Bocah Berlin-Neukolln yang Jadi Raksasa London

Foto: @toniruediger

Antonio Rüdiger tumbuh sebagai pemuda agresif dan emosi. Berkat itu, ia menjadi andalan Chelsea. Namun, Rüdiger-Chelsea belum menemui titik terang soal perpanjangan kontrak.

Hati Antonio Rüdiger terluka. Gema kata-kata rasialis dari mulut orang-orang tak beradab saat AS Roma melawan Lazio pada 2017 silam membuat perasaannya remuk redam. Ia marah. Ia kecewa. Namun, ia tidak bisa apa-apa. Laga tetap berlangsung sampai tuntas.

Itu memang bukan tindakan rasialisme pertama yang Rüdiger terima selama hidup. Namun, insiden tersebut yang paling menyakitkan. Ia tidak pernah bisa menggugurkan fragmen menyesakkan itu dalam benaknya, dalam memorinya.

Rüdiger masih ingat betapa deras dukungan yang mengalir kepadanya. Banyak orang mengucapkan duka dan kekecewaan atas peristiwa tersebut. Kick racism out of football berdentum keras di media sosial.

Namun, Rüdiger tidak pernah menganggap dukungan tersebut betul-betul nyata. Toh, setelah mengutuk tindakan rasialisme dengan menekan layar gawai, orang-orang akan melupakannya. Dua atau tiga bulan kemudian, aksi terkutuk serupa kembali muncul di dunia sepak bola.

Ketika segalanya benar-benar buruk, Rüdiger hanya merasa nyaman bersama orang yang mampu menampung keluh kesah tanpa berkata macam-macam dan memberinya ruang untuk meraung. Dan hanya Daniele De Rossi yang paham itu.

De Rossi, tulis Rüdiger di The Players Tribune, tidak berkoar-koar soal insiden tersebut. De Rossi pun tidak ikut mengutuk tindakan rasialisme di akun media sosialnya. Namun, ia adalah orang pertama yang menghampirinya selepas laga dan berkata:

“Toni (sapaan Rüdiger), saya tahu saya tidak akan pernah merasakan hal yang sama sepertimu. Namun, biarkan aku mengerti rasa sakitmu."

***

Rüdiger besar dan lahir di Berlin-Neukolln. Berlin-Neukolln adalah tempat ternyaman bagi imigran untuk melanjutkan hidup dan berupaya mewujudkan cita-cita.

Meski beragam bahasa dan budaya menyatu di lingkungan kecil, jarang sekali ada perkelahian maupun percekcokan. Perasaan senasib dan sependeritaan membuat kehidupan di Berlin-Neukolln hangat dan harmonis.

Rüdiger kecil bukanlah bocah cengeng yang banyak maunya. Ia paham bahwa dompet orang tuanya selalu mengempis dan sulit mengembang. Selama ada makanan dan minuman yang tersaji, itu sudah cukup. Ia akan berbahagia.

Sama seperti anak-anak Berlin-Neukolln lainnya, Rüdiger adalah bocah penggila sepak bola. Namun, Rüdiger kecil tidak pernah menganggap sepak bola sebagai olahraga yang disesaki kesenangan. Baginya, sepak bola adalah ajang pembuktian. Pembuktian bahwa anak imigran sepertinya tidak bisa dipandang sebelah mata.

Pandangan itu juga yang membuat Rüdiger sering beradu jotos. Di lapangan beralas beton, ia selalu bermain agresif dan penuh emosi. Karena itu juga, ia mendapat panggilan Rambo dari teman-temannya.

“Saya tumbuh di tempat di mana saya harus menjadi tangguh. Saya merasa keren ketika berkelahi. Itu juga yang sering membuat saya diusir dari lapangan," kata Rüdiger seperti dilansir The Guardian.

Apa yang dilakukan Rüdiger di lapangan membuat penilaian teman-temannya terpecah. Ada yang menyukainya. Ada pula yang mengaguminya. Ada juga yang mengolok-oloknya.

