Bola Mati dan Lemparan ke Dalam

Foto: Riiana Izzietova

Sepak bola saat ini tengah kekurangan chaos untuk mencetak gol. Sepak pojok dan bola mati hadir menghasilkan situasi tersebut.

Salah satu buah dari perkembangan taktik sepak bola belakangan ini adalah menurunnya jumlah gol open play.

Bila menengok liga-liga top Eropa, terlihat bahwa tim-tim semakin paham bagaimana caranya bertahan dengan baik, bagaimana caranya meminimalisir ruang, bagaimana caranya mengaplikasikan pressing, yang pada akhirnya membuat mereka sulit dibobol.

(Kita juga bisa melihat fenomena ini dari sudut pandang ofensif, tapi itu untuk bahasan lain waktu saja).

Tidak, ini tidak sepenuhnya soal tim bertahan dengan lebih dalam. Memang, di Bundesliga, rerata garis pertahanan lawan menjadi lebih rendah (meski hanya 0,09 meter) ketimbang musim lalu.

Akan tetapi, di Premier League, misalnya, rerata garis pertahanan lawan musim ini lebih tinggi 0,40 meter ketimbang musim lalu. Margin tipis, tapi tetap saja ini menunjukkan bahwa tak selamanya kesulitan mencetak gol bergantung pada garis pertahanan lawan.

Cara tim-tim bertahan (dengan melakukan overload, dengan memaksimalkan momentum pressing, dengan memfokuskan penjagaan pada kotak penalti, dengan bermain lebih agresif, dsb.) lebih berpengaruh ketimbang garis pertahanan. Cara-cara ini yang semakin baik diaplikasikan, yang semakin berkembang.

Sebagai perbandingan, secara rerata tim-tim di Bundesliga menerima tembakan per 90 menit lebih sedikit pada musim ini (10.88) ketimbang musim lalu (11.04). Di Premier League pun sama, di mana jumlah tembakan yang diterima tim peserta turun ke 10.21 per 90 menit dibanding 10.8 musim lalu.

Berkembangnya pertahanan ke arah yang lebih positif ini lantas membuat produktivitas gol via open play di liga-liga seperti Premier League dan Bundesliga menurun.

Di Bundesliga, musim ini hanya ada 15,95 gol via open play per pekan pertandingan, menurun sekitar satu gol dari angka 17,08 gol per pekan pertandingan pada musim lalu.

Sementara di Premier League, angkanya gol via open play musim ini hanya 14,61 per pekan pertandingan, jauh menurun dari 18,05 gol per pekan pertandingan musim lalu.

Kesulitan dalam menciptakan gol via open play—atau bahkan sekadar untuk menembak—ini membuat banyak pelatih berpikir keras untuk menemukan alternatif mencetak gol. Dan salah satu alternatif yang paling umum jelas: bola mati.

Dengan mudah Premier League bisa menjadi contoh musim ini. Sebab, gol via bola mati meningkat tajam: 7 gol bola mati per pekan pertandingan berbanding 4,78 gol musim lalu.

Chart via The Times

Di Bundesliga, angkanya menurun tipis dari 6,23 gol per pekan pertandingan pada musim lalu berbanding 6,19 gol per pekan pertandingan musim ini. Namun, Bundesliga sudah lebih konsisten untuk mencetak gol via bola mati pada level yang sama dalam beberapa musim ke belakangan. Fluktuasinya tidak terlalu jomplang.

Di sinilah mudah dilihat bahwa bola mati benar-benar menjadi opsi yang sangat diperhitungkan berbagai tim untuk mencetak gol.

Arsenal jelas paling populer dalam konteks ini, di mana 38% gol yang mereka ciptakan di Premier League musim ini berasal dari bola mati (dan penalti).

Sementara struggle yang dialami Liverpool juga bisa dijadikan contoh: Mereka memang tim dengan gol via open play terbanyak kedua di Premier League, tapi mereka hanya mampu mencetak tujuh gol dari bola mati dan tiga dari penalti—kekurangan alternatif yang membuat mereka ada di posisi enam klasemen dan jumlah gol secara total.

Atau salah satu alasan di balik keberhasilan Leeds untuk, sampai saat ini, tak terjerembab pada zona degradasi meski hanya mencetak 19 gol via open play adalah catatan 16 gol yang mereka buat dari situasi bola mati dan penalti.

Di Bundesliga, tentu saja saya akan menggunakan St. Pauli sebagai contoh. Sebab, 50% dari gol yang mereka ciptakan musim ini berasal dari bola mati (termasuk penalti). Iya, setengahnya.

Atau, bila mengambil contoh lain, 40% dari gol yang diciptakan Dortmund juga berasal dari situasi yang sama—salah satu alasan di balik keberhasilan mereka untuk konsisten pada posisi dua.

Saya sempat bertanya kepada pelatih St. Pauli, Alexander Blessi, perihal pentingnya bola mati bagi timnya. Dan ia memang mengaku bahwa St. Pauli memiliki beberapa variasi baik untuk sepak pojok maupun tendangan bebas.

“Namun, saya bisa bilang 80% (dali bola mati) bergantung pada delivery-nya,” kata Blessin.

Delivery yang ia maksud berarti soal siapa penendangnya dan ke mana bola itu akan diarahkan. Inilah kenapa, penendang bola mati tak bisa random: Orangnya itu-itu saja. Dalam konteks timnya, Blessin punya tiga algojo tetap: Erik Smith, Danel Sinani, dan Mathias Pereira Lage.

