncul di Udine. Ia menyergap ribuan publik Dacia Arena tiga menit setelah Ivano Pezutto meniup peluit sepak mula.

Paulo Dybala pemilik topeng magis itu. Setiap mencetak gol, ia merentangkan ibu jari dan jari telunjuk di wajahnya. Gladiator yang menginspirasinya. Dybala meminjam spirit pantang menyerah mereka sebagai perisai emosional.

“Sering kali, Anda memiliki saat-saat sulit dan tetap berjuang untuk melewatinya: Tidak hanya dalam sepak bola, tetapi juga dalam hidup. Anda harus terus berjalan: Kenakan topeng seperti yang dilakukan gladiator, dan bertarung,” kata Dybala kepada The Guardian.


Awal

Dybala sudah memanggul beban besar ketika pertama kali menginjakkan kakinya di Italia. Maurizio Zamparini, presiden Palermo, wara-wara bahwa pemain anyarnya itu adalah the next Sergio Aguero.

Usianya saat baru 18 tahun saat I Rosanero merekrutnya. Harganya pun tak murah, 8,6 juta euro. Dalam perspektif lain, Dybala memang punya hak buat ditebus dengan harga tinggi. Di klub pertamanya, Instituto de Cordoba, ia menjadi pencetak gol termuda. Rekor Mario Kempes berhasil Dybala lampaui. Sebanyak 17 gol juga diukirnya di musim perdananya tersebut.

Angka-angka itu menyilaukan Palermo. Mereka bergerak cepat dan merekrut Dybala di bulan keempat 2012 silam. Deal, per 20 Juli ia resmi bergabung dengan klub asal Sisilia itu.

Foto: Squawka

Namun, musim perdananya berujung sergut. Bukan semata salah Dybala, tetapi karena Palermo sendiri. Mereka tak cukup kompeten untuk bersaing di Serie A. Cuma sebiji angka yang didapat hingga giornata kelima. Inkonsistensi menjadi karib mereka sepanjang liga. Pada akhirnya Fabrizio Miccoli cs. terdemosi meski sempat melakukan pergantian pelatih lima kali. Dybala, terpaksa menjalani tahun keduanya di level kedua Italia.

Untungnya nestapa Dybala tak berjalan lama. Di musim 2014/15 Palermo langsung promosi setelah menjadi kampiun Serie B. Dari sini ia memahami arti berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Second coming Dybala ke Serie A berakhir cemerlang.

Sebanyak 13 lesakan ia bikin. Jumlah itu setara dengan bomber kondang macam Miroslav Klose dan Fabio Quagliarella. Yang membuat Dybala spesial bukan karena ketajaman saja, tetapi juga kemampuan dalam menciptakan peluang. Itu terjawab utuh lewat labelnya sebagai top assist Serie A di medio yang sama.

Kebangkitan

“Juventus adalah tim yang paling menginginkanku,” kata Dybala kepada TV Italia enam tahun lalu. Ia melanjutkan, "Mereka berusaha keras untuk merekrutku dan itulah mengapa aku di sini.”

Waktu itu Palermo mendapat bujukan dari Chelsea dan Paris Saint-Germain untuk melepas Dybala. Namun, Juventus yang jadi pemenangnya. Selain karena sodoran 32 juta euro, sang pemain memang kepengin hijrah ke Turin. Lagi pula, siapa juga yang kuasa menolak tawaran dari raja Serie A? Di sana Dybala juga dikelilingi pemain yang bintang. Walaupun kemungkinan ada dua, berpendar atau justru termaram karenanya.

Jawabannya yang pertama. Dybala langsung nyetel dengan mencetak 6 gol dan 2 assist dari 16 pertandingan awal. Bila dirinci, ia hanya membutuhkan 151 menit untuk tiap gol/assist-nya. Rasio ini masih lebih baik ketimbang Alessandro Del Piero dan Carlos Tevez di musim perdananya bersama Juventus.

Total 19 gol ditorehkan Dybala sepanjang Serie A musim 2015/16. Tak ada pemain Juventus yang melebihi itu. Kian dipermanis dengan tambahan Scudetto, Coppa Italia, dan Supercoppa Italia yang disabet 'Si Nyonya Tua' pada musim yang sama.

Juventus percaya Dybala bisa menjadi pentolan klub di masa mendatang. Itulah yang jadi alasan mereka memberi nomor punggung 10 kepadanya setelah Paul Pogba pergi. Dybala melanjutkan legacy Del Piero, Michel Platini, Roberto Baggio, dan Omar Sivori sebagai pemilik nomor keramat sebelumnya.