Pernah satu hari, Rüdiger diminta pergi ke Sierra Leone, tanah kelahiran orang tuanya, karena bermain kasar. Namun, ia tidak pernah menggubris kata-kata yang menyesakkan tersebut. Ia tetap menggiring bola, mengumpan, menekel lawan, dan merawat mimpi menjadi pesepakbola dengan sebaik-baiknya.

Di dalam kepala Rüdiger kecil, sepak bola adalah tanah terjanji yang berlimpah kesuksesan. Di situlah ia menitipkan harapan untuk memusnahkan kesulitan finansial dan memberikan hidup yang laik kepada keluarganya. Aksi-aksi keras yang menawan selalu ia perlihatkan kepada orang-orang.

Sepak bola juga menjadi alasan utama Rüdiger meninggalkan keluarga sejak berusia 15 tahun. Ketika itu, ia mendapat kesempatan berlatih dengan akademi Borussia Dortmund. Ada banyak kesedihan yang mengiringi kepergiannya.

Rüdiger bercerita, ibunya sempat tidak mengizinkannya pergi. Namun, ia berusaha sekeras mungkin untuk memastikan dirinya bakal baik-baik saja meski jauh dari keluarga. Ia juga bersikukuh bahwa suatu hari nanti dunia dan kesuksesan akan berkarib dengannya.

Perjalanan karier Rüdiger tidak pernah mudah. Selain harus memikirkan bagaimana cara meningkatkan kapasitas dan kapabilitas olah bola, ia pun harus melawan pandangan buruk orang-orang soal asal usalnya. Entah itu anak imigran maupun label bocah Berlin-Neukolln.

"Jika kamu berkelahi di tempat latihan dan kamu berasal dari lingkungan yang baik, apa yang akan mereka katakan? Tentu saja kamu adalah pemimpin," tulis Rüdiger. "Dan jika kamu berasal dari lingkungan tidak baik, kamu adalah seorang gangster. Kamu berbahaya."

Seberapa tajam penilaian orang-orang, lagi dan lagi, Rüdiger seakan kehilangan telinga. Tidak mendengar dan tidak pernah peduli. Yang ia pikirkan selama menjejak tanah terjanji bernama sepak bola hanya keluarga dan bagaimana meraih kesuksesan.

Palu nasib menjatuhkan berkah berlimpah bagi hidup Rüdiger. Ia mendapat kontrak profesional bersama VfB Stuttgart. Dari sana, nama Rüdiger mulai bertalu-talu meski suaranya tidak terdengar lantang.

Kemampuan bertahan Rüdiger mulai diakui. Agresivitas dan daya ledak yang meletup-letup menjadi kredit bocah Berlin-Neukolln tersebut. Hingga akhirnya, AS Roma mendatangkannya sebagai pemain pinjaman pada musim 2015/16.

Hanya butuh waktu satu tahun bagi Rüdiger untuk mengabsahkan kapasitas dan kapabilitas sebagai bek muda potensial. Ya, Roma mempermanen Rüdiger dengan mahar 9 juta euro musim 2016/17.

Mempermanen Rüdiger bukanlah perekrutan penuh risiko. Sebab, ia sudah memperlihatkan kemampuan yang membuat manajemen dan pelatih Roma terkesan. Atribut bertahan yang oke plus kecepatan adalah senjata Rüdiger untuk meredam gempuran lawan.

Aksi-aksi Rüdiger bersama Roma membuat Chelsea tertarik mendatangkannya. The Blues pun rela menggelontorkan 35 juta euro untuk merekrut Rüdiger pada musim 2017/18.

Bagi Rüdiger, bergabung dengan Chelsea bukan hanya soal trofi, tetapi juga tentang bagaimana ia mampu mengeluarkan performa terbaiknya di bawah kepelatihan Antonio Conte.

"Alasan terbesar saya datang ke sini (Chelsea) adalah Antonio Conte." Itu adalah pernyataan pertama Rüdiger sebagai pemain Chelsea. "Ia manajer yang fantastis karena membuat pemain-pemain seperti Marcos Alonso dan Victor Moses meningkat drastis."

