Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now

Bertumpu pada Kostic

Foto: @filipkostic

Bagaimana Filip Kostic, dari sisi kiri, memiliki pengaruh besar terhadap Eintracht Frankfurt?

Lazio tidak punya banyak waktu. Serie A yang bakal dimulai dalam beberapa hari membuat mereka bergerak cepat untuk mencari pemain baru. Satu pemain yang jadi target Lazio adalah winger Eintracht Frankfurt, Filip Kostic.

Kostic diproyeksikan Lazio untuk menjadi pengganti Joaquin Correa yang dipinjamkan ke Inter. Kemiripan gaya bermain Kostic dengan Correa membuat Lazio tertarik. Satu yang membuat Lazio masih mengganjal adalah posisi bermain Kostic yang lebih defensif.

Sebaliknya, Frankfurt memberikan beragam syarat untuk Lazio. Sebagai pemain yang selalu mengakhiri musim sebagai penyumbang assist terbanyak, Kostic dipagari dengan nilai tinggi dan negosiasi yang alot.

Waktu yang semakin mepet membuat Lazio sepakat dengan permintaan Frankfurt, termasuk nilai transfer. Beberapa jam sebelum bursa transfer musim panas 2021/22, mereka mengisi segala syarat untuk memulai proses negosiasi via surel.

Hingga bursa transfer ditutup, surel yang dikirim Lazio ternyata tak kunjung sampai ke inbox Frankfurt. Frankfurt senang karena berhasil mempertahankan pilar sementara Lazio gagal mendapatkan pengganti pemain kunci.

Beberapa hari setelah peristiwa tersebut Frankfurt disebut mengirimkan alamat surel palsu ke Lazio, yakni eintrachtfranfurt.de. Lazio yang mendengar kenyataan tersebut berang. Demikian pula dengan Kostic yang sudah kadung berharap pindah ke Italia.

Frankfurt tidak terima disebut melakukan sabotase. Mereka mengatakan bahwa alamat surel yang dikirimkan ke Lazio sudah benar, yaitu eintrachtfrankfurt.de. Permasalahnnya adalah tidak ada huruf ‘k’ dalam alfabet Italia.

Kegagalan Kostic bergabung Lazio tidak menghentikan rumor kepergiannya dari Frankfurt. Justru sekarang namanya kian dihubung-hubungkan dengan banyak klub top Eropa, apalagi kontraknya bakal berakhir di 2023.

***

Kostic memulai karier di klub dari kota kelahirannya, Radnicki Kragujevac. Selama tiga musim berada di sana, ia selalu berhasil membawa Radnicki promosi ke level yang lebih tinggi dan puncaknya di Serbian SuperLiga musim 2011/12.

Bakat Kostic diketahui oleh Groningen. Mereka bergerak cepat untuk mendatangkan Kostic dari Serbia. Transfer senilai 700 ribu euro yang dipatok oleh Radnicki tidak mengurungkan niat mereka untuk memboyong Kostic yang saat itu berusia 19 tahun.

Di kemudian hari, transfer Kostic ke Groningen ternyata terjadi secara ilegal. Kepolisian Serbia pun menahan mantan presiden Radnicki, Nebojsa Vasiljevic, mantan sekretaris klub, Darko Stojanovic, dan mantan pelatih, Zoran Pavlovic.

Musim pertama Kostic di Groningen tidak berjalan mengesankan. Ia bahkan disebut gagal oleh pelatih Groningen saat itu, Robert Maaskant. Namun demikian, Groningen berusaha untuk memberikan kesempatan kedua kepada Kostic.

Kepercayaan Groningen dibalas Kostic dengan penampilan apik. Ia tidak hanya turun dalam semua pertandingan yang dilakoni musim itu (Eredivisie dan playoff Europa League) tapi juga menjadi pemain dengan kontribusi terbanyak untuk tim, 11 gol dan tujuh assist.

Penampilan cemerlang di Groningen mengantarkan Kostic terbang ke Jerman. Pada periode pertamanya di Jerman, curriculum vitae Kostic sempat tercoreng karena dua klub Jerman yang bergantian ia bela, VfB Stuttgart dan Hamburg SV, terdegradasi dari Bundesliga.

Lantas, Frankfurt muncul sebagai penyelamat Kostic. Setelah menjalani proses peminjaman selama satu musim di Deutsche Bank Park, ia ditebus oleh Frankfurt dengan biaya mencapai enam juta euro.

***

Adi Hütter memenuhi ajakan wawancara usai mengakhiri sesi latihan. Sudah sebulan ia menangani Frankfurt dan laga perdananya di sana berakhir mengecewakan–kalah 0-5 dari Bayern Muenchen di Piala Super Jerman.

Satu topik yang dibicarakan oleh Hutter saat itu adalah tentang Kostic yang saat itu baru bergabung Frankfurt. Kostic datang setelah direkomendasikan oleh salah satu direktur olahraga Frankfurt, Fredi Bobic.

“Kami mendapatkan pemain yang brilian. Kedatangannya jelas menambah kedalaman di lini depan kami,” kata Hutter.

Hutter rutin menggunakan 3-5-2 sebagai formasi dasar dan amat mengandalkan dua sisi lapangan saat menyerang. Kostic, yang menempati posisi wing back kiri, punya peran yang cukup vital bagi Frankfurt terutama saat menyerang.

Kepiawaian Kostic dalam menyisir area sayap dan melepaskan umpan silang jadi alasan mengapa ia diandalkan. Jika ditotal, selama empat musim memperkuat Frankfurt, ia mampu melepaskan 45 assist.

Tugas Kostic untuk menyerang semakin bertambah saat dipegang oleh Glasner. Per Fbref, ia berada di deretan teratas yang mengisi daftar umpan dan crossing ke kotak penalti lawan. Total 105 umpan dan crossing yang ia buat musim ini hanya kalah dari bek kiri Hoffenheim, David Raum.

Yang spesial dari Kostic adalah work rate-nya yang terhitung tinggi. Dari kelebihan tersebut, ia tidak hanya rajin menjelajahi setiap area di sisi lapangan tapi juga siap langsung mengejar saat kehilangan bola.

Empat gol dan sembilan assist yang ia buat sejauh ini jauh lebih besar ketimbang kontribusi pemain Frankfurt lain. Belum lagi ia sekarang menjadi pemain dengan menit bermain terbanyak nomor tiga di Frankfurt.

Angka-angka tersebut seakan membuktikan bahwa nyawa Frankfurt ada di Kostic dan bukan di deretan penyerang yang pernah mereka miliki.

Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now