Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now

Bernardeschi Hidup Berkalang Ekspektasi

Foto: Instagram @fbernardeschi

Federico Bernardeschi mungkin bukan pemain buruk. Ia hanya dipaksa untuk tidak menjadi dirinya sendiri.

Sebagian dari kita adalah Federico Bernardeschi: Hidup berkalang ekspektasi, diharapkan menjadi ini dan itu, diseret menjauh dari diri sendiri.

Orang-orang Firenze mengingat cerita ini. Pada suatu hari di pengujung musim 1981/82, Fiorentina berlaga di pertandingan penentuan, hidup dan mati. Jika mati, Fiorentina tak akan bisa menimang gelar juara Serie A yang terakhir dikecap pada 1968/69. Lawan mereka Cagliari, seharusnya itu menjadi pertanda bahwa hari akan berakhir dengan meriah, bahwa hidup akan lebih dari sekadar baik-baik saja. 

Fiorentina calon juara. Mereka pasti sanggup mengalahkan Cagliari. Di sisi lain, Juventus pun sedang berlomba menggapai scudetto. Mereka berhadapan dengan Catanzaro. Baik Juventus maupun Fiorentina hanya membutuhkan satu kemenangan untuk sampai ke tangga juara.

Seharusnya Fiorentina bisa menang, seharusnya mereka jadi kampiun. Namun, itu sebelum palu nasib menjatuhkan vonis berbeda.

Sepakan ke arah gawang yang dilesakkan penggawa Fiorentina justru dianulir wasit, sedangkan suporter Juventus bersorak sorai karena penyihir mereka, Liam Brady, berhasil mencetak gol di kotak penalti. Pulang dari Sardinia, suporter Firenze mengamuk. Sejak saat itu mereka menabuhkan genderang perang ke hadapan wajah Juventus.

Masalahnya, Juventus adalah nyonya yang kepalang berani. Ia menggilai romansa, bahkan yang terlarang sekalipun. Kepergian Michel Platini pada 1987 meninggalkan lubang yang ingin segera mereka tutup. 

Cara yang ditempuh lebih nekad daripada cinta Romeo kepada Juliet. Manajemen Bianconeri mengarahkan pandangan ke seorang pemuda langsing di Firenze yang kakinya menjadi panggung bagi para malaikat untuk menyanyikan kidung agung. Nama pemuda itu adalah Roberto Baggio.

Juventus bukannya tidak paham akan kebencian tifosi Fiorentina kepada mereka. Namun, mereka yang menggilai romansa akan selalu nekad bermain api. Bagi Juventus, Baggio muda adalah pengganti sempurna untuk Platini. Transfer sinting itu terwujud pada 1990, kericuhan pecah di tanah Firenze.

Selang 27 tahun kemudian, Juventus kembali berupaya untuk mencari pewaris bagi sosok raja lain, Alessandro Del Piero. Sejak Del Piero pensiun, Juventus tak memiliki pemain yang benar-benar layak turun arena dengan kostum bernomor punggung 10. Carlos Tevez memang cukup bagus, tetapi belum cukup untuk menjadi pewaris mahkota Del Piero.

Sejarah berulang, Juventus kembali bermain api, mengumbar bujuk rayu di Kota Firenze. Mereka melirik pemuda 23 tahun yang kaki kirinya serupa tongkat sihir. Jika diayunkan ia akan melahirkan keajaiban yang mengajakmu berjalan-jalan ke Negeri 1001 Malam. Nama pemuda itu adalah Federico Bernardeschi.

Akan tetapi, Juventus tak lagi membutuhkan penyihir. Yang mereka inginkan adalah tuan bagi Sang Nyonya. Jika Baggio didatangkan sebagai pengganti Platini, Bernardeschi didaratkan sebagai pengganti Del Piero.

Masalahnya, Bernardeschi bukan seorang trequartista murni. Ia memang bisa dimainkan untuk mengemban peran itu. Namun, kaki kirinya itu akan lebih mematikan jika ia diberi keleluasaan untuk melepas tusukan ke sayap kanan. Bernardeschi adalah seorang pemain sayap. Posisi itu yang membuatnya mata seantero Artemio Franchi berbinar-binar menyambut kemenangan dan pesta-pora.

Juventus peduli setan walau sebenarnya di era kepelatihannya, Massimiliano Allegri membutuhkan pemain sayap untuk formasi 4-2-3-1 bentukannya. Terlebih, setelah musim panas 2017 yang menjadi waktu kedatangan Bernardeschi, Juventus mesti berlaga dalam tiga kompetisi sekaligus. Opsi pemain yang dalam menjadi kunci agar Juventus tidak kehabisan bensin di tengah jalan.

Harapan tinggal harapan. Bernardeschi lebih sering mengganti model rambut daripada turun lapangan. Pelatih berganti, mulai dari Allegri, Maurizio Sarri, hingga Andrea Pirlo, Bernardeschi tak kunjung mendapat tempat yang layak, apalagi Juventus mengambil langkah gila dengan mendaratkan bintang seterang Cristiano Ronaldo. Semua orang tahu, di mana pun tempatnya Ronaldo harus menjadi tokoh utama. Coba tanyakan pada Paulo Dybala atau Federico Chiesa.

Di masa kepelatihan Sarri, Bernardeschi berjumpa dengan periode terburuk. Sarri mencoba dan terus mencoba untuk memainkannya sebagai trequartista sejak mereka berganti formasi ke 4-3-1-2 pada awal musim 2019/20.

Meski pergantian itu ditujukan kepada seseorang seperti Paulo Dybala karena membuatnya lebih natural, perjuangan Bernardeschi sebagai nomor 10 sangat mirip dengan perjuangan skuad secara keseluruhan. Seiring berjalannya waktu, orang-orang berharap segalanya akan mulai membaik. Terlepas dari kenyataan bahwa Ronaldo mulai menunjukkan performa yang bagus dan Dybala benar-benar menunjukkan progres, Bernardeschi dan Juventus tak membaik.

Keputusan Sarri malah memercik masalah baru dengan memainkan Bernardeschi sebagai trequartista. Ketika mengemban peran itu, Bernardeschi seperti kehilangan diri sendiri. Dia tidak berlari dengan benar pada waktu yang tepat dan tidak berada di titik progres yang sama dengan Ronaldo dan Dybala.

Bernardeschi mungkin bukan pemain sehebat Dybala, tetapi jika ditempatkan dengan benar dia mampu memengaruhi permainan. Coba ingat-ingat lagi bagaimana Bernardeschi mengubah keadaan setelah Juventus kalah 0-2 dari Atletico Madrid di leg pertama babak 16 besar Liga Champions 2018/19. 

Pada leg kedua, Ronaldo pada akhirnya mencetak hattrick dan membalikkan kedudukan agregat menjadi 3-2. Ronaldo memang menutup laga sebagai bintang. Namun, di balik kebintangan itu ada Bernardeschi yang menjadi juru selamat tak kasatmata.

Ada banyak penampilan impresif malam itu untuk mendukung Ronaldo, tetapi Bernardeschi-lah yang secara langsung menginisiasi dua dari tiga gol. Yang pertama melalui umpan silang yang melayang ke sudut yang berlawanan. Yang kedua, ia melewati hampir setengah lapangan dan mendapatkan tendangan penalti setelah tumitnya terjepit di dalam kotak. Adalah Ronaldo yang pada akhirnya menjadi eksekutor.

***

Sebagian dari kita adalah Federico Bernardeschi: Hidup berkalang ekspektasi, diharapkan menjadi ini dan itu, diseret menjauh dari diri sendiri; sampai kita menemukan orang gila seperti Roberto Mancini. 

"Tiga tahun lalu ada satu orang gila yang berkata bahwa kami bakal bisa sampai ke titik ini, dan orang itu adalah Mancini. Ia selalu memercayai kami dan membawa antusiasme ke dalam tim. Ketika ia berkata bahwa kami adalah skuad yang terdiri dari 26 pemain, ia sungguh-sungguh mengatakannya. Ia tidak berbohong, tidak menyisihkan satu orang pun dari antara kami. Ia menjadikan kami percaya bahwa kami benar-benar tim yang hebat," papar Bernardeschi soal Mancini.

Meski hampir mati suri di Juventus, Bernardeschi tak pernah benar-benar kehilangan tempat di Timnas Italia. Bersama Mancini, Bernardeschi mendapat ruang untuk bermain di posisi naturalnya sebagai pemain sayap. Ambil contoh laga final Piala Eropa 2020 melawan Inggris. Bernardeschi dimainkan pada menit ke-85 menggantikan Federico Chiesa yang cedera. Ia memberi banyak perbedaan bagi permainan Italia. 

Sang winger acap kali bertukar posisi dengan Berardi dan itu menyulitkan bagi pemain Inggris. Dalam kurun itu ia membuat dua umpan kunci dan satu tembakan mengarah gawang yang menjadi opsi serangan Italia setelah ditinggal Chiesa yang cedera. Bernardeschi pun menjadi salah satu penendang Italia pada babak adu penalti dan menjalankan tugasnya dengan sempurna.

Sebagai winger, Bernardeschi tahu kapan harus memegang posisi melebar dan kapan harus bergerak ke dalam dan berlari ke lawan. Pun dengan kejeliannya menciptkan umpan kunci. Ia bisa membidik kawannya dengan akurat bahkan ketika ditekan oleh lawan. 

Serupa dengan pembawaannya yang serampangan, ia seperti menikmati duel satu lawan satu dengan bola di kakinya. Bernardeschi bukan hanya seorang pekerja keras, ia juga waspada terhadap bahaya defensif. Itu pula yang terjadi saat Italia bertanding melawan Wales. Pergerakan cerdik Bernardeschi membuat Ethan Ampadu melakukan pelanggaran yang berujung kartu merah.

Ketika Italia mengangkat trofi Piala Eropa 2020, Bernardeschi mungkin menjadi orang yang tertawa paling kencang. Barangkali itu menjadi titimangsa baru bagi perjalanannya sebagai pesepak bola. Barangkali tawa itu adalah penanda bahwa ia akan segera berpisah dengan hidup yang dipaksakan untuk menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Atau bisa jadi tawa itu justru menjadi gelak yang getir, sinyal bahwa sebentar lagi ia akan kembali kepada jalan yang membuatnya tak bisa menjadi Bernardeschi yang dia inginkan.

Apa pun arti tawa itu, Bernardeschi telah menang. Kemenangannya membuktikan bahwa Bernardeschi tidak diciptakan untuk luluh-lantak. Ia didesain untuk berdiri kokoh, bukan berlindung di balik nubuatan tentang mujizat yang akan selalu menyertai orang-orang yang hancur lebur.

Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now