Benang Merah Kandidat Pelatih Anyar Manchester United

Foto: Instagram @Erik_Ten_Hag_Official.

Di antara kandidat-kandidat pelatih anyar Manchester United, Erik Ten Hag, Mauricio Pochettino, dan Luis Enrique memiliki beberapa kemiripan. Kini, tinggal PR manajemen United untuk menyediakan "wadah" ideal supaya salah satu dari mereka bisa bekerja dengan baik.

Hari itu, rumah David Moyes kedatangan tamu yang tak asing. Mereka sudah sering bertemu dan bercakap-cakap, tapi baru hari itu sang tamu membawa kabar serupa geledek.

Moyes dan orang itu punya latar belakang mirip. Setidaknya, keduanya sama-sama lahir dan besar di Glasgow, Skotlandia. Yang membedakan, Moyes berbicara dengan aksen yang lebih mudah dimengerti ketimbang orang itu.

“Aku bakal pensiun,” kata orang itu. Moyes terkekeh mendengarnya. Orang seperti dia, pikirnya, yang tidak tahu kata tamat, tiba-tiba saja ingin berhenti. “Oh, ya, kapan?” kata Moyes, setengah tidak percaya.

“Pekan depan, dan kau akan jadi manajer Manchester United berikutnya.”

Jawaban orang itu menjadi awal dari sebuah perjalanan panjang Manchester United. Bahkan hampir 10 tahun sejak ucapan itu terlontar, pencarian menemukan siapa suksesor terbaik “orang itu” masih berlanjut.

***

Orang itu, Sir Alex Ferguson, rupanya punya terlalu banyak kepercayaan pada Moyes. Semuanya didasari tradisi dan kemampuan Moyes membawa Everton tampil lumayan selama bertahun-tahun, terlepas dari status mereka sebagai tim papan tengah.

Selain itu, Ferguson melihat kesamaan tradisi dan latar belakang antara dirinya dan Moyes. Bagi United sendiri, ada harapan besar di balik penunjukan Moyes. Bahkan, mereka menyebut pria asal Skotlandia itu sebagai “kain dari bahan yang sama” dengan Ferguson pada perkenalannya di situs resmi.

Di tengah lansekap manajemen sepak bola yang mulai berubah saat itu, United masih menjunjung teguh tradisi dan akar, alih-alih segera memodernisasi klub. Padahal, melakukan modernisasi sembari tetap menjaga tradisi bukanlah sesuatu yang mustahil dilakukan.

Repotnya, perubahan tidak hanya terjadi di tampuk kepelatihan, tetapi juga hierarki klub. Bersamaan dengan pensiunnya Ferguson, mundur pula David Gill sebagai chief executive. Penggantinya adalah seorang akuntan dan bankir yang sebetulnya jago dalam mengurus bisnis, tetapi awam untuk tetek-bengek perkara sepak bola, Ed Woodward.

Pergantian di dua front tersebut, ditambah dengan perombakan besar-besaran di jajaran staf kepelatihan Ferguson, membuat transisi United ke masa pasca-Ferguson jadi tak mulus. Apa-apa yang terjadi berikutnya serba diliputi kegamangan.

Contoh saja betapa berantakannya rencana transfer dan perekrutan pemain pada bursa transfer musim panas 2013. Setelah dikait-kaitkan dengan berbagai nama, mereka hanya mendatangkan Marouane Fellaini menjelang tenggat—itu pun setelah melakukan tarik-ulur harga yang cukup konyol dengan Everton.

David Moyes di Man United. Foto: Wikimedia Commons.

Dengan musim panas yang relatif kacau-balau, ditambah transisi yang tak mulus dari sisi staf kepelatihan, United menjalani musim depan pandir. Sejumlah pemain yang terbiasa dengan pola kerja Ferguson dan asisten-asistennya, menganggap Moyes dan para bawahannya tak seberapa.

Alhasil, tidak sampai satu musim melakoni jabatannya sebagai orang yang semestinya menjadi penerus sejati Ferguson, Moyes didepak. Sebagian menganggapnya kurang mendapatkan waktu, tetapi masalah yang lebih krusial amat jarang diungkit: United tidak memberikannya “wadah” untuk bekerja dengan benar.

