Bek Sayap, Bek Tepi

Foto: Riiana Izzietova

Dalam sepak bola modern, peran full-back atau wing-back menjadi amat penting. Dan bila mereka yang mengisi posisi ini tak sesuai kebutuhan, urusan bisa jadi gawat.

Sepak bola berkembang, menghasilkan berbagai macam cara main plus antitesisnya.

Belakangan, banyak klub memfokuskan struktur tanpa bola (out-of-possession) mereka untuk menutup jalur tengah saat lawan melakukan build-up.

Alasannya sederhana, serangan yang melalui jalur tengah lebih berbahaya dan akan membuatnya lebih cepat sampai ke sepertiga akhir. Selain itu, banyak tim yang mau memulai serangan lewat tengah karena mereka ingin gelandang tengah menjadi distributor, pengarah utama serangan.

Karena itu, tim yang sedang berada dalam situasi tanpa bola biasanya memfokuskan diri untuk menutup jalur umpan ke gelandang tengah tadi. Mereka lebih rela bila build-up diarahkan ke area tepi lapangan.

Situasi ini, kemudian, membuat peran full-back atau wing-back menjadi amat penting. Sebab bila dulu mereka dikenal sebagai pemain yang memiliki tugas untuk menyisir tepi lapangan dengan overlap dan kemudian melepaskan crossing, tugas mereka kini menjadi jauh lebih kompleks.

Contoh tim memilih untuk menutup akses ke tengah saat Liverpool melakukan build-up.

Full-back atau wing-back harus bisa berkontribusi dalam fase build-up. Entah itu dengan bergerak underlap, ke dalam, yang kemudian memunculkan peran inverted full-back, atau tetap di tepi, tapi kini memiliki tugas untuk membantu build-up tim progres ke depan, menentukan arah serangan.

Karenanya kita kemudian melihat bagaimana pemain-pemain yang bermain di posisi ini menjadi sangat penting bagi sebuah tim. Lantas kita juga bisa menyaksikan bagaimana pemain-pemain yang mengisi posisi ini tak mesti seorang pelari atau tukang gocek ulung seperti dulu.

Yang muncul dan naik daun adalah mereka-mereka yang mampu berpikir cepat, mampu mengalirkan bola ke depan, mampu bermain dalam tekanan.

Lantas, kita bisa melihat Pep Guardiola berulang kali bereksperimen dengan pemain di posisi ini, atau bersinarnya pemain visioner macam Trent Alexander-Arnold serta Joshua Kimmich, dan bagaimana Mikel Arteta berupaya untuk terus-menerus meng-upgrade full-back-nya.

Sebab, posisi serta peran full-back atau wing-back pada era sepak bola modern ini amatlah penting. Dan, kini mudah saja melihat bagaimana tim-tim kesulitan berkembang karena mereka tak punya pemain yang mumpuni pada posisi ini.

Buat saya, setidaknya ini tergambar dari dua tim yang paling sering saya tonton musim ini: St. Pauli dan Liverpool.

Dua tim ini sama-sama sedang mengalami fase buruk: Rentetan kekalahan di liga. Dan salah satu penyebab dari rentetan kekalahan itu adalah full-back atau wing-back.

Well, membedah dua tim ini menarik karena yang satu punya budget yang melimpah buat beli full-back bagus dan yang satu lagi memiliki dana yang sangat amat terbatas untuk meng-upgrade wing-back mereka.

Saya mulai dari St. Pauli dulu. Mereka membeli dua wing-back musim ini: Arkadiusz Pyrka dari Liga Polandia dan Louis Oppie dari finalis DFB Pokal musim lalu, Arminia Bielefeld.

Pyrka didatangkan untuk menambah kedalaman di sektor kanan, menjadi kompetitor untuk Manolis Saliakas (pemain Tim Nasional Yunani) dan Oppie diboyong untuk menggantikan Philipp Treu—yang kini bermain di kompetisi Eropa bersama Freiburg.

Kedua pemain baru ini lantas mampu menembus 11 utama—Oppie selalu, Pyrka acap kali. Namun, mereka acap menjadi titik lemah St. Pauli saat melakukan build-up atau berada dalam situasi tengah memegang bola.

Sebabnya? Ketidakmampuan melepaskan umpan progresi saat berada dalam tekanan lawan. Pada laga melawan Werder Bremen, misalnya, saya melihat Pyrka berulang kali tak mampu melepaskan bola ke depan dan memutuskan untuk mengirimnya balik ke belakang.

Arkadiusz Pyrka. Foto: Riiana Izzietova

Pada laga itu, Pyrka melepaskan 19 umpan ke Hauke Wahl yang mana merupakan bek tengah kanan. Umpan ke belakang yang berulang ini membuat progresivitas St. Pauli pampat.

