Berharap pada Trio Benzema, Bale, Hazard

Foto: @realmadrid.

Musim ini, Karim Benzema tak akan bekerja seorang diri lagi di lini depan seiring dengan membaiknya performa Gareth Bale dan Eden Hazard. Namun, puncak masih jauh dari jangkauan.

Jika hari sedang baik, ini yang akan dilakukan Real Madrid sekarang: Membongkar brankas berisi harta karun triliunan juta euro, lalu memecahkan rekor transfer untuk mendatangkan Neymar, Kylian Mbappe, Harry Kane, Erling Haaland, Jules Kounde, semuanya.

Kita lantas akan melihat Los Galacticos jilid III sebagai headline di banyak media massa.

Namun, musim ini tidak seperti biasanya. Kondisi finansial yang tak stabil akibat pandemi COVID-19 membuat mereka melakukan cara-cara kere selama bursa transfer. Praktis cuma seorang David Alaba yang mereka datangkan. Itu pun dengan status free transfer.

Kondisi Madrid kian tak ideal karena sejumlah pemain yang terpaksa dilepas demi menyeimbangkan neraca keuangan. Sergio Ramos menuju Paris Saint-Germain, Raphael Varane ke Manchester United, kemudian ada beberapa pemain muda yang pergi seperti Martin Odegard yang hengkang ke Arsenal.

Kepada The Athletic, seorang sumber yang enggan disebutkan namanya bahkan berkata bahwa penjualan belum selesai. Masih ada nama lain yang juga direncakan hengkang. Selain menjaga stabilitas keuangan, Madrid ingin mengumpulkan banyak uang demi tujuan pada musim yang akan datang.

“Tujuan nomor satu adalah Kylian Mbappe,” bunyi sumber tersebut.

Apa boleh buat, tak ada perpindahan lain yang terjadi. Jadilah, Madrid masih harus mengandalkan nama-nama yang sebetulnya tidak terlalu diinginkan, termasuk Gareth Bale. Ia bakal jadi salah satu tumpuan lini serang Madrid yang sedang dalam kondisi tak baik-baik saja.

Musim lalu, Zinedine Zidane yang bertugas sebagai pelatih membuktikan bahwa Madrid yang dalam kondisi seperti itu tetap bisa tampil meyakinkan. Tak ada gelar yang diperoleh, tetapi finis sebagai runner-up La Liga serta melaju ke semifinal Liga Champions tak bisa dianggap capaian sepele.

Musim ini, posisi pelatih Madrid berganti setelah Zidane mengundurkan diri. Beban lantas beralih ke pundak Carlo Ancelotti.

Untung buat Madrid, Ancelotti bukanlah nama asing karena sudah pernah bekerja di Santiago Bernabeu sebelumnya. Ia juga tergolong sebagai pelatih adaptif yang tidak punya pakem tertentu. Seperti apa skuat yang tersedia, Ancelotti akan menyesuaikannya sebisa mungkin.

Gebrakan di Lini Serang

Salah satu PR besar yang menanti Ancelotti adalah lini serang. Sepeninggal Cristiano Ronaldo, Madrid sangat kesulitan mencetak gol. Musim lalu mereka hanya mencetak 67 gol, sangat jauh dibandingkan angka 94 gol yang jadi catatan mereka pada musim terakhir bersama Ronaldo.

Para pemain yang diharapkan jadi pengganti malah kesulitan. Salah satunya, ya, Eden Hazard. Datang dengan banderol 120 juta euro, Hazard tak mampu mengulangi performanya selama berseragam Chelsea. Hanya 4 gol dan 5 assist yang bisa ia bukukan pada dua musim pertamanya.

Seperti yang kami bahas pada artikel berbeda, Hazard kesulitan beradaptasi dengan permainan Madrid. Ia tak terbiasa bermain dalam tim yang cenderung menunggu. Ini membuat ia mesti bergerak hingga ke pertahanan, sebuah masalah karena ia cenderung malas melakukan track back.

Masalah lain, Hazard seperti terkurung dalam ekspektasi besar. Hazard pernah berkeluh bahwa statusnya sebagai penerus Ronaldo membuat ia terbebani bukan main. Ditambah dengan cedera yang terus-menerus datang tanpa ujung, kepercayaan dirinya seolah-olah tergerus.

Eks pemain Lille itu bukan satu-satunya masalah lini serang Madrid. Mereka juga kesulitan karena performa naik turun sejumlah pemain muda. Baik Vinicius Junior maupun Rodygo kerap kesulitan dalam penyelesaian akhir, yang musim lalu cukup berpengaruh terhadap capaian tim.

