Bukan Hanya soal 3–4–2–1 atau 3–5–2

Foto: Twitter @ChelseaFC.

Performa angin-anginan Chelsea dan Romelu Lukaku belakangan ini bukan hanya soal skema bermain. Ada hal lebih mendasar yang juga diakui oleh Thomas Tuchel. Apa itu?

Thomas Tuchel tak ubahnya pesulap terbaik sepanjang masa. Chelsea yang mengalami periode menyebalkan bersama Frank Lampard berhasil ia sulap menjadi tim yang amat sukar dikalahkan. Tak ada perubahan di dalam skuad dan ini makin menunjukkan betapa luar biasanya magi seorang Tuchel.

Saat pertama kali datang, yang Tuchel ubah mula-mula adalah skema bermain. Tak ada lagi 4–2–3–1 dan 4–3–3 milik Lampard. Hampir pada tiap pertandingan, ia menerapkan skema tiga bek. Variasinya bermacam-macam tetapi sebagian besar berupa 3–4–2–1.

Ujung dari semua perubahan itu, Chelsea yang sempat terdampar di papan tengah berhasil finis di posisi keempat Premier League 2020–21. Pada musim yang sama, mereka bahkan mampu menggamit trofi Liga Champions yang terakhir kali diraih sembilan tahun lalu.

Tuchel tetap menggunakan pendekatan serupa musim ini. Malah, tak berlebihan menganggap mereka bisa meraih capaian yang lebih baik. Salah satunya karena Chelsea memiliki penyerang anyar yang bisa berperan sebagai target man mau pun poacher, satu-satunya kekurangan musim lalu.

Namanya adalah Romelu Lukaku. Pada empat pertandingan pertamanya di semua kompetisi, semua tampak baik-baik saja karena Lukaku berhasil mencetak empat gol. Namun, pada empat laga berikutnya, tak satu pun gol yang mampu penyerang asal Belgia itu ciptakan.

Catatan buruk tersebut beriringan dengan menurunnya performa Chelsea. Dalam tiga pertandingan terakhir, mereka cuma menang sekali sedangkan dua sisanya berujung kekalahan, tepatnya saat menghadapi Juventus dan Manchester City.

***

Antonio Conte punya segudang alasan untuk menyebut bahwa dirinya berhasil mengeluarkan yang terbaik dari Lukaku. Di bawah kendali formasi pelatih asal Italia itu, Lukaku mampu bikin 47 gol untuk Inter dalam dua musim petualangannya di Serie A.

Maka ketika melihat buruknya performa eks anak asuhnya tersebut, ia sampai mempertanyakan bagaimana cara Chelsea memainkannya. Conte mengkritik kondisi itu karena kebetulan ia tengah diminta menganalisis laga Chelsea melawan Juventus di Sky Sports.

“Seorang pelatih bisa disebut sebagai pelatih bagus jika dia bisa meningkatkan performa pemainnya. Saya pikir kami telah melakukan pekerjaan hebat dengan Romelu selama dua tahun,” tutur pelatih yang juga pernah mengarsiteki Chelsea itu.

Sejak pindah ke Chelsea, Lukaku hampir selalu bermain dalam skema 3–4–2–1 milik Tuchel. Ia berperan sebagai target man, diapit dua gelandang yang seringnya Kai Havertz dan Mason Mount. Skema ini pula yang menjadi sistemnya saat Chelsea bertandang ke markas Juventus.

Pada laga itu Lukaku memang amat terisolasi. Ia punya empat peluang tetapi tiga di antaranya adalah peluang mentah. Tuchel punya alasan. Menurut dia, Lukaku kesulitan karena pemain bertahan Juventus selalu mengerubunginya di kotak penalti sepanjang waktu.

Namun, justru kondisi itulah yang tampak ingin Conte soroti. Baginya, Lukaku tak hanya berbahaya jika beroperasi di dalam kotak penalti. Oleh karena itu, salah besar jika Chelsea hanya mengandalkannya sebagai target man untuk menunggu ‘bola enak’ datang di depan mata.

“Dia striker yang spesifik. Jika menempatkan Lukaku ke dalam kotak penalti, dia bakal sangat berbahaya. Namun, ketika ia bermain lebih ke belakang, dia juga bisa sangat cepat. Sangat sulit menemukan pemain yang sama baiknya ketika menjadi target man sekaligus berlari dari tengah,” ucap Conte.

Memanfaatkan kecepatan Lukaku: Inilah yang belum mampu Tuchel manfaatkan sepenuhnya. Padahal, dua dari empat gol Lukaku musim ini menunjukkan dengan jelas betapa ia bisa sangat mematikan saat mengawali semuanya dengan berlari.

Satu gol ke gawang Arsenal dan gol pertama ke gawang Aston Villa jadi bukti. Meski begitu, kita tak terlalu sering melihat Lukaku bermanuver dengan cara serupa. Ia lebih banyak di kotak penalti karena kebetulan Chelsea cukup sering melepaskan crossing, terutama via Marcos Alonso (41 kali).

Ada dua cara jika ingin mengubah kondisi itu. Pertama, tetap dengan skema 3–4–2–1, mesti ada pemain yang sigap mengisi kekosongan di kotak saat Lukaku bergerak dari area lain. Adapun, yang kedua adalah memainkan Lukaku sebagai salah satu dari dua penyerang dalam skema 3–5–2.

Skema tersebut sama sekali bukan hal baru bagi Lukaku. Saat tampil tajam bersama Inter Milan, skema itulah yang jadi sistemnya. Dengan Lautaro Martinez sebagai teman duetnya, Lukaku bisa bergantian untuk mengisi kotak penalti atau pun bergerak dengan mengandalkan kecepatannya.

Di sisi lain, skema itu juga bisa mewadahi Timo Werner. Kisahnya di RB Leipzig menunjukkan betapa Werner bisa maksimal jika memiliki tandem yang pas dalam skema dua penyerang. Werner bahkan sempat amat antusias menyambut kedatangan Lukaku di Chelsea.

“Mungkin dia adalah salah satu dari tiga striker terbaik yang ada di dunia saat ini. Saya akan sangat terbantu jika memiliki striker besar di samping saya,” kata Werner kala itu. Harapannya tak terwujud karena sejauh ini Werner lebih sering menjadi serep ketimbang tandem Lukaku.

Terlepas dari kendala formasi, Chelsea perlu memiliki transisi dari bertahan ke menyerang yang bagus sekaligus cepat jika ingin semuanya berjalan lancar. Karena, pada dasarnya, baik Werner maupun Lukaku adalah pemain yang berbahaya jika ada ruang di depannya.

Chelsea bisa mengandalkan switch play seperti yang Conte lakukan di Inter Milan. Bisa pula lewat permainan vertikal dan cepat sebagaimana yang Werner jalani di Leipzig. Atau lewat cara-cara lain yang bisa mendukung kecepatan dua pemain tersebut.

Jika transisi tak berjalan mulus, laga kontra Juventus bakal kembali terulang, tak peduli apa skemanya. Mau bukti? Lihat kembali laga kontra Manchester City. Pada laga itu, untuk pertama kalinya Lukaku dan Werner berduet dalam skema 3–5–2. Mereka terisolasi, sedangkan Chelsea menderita kekalahan.

“Setiap striker di dunia akan terisolasi jika kami bermain sangat buruk dalam transisi, seperti yang kami lakukan saat melawan Man City,” aku Tuchel.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.