Bocah

Foto: Twitter @D_DeGea.

Hanya Alex Stepney yang mengoleksi penampilan lebih banyak daripada David de Gea sebagai kiper Manchester United. Kami menoleh sejenak untuk merefleksikan perjalanan karier De Gea setelah 10 tahun membela 'Iblis Merah'.

Lewat ‘Bocah’, PAS Band menunjukkan bahwa untuk para anak-anak sekalipun, dunia sekeliling seringkali tak ramah. Tak selamanya mereka hidup dengan bubuk peri dan berlari telanjang kaki di atas tanah empuk.

David de Gea paham itu. Ia datang ke Manchester United pada 2011, ketika klub tersebut sedang menuju titik rendah dan berada di ambang mengais kejayaan. Bagi De Gea, datang ke United ketika usianya baru 20 tahun hampir mirip seperti dilempar ke jurang dan disuruh berpikir sendiri bagaimana caranya naik kembali ke permukaan.

Sebagai kiper yang menghabiskan tahun-tahun formatif awalnya di Spanyol, De Gea menemukan sepak bola Inggris adalah entitas buas yang harus ia taklukkan dengan tangannya sendiri. Ini yang kemudian membuat performa De Gea pada laga-laga pertamanya dengan United tidak meyakinkan. Dari situ pula label ‘dodgy goalkeeper’ menempel pada dirinya.

Pada sejumlah kesempatan selepas pertandingan, De Gea kerap menghampiri rekan-rekannya, mulai dari Phil Jones—yang datang pada musim yang sama dengannya—hingga si kembar Da Silva, Rafael dan Fabio, untuk bertanya bagaimana caranya menghalau umpan silang.

Dengan tubuh yang kecil dan terlihat ringkih, umpan silang adalah musuh yang menakutkan buat De Gea. Ia tak hanya kesulitan untuk meninju bola, tetapi juga rawan terpelanting manakala berhadapan dengan pemain lawan yang fisiknya lebih kokoh. Musim pertama pun menjadi mimpi buruk buat De Gea.

Di Inggris—di Manchester, tepatnya—ia menghadapi kenyataan bahwa cuaca tak selalu cerah. Ini bukan lagi Madrid yang menawarkannya pemandangan bangunan-bangunan mewah, pelayan-pelayan restoran yang dingin, dan matahari yang melulu menampakkan diri.

Di Manchester, kamu bisa menikmati pelayanan yang ramah dan lebih bersahaja sembari duduk-duduk di bar dan kafe pinggir jalan. Namun, jangan protes apabila selama berhari-hari kamu bakal mendapati mendung dan hujan yang datang tanpa diundang. Istri De Gea, Edurne, malah pernah menyebut Manchester seperti bagian belakang kulkas saking kusamnya.

De Gea tak lagi bisa menikmati siesta dan harus bersusah payah belajar bahasa Inggris. Beruntung, ia bertemu Eric Steele. Bagi De Gea, Steele bukan sekadar pelatih kiper biasa, tetapi juga mentor dan orang tua sekaligus. Steele paham betul seperti apa rasanya menjadi terasing.

Ketika muda, Steele pernah hidup sebagai pemain pinjaman karena kemampuannya tak dirasa cukup untuk mendapatkan tempat di tim utama. Namun, Steele paham bahwa yang namanya pencapaian harus didahului oleh berbagai macam proses. Oleh karena itu, alih-alih berdiri di pojok dan memaki-maki tembok, ia memilih untuk menjalani semuanya tanpa protes.

Di kemudian hari, Steele menjadi salah satu pemain kesayangan para pendukung Peterborough United. Steele pun tahu apa yang perlu ia lakukan kepada De Gea. Terlebih, dia sendirilah yang bertanggung jawab mendatangkan De Gea ke United.

Steele menjadi pelatih kiper United pada 2008. Ketika Edwin van der Sar memutuskan untuk pensiun pada akhir musim 2010/2011, Steele memiliki kewajiban untuk menemukan penggantinya. Ia kemudian menyodorkan nama De Gea kepada Sir Alex Ferguson setelah berulang kali memantaunya selama di Atletico Madrid.

Eric Steele dan David de Gea. Foto: Twitter @GKNexusOfficial.

Ferguson tentu saja tidak langsung menyetujuinya. Ia sempat satu kali menonton langsung permainan De Gea sebelum akhirnya menerima saran Steele. De Gea kemudian menjadi penjaga gawang anyar United pada 29 Juni dengan nilai transfer £18,9 juta. Dari situlah gemblengan Steele bermula.

De Gea, pada mulanya, kesal karena diminta berlatih saban siang. Ia juga tidak menyukai sesi latihan di gym. Namun, Steele paham bahwa untuk bocah berusia 20 tahun yang baru beradaptasi dengan dunia baru, De Gea mesti diberi pengertian secara perlahan-lahan.

Sebagai contoh, Steele rela belajar bahasa Spanyol supaya lebih mudah berkomunikasi dengan De Gea. Ia juga memberitahu bahwa dengan beratnya yang “cuma” 71 kg, De Gea terlalu ringan untuk menjadi seorang penjaga gawang di Inggris. Oleh karena itu, latihan di gym dan core strength amat ia butuhkan.

Steele tahu bahwa De Gea adalah kiper menjanjikan. Tidak ada yang meragukan kemampuannya dalam hal shot-stopping yang membuatnya bisa menggunakan tangan dan kakinya dengan sama baiknya. Namun, untuk urusan fisik dan mental, De Gea masih perlu digembleng.

