Bundesliga Usai

Ini adalah catatan setelah menjadi penulis yang mendapatkan akses ke laga-laga St. Pauli dan Bundesliga selama satu musim penuh.

Musim telah usai buat Bundesliga. Akhir pekan kemarin, saya menutupnya dengan perayaan di Millerntor.

St. Pauli bertahan. Tak ada degradasi musim ini, meski secara nilai ekonomi atau nilai skuad St. Pauli tak lebih baik dari Hoffenheim atau Heidenheim yang finis di bawah mereka.

Namun, sepak bola cukup bersahabat dengan mereka yang pintar dan St. Pauli memiliki itu musim ini. Perekrutan pemain mereka tak mewah, tapi tepat guna. Sementara penunjukan pelatih di awal musim terbilang cerdik.

Alexander Blessin mampu membuat St. Pauli tetap kompetitif meski ditinggal Fabian Hürzeler ke Inggris. Dan mereka berhasil kompetitif dengan pendekatan sepak bola yang berbeda ketimbang musim lalu.

Blessin mampu membuat St. Pauli menjadi tim yang bertahan dengan kukuh, dan itu jadi salah satu alasan mengapa mereka mampu finis di posisi 14. Ini adalah tim terbaik kedua soal jumlah kebobolan di Bundesliga setelah Bayern München.

Foto: Riiana Izzietova

Musim depan akan lebih sulit, pasti. Rival sekota Hamburger SV kembali dan akan menawarkan persaingan sengit. Tim lain pun pasti berbenah. Dana belanja tak akan mewah, dan St. Pauli harus bisa mengulangi kepintaran yang sama bila ingin bertahan di liga.

Jackson Irvine akan kembali dari cedera dan siap memimpin tim lagi. Satu hal yang mudah dimengerti, tim ini sudah dua musim mampu melampaui ekspektasi dan yang ketiga harusnya juga bisa terjadi.

Di bagian atas liga, Bayern kembali jadi juara dan Harry Kane akhirnya angkat piala. Trofi liga pertama dalam karier salah satu striker terlengkap yang pernah hadir di dunia. Memang tak ada kata terlambat di sepak bola, dan usia 31 hanyalah angka.

Pun seperti Jamal Musiala yang kembali menunjukkan kegemilangan di usia muda. Ia adalah masa depan Bayern München, Jerman, Bundesliga, dan lebih dari layak untuk mendapatkan lebih banyak puja.

Foto: Riiana Izzietova

Leverkusen mungkin akan kehilangan sebuah era. Xabi Alonso memastikan pergi usai hanya bisa finis di posisi dua. Mungkin memang sudah waktunya, dan gelar domestik ganda akan dikenang sebagai salah satu pencapaian terbaik klub selamanya.

Jeremie Frimpong menyusul pergi ke klub impian masa kecilnya. Pun kabar beredar bahwa Florian Wirtz akan pindah ke klub yang sama. Dua pemain ini punya potensi luar biasa, dan klub terbaik Inggris memang membutuhkan mereka.

Saya melihat keduanya bermain dengan dua mata, dan kualitas memang tak perlu dinyana. Frimpong mungkin bukan TAA, dan bermain sebagai full-back kanan klasik mungkin bukan gayanya. Namun, saya percaya visi Michael Edwards dan kolega, entah untuk membuat Frimpong jadi pelapis Salah atau senjata baru Arne slot yang tak terduga.

Wirtz tak cuma punya otak di kepala, tapi juga memiliki kaki dengan visi tiada dua. Ia bisa menentukan serangan mau diarahkan ke mana, diakhiri seperti apa, dan diselesaikan oleh siapa. Ia tak mudah dijaga, bola akan aman di kakinya, dan lawan sulit menebak langkah ia selanjutnya. Bila Slot butuh seorang playmaker di timnya, Wirtz adalah orangnya.

Foto: Riiana Izzietova

Di tempat lain Dortmund menjadi semenjana, sebelum akhirnya mampu bangkit dan mendapatkan tiket ke kompetisi nomor satu Eropa. Niko Kovac mungkin adalah orangnya, tapi Dortmund jelas butuh orang-orang yang lebih berkarisma. Karena dengan budget yang ada, mereka seharusnya bisa berada di posisi dua atau tiga.

Klub macam Freiburg dan Mainz juga menunjukkan kepintarannya. Perekrutan pelatih yang tepat membawa mereka terbang ke Eropa. Jika tertarik untuk melihat tim dengan strategi dan taktik yang tak biasa, dua tim ini bisa menjadi acuannya. Mereka memperlihatkan bagaimana pressing bekerja dengan dua objektif yang berbeda.

Werder Bremen hampir lolos ke Eropa. Sudah dua kali pengujung musim memupuskan asa mereka. Sementara RB Leipzig tak akan main di kompetisi level benua, dan mungkin akan kehilangan banyak talenta. Stuttgart mungkin masih punya asa, jika menang di final DFB Pokal menghadapi Arminia.

Bundesliga juga kembali menjadi ladang berseminya banyak talenta muda. Jammie Gittens, Nathaniel Brown, Hugo Ekitike, Tom Bischof, Konstantinos Koulierakis, hingga Nick Woltemade adalah beberapa nama di antaranya. Bukan tak mungkin di musim panas beberapa nama akan pindah ke klub yang lebih kaya.

Foto: Riiana Izzietova

Menyaksikan Bundesliga satu musim kemarin begitu membuka mata, bahwa liga ini tak cuma bisa jadi ladang untuk melihat pemain-pemain muda. Namun, Bundesliga juga bisa menjadi liga untuk mempelajari banyak taktik istimewa, karena pelatih-pelatih yang ada mampu melakukan eksperimen-eksperimen yang tak biasa.

Saya percaya di musim-musim ke depannya, akan lebih banyak lagi pelatih Bundesliga yang menangani klub-klub top Eropa. Oliver Glasner sudah membuktikan bahwa ia bisa mempersembahkan piala di tanah yang berbeda. Hansi Flick datang dan langsung membawa Barcelona juara. Fabian Hürzeler masih punya peluang kecil untuk membawa Brighton ke Eropa.

Ini adalah kompetisi yang istimewa, dan saya bersyukur bisa menjadi bagian di dalamnya. Mungkin musim depan masih akan punya kesempatan yang sama, dan rasanya Bundesliga makin layak bila mendapat penonton yang lebih masif lagi angkanya.