Roller Coaster

Warisan itu tak lantas membuat jalan Dybala semakin mudah. Kedatangan Gonzalo Higuain di awal musim 2016/17 membuat Massimiliano Allegri mengubah pakemnya. Dari yang semula 3-5-2 ke 4–2-3-1. Posisi dan peran Dybala juga beralih, tak lagi sebagai goalgetter utama. Ia harus berbagi dengan Higuain yang diplot sebagai bomber.

Dybala sempat tertatih dengan pakem anyar Allegri. Keran golnya saja baru terbuka di giornata ketujuh. Total lesakannya di Serie A musim itu “cuma“ 11. Tak bisa dibilang sedikit, memang. Namun, itu turun jauh dibanding torehannya musim lalu dan 24 gol yang diukir Higuain.

Akan tetapi, Dybala bukanlah pemain yang mudah terhambat dengan peran. Sejak usia 15 tahun ia sudah mampu melewati ujian lintas posisi. Pelatih Instituto, Dario Franco, memberikan Dybala peran playmaker sebelum masuk ke tim utama dan hasilnya mengesankan. Lagi pula, sejak kecil ia begitu menggandrungi permainan Juan Roman Riquelme sebagai salah satu playmaker terbaik sejagat.

“Aku merasa nyaman bermain dengan peran itu. Pelatih telah banyak berbicara kepadaku tentang apa yang harus kulakukan di lapangan,“ terang Dybala kepada Podio.

Tidak mengherankan kalau Dybala bisa cepat beradaptasi dengan porsi barunya sebagai trequartista. Peran trequartista tak sekadar gelandang serang biasa, tapi juga sebagai kreator serangan dan muncul sewaktu-waktu saat dibutuhkan untuk mencetak gol dari lini kedua. Lebih kompleks, mereka dibebani tugas untuk juga menyelesaikan peluang itu sendiri tanpa mengesampingkan peran sebagai pemrakarsa peluang.

Dybala melakukannya dengan sempurna di musim 2017/18 itu. Sebanyak 22 gol dibuatnya atau 6 lesakan lebih banyak dari Higuain. Sayangnya, itu terakhir kalinya Dybala berkontribusi besar untuk Juventus. Pendarnya meredup seiring kedatangan Cristiano Ronaldo pada musim 2018/19. 

Mulai dari situ, Juventus tak lagi menunjukkan permainan kolektif. Mereka menyerahkan segala aktivitas ofensif kepada Ronaldo. Itu tergambar dari rerata tembakannya yang menyentuh 5,7 per laga. Bukan hanya tertinggi di klub, tetapi juga di Serie A.

Jumlah gol Dybala cuma 5 hingga akhir musim. Itu menjadi yang terburuk sejak periode terakhirnya bersama Palermo. Peralihan pelatih ke Maurizio Sarri sempat membuatnya kembali bersinar. Sebelas gol dan 6 assist diukir Dybala di pentas liga.

Namun, itu tak berjalan lama. Kontribusi Dybala lagi-lagi jeblok di musim lalu. Pertama, karena pergantian rezim ke Andrea Pirlo. Faktor cedera menjadi yang kedua. Masalah ligamen dan betis membuatnya absen lebih dari 120 hari.

Revival

“Paulo mengikuti pelatihan pra-musim seolah-olah ini adalah tahun pertamanya di Juve. Dia juga tahu bahwa dua musim terakhir dirinya tidak berada di level terbaiknya,” begitu komentar pertama Allegri soal Dybala.

Allegri tahu, pemain 27 tahun ini adalah figur yang harus dipertahankan dan bukan disisihkan seperti sebelum-sebelumnya. Ia mengenalnya lebih dari pelatih lainnya. Dybala tak pernah mengecewakan meski bermain di berbagai peran, sebagai trequartista atau goalgetter utama. Itulah mengapa Allegri langsung menurunkannya sebagai starter di pekan pertama. Menyisihkan Ronaldo yang meminta dirinya untuk dicadangkan. Sudah semestinya begitu. 

Betul bahwa kemarin Juventus dipermalukan Empoli di kandangnya sendiri. Banyak hal yang bisa dipertanyakan dari kualitas Allegri saat ini. Tapi satu hal yang pasti, setidaknya Juventus telah mengambil langkah yang benar dengan mengembalikan lagi marwah Dybala.   

Sudah terlalu lama mereka asyik dengan Ronaldo sampai melupakan potensi dan dedikasi Dybala. Sekaranglah waktunya Juventus untuk kembali kepada La Joya. Toh, siapa pula selain selain dirinya yang mampu menjadi roh 'Si Nyonya Tua' selepas Ronaldo angkat kaki?

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.