Conte, Chelsea, dan Bulan Madu yang Kelewat Singkat

Antonio Conte menggendong trofi Piala FA. (Twitter/@EmiratesFACup)

Antonio Conte sukses membawa Chelsea juara Premier League di musim perdananya sebagai pelatih. Namun, bulan madu mereka berlangsung terlalu singkat. Mari mengenang apa yang terjadi pada musim 2016/17 dan 2017/18.

Antonio Conte adalah seorang pecandu, tulis Giorgio Chiellini dalam otobiografinya. Conte kecanduan sepak bola. Dia tak pernah berhenti memikirkan sepak bola dan, menurut Chiellini, itu adalah satu-satunya kelemahan Conte.

"Dia tidak pernah bersantai. Padahal, kadang-kadang dia membutuhkan itu," tulis Chiellini yang diasuh oleh Conte di Juventus serta Tim Nasional Italia dari 2011 hingga 2016.

Semua yang bersentuhan dengan Conte akan mengamini pernyataan Chiellini tersebut. Bahkan, orang-orang yang tak pernah bertemu dengan Conte, dan hanya melihat dia di layar kaca, tidak akan heran jika pria Italia itu kecanduan sepak bola.

Conte tak pernah malu-malu meluapkan emosinya. Dia pernah bergelayutan di atap bangku cadangan (sebelum akhirnya terjengkang). Sudah tak terhitung berapa kali dia merayakan gol bersama pendukung tim asuhannya. Conte bahkan pernah diomeli Jose Mourinho lantaran dianggap berlebihan merayakan kemenangan.

Hasrat untuk menang memang merupakan senjata utama Conte sepanjang kariernya, baik sebagai pemain maupun pelatih. Saat bermain, dia bukan sosok paling bertalenta. Namun, dia sukses menggamit banyak sekali trofi bersama Juventus yang sempat dia kapteni. Di Timnas Italia pun dia pernah sukses menjejak final Piala Eropa.

Keinginan besar untuk berjaya itu diterjemahkan Conte lewat kerja keras di lapangan. Selain perkara talenta, Conte sebetulnya juga bukan yang paling cepat atau paling kuat. Namun, dia selalu ada. Sebagai gelandang bertahan, Conte bakal selalu memburu pemain-pemain lawan yang lancang berkeliaran di area kekuasaannya.

Conte punya determinasi dan, yang lebih penting lagi, dia juga punya pemahaman taktis yang mumpuni. Itulah mengapa dia bisa jadi pemburu andal. Dia tak cuma asal berlari tetapi berlari ke arah yang tepat untuk memburu pemain yang tepat. Sebagai pelatih, dua atribut ini masih sangat terlihat dalam diri Conte.

Kehebatan Conte dalam meracik taktik pertama kali terlihat oleh khalayak banyak bersama Juventus karena sebelum itu dia cuma melatih tim-tim gurem (waktu itu Atalanta masih terhitung tim gurem). Pada akhirnya, publik pun memandang Conte sebagai seorang ahli taktik. Tim yang diasuh Conte pasti akan meraih hasil optimal karena para pemainnya betul-betul digojlok secara taktis.

Lucunya, taktik yang kemudian jadi identik dengan sosok Conte bukanlah taktik yang sebetulnya disukai olehnya. Dalam konteks ini, taktik punya kaitan erat dengan formasi karena formasi adalah salah satu instrumen untuk mengeksekusi taktik.

Conte punya semacