Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now

Benarkah PSG Destinasi Ideal buat Dele Alli?

Twitter @dele_official

Menurut laporan teranyar, PSG masih berminat untuk mendatangkan Dele Alli dengan status pinjaman. Kalau jadi, ada kemungkinan Alli bakal bangkit karena ia akan bereuni dengan eks pelatihnya, Mauricio Pochettino.

Dele Alli mulai gundah. Menit bermain di Tottenham Hotspur begitu rendah. Makanya, ia ngebet pindah. Paris Saint-Germain tujuan utamanya.

Maklum, jagoan Prancis itu baru saja kedatangan Mauricio Pochettino. Setidaknya, pelatih Argentina tersebut bisa membuat Alli lebih berharga, tidak seperti yang Jose Mourinho lakukan.

Menurut laporan Fabrizio Romano, PSG sudah ancang-ancang untuk meminjam Alli dari Tottenham. Rencananya, mereka akan memakai jasanya sampai akhir musim dan tanpa opsi pembelian.

Kabar yang disampaikan Romano juga diperkuat oleh laporan The Athletic. Menurut mereka, sampai hari Senin (25/1/2021), PSG masih tertarik untuk mendatangkan Alli dengan status pinjaman.

Akan tetapi, Daniel Levy selaku bos Tottenham tak menganggap itu sebagai transaksi yang menguntungkan. Manajemen klub baru mau melepas Alli andai ada tim yang berani menebusnya di kisaran 60 juta poundsterling (sekitar Rp1,15 triliun).

Masalahnya, jumlah segitu rada mustahil saat ini. Banyak klub yang mengencangkan ikat pinggang akibat pandemi.

Tapi, ya, siapa yang tahu kalau Alli nantinya sungguhan hengkang ke PSG? Sebelum itu terjadi, kami akan coba menakar kecocokannya dengan Les Parisiens.

***

"Cepat, alirkan bola cepat, dan segera cari ruang," kata Mourinho di ruang ganti.

Mourinho sedang mengevaluasi para pemainnya lewat tayangan video. Di sana dia menuntut anak asuhnya untuk merespons pergerakan lawan dengan segera. Begitulah, Alli yang kemudian jadi kambing hitamnya.

"Oke, mana Dele? Saya sudah tahu kamu memang malas waktu latihan," lanjutnya.

Alli tersenyum mendengar kritik Mourinho. Namun, tetap saja itu bukan hal yang positif buatnya. Malah, bukan kali itu saja Mourinho menyemprot Alli dengan kata "malas". The Special One pernah mengkitik pemainnya itu di sesi latihan.

“Saya sudah memberi tahu Dele secara langsung bahwa dia tidak berlatih dengan baik. Dia bukan pemain yang bisa berlatih dengan benar,” kata Mourinho.

"Saya tidak mengatakan itu sebuah keburukan, tetapi saya tidak akan mengatakan hal demikian kepada Harry Kane. Karena Harry Kane bisa berlatih dengan baik."

Sebagai pelatih, Mourinho memang jarang menyaring kata-katanya. Bahkan, ia tidak segan-segan mengkritik pemainnya sendiri di hadapan media.

Oleh banyak orang, sikap Mourinho ini dipandang sebagai tough love. Kadang bisa berhasil, kadang tidak. Ia bersikap keras pada Tanguy Ndombele dan Ndombele meresponsnya dengan baik. Namun, ada beberapa pemain--seperti Luke Shaw di Manchester United dan Alli--yang justru malah makin down.

Teranyar, Mourinho mengatakan bahwa dia tidak akan memberikan perlakuan spesial untuk Gareth Bale. Katanya, kalau Bale ingin mendapatkan menit bermain, dia harus membuktikan diri terlebih dulu.

Sedemikian ketusnya Mourinho terhadap pemain sendiri. Namun, seperti yang ia tunjukkan pada Ndombele, asalkan seorang pemain mau berbenah, pintu selalu terbuka buatnya.

Well, Mourinho memang lebih membutuhkan pemain berdeterminasi ketimbang pemain kreatif. Tepatnya, sih, gelandang favoritnya adalah pekerja keras dan punya kemampuan fisik mumpuni. Sebut saja Ndombele, Moussa Sissoko, dan Pierre-Emile Hojbjerg. Karena secara taktik, tipikal gelandang semacam ini lebih menunjang skema main Mourinho. Mereka cenderung efektif dalam melakukan transisi.

Makanya jangan heran kalau menit main Alli di Premier League cuma menyentuh 75. Itu jadi yang terendah setelah Carlos Vinicius.

Malah, Vinicius masih mending. Striker yang dipinjam dari Benfica itu sudah 4 kali jadi starter di Liga Europa. Alli? Baru 2 kali masuk starting XI di turnamen yang sama.

Rendahnya jam terbang itulah yang membuat Alli minim kontribusi. Catatan gol dan assist-nya di pentas liga masih nihil. Padahal, Alli rata-rata mencetak 10 gol pada lima musim terakhir Premier League. Itu belum dihitung dengan torehan assist yang menyentuh 33 dalam kurun waktu yang sama.

Lalu, bagaimana kalau Alli ke PSG?

