Bukan Hanya Jual Jersi

Foto: instagram @officialasroma

Efek kedatangan Dybala tidak cuma soal jersi yang laris manis, tetapi juga menambah ketajaman lini depan AS Roma.

Perkenalan Paulo Dybala sebagai pemain AS Roma begitu syahdu. Dinding-dinding Palazzo della Civiltà Italiana memerah dengan lampu sorot yang megah. Ribuan fan mengibarkan bendera I Giallorossi. Foto-foto Dybala pun diangkat setinggi-tingginya.

Sorak-sorai fan bergemuruh saat Dybala berjalan menuju panggung utama. Langkahnya begitu santai. Wajahnya agak kaku memang. Namun, tangannya intens melambai-lambai. Ia tidak banyak berkata-kata. Hanya satu-dua kalimat. Setelah itu, ia duduk di tangga yang menghadap lautan manusia. Lagu kebesaran AS Roma berdentum.

Dybala menyaksikan penyambutan itu dengan mata berkaca-kaca. Entah apa yang ada di dalam benak Dybala, fan AS Roma terus bernyanyi. Mereka benar-benar menyambut kedatangan La Joya (Sang Permata) dengan sukacita.

Sambutan hangat fan AS Roma terlihat juga dari penjualan apparel. Berdasarkan sejumlah laporan, jersi AS Roma bertuliskan Dybala laris manis. Stok di toko klub pun dikabarkan sempat kosong.

Guyonan legenda AS Roma, Daniele De Rossi, tampaknya bisa mengonfirmasi laporan tersebut. Melalui akun media sosial pribadinya, De Rossi yang sedang berulang tahun meminta hadiah jersi Dybala kepada AS Roma.

Jumlah penjualan jersi Dybala dilaporkan melebihi penjualan jersi Cristiano Ronaldo saat bergabung dengan Juventus pada hari pertama. Namun, mengutip Football Italia, tidak ada angka pasti berapa jersi Dybala terjual.

Di luar lapangan, Dybala effect sudah terekam jelas. Pertanyaannya, bisa enggak Dybala menghebatkan AS Roma versi Jose Mourinho untuk musim 2022/23? Setidaknya mengantarkan AS Roma menuju Liga Champions 2023/24. Toh, ia didatangkan bukan cuma untuk jual jersi 'kan. 

Langkah AS Roma untuk mendatangkan Dybala jelas menguntungkan. Selain tanpa biaya transfer, ia terbilang komplet sebagai penyerang. Tekniknya oke, shooting-nya mantap. dribelnya mumpuni, dan punya pemahaman taktis yang bagus.

Belum lagi, Dybala mengantongi catatan dan prestasi yang luks. Selama tujuh tahun memperkuat Juventus, misalnya, pria 28 tahun itu merangkum 115 gol, 48 assist, 5 scudetto, 4 trofi Coppa Italia, dan 3 gelar Supercoppa Italia.

Itu cukup merepresentasikan bahwa Dybala adalah pilihan ideal untuk proyek jangka pendek maupun jangka panjang AS Roma. Setidaknya sebagai penambah daya lini depan AS Roma yang sempat kembang kempis musim lalu.

Di Juventus, Dybala adalah trequartista. Perannya begitu mencolok. Umpan-umpannya akurat. Jago mengkreasikan peluang. Tajam dalam mengakhiri serangan. Caranya menggiring bola pun begitu mengasyikkan. Ia rajin bergerak ke ruang-ruang kosong di semua koridor, entah itu flank, half-space, maupun jalur tengah.

Musim lalu saja, Dybala menjadi ujung tombak Juventus. Selain keluar sebagai topskor Juventus di Serie A dengan catatan 10 gol, ia juga merangkum 3,4 tembakan per 90 menit --tertinggi di Juventus. Sebaran tempat shooting-nya tembaknya cukup luas. Tengok saja grafis yang dilansir Understat berikut ini.

Foto: understat.com

Ketajaman Dybala akan berguna untuk AS Roma-nya Mourinho. Musim lalu, lini depan AS Roma naik-turun. Salah satu faktornya, mereka tidak punya pelapis Tammy Abraham. Belum lagi, eks pemain Chelsea itu sempat inkonsisten soal bobol-membobol gawang lawan.

Oke, Abraham merangkum 17 gol musim lalu di Serie A. Catatan itu tertinggi ketiga di liga. Namun, jika melihat expected goals (xG)-nya musim lalu, ia bisa dibilang underperforming. Mengacu FBref, xG Abraham menyentuh angka 20,5. Artinya, dari kualitas peluang yang ia miliki, Abraham bisa membuat 20 gol.

Nicolo Zaniolo yang biasa menjadi tandem Abraham di lini depan tidak berkontribusi besar terhadap produktivitas gol AS Roma. Ia cuma mengoleksi dua gol di Serie. Padahal, rata-rata tembakannya per 90 menit mencapai 3,2 kali. Itu lebih banyak dari Abraham yang merangkum 2,71 tembakan per laga.

AS Roma sebenarnya memiliki Lorenzo Pellegrini dari secondline dan cukup produktif. Musim lalu, ia merangkum sembilan gol dari xG 9,1. Problemnya, ia sering menepi karena cedera. Merujuk catatan Transfermarkt, Pellegrini menghabiskan 77 hari dan 14 laga di ruang perawatan. 

Kemudian, agresivitas Dybala dalam fase menyerang terlihat juga dari rata-rata 4,20 shot creating actions (SCA) per laga. Sederhananya, SCA adalah atribut ofensif, mulai dari umpan, dribel, memenangi pelanggaran, yang dapat menciptakan tembakan. Ini akan buat peluang AS Roma semakin melimpah. 

Dybala juga bukan penyerang yang malas bergerak. Tak jarang, ia berlari sampai area tengah lapangan untuk menghubungkan lini belakang dan depan. Ketika menguasai bola, ia rajin mengirim umpan-umpan panjang. Kemampuan ini cocok dengan gaya bermain Mourinho yang lebih direct.

Itu terlihat dari catatan The Analyst. Musim lalu, rata-rata umpan per rangkaian serangan AS Roma hanya 3,43 dengan direct speed 1,65 meter per detik. Dibanding tim elite Serie A lain, angka itu menjadi yang paling cepat dengan umpan paling sedikit.

Meski begitu, perekrutan Dybala bukan tanpa risiko. Ia mirip dengan Pellegrini yang sering keluar-masuk ruang perawatan. Berdasarkan catatan Transfermarkt, ia enam kali cedera dan melewatkan 15 laga sepanjang musim 2021/22.

Jadi, apakah Dybala adalah permata yang AS Roma butuhkan? Bisa iya, bisa juga tidak. Hanya waktu yang bisa menjawab. Setidaknya, di atas kertas, merekrut Dybala adalah strategi bagus buat AS Roma. Apalagi, orang yang ngebet mendatangkannya adalah Mourinho.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.