Carlos Soler: Dari Game Boy ke Jantung Serangan Valencia

Foto: Twitter @Carlos10Soler.

Bagi Valencia, Carlos Soler bukan sekadar akamsi. Dialah yang mengemban peran krusial dalam skema serangan Valencia.

Carlos Soler memulai sepak bolanya dengan satu misi: Mendapatkan Game Boy.

Gim konsol itu adalah hadiah yang dijanjikan kakeknya, ayah dari ibunya, jika ia bersedia bertanding dan berlatih sepak bola. Bagi Soler itu adalah imbalan yang pantas untuk jam-jam bermain pulang sekolah yang hilang.

Sepak bola adalah surga bagi sebagian orang. Ia menyediakan kegembiraan yang teramat sangat, kesempatan untuk hidup sebagai bintang walau hanya beberapa detik. Sebagian dari kita memiliki ingatan seperti ini. Jam pulang sekolah menjadi waktu yang paling dinanti. Tidak ada guru yang meneriaki karena kita melupakan rumus entah apa saat belajar fisika. Tidak ada ibu yang mencak-mencak melihat nilai yang buruk, tidak ada pula kakak kelas yang berlagak paling jago.

Di atas lapangan yang tanahnya tak rata itu kita berlari, menendang bola, dan merayakan gol sambil meniru pesepak bola yang jadi idola kita. Jika hujan turun, kita makin riang karena itulah kesempatan emas untuk tampil keren. Bukannya mengaduh-aduh, kita tergelak senang ketika terpelesat saat menendang di tanah yang licin. 

Sepak bola ala bocah adalah kegembiraan yang kita rawat sampai kini. Karena entah bagaimana caranya, segelintir fragmen itu mengingatkan kita bahwa kegembiraan yang diunduh dengan cara sederhana adalah kegembiraan yang awet.

Soler mencintai sepak bola. Namun, saat kau memutuskan untuk berlatih serius, pada saat itu pula kau harus merelakan kegembiraan murni yang ada padanya. Asyiknya mencetak gol menjadi kewajiban, kekalahan yang membuatmu terkekeh geli adalah pantangan, lalu kemenangan berubah menjadi candu. Yang namanya candu, akan menjadi siksaan jika tak berhasil kau dapatkan. Dengan segala daya kau melarikan diri dari kekalahan, dengan sekuat tenaga kau merayu agar kemenangan menjadi kawan baikmu.

Kemenangan menjauh selama dua musim dari kehidupan Soler muda. Bukan karena timnya kepayahan, tetapi karena ia tidak mendapat kesempatan untuk turun arena bersama kawan-kawannya. Momen itu terjadi saat ia membela tim muda Valencia.  

Ia menjadi bagian dari skuad muda Valencia sejak usia 8 tahun. Namun, momen-momen sulit itu dirasakannya saat usianya mulai beranjak remaja. Nihilnya kesempatan turun arena merampas kepercayaan diri Soler. Pada saat itu ia berpikir bahwa sepak bola bukan tempat yang tepat untuknya. Jangan-jangan ia hanya ngotot, jangan-jangan ia tidak cukup baik untuk menjadi pemain elite. 

Situasi itu berkebalikan dari apa yang dialaminya saat bocah, ketika hampir selalu menjadi bintang lapangan. Satu setengah sampai dua musim dilakoninya dengan menit bermain yang begitu minim. Keraguan akan sepak bola bertambah hebat. Namun, nyatanya Soler tak juga meninggalkan lapangan bola.

Walau menyebalkan, menunggu terkadang akan mengantarmu pada tempat yang kau tuju. Begitu pula dengan Soler. Pada Mei 2015, akhirnya ia melakoni debut bersama tim senior walau masih di tim reserve yang berlaga di Segunda Division.

17 Maret 2016, ketika berusia 19 tahun, Soler akhirnya dipanggil oleh skuad utama Valencia untuk laga babak 16 besar Liga Europa melawan Athletic Club. Meski tidak turun arena, hari itu Soler menyaksikan sendiri seperti apa Mestalla bersorak saat merayakan kemenangan. 

Pada musim dingin di tahun yang sama dengan pemanggilan perdananya itu, Soler akhirnya melakoni laga debut bersama Valencia dengan turun arena di La Liga, tepatnya saat bertandang ke markas Real Sociedad. Usianya memang masih muda, tetapi kemampuannya sebagai pemain memesona pelatih dan penggemar.


Sejak saat itu dunia terasa berputar begitu cepat bagi Soler. Penantiannya berbuah manis karena pada akhirnya ia mendapat menit bermain yang memadai sejak musim 2016/17. Masalahnya, Soler tidak bermain untuk tim seperti Barcelona atau Real Madrid. Valencia kala itu merupakan tim yang angot-angotan. Kadang mengesankan, kadang semenjana. Tidak heran jika mereka jadi langganan finis di papan tengah. 

Pada 2016/17, Valencia finis di posisi 12. Untunglah segala sesuatu membaik semusim setelahnya. Pada 2017/18, Soler bahkan mampu membantu mengantar Valencia finis di posisi empat sehingga dapat berkompetisi di Liga Champions.

Soler adalah gelandang serbabisa. Dia sanggup bermain di sayap kanan, sayap kiri, maupun sentra permainan. Tak hanya membantu serangan, Soler juga mumpuni untuk aktif mengemban tugas bertahan, terutama dalam tekel.

Keserbabisaan Soler tidak didapatkan dalam dua atau tiga pertandingan. Kemampuan itu adalah hasil didikan sejak muda. Awalnya saat remaja, Soler kerap diplot untuk berlaga sebagai striker. Namun, pelatih-pelatihnya mencoba untuk memindahkannya ke sektor gelandang. Pasalnya, sang pelatih menyadari bahwa Soler memiliki pemahaman taktik dan ruang yang mendalam. Ia mampu memegang kendali dan menjadi otak permainan. 

Karenanya, menempatkan Soler sebagai penyerang dianggapnya cenderung menyia-nyiakan talenta terbesar si anak didik. Dari situ, Soler dicoba untuk dimainkan ke berbagai posisi hingga akhirnya ia dinilai paling pas berlaga sebagai gelandang serang.


Dalam dua musim terakhir bersama Valencia, Soler dimainkan di posisi berbeda. Pada 2020/21 ia ditempatkan di pos sayap kiri. Tugas utamanya sebagai pemain sayap adalah membawa dan mengalirkan bola kepada para pemain depan. Pada dasarnya Valencia berlaga dengan formasi 4-4-2. Tugas ini dilakukannya dengan melepas umpan, menjaga bola di bawah tekanan lawan, dan menggiring bola untuk menembus lapisan pertahanan lawan. 

Jika memperhatikan permainan Soler, kita akan sering melihatnya melakukan solo run untuk mengirimkan bola ke kotak penalti. Menguti statistik FBRef, membuat 126 umpan progresif di La Liga 2020/21. Jumlah itu menjadi yang tertinggi kedua di antara seluruh pemain Valencia. Tak sekadar menciptakan umpan progresif, Soler pun mampu menyelesaikan 158 umpan hingga sepertiga area akhir penyerangan timnya. Torehan ini merupakan yang tertinggi di antara seluruh penggawa Valencia.

Lantas pada 2021/22 di bawah kepelatihan Jose Bordalas, posisi Soler diubah ke sayap kanan. Perubahan ini belum menyulitkan Soler karena ia terbentuk menjadi pemain versatile. Bordalas memanfaatkan kualitas crossing Soler untuk menuntaskan misinya merebut kemenangan. 

Pada musim ini, dalam 4 laga, ia mencatatkan 3 crossing yang mencapai kotak 18 yard. Salah satu yang paling mencolok terlihat dalam laga melawan Osasuna. Umpan silang rendahnyalah yang berhasil dikonversi menjadi gol pertama Valencia oleh Maximiliano Gomez.

Kreativitas membuat Soler dapat memberi sejumlah solusi bagi Valencia. Ketika Valencia berjibaku melawan tim yang menginstruksikan pemain tengah mereka cukup jauh dari gawang (lebih dari 35 meter), ia akan menggiring bola untuk menarik full-back membuka ruang di belakangnya. Selain itu, ia cukup luwes untuk memosisikan di area tengah di antara dua gelandang lawan sehingga dapat menjadi solusi umpan bagi rekan-rekannya. Ketika harus menjemput dan mengontrol bola dari posisi yang lebih dalam, Soler pun tidak keberatan.

Soler menjadi lawan yang begitu berbahaya ketika menginjak area sayap serangan. Ia begitu cerdik memanfaatkan kecenderungan lawan ketika bek tengah dan gelandang menempati jalur tengah demi menutup aliran bola ke gawang. Ketika jalur tengah ditutup, sisi sayap jadi terbuka untuk Soler.

Kesadaran taktis yang mumpuni pada akhirnya membuat Soler menjadi pemain penting di Valencia. Terlebih, Bordalas mengubah wajah Valencia menjadi tim yang begitu garang. Musim lalu saat dilatih Javi Gracia dan Voro, Valencia cenderung bermain aman, bahkan cukup lembek. Watak tersebut pada akhirnya membuat Valencia begitu mudah ditundukkan dalam duel. Tidak mengherankan jika mereka hanya finis di posisi 13 La Liga.

Julukan bad boy yang melekat pada Bordales ditransmisikan ke dalam gaya permainan Valencia yang sekarang jadi lebih garang. Mengutip statistik WhoScored, Valencia membuat 68 fouls pada 4 pertandingan La Liga musim ini. Permainan garang demikian membutuhkan pemahaman taktik yang detail untuk memastikan Valencia tak sekadar menjadi tim yang ugal-ugalan.

Selain dari 3 gol dan 2 assist di 4 laga La Liga, agresivitas Soler sebagai jantung serangan tim juga terlihat dari 11 shot creating actions (SCA) yang dibuatnya, yang mana menjadi yang terbanyak di Valencia saat ini. Jika diterjemahkan secara sederhana, SCA adalah atribut ofensif, mulai dari umpan, dribel, memenangi pelanggaran, yang dapat menciptakan tembakan. Torehan tersebut mendefinisikan bahwa Soler berperan krusial dalam membuat permainan Valencia jadi menggigit.

****

Cerita Kota Valencia berasal dari abad ke-13, ketika Raja James dari Aragon membebaskan Valencia dari tangan orang Moors. Ketika Raja James memasuki Kota Valencia, seekor kelelawar terbang di depannya. Hal tersebut dianggap sebagai tanda anugerah bahwa kemenangan akan menjadi milik orang-orang Valencia. 

Atas dasar pengalaman historis itu pula, Valencia menggunakan kelelawar sebagai logo klub. Bagi para suporter, siapa pun yang ada di tim merupakan kelelawar-kelelawar yang membawa kemenangan. Dan di antara sekian kelelawar, ada satu yang kerap bersarang di sana untuk turun ke lapangan, bertanding, dan mengusahakan kemenangan; Carlos Soler.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.