Begini, sebenarnya bukan PSG yang jadi faktor penentunya, melainkan eksistensi Pochettino di sana. Simpelnya, sih, lebih kepada fungsi Pochettino sebagai pelatih, mau di PSG atau bukan.

Bukannya apa-apa, Alli merupakan salah satu masterpiece Pochettino. Ibaratnya, Alli itu Bruce Lee, Pochettino yang jadi Yip Man-nya.

Lihat saja kiprah Alli di Tottenham pada 2015/16. Pada musim perdananya itu, dia langsung jadi pemain reguler The Lilywhites. Pochettino memasang Alli sebagai gelandang serang dalam wadah 4-2-3-1. Fungsinya sedikit berbeda dengan Christian Eriksen. Dia menjadi pelengkap dari playmaker asal Denmark tersebut.

Alli adalah tipikal gelandang ofensif yang piawai dalam mencari ruang. Itu disempurnakan dengan visi yang oke serta ketajaman untuk memanfaatkan peluang. Singkatnya, Alli adalah alternatif goal getter Pochettino selain Kane.

Nyatanya Alli sukses mengumpulkan 10 gol dan 9 assist di Premier League musim itu. Total kontribusinya setara dengan Eriksen (6 gol dan 13 assist).

Catatan impresif itu membawa Alli meraih PFA Young Player of the Year 2015/16. Tak hanya di musim itu, Alli lagi-lagi terpilih sebagai pemain muda terbaik Premier League semusim berselang. Itu membuatnya setara dengan Ryan Giggs, Robbie Fowler, dan Wayne Rooney yang juga dua kali mendapatkan gelar tersebut.


Kabar baiknya, Pochettino tetap membawa gaya main Tottenham ke PSG. Formasi dasarnya yang paling kentara. Dia mengajak Marquinhos dkk. bermain dalam wadah 4-2-3-1. Berbeda dengan Thomas Tuchel yang sebelumnya rutin mengadopsi pakem 4-3-3.

Ambil contoh saat meladeni Marseille di Trophee des Champions lalu. Pochettino menggunakan Marco Verratti sebagai gelandang serang. Eks Pescara itu diapit Kylian Mbappe dan Angel Maria. Ketiganya berada di belakang Mauro Icardi. Sementara Neymar memang baru saja sembuh dari cedera. Makanya Pochettino baru memasukannya di babak kedua.

Neymar baru tampil sejak awal laga saat PSG menyambangi Angers. Kala itu Pochettino menaruhnya di pos gelandang serang, meski pada praktiknya mantan pemain Barcelona itu kerap bertukar posisi dengan Mbappe.


Secara SDM, PSG jelas tak bisa dibandingkan dengan Tottenham. Dulu Pochettino cuma punya Kane sebagai goal getter, tapi sekarang dia tinggal tunjuk saja.

Ada Neymar, Mbappe, dan juga Icardi yang bisa mengisi pos penyerang. Belum lagi dengan Moise Kean yang sedang on-fire--sudah 9 gol dibuat striker 20 tahun itu di Ligue 1.

Pun dengan posisi gelandang serang. Neymar dan Mbappe juga bisa mengisi pos tersebut. Makin komplet karena keduanya mampu bermain melebar. 

Lalu, masih ada Angel Di Maria. Meski sudah menginjak 32 tahun, kontribusinya masih stabil. Terbukti dari torehan 6 assist sejauh ini--tertinggi bersama Mbappe.

Benar bahwa Alli bisa menawarkan daya serang buat lini tengah PSG. Bila menilik atribut ofensif, Alli masih lebih baik ketimbang Marco Verratti, Leandro Paredes, Ander Herrera, Idrissa Gana Gueye, Julian Draxler, Rafinha Alcantara, serta Danilo Pereira.

Namun, andai Pochettino beralih ke pakem 4-3-3, para gelandang PSG sekarang masih cukup kompeten, kok. Verratti, misalnya, masih menjadi distributor bola utama buat PSG. Rata-rata umpannya mencapai 97 per laga--tertinggi di lima liga top Eropa.

Kemudian Gueye yang terbilang produktif sebagai gelandang bertahan. Sudah 2 gol dibuat eks Everton itu. Pun dengan Draxler dan Rafinha; keduanya sukses menyumbangkan 2 gol dan 4 assist bila dikalkulasi.

Dari situ cukup menggambarkan bahwa urgensi PSG kepada Alli sebenarnya tidak tinggi-tinggi amat. Stok gelandang mereka melimpah.

Masa depan Alli mungkin bakal lebih cerah jika bereuni dengan Pochettino. Karena, ya, Mourinho nyatanya tak kunjung memberikan menit bermain yang cukup. Bisa-bisa Alli makin kehilangan tempat di Timnas Inggris.

Masalahnya, PSG tak sama seperti Tottenham. Skuat mereka kelewat gemuk, bertabur bintang pula. Bukan pekara mudah bagi Pochettino untuk menjinakkan ego para pemainnya. Bisa-bisa Alli nantinya jadi penghangat bangku cadangan PSG doang. Malah karam di darat alih-alih mendapat maslahat.

Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now