Kemudian ada Gareth Bale. Dalam tiga musim terakhir, ia selalu jadi nama terdepan yang diisukan hengkang. Performa tak stabil, cedera berulang, serta sikap yang dianggap bermasalah jadi pangkalnya. Namun, hanya semusim ia pergi, tepatnya musim lalu dengan status pinjaman.

Kondisi-kondisi pelik seperti itulah yang mesti Ancelotti atasi. Untungnya, tak semua pemain depan Madrid bermasalah. Setidaknya eks pelatih Everton ini masih punya Karim Benzema yang sejauh ini terbukti bisa menjadi juru skor utama tim pasca-kepergian Ronaldo.

Pada dua laga pertama La Liga musim ini, Ancelotti mengindikasikan bahwa ia bakal rutin menurunkan skema 4–3–3. Dalam skema itu, Benzema jadi andalan sebagai penyerang tengah. Dua nama yang mengapitnya adalah Hazard di sisi kiri dan Bale di sisi kanan.

Hazard sebetulnya sempat diprediksi terlambat memulai musim usai mengalami cedera di Euro 2020. Namun, sejauh ini ia selalu tampil sebagai starter. Malah, performanya cukup menjanjikan. Hal serupa juga berlaku untuk Bale yang kembali dipercaya tampil.

Membaiknya performa Hazard ada kaitannya dengan peran barunya. Pada dua musim pertamanya, peran Hazard bertabrakan dengan Benzema. Kecenderungan Benzema untuk bergerak ke sana-sini, terutama sisi kiri, agak menyulitkan Hazard mengingat itu adalah posisi idealnya.

Ronaldo sebetulnya juga beroperasi di area serupa. Yang membedakan, Ronaldo terbiasa mengisi posisi terdepan tatkala Benzema melebar. Hazard kerap alpa melakukan hal ini. Jadilah, performanya tak optimal seiring dengan sering lowongnya pos penyerang tengah Madrid.

Ancelotti tak memperbaiki situasi tersebut dengan membuat Benzema stagnan di pos penyerang tengah guna memberi Hazard ruang. Ia memperbaikinya dengan membuat peran Hazard jadi lebih dominan. Area operasi utamanya masih di sisi kiri, tetapi cukup sering melihat Hazard bergerak ke berbagai posisi.

Skema bermain Madrid biasanya berubah menjadi 4–4–2 berlian tatkala Hazard merancang serangan dari lini kedua. Ia berdiri di belakang Benzema dan Bale yang berperan sebagai duet penyerang. Perubahan seperti ini membuat perannya makin dominan.

Dominasi itu kian terlihat jika melihat statistiknya di lapangan. Menghadapi Deportivo Alaves, Hazard melepaskan 26 operan sukses dan 2 umpan kunci. Sementara saat melawan Levante, ia mencatatkan 34 operan sukses, 3 umpan kunci, dan 1 assist untuk gol Benzema.

Namun, catatan itu tak akan ia raih tanpa Benzema dan Bale. Sejauh ini, dua pemain itulah yang bertukar posisi sebagai pemain terdepan, selagi Hazard merancang serangan dari lini kedua. Itulah kenapa, Ancelotti mengaku puas, terutama Hazard dan Bale yang perlahan menemukan bentuknya kembali.

Ancelotti secara khusus menyoroti laga melawan Alaves. Dia berkata bahwa garis pertahanan rendah dan rapat Alaves membuat timnya kewalahan dalam melancarkan serangan. Madrid pun sempat gagal mencetak gol pada babak pertama.

Memasuki babak kedua, barulah kondisi berubah. Pergerakan Hazard dari lini kedua serta Bale yang kerap membuka ruang menjadi salah satu penyebabnya. Nama pertama bahkan terlibat penuh lewat umpan backheel untuk gol yang dicetak Benzema.

“Saya pikir semua pemain telah berlaga dengan baik. Bale akan menjadi semakin baik karena dia pun masih belum berada dalam kondisi yang optimal, sama seperti para pemain lain. Mereka semua bisa menjadi lebih baik,” tutur Ancelotti.

Pria Italia itu benar. Terlepas dari capaian trio lini depannya sejauh ini, puncak performa masih jauh dari jangkauan. Masih banyak ruang yang perlu diisi, masih banyak aspek yang perlu dibenahi. Namun untuk saat ini, ketiganya sudah mulai menebar tanda-tanda bahaya.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.