“Wadah” yang dimaksud adalah perkara pola perencanaan dan road map yang jelas mengenai seperti apa klub bakal berjalan dan bekerja untuk beberapa tahun ke depan. Semuanya ada untuk menjaga kestabilan klub.

[Baca Juga: Yang Dibutuhkan Manchester United adalah Stabilitas]

Toh, karena stabilitas juga Ferguson bisa bertahan begitu lama memimpin United. Semuanya ada karena ia memegang kontrol penuh atas skuad, pembelian dan penjualan pemain, serta siapa-siapa saja yang membantunya menangani pemain dalam sesi latihan.

Ketika Ferguson pergi, kontrol itu ikut hilang. United semestinya mengantisipasi dengan pola perencanaan penjalanan klub yang jelas, alih-alih menyerahkan semuanya begitu saja kepada Moyes—orang yang belum terbiasa menangani klub sebesar United.

Dalam kacamata sebuah klub modern, tugas untuk mengawasi jalannya klub supaya tetap stabil biasanya jatuh ke tangan seorang director of football. Merekalah yang biasanya menunjuk pelatih serta menangani penjualan dan pembelian pemain supaya klub berjalan sesuai rencana. Pembelian dan penjualan pemain tersebut, tentunya, juga disesuaikan dengan kebutuhan taktik dan gaya main yang diinginkan pelatih.

Oleh karena itu, jangan heran apabila ada sebuah klub besar yang bisa tetap relatif konsisten mendapatkan gelar meskipun sering gonta-ganti pelatih. Biasanya, di belakang layar klub tersebut ada orang-orang kompeten yang menjaga kestabilan klub.

Di United, usaha untuk memodernisasi klub itu datang ketika klub sudah terombang-ambing di dalam kemediokeran. Baru pada ujung musim 2020/21, mereka menunjuk John Mourtough sebagai director of football pertama dalam sejarah klub untuk mengawasi segala tetek-bengek urusan sepak bola klub. Ironisnya, Murtough—orang yang dianggap orang-orang dalam United sebagai the fixer—adalah salah satu orang yang datang sebagai staf rekrutan Moyes.

***

Salah satu alasan United menunjuk Ralf Rangnick tak lama setelah Ole Gunnar Solskjaer didepak adalah karena pria asal Jerman itu mau menjadi pelatih interim dengan iming-iming role sebagai advisor setelahnya.

United menganggap Rangnick merupakan orang yang tepat untuk menjadi pelatih “sempalan” sekaligus orang yang bakal membantu mereka mengontrol jalannya klub dari sisi manajemen. Bicara soal kata “kontrol”, Rangnick berulang kali mengeluarkannya ketika membahas taktik dan permainan tim di atas lapangan. Dari situ, kita bisa melihat bagaimana Rangnick memandang skuad dan klub secara keseluruhan sebagai sebuah mesin yang semestinya bergerak dengan rapi dan terpelumas dengan baik.

Bagaimana role Rangnick nantinya sebagai advisor, dan apakah pekerjaannya bakal tumpang tindih dengan Murtough atau tidak, baru akan terjawab begitu musim ini selesai. Yang jelas, menurut laporan Manchester Evening News, ia—bersama departemen yang dibawahi Murtough—punya wewenang kuat menyoal siapa yang akan didatangkan dan dilepas oleh klub.

Sekarang, pertanyaan yang lebih krusial menyeruak: Jika mereka memang memiliki wewenang sebesar itu, bagaimana proses suksesi dari Rangnick ke pelatih anyar kelak? Adakah kriteria atau profil khusus yang mereka incar dan bagaimana pola perekrutannya?

Menurut laporan The Athletic, pencarian akan pelatih anyar sudah berlangsung sejak beberapa pekan silam. Terlepas dari perkataan Rangnick, yang menyebut bahwa bisa saja dia merekomendasikan dirinya sendiri untuk lanjut menangani United, pencarian itu mengerucut pada empat nama: Erik ten Hag, Mauricio Pochettino, Luis Enrique, dan Julen Lopetegui.

