Bekerja dalam Senyap ala Napoli

Foto: @officialsscnapoli.

Tanpa riuh kedatangan pelatih dan pemain baru, Napoli jadi tim yang patut diwaspadai.

Napoli dianggap melakukan kesalahan saat menunjuk Luciano Spalletti sebagai pelatih untuk mengarungi musim 2021/22.

Tidak ada yang salah dengan pemilihan Spalletti. Ia termasuk sosok senior di jajaran pelatih top Serie A. Ia juga punya banyak pengalaman melatih tim besar, mulai dari AS Roma hingga Inter Milan.

Namun demikian, masa Spalletti dianggap sudah kedaluwarsa. Ia hampir absen berada di pinggir lapangan selama dua tahun. Gelar terakhirnya, yang ia dapat saat menangani Zenit St. Petersburg juga terjadi nyaris 10 tahun yang lalu.

Nasib Napoli diprediksi bakal makin buruk saat tak banyak melakukan manuver di bursa transfer. Dari tiga pemain yang didatangkan, hanya Matteo Politano yang dianggap sesuai dengan standar yang mereka butuhkan.

***

Dari dua laga yang sudah dijalani, Spalletti dan Napoli membalikkan semua pendapat orang. Bersama Lazio, AS Roma, Inter Milan, dan AC Milan, mereka jadi tim yang berhasil menyapu dua laga awal dengan kemenangan.

Kemenangan didapatkan Napoli dari laga melawan Genoa dan Venezia. Mereka menang 2-1 atas Genoa dan 2-0 saat menghadapi Venezia. Kemenangan lawan Venezia jadi menarik karena mereka hanya bermain dengan 10 pemain sejak menit ke-23 setelah Victor Osimhen dikartu merah.

Spalletti tidak mengubah cara bermain Napoli secara keseluruhan. Umpan-umpan pendek yang diiringi pergerakan dinamis hingga memasuki sepertiga akhir pertahanan lawan tetap jadi andalan mereka membangun serangan.

Pada musim lalu, pola tersebut diakhiri dengan menekan area sayap di pertahanan lawan. Dua bek sayap ditugaskan rutin melakukan umpan silang, sementara winger diharapkan melakukan dribel hingga sedekat mungkin dengan gawang lawan.

Spalletti coba mengubah pendekatan tersebut. Tugas bek sayap saat mendekati kotak penalti lawan tidak lagi hanya sebatas mengirimkan umpan silang saja. Mereka diberi lebih banyak kebebasan, mulai dari bergerak lebih dalam hingga melakukan tembakan.

Pada laga melawan Genoa, kombinasi Giovanni Di Lorenzo di sisi kanan dan Mario Rui di sebelah kiri mencatat total enam umpan terobosan. Saat meladeni Venezia, Di Lorenzo bahkan membuat dua percobaan dari dalam kotak penalti.

Di Lorenzo dan Rui memiliki tugas yang berbeda saat berada di sepertiga akhir pertahanan lawan. Di Lorenzo cukup sering berada di halfspace untuk menopang Matteo Politano yang lebih banyak di area sayap.

Sementara itu, Rui lebih banyak ditugaskan menusuk dari kedalaman. Satu buah penalti yang didapatkan Napoli di laga melawan Venezia bahkan bermula dari pergerakan Rui dari dalam kotak penalti lawan.

Demikian pula dengan para winger. Mereka kian diberi kebebasan untuk berpindah area. Lorenzo Insigne yang selalu bermain di area kiri, dari dua laga tersebut, kerap berpindah untuk menyerang lewat sisi kanan.

Tugas Insigne juga berubah cukup signifikan di tangan Spalletti. Peran sebagai kreator serangan yang sebelumnya ia emban kini berubah. Insigne kini lebih banyak berperan sebagai penyerang bayangan.

Peran baru tersebut membuat catatan Insigne dalam membangun serangan ikut menurun. Musim lalu, ia membuat rata-rata 3,1 umpan per 90 menit ke kotak penalti lawan. Sedangkan kini, ia hanya mampu menciptakan 1 umpan per 90 menit ke kotak penalti lawan.

Insigne bukan satu-satunya pemain yang diinstruksikan untuk masuk ke kotak penalti lawan saat Napoli menyerang. Gelandang serang, yang dalam dua pertandingan tersebut bergantian diisi oleh Piotr Zielinski dan Eljif Elmas, juga diberi tugas serupa.

Soal bertahan, Napoli punya pendekatan yang menjadi ciri khas mereka: Bermain proaktif dan berusaha sesegera mungkin menutup pergerakan dan aliran bola yang dilakukan lawan. Garis pertahanan mereka pun amat tinggi dan tak segan melakukan tekel di kotak penalti lawan.

Spalletti tidak mengubah pendekatan tersebut. Ia justru meningkatkan intensitas perebutan bola tim asuhannya di segala area. Dari dua pertandingan awal, pendekatan tersebut jadi terlihat lebih sering. Bahkan, di laga melawan Venezia, Victor Osimhen nyaris mencetak gol lewat upaya tersebut.

Sejauh ini, upaya tersebut berhasil. Napoli menjadi tim yang paling sedikit menerima percobaan dari lawan. Rata-rata mereka hanya menerima 7 percobaan per pertandingan dari lawan. Lebih baik ketimbang musim lalu yang mencapai 10,3 percobaan per pertandingan.

Meski sejauh ini berhasil, Spalletti masih punya banyak persoalan. Pertama terkait penyelesaian akhir. Serangan yang amat cair rupanya tidak diiringi dengan penyelesaian akhir yang klinis. Dari 24 percobaan yang mereka lepaskan, hanya 11 yang mengarah ke gawang lawan dan hanya empat yang berbuah gol.

Peran Osimhen dan Andrea Petagna juga belum terlalu signifikan. Petagna, yang jadi tumpuan saat Osimhen absen, kerap bermasalah dengan penempatan posisi. Inisiatifnya untuk mencari ruang juga sering menghambat upaya Napoli menciptakan peluang.

Di belakang, keputusan Napoli untuk mencegat lawan lebih dini kerap meninggalkan lubang, terutama di posisi sayap. 6 dari 12 umpan kunci yang didapatkan lawan selalu terjadi akibat ketiadaan Di Lorenzo dan Rui.

Masalah-masalah tersebut harus segera diantisipasi oleh Spalletti. Pasalnya, di laga berikutnya mereka akan bersua Juventus, yang notabene punya pemain-pemain sayap berbahaya.

***

Dibandingkan tim papan atas lain, Napoli barangkali jadi yang paling diam menatap jalannya musim yang baru. Tidak ada keriuahan menyambut pelatih baru dan tidak ada keramaian saat datang jagoan baru.

Napoli layak bergembira. Pilihan untuk bekerja dalam senyap berhasil membuat mereka memulai liga dengan hasil menyenangkan.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.