Perjalanan Rüdiger bersama Chelsea seperti roller coster, naik-turun. Ada kalanya ia adalah pahlawan. Ada waktunya ia menjadi pesakitan. Situasi itu tidak lepas dari pergantian nakhoda kepelatihan.

Setelah Conte cabut, Chelsea diarstieki Maurizio Sarri. Musim berikutnya, Frank Lampard resmi melatih Chelsea. Namun, bagi Rüdiger, Thomas Tuchel-lah yang bisa membuat dirinya menjejak kejayaan dan meraih trofi Liga Champions.

"Tuchel memberi saya kehidupan baru," kata Rüdiger kepada The Guardian. "Ia memberi tahu saya apa yang ia harapkan dari saya. Ia pun tidak mempermasalahkan permainan saya yang agresif."

Chelsea versi Tuchel adalah Chelsea yang pakem dengan skema tiga bek. Turunannya, 3-4-2-1, 3-4-3, atau 3-4-1-2. Formasi tersebut membuat pertahanan Chelsea kokoh dan masuk barisan terdepan dalam perburuan trofi Premier League. Mereka memang sempat mengalami turbulensi dan goyah. Tapi, situasi itu tidak membuat mereka terjun di papan klasemen.

Dalam skema tersebut, Rüdiger selalu menjadi pilihan utama sebagai bek tengah sebelah kiri. Atribut bertahan Rüdiger tidak bisa diragukan. Ia jago meredam gempuran lawan via tekel dan intersep mumpuni.

Yang membuat Rüdiger istimewa di bawah kepalatihan Tuchel adalah kebebasan bergerak ke depan. Ya, Tuchel kerap memberi tugas kepada Rudiger untuk maju sampai kotak penalti lawan. Tujuannya menciptakan overload pemain. Apalagi saat melawan klub-klub yang menerapkan garis pertahanan rendah.

Hebatnya, Rüdiger mampu menunaikan tugas itu dengan baik. Ia juga kerap menciptakan peluang bagi rekan-rekannya. Itu terlihat dari peningkatan shot creating actions (SCA). Sederhananya, SCA adalah atribut ofensif, mulai dari umpan, dribel, memenangi pelanggaran, yang dapat menciptakan tembakan.

Mengacu FBref, musim lalu, rata-rata SCA Rüdiger berada di angka 0,74 per laga. Sedangkan musim ini, SCA Rüdiger meningkat menjadi 1,32 per laga. Selain itu, Rüdiger menggiring bola ke sepertiga akhir sebanyak 38 kali dan 2 kali ke kotak penalti.

Keberadaan Rüdiger tergolong krusial bagi Chelsea. Persoalannya, kontrak si pemain akan berakhir akhir musim nanti. Pembicaraan perpanjangan kontrak mereka belum menemui titik terang.

Kabar Rüdiger sudah menjalin pembicaraan dengan Real Madrid dan Bayern Muenchen tentu membuat Chelsea was-was. Salah satu faktor belum adanya kesepakatan adalah soal kenaikan gaji yang diminta Rüdiger.

Tuchel pun berharap Rüdiger-Chelsea segera menemukan kesepakatan. "Kami berharap mereka menemukan solusi. Yang bisa saya katakan adalah dia bermain dengan sangat baik. Ia juga mampu mempertahankan konsistensi," ucapnya dilansir The Athletic.

Pembahasan perpanjangan kontrak yang berlarut-larut akan merugikan keduanya. Pertama, jika Chelsea kehilangan Rüdiger, mereka akan sulit menemukan pengganti yang sepadan dan harus merogok dompet dalam-dalam.

Sedangkan jika Rüdiger bertahan, pertanyaan soal loyalitas kepada klub akan muncul. Itu tentu bakal membuat citra Rüdiger sedikit tercoreng. Karena, kadang-kadang, loyalitas kepada klub menjadi alasan fan untuk mencintai pemain dengan teramat sangat.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.