Masalahnya, pada musim ini St. Pauli membutuhkan aspek progresivitas dari keduanya lantaran akes untuk melakukan progres via tengah acap ditutup lawan dan lini belakang sedang dalam masalah cedera—yang mana aspek progresivitas dari bek tengah tepi juga berkurang.

Di sisi kiri, Oppie jarang dilibatkan mengingat ia belum mampu menjadi opsi serangan St. Pauli. Sebagai wing-back, ia masih terlalu pasif, terutama dalam konteks sebagai pengganti Treu.

Musim lalu, Treu rerata melepas 0.25 umpan silang ke kotak penalti dan 0.69 umpan kunci. Sementara, Oppie musim ini hanya mencatat 0.13 umpan silang ke kotak penalti dan hanya 0.25 umpan kunci.

Louis Oppie. Foto: Riiana Izzietova

Masalah bek sayap ini juga menghantui Liverpool musim ini. Sebenarnya sejak awal keputusan manajemen Liverpool untuk membeli Milos Kerkez dan Jeremie Frimpong terdengar agak janggal.

Sebabnya, dua pemain ini memiliki arketiper berbeda dengan full-back lama Liverpool seperti Andrew Robertson, Kostas Tsimikas, dan tentu saja Trent Alexander-Arnold.

Kerkez adalah tipikal full-back tradisional yang atribut utamanya adalah melakukan overlap dengan pergerakan tanpa bola cepat, untuk kemudian melepaskan umpan silang atau menjadi opsi di kotak penalti.

Sementara Frimpong, well, sulit melihatnya sebagai seorang full-back dalam pola empat bek mengingat bersama Bayer Leverkusen ia lebih sering bermain sebagai wing-back atau gelandang sayap kanan.

Frimpong punya atribut menyerang dan bertahan yang tak seimbang, yang membuatnya lebih cocok sebagai pelapis Salah ketimbang pengganti Alexander-Arnold (kemudian kita melihat Slot beberapa kali memainkannya seperti ini).

Tentu saja tipikal ini tak cocok dengan Liverpool—bila melihat permainan mereka dalam beberapa musim terakhir. Sebabnya, Robertson, Tsimikas, dan Alexander-Arnold mampu menjadi progresor, sedangkan Kerkez dan Frimpong tidak.

Sebagai perbandingan, cek statistik ini: Musim lalu, Alexander-Arnold mencatatkan rerata 8.82 umpan progresif per 90 menit, sedangkan Tsimikas mencatatkan 8.17, dan Robertson 6.38.

Musim ini, Robertson masih konsisten dengan 6.47, sedangkan Kerkez hanya punya catatan 4.66, Frimpong dengan 3.0, dan Conor Bradley dengan 4.75. Ketidakmampuan mengganti progresivitas Alexander-Arnold dan Tsimikas dengan full-back baru adalah kesalahan besar Liverpool.

Sebabnya, akses untuk melakukan progres via tengah ditutup oleh lawan dan Liverpool juga tak bisa progres via tepi dengan kemampuan full-back yang terbatas tadi.

Arne Slot coba menambalnya dengan memainkan Dominik Szoboszlai sebagai full-back kanan, membuat Ryan Gravenberch atau Curtis Jones sering turun ke fase build-up pertama, atau menugaskan Florian Wirtz untuk rajin turun menjemput bola ke belakang.

Well, Jones, Szoboszlai, dan Wirtz memang menjadi tiga teratas dalam urusan umpan progresif musim ini, tapi membuat mereka melakukannya dari belakang sama saja menumbalkan kualitas mereka di depan.

Makanya tak heran bila melihat produktivitas Wirtz atau Szoboszlai tak seperti gelandang serang pada umumnya, sebab mereka juga ditugaskan untuk melancarkan progresivitas Liverpool dari belakang karena full-back yang agak useless.

Dan tentu saja, di situasi ini dengan rentetan hasil buruk yang didapat, Slot perlu berpikir untuk mengganti cara main timnya.

Sebab menumbalkan pemain-pemain depan untuk melakukan tugas progresif juga tak efektif ke produktivitas, sedangkan mengganti pemain-pemain yang baru dibeli rasanya belum memungkinkan.

Cara build-up mungkin perlu diubah, permainan direct mungkin bisa diterapkan lagi, atau bila memang ingin tetap seperti ini, pasang saja sekalian Curtis Jones dan Szoboszlai sebagai full-back.

Sebab untuk apa membeli pemain depan mahal-mahal bila saat ini aspek serangan dikorbankan untuk menambal kegagalan dalam membeli pemain belakang yang kualitasnya tak sepadan dengan mereka yang pergi.