Foto: Riiana Izzietova

Ketiganya punya ciri khas masing-masing: Smith, misalnya, biasanya akan mengirimkan sepak pojok dengan bola datar atau ke tiang jauh. Pereira Lage biasanya mengirimkan ke tiang dekat, dan Sinani acap memfokuskan tendangan ke area box kecil kotak penalti.

Di Dortmund, mereka bahkan mengandalkan Julian Ryerson sebagai algojo utama dan hasilnya tokcer: enam umpan menjadi gol via bola mati atau tendangan bebas.

Di Premier League, Bruno Fernandes menciptakan 23 peluang via bola mati, sedangkan Anton Stach-nya Leeds dan Declan Rice masing-masing memiliki 20 umpan kunci dari situasi ini. Dan mereka, tentu saja, algojo utama timnya.

Dan dalam strategi, kita bisa melihat banyak variasi. Manchester United baru saja menunjukkan variasi sepak pojok dengan umpan datar bisa menghasilkan gol. Arsenal saban hari juga menunjukkan bahwa menargetkan box kecil dalam kotak penalti akan menghasilkan situasi yang sangat berbahaya.

Variasi yang semakin kaya menunjukkan betapa bola mati benar-benar mendapat porsi yang jauh lebih besar dalam latihan klub-klub liga top Eropa saat ini. Dan tak heran juga banyak klub top saat ini sudah mempekerjakan pelatih khusus bola mati.

“Kami akan menempatkan bola ke suatu area, lalu memfokuskan konsentrasi kami di sana. Memiliki pemain yang mau melakukan duel juga sangat membantu,” Blessin menambah insight soal apa yang bisa menjadi faktor dalam mengeksekusi bola mati.

Dalam konteks ini, Blessin memberi contoh bahwa pemain belakang seperti bek tengah juga gelandang nomor enam adalah pemain yang dapat dikategorikan sebagai pemain yang mau melakukan duel.

Foto: Riiana Izzietova

Sebab, alasan mengapa mereka berada di kotak penalti ketika bola mati tiba bukanlah sekadar karena postur mereka tinggi, tapi juga karena kebiasaan mereka melakukan duel.

Dari lima pemain dengan total tembakan terbanyak via bola mati di Bundesliga, misalnya, hanya satu pemain depan. Sisanya kalau tidak bek tengah, ya, gelandang bertahan. Di Premier League bahkan tak ada satu pun pemain depan pada daftar tujuh teratas.

***

Dan berbicara soal bola mati, belakangan tren juga tak cuma fokus pada sepak pojok atau tendangan bebas saja, tapi juga lemparan ke dalam.

Saya pribadi baru saja menyaksikan bagaimana St. Pauli mencetak gol dari situasi ini saat mereka menang atas VfB Stuttgart akhir pekan silam. Dan bukan, ini bukan via lemparan jauh.

Lemparan yang dilakukan pendek, tapi St. Pauli mengombinasikan ini dengan melakukan overload, lantas umpan satu sentuhan cepat, di mana mereka juga mengoverload sisi lain dan pada akhirnya mendapat ruang yang sangat kosong untuk menembak. Overload di kiri, pergerakan cepat ke tengah, selesaikan kosong di kanan.

Ini juga menunjukkan bahwa variasi lemparan ke dalam juga semakin meningkat, selain dengan tren lemparan jauh langsung ke kotak penalti (ala Pratama Arhan) yang juga sedang meningkat tajam di liga-liga top Eropa.

Tengah pekan kemarin, misalnya, Brentford baru saja mencetak gol via lemparan jauh ke gawang Arsenal. Well, mereka memang master pada situasi ini, dengan catatan 10 gol via lemparan ke dalam sejak musim lalu. Selain ke gawang Arsenal, mereka juga cetak gol ke gawang Liverpool dari situasi ini.

Per Sky Sports, catatan gol via lemparan ke dalam di Premier League musim ini telah menyentuh angka 30. Catatan terbanyak sejak musim 2009/10 di mana ada 32 gol dari situasi tersebut.

Mikel Arteta bisa dikutip untuk mengetahui mengapa situasi bola mati menjadi krusial sebagai alternatif mencetak gol. “[Sebab] chaos di dan sekitar bola [dari lemparan ke dalam] tersebut sangat sulit untuk dikontrol,” katanya.

Ingat chaos. Di tengah pertahanan yang semakin membaik, struktur rapat dan terorganisir, tim yang sedang menyerang merindukan chaos untuk membantu mereka menemukan ruang tembak. Dan inilah yang disediakan oleh lemparan ke dalam.

Ini pula yang disediakan dari situasi bola mati (silakan lihat atau tonton ulang situasi bola mati Arsenal di mana banyak momen-momen tak terduga dialami oleh tim yang sedang dalam kondisi bertahan).

***

Sepak bola terus bergerak, dan saat ini kita melihat bahwa sepak bola semakin kekurangan chaos karena tim-tim sudah mampu bertahan dengan jauh lebih baik, jauh lebih presisi, jauh lebih sistematis. Ruang tak lagi sebesar dulu, organisasi tak lagi sekacau sepak bola yang dielu-elukan orang-orang berumur. Jumlah gol pun menurun.

Karena itu, kita bisa melihat bahwa berbagai tim akan mencari cara untuk menciptakan situasi chaos dengan cara mereka sendiri, dan salah satu caranya adalah dengan situasi bola mati dan belakangan pula lemparan ke dalam.

Dan sampai aspek ofensif berkembang dan menemukan solusi untuk mengatasi pertahanan yang jauh lebih baik ini, kita masih akan melihat bagaimana bola mati, lemparan ke dalam, dan tendangan bebas menjadi sangat amat berpengaruh.