Keempatnya punya penerapan gaya main yang berbeda-beda. Namun, kalau mau ditarik sebuah benang merah, Ten Hag, Pochettino, dan Enrique semestinya tidak asing dengan gaya main sepak bola vertikal alias direct. Sejak Solskjaer, lalu kini Rangnick, pola direct tersebut telah mereka terapkan. Kalaupun ada yang beda, pressing pada era Rangnick lebih terstruktur ketimbang ketika tim ditangani oleh Solskjaer.

Di antara keempatnya, hanya Lopetegui yang sedikit berbeda. Sevilla yang ia tangani cukup lekat dengan gaya main yang menekankan pada possession dan switch play. Meskipun sesungguhnya Ten Hag juga tidak asing—apalagi alergi— dengan possession dan switch play, ia memperlakukannya untuk membuat bola sesegera mungkin sampai ke depan.

Dalam taktik Ten Hag, tiap-tiap pemain memiliki peran penting untuk membawa bola sesegera mungkin ke depan dan berada dalam posisi yang tepat untuk mengkreasikan peluang. Oleh karena itu, ia menekankan pemain-pemainnya untuk melakukan pergerakan tanpa bola dan melakukan pergerakan orang ketiga (third-man run). Kedua hal tersebut, ditambah kedisiplinan dalam penempatan posisi, memungkinkan timnya menemukan ruang atau pemain yang bisa opsi untuk mendapatkan operan.

Di luar itu, Ten Hag juga menekankan pentingnya pressing supaya turnover sesegera mungkin tercipta. Dalam kamus taktik Ten Hag, pemain-pemainnya diwajibkan merebut bola kembali dalam waktu tiga detik setelah kehilangan bola. Dengan cara demikian, tidak heran apabila Ajax menjadi tim yang agresif sekaligus sulit kebobolan di Eredivisie.

Namun, berbicara soal pressing dan sepak bola direct, Pochettino dan Enrique juga memilikinya. Pochettino terkenal dengan counterpressing sejak menangani Tottenham Hotspur, sementara Enrique disebut Goal sebagai penerap tiki-taka yang vertikal nan agresif.

“Setiap tim harus bekerja dengan efektif baik di lini depan maupun belakang. Jika sebuah tim menyerang dengan baik, tetapi bertahan dengan buruk, itu artinya mereka tak melakukan pekerjaan dengan baik. Cara terbaik untuk bertahan adalah dengan mendapatkan bola kembali di area permainan lawan—melakukan pressing tinggi adalah cara untuk mencapainya,” kata Enrique seperti dilansir FourFourTwo.

Dari ketiga kandidat tersebut, profil kandidat pelatih anyar United terjabarkan dengan jelas: Murtough dan orang-orangnya tidak hanya mencari pelatih yang bisa bermain ofensif, tetapi juga mereka yang bisa tampil efektif, agresif, vertikal, dan lihai dalam menerapkan pressing untuk timnya.

Di antara Ten Hag, Pochettino, dan Enrique, nama yang disebut pertama menjadi yang paling menggiurkan. Bukan apa-apa, kesuksesan Ten Hag di Eredivisie dan membawa Ajax tampil impresif di Liga Champions—meski timnya tak bertabur bintang—menunjukkan bahwa ia adalah pelatih dengan sistem yang jelas.

Namun, tetap saja ada kekhawatiran. Ten Hag bisa sukses di Ajax karena klub tersebut berjalan dengan stabil. Ia bekerja dalam sebuah “wadah” yang memungkinkannya menerapkan apa-apa saja yang ia mau kepada timnya. Orang-orang di manajemen pun sejauh ini mampu mendatangkan pemain yang sesuai dengan skema dan sistem Ten Hag.

United, sementara itu, baru berusaha berjalan ke arah sana. Apabila mereka betul-betul menginginkan Ten Hag, mereka wajib terlebih dahulu menyediakan “wadah” ideal supaya ia bisa bekerja dengan baik.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.