Belajar dari Bremen
Werder Bremen menjadi tim pintar di Bundesliga musim ini. Mereka nyaris lolos ke kompetisi Eropa, andai tim-tim kaya tak berada di atas mereka.
Werder Bremen tak akan tampil di kompetisi antarklub Eropa musim depan. Mereka mengakhiri Bundesliga musim ini dengan finis di posisi delapan, hanya terpaut tiga poin saja dari zona Eropa.
Ini adalah kegagalan dua kali berturut-turut dalam dua musim terakhir. Bremen hanya berstatus nyaris lolos ke Eropa. Musim lalu, saya juga menyaksikan bagaimana mereka hampir lolos, untuk kemudian gagal di pertandingan terakhir—tempat mereka diambil Heidenheim yang unggul selisih gol.
Dan musim ini, pelatih Ole Werner sebelumnya sudah menegaskan bahwa masih ada tim-tim yang secara finansial dan perkembangan lebih unggul satu-dua langkah dari Bremen. Karenanya, meski sempat memiliki asa, mereka memilih realistis dalam menatap kemungkinan lolos ke kompetisi Eropa.
Bremen memang punya sejarah panjang. Sekitar dua dekade silam, mereka masih mampu merengkuh trofi Bundesliga dan langganan lolos ke Liga Champions. Pada 2009 mereka bahkan mampu menembus final Liga Europa. Bremen adalah klub besar Jerman.
Namun, setelahnya keuangan menukik dan prestasi pun berjalan beriringan. Bremen berubah menjadi klub papan tengah, terdegradasi ke 2. Bundesliga, sampai kemudian kembali ke Bundesliga dan berkubang di papan tengah.
Keberhasilan Bremen membaik dalam beberapa musim ke belakang lantas dibangun dari perekrutan yang jeli dan pelatih yang punya ide bagus. Mereka tak punya uang banyak untuk membeli pemain, tentu saja, tapi mereka mencari pemain-pemain tepat yang mampu menjalankan sistem yang diinginkan Werner.
Trio gelandang inti Bremen, Jens Stage, Romano Schmid, dan Senne Lynen, misalnya, dibeli dengan total harga €7 juta saja. Namun, ketiganya menjadi salah satu grup lini tengah paling konsisten di Bundesliga, dan harga mereka saat ini bila ditotal bisa mencapai dua, tiga, empat kali lebih mahal ketimbang harga beli.
Strategi yang diterapkan Werner sudah pernah saya tuliskan di sini, tapi untuk kembali mengingatkan: Bremen bermain dengan pola tiga bek, umumnya dalam formasi 3-5-2 atau 3-4-2-1, dengan pemain-pemain depan dan wing-back diberi kebebasan untuk bergerak mengokupasi ruang, merotasi posisi mereka agar tak mudah dibaca lawan.
Bremen mungkin adalah tim dengan pertahanan terburuk kelima di liga, berdasarkan jumlah kebobolan. Namun, angka ekspektasi kebobolan mereka sejatinya lebih baik—menunjukkan bahwa Bremen terlalu mudah kebobolan lewat peluang-peluang yang seharusnya tak jadi gol. Untungnya, mereka juga demikian dalam urusan mencetak gol, di mana jumlah riil lebih baik ketimbang ekspektasi.
Tentu saja kemudian keseimbangan itu tercipta berkat taktik yang diterapkan oleh Werner. Bremen bisa dibilang sebagai tim paling stabil secara taktik, dan acap mendapat pujian sebagai salah satu tim yang memang kelihatan dilatih dengan baik. Sebab secara struktur, pola, fase permainan, pergerakan pemain, terlihat bahwa yang mereka terapkan di lapangan itu buah dari ide dan latihan yang terejawantahkan dengan baik.
Lantas, rekrutmen yang rapi, pelatih dengan ide yang tepat, dan pemain-pemain yang disiplin untuk menjalankan ide dan sistem adalah rumus untuk mampu menjadi lebih baik. Dan ini berlaku kepada banyak klub di sepak bola.
Sayangnya, Bremen tak mampu melampaui ekspektasi mengingat tim-tim yang berada di atas mereka seperti Leipzig, Borussia Dortmund, atau Frankfurt adalah tim yang jauh lebih kaya secara finansial. Freiburg juga lebih berpengalaman untuk finis di zona Eropa dalam beberapa musim terakhir dan secara market value mereka lebih unggul ketimbang Bremen.
Memang tak bisa dipungkiri bahwa dalam sepak bola, si pintar acap tak punya nasib yang lebih baik ketimbang si kaya di papan klasemen. Bahwa benar banyak klub yang juga bisa menunjukkan kesuksesan mereka meski memiliki keterbatasan finansial. Namun, umumnya dalam konteks liga di mana kedalaman dan kemegahan skuad berpengaruh besar, ketimpangan bisa dengan mudah terlihat.
Selain Bremen di Bundesliga, Bournemouth di Premier League juga bisa jadi contoh. Memang asa mereka untuk ke Eropa masih ada, tapi kemungkinannya cukup tipis. Padahal, beberapa bulan lalu, Bournemouth masih berada di pertarungan untuk mendapatkan tiket ke Liga Champions. Namun, badai cedera menjadi salah satu faktor menurunnya performa mereka.
Dengan skuad yang tidak segemuk juga semegah tim-tim seperti Newcastle, Nottingham Forest, atau Aston Villa, pekerjaan Bournemouth untuk bisa bersaing menembus lima besar memang lebih berat. Ide cemerlang Andoni Iraola dan skuad yang ada belum cukup untuk membuat mereka mampu menandingi tim-tim yang punya suntikan finansial lebih baik. Dan hasil pun berbicara.
Beginilah sepak bola saat ini. Banyak klub memang mampu berbenah menjadi lebih baik lewat perekrutan pelatih dan pemain yang tepat, tapi pada akhirnya tetap si kaya yang mampu berada di atas.
Karena itu, keberhasilan Bremen untuk bangkit, betapa kompetitif dan dihormatinya Bournemouth musim ini, betapa diakuinya kepintaran Brighton dan Brentford, serta betapa besar peluang Rayo Vallecano ke Eropa sangat layak untuk diapresiasi dengan besar. Momen-momen ini menjadi pengingat bahwa terkadang ide menjadi sangat penting.
Atau tengok bagaimana tim-tim seperti Crystal Palace dan Bologna menjadi kampiun di kompetisi domestik, setelah melakukan perekrutan pelatih dan pemain dengan sangat tepat. Mereka bisa dikategorikan sebagai tim yang mampu melebihi ekspektasi.
Bahkan di kompetisi paling tinggi di Eropa, Liga Champions, musim ini Inter juga bisa dijadikan contoh. Skuad mereka tak lebih megah dan mahal ketimbang klub-klub Inggris, duo raksasa Spanyol Real Madrid dan Barcelona, atau Bayern München. Namun, Inter mampu melaju hingga ke partai final berkat strategi yang bagus dan pemain yang tepat untuk mengejawantahkannya di lapangan