“Ia sebal betul ketika kami memaksanya untuk menenggak asupan protein selepas latihan,” kata Steele pada 2017 di Daily Mail. Namun, ia tidak peduli. Setiap habis latihan, Steele selalu mencekoki minuman berasupan protein tersebut. Toh, semuanya demi De Gea sendiri.

Begitu musim 2012/13 dimulai, yang mana merupakan musim keduanya di klub, De Gea tampil dengan postur berbeda. Tubuhnya menjadi lebih kekar dan ia jadi lebih berani berduel. Hasilnya, De Gea menjadi salah satu pemain kunci United ketika memenangi gelar juara liga musim itu.

***

Ketika De Gea menjadi pesakitan pada final Liga Europa 2021 ketika ia menjadi satu-satunya pemain United yang gagal mengeksekusi penalti, ada dua orang yang langsung menghiburnya. Yang pertama adalah Sir Alex Ferguson dan yang kedua adalah Steele.

Steele tidak pernah ragu akan kemampuan mantan anak asuhnya itu, tetapi ia juga cukup objektif ketika mengakui bahwa De Gea memang mengalami penurunan performa. Namun, penurunan performa adalah hal biasa dalam karier seorang pemain. Yang jadi persoalan adalah bagaimana si pemain mengembalikan dirinya ke level terbaik.

Dalam kasus De Gea, ia memang masih bisa melakukan penyelamatan dengan baik meskipun dalam beberapa musim terakhir ada sejumlah blunder yang acap dia lakukan. Namun, ada hal lain yang tidak kalah penting dari perkara teknik, yakni persoalan “presence” (hawa kehadiran) yang membuatnya jadi penguasa lini belakang tim sendiri.

Menurut Steele, dalam wawancaranya dengan ESPN, ada dua hal yang selalu ia ingatkan kepada De Gea: Command dan demand. Lewat command, seorang penjaga gawang memiliki hak untuk mengatur barisan pertahanan yang ada di hadapannya. Sementara, lewat demand, ia bisa menuntut para bek untuk melindunginya dengan lebih baik.

Kerja mempertahankan gawang, kata Steele, adalah sesuatu yang kolektif meskipun kiper memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Apabila para bek gagal memberikan proteksi yang baik, jangan harap gawang tim bakal aman dari kebobolan, tak peduli sejago apa pun kiper yang mengawalnya.

“Dia bisa mengingat masa-masa awalnya di United, ketika ia dihajar sana-sini. Ketika itu, dia bisa menghadapinya dengan lebih banyak memberikan arahan, lebih berani menghadapi bola, dan menghalaunya dengan baik,” kata Steele.

Tekanan, bagi De Gea, adalah sesuatu yang biasa ia hadapi semenjak awal kariernya di United. Pada masa-masa suram setelah menjuarai Premier League 2013, ia pernah menanggung beban sendirian di pundaknya dengan berulang kali menjadi penyelamat tim dari satu laga ke laga lain. Ini terlihat dari bagaimana ia mendapatkan gelar sebagai pemain terbaik klub untuk tiga musim beruntun.

Pada masa-masa itu, ketika United berulang kali gagal membangun skuad (dan menghadirkan pelatih) yang betul-betul bisa menjadikan mereka kandidat juara, saya mereka berutang besar pada De Gea. Orang ini menghabiskan masa-masa terbaiknya sebagai pemain pada sebuah klub yang gagap menghadapi zaman dan oleh karenanya berubah menjadi medioker.

Meski tak mudah untuk membicarakan pengandaian di dalam sepak bola, kita cuma bisa membayangkan berapa trofi yang bisa De Gea gamit di klub lain apabila memutuskan untuk meninggalkan United pada masa-masa itu.

***

Cuma ada satu penjaga gawang yang mengoleksi jumlah penampilan lebih banyak dari De Gea untuk United. Orang itu adalah Alex Stepney, kiper yang juga terkenal dengan “presence”-nya dan merupakan penjaga gawang The Red Devils ketika mereka pertama kali menjuarai European Cup (sekarang Liga Champions) pada 1968.

Stepney mengoleksi 539 penampilan, sedangkan De Gea 450. Ironisnya, tak banyak gelar juara liga yang berhasil Stepney dan De Gea raih. Stepney cuma mengoleksi satu selama berkostum United, yakni pada 1967, sedangkan De Gea baru satu. Peter Schmeichel, yang punya 398 penampilan, justru punya koleksi gelar juara liga yang lebih banyak.

Untuk merayakan penampilan ke-450 De Gea, United mengumpulkan sejumlah penyelamatan brilian kiper asal Spanyol tersebut dan mengunggahnya ke media sosial. Salah satu penyelamatan yang De Gea lakukan bermula dari sebuah serangan ‘Iblis Merah’ yang gagal dan mengakibatkan lawan melakukan serangan balik. Kejadian itu baru saja terjadi musim ini, tepatnya ketika United berlaga menghadapi Everton di Premier League.

Agaknya, ada cara yang lebih tepat untuk menghormati De Gea ketimbang sekadar merayakannya dengan mengumpulkan video-video penyelamatan terbaiknya. Staf kepelatihan United bisa memulainya dengan membangun sistem pertahanan yang lebih baik, sebab belakangan mereka amat rentan ketika diserang balik karena transisi dari fase menyerang ke bertahan yang buruk.

Sang bocah kini sudah hampir berusia 31 tahun. Entah kapan United bakal membayar pengabdiannya dengan trofi juara liga berikutnya.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.