Cerita tentang Fujita

Foto: Riiana Izzietova

Fujita menjadi talenta baru dari Jepang yang berhasil mencuri perhatian di Bundesliga.

Talenta-talenta Jepang tak pernah berhenti membuat saya takjub.

Sebabnya bukan saja mereka mampu menembus kompetisi-kompetisi terbaik Eropa, tapi juga soal kemampuan teknis dan visi mereka.

Mereka cepat—dengan atau tanpa bola, kaki mereka mampu sejalan dengan otak saat mengambil keputusan, dan keputusan-keputusan yang diambil pun begitu cermat, presisi.

Kemampuan teknis dan visi itu lantas menihilkan, mungkin, soal postur yang tak terlalu menonjol bila dibanding pemain-pemain Eropa atau Afrika.

Singkatnya, pemain-pemain Jepang memang menunjukkan bahwa kualitas yang mereka miliki memang menjadi hal yang membawa mereka mampu bermain di level tertinggi.

Dan talenta-talenta ini terus bermunculan. Ada saja sosok baru yang menyeruak, menyita perhatian publik sepak bola, menunjukkan potensi dan kualitas besar.

Buat saya, talenta baru ini bernama Joel Chima Fujita.

Well, saya sudah mendengar nama Fujita sebelumnya, tapi konteks hanya sebatas Timnas Jepang. Sebelum ia diresmikan sebagai pemain St. Pauli, saya belum pernah melihatnya bermain di level klub.

Ketika saya memutar pertandingan-pertandingannya bersama St. Truiden, mudah memahami mengapa hanya butuh dua tahun baginya untuk lompat dari J-League ke Bundesliga.

Saya juga menjadi paham mengapa St. Pauli mau memecahkan rekor transfer klub (dengan catatan semua aspek add-ons terpenuhi) untuk pemain yang lahir di, dan memiliki darah, Kamerun ini.

Ia adalah gelandang nomor enam yang cekatan, pintar membaca permainan, dan berani—dalam melepas umpan berisiko, dalam melakukan duel dengan lawan, dalam menerobos pertahanan lawan dengan bola di kaki.

Lantas pada akhir pekan lalu, ketika panggung atau lampu sorot mungkin lebih mengarah pada Jobe Bellingham, Fujita mencuri perhatian.

Foto: Riiana Izzietova

Petang itu, Dortmund dan St. Pauli sama-sama memulai debut mereka di Bundesliga musim ini. Dan laga itu juga jadi laga perdana Bellingham di Bundesliga bersama Dortmund.

Namun, justru Fujita yang berkali-kali memerlihatkan betapa cerdiknya ia menempatkan diri, betapa ia berani melakukan apa saja, bergerak ke mana saja untuk membuat St. Pauli sampai di sepertiga akhir lapangan atau memutus serangan Dortmund.

Pemain berusia 23 tahun ini mencatatkan 10 recoveries, melepaskan tujuh umpan ke sepertiga akhir lapangan. Ia senantiasa bergerak dan, yang bikin saya bertambah kagum, adalah bagaimana ia tak terlihat demam panggung.

Laga ini memang bukan pertama kali ia main di Millerntor, tapi jelas itu debut liganya bersama St. Pauli. Namun, Fujita terlihat percaya diri. Bahkan beberapa kali ia memberi instruksi kepada rekan-rekannya ketika tau ada opsi yang lebih baik.

Sementara itu, Bellingham hanya bermain 45 menit sepanjang laga. Ia ditarik ke luar pada babak pertama sebab urusan taktik. Penampilannya tak meninggalkan kesan positif apa-apa.

Justru debutnya diwarnai berita luar lapangan, karena ayahnya beradu argumen dengan Sebastian Kehl setelah tak bisa masuk ke ruang ganti untuk menemui sang anak.

Bila hanya berdasar satu pertandingan ini saja, saya terheran-heran mengapa harga Bellingham bisa 10 kali lebih mahal ketimbang Fujita.

Well, secara keseluruhan Fujita memang masih butuh banyak perbaikan. Ia masih sering kalah duel, kadang terlalu berani dalam melepaskan umpan sehingga menghasilkan turnover, juga pengambilan keputusannya masih bisa dimatangkan.

Namun, itu semua bukanlah red flags. Bila ia terus memosisikan diri di jalur yang benar dalam perkembangannya, jelas aspek-aspek tersebut bisa dieliminasi.

Dan usai pertandingan akhir pekan, ia mendapat cukup banyak kredit. Terlebih karena ia menghadirkan warna baru di Bundesliga: Sosok nomor enam yang energik, berteknik tinggi, dan cepat.

***

Saya menyaksikan langsung Ao Tanaka berlaga di Jerman, sebelum ia pindah ke Inggris dan kini bermain di Premier League bersama Leeds.

Tanaka, ketika itu, telah menunjukkan potensinya. Ia sudah menunjukkan visi bermainnya, kemampuan membaca pertandingan dan pemosisian diri yang baik, juga soal pengambilan keputusan di sepertiga akhir.

Memang tinggal menunggu waktu saja ia tampil di klub dan pentas yang lebih besar ketimbang Fortuna Düsseldorf dan 2. Bundesliga.

Wataru Endo memang konsisten tampil bagus di Stuttgart, tapi patut disimpulkan pula bahwa ia tak memiliki performa eksepsional.

Endo jelas pintar sebagai nomor enam. Ia cekatan dan pintar membaca serangan lawan, juga cukup baik dalam melakukan distribusi. Dan itu cukup membawanya untuk main di klub kaliber Liverpool.

Dan saya melihat Fujita punya potensi untuk mengikuti jejak dua seniornya itu. Tentu, secara pribadi, saya berharap ia tak meninggalkan Hamburg—terutama dalam waktu dekat.

Namun, menyaksikannya bermain, saya tak kaget, bila ia meneruskan perkembangannya di jalur positif, pada beberapa tahun ke depan ia meraih level yang lebih tinggi lagi.

Banyak faktor menentukan (cedera, performa tim, friksi luar lapangan, dll), tapi saya kira Fujita telah memiliki bekal yang cukup.