Bertemu Kevin Diks di Millerntor

Foto: Riiana Izzietova

Wawancara saya dengan Kevin Diks selepas laga St. Pauli vs Borussia Mönchengladbach.

Kevin Diks akhirnya mencicipi kemenangan perdana di Bundesliga.

Tiba di Jerman awal musim ini untuk bergabung dengan Borussia Mönchengladbach, Diks melewati delapan laga perdananya tanpa kemenangan.

Namun, pada laga menghadapi St. Pauli di Millerntor pada gameweek 9 Bundesliga, Diks dan timnya mampu membawa pulang kemenangan 4-0.

“[Melalui] semua kerja keras, pekan-pekan yang berat, dan akhirnya dua kemenangan beruntun,“ ungkap Diks menjelaskan bahwa sebelum Gladbach menang atas St. Pauli, mereka juga berhasil meraih kemenangan atas Karlsruhe di ajang DFB Pokal.

Pada laga menghadapi St. Pauli, Diks menjadi starter, tampil sebagai bek tengah kiri dalam pola 3-4-2-1 yang diterapkan pelatih Eugen Polanski.

Foto: Riiana Izzietova

Diks bermain solid pada laga itu, atau untuk lebih gampang menggambarkan permainannya, bisa dibilang ia tampil tak neko-neko.

Sebagai bek tengah yang juga berkontribusi dalam fase build-up, ia tak banyak melepas umpan-umpan yang ceroboh—di akhir laga 56 dari 60 umpan yang ia lepaskan (93%) sampai di kaki rekan-rekannya dengan baik.

Ia membuat dua dribel dan semuanya sukses, melepas delapan umpan panjang dengan tujuh di antaranya tepat sasaran.

Saat bertahan, ia juga sama: Tak neko-neko. Ia melepas tujuh sapuan pada laga itu, yang mengindikasikan bahwa opsi pertama Diks dalam fase bertahan adalah untuk memilih meminimalisir risiko di lini pertahanan timnya.

Di samping itu, ia membuat dua blok dan dua intersep. Diks tak kelihatan sebagai pemain belakang yang hobi melakukan tugas-tugas kotor, tapi lebih menggunakan kemampuannya untuk membaca permainan dan fokus untuk membuat bola menjauh dari area pertahanannya dengan cepat.

Selepas laga, saya berbicara dengannya di Millerntor. Ia dengan ramah meladeni wawancara saya, menjawab beberapa pertanyaan, termasuk soal Tim Nasional Indonesia—yang dalam konteks sore itu tak berkaitan dengan laga Gladbach.

Foto: Riiana Izzietova

Pertama, kami berbincang soal adaptasinya di Bundesliga. Diks memang sudah punya banyak pengalaman, termasuk berlaga di Liga Champions bersama FC Copenhagen.

Namun, Bundesliga adalah liga top pertama dalam karier sepak bolanya, dan ia bergabung dengan klub yang punya sejarah besar di Jerman.

Lantas meski secara keseluruhan klub mengawali musim dengan hasil yang mengecewakan, Diks secara personal mampu beradaptasi dengan baik, dipercaya menjadi starter.

“Saya berusaha melakukan yang terbaik, memadukannya dengan pengalaman-pengalaman yang saya punya dari liga-liga lainnya. Tiap pekan saya berusaha melakukan yang terbaik, mengeluarkan kemampuan terbaik yang saya bisa. Saya harap saya bisa selalu melakukan ini, itu target saya,“ kata Diks.

Tiap pekan, pemain berusia 29 tahun ini berjibaku menghadapi pemain-pemain depan Bundesliga yang buas. Ia sudah menghadapi Harry Kane dan Michael Olise.

Diks juga sudah menghadapi talenta-talenta Eintracht Frankfurt yang eksplosif, dan mampu membawa timnya menahan gempuran-gempuran Bayer Leverkusen.

Dan inilah yang ia harapkan dari keputusannya untuk bergabung dengan Gladbach, bermian di Bundesliga.

“Para pemain di sini (Bundesliga) sangat, sangat kuat. Secara keseluruhan, lebih kuat ketimbang di Denmark. Secara teknik sangat tinggi. Pekan lalu, kami bermain melawan Bayern dan banyak sekali pemain top,“ jelas Diks.

“Dan inilah yang saya inginkan. Inilah mengapa saya pindah ke Bundesliga, untuk bermain melawan yang terbaik. Saya menikmatinya dan saya mencoba untuk menyamai level saya dengan para pemain terbaik“ tambahnya.

Foto: Riiana Izzietova

Adaptasi yang Diks lakukan pun tak sembarangan. Ia mampu menyesuaikan diri dengan segala sistem Gladbach yang tak menentu, karena gejolak yang terjadi berkat menurunnya performa klub.

Bila fans Timnas Indonesia mungkin mengenal Diks sebagai full-back kanan, ia lebih banyak bermain sebagai bek tengah—bahkan di sisi kiri—bersama Gladbach musim ini. Dan inilah posisi favoritnya.

“Saya bisa bermain hampir di seluruh posisi di belakang, tapi saya lebih prefer [bermain sebagai] bek tengah. Saya pikir saya berkembang sebagai bek tengah yang bisa bermain di mana saja (bek tengah, tengah kanan, tengah kiri),“ ucap Diks.

“Di sini (Gladbach) saya bermain sebagai bek tengah kiri saat kami bermain lima bek, atau saya juga bermain sebagai bek tengah kanan [dalam pola empat bek],“ tambahnya.

Saat Diks, juga pemain Indonesia lain yang bertarung di Eropa mulai menunjukkan kecakapan di musim yang berjalan makin panas ini, di situ pula muncul harapan untuk melihat mereka kembali berlaga bersama Timnas.

Jeda internasional pun kian mendekat. Namun, tampaknya Timnas tak akan berlaga pada momen kali ini, dan Diks berbicara soal itu kepada saya. Bahwa ia berharap momentum tim berlanjut lebih baik, serta situasi tim mampu kembali “kondusif“.

“Tentu saja kamu selalu ingin bersama tim, dan saya rasa itu sangat penting, terutama setelah hasil terakhir yang mengecewakan. Namun, saya rasa sangat penting juga bila kita telah mempersiapkan organisasinya dengan baik sebelum kami bertemu,“ ungkap Diks.

“Dan apakah kami akan bertemu, saya belum tau. Saya belum mendengar apakah kami akan pergi [untuk jeda internasional] atau tidak,“ tambahnya.

Foto: Riiana Izzietova

Well, mungkin para suporter Timnas Indonesia harus menunggu lebih lama lagi untuk melihat Diks kembali berlaga membela Pasukan Garuda.

Mungkin sampai nanti pelatih baru pengganti Patrick Kluivert diumumkan. Dan ketika saya bertanya perihal itu, perihal pergantian pelatih dan pengalamannya bermain di bawah dua pelatih berbeda selama bermain bersama Timnas, tak ada kalimat yang lebih baik dari jawabannya.

“Itu hanya bagian dari sepak bola,“ kata Diks, dan ia juga tak ingin berlarut dalam drama yang ada.

Sebab, momentum dalam karier sepak bolanya tengah menanjak seiring dengan adaptasi yang apik di Bundesliga dan performa Gladbach yang mulai menemukan kemenangan. Ini bisa membuat publik Bundesliga dan dunia semakin mengenal, mengingat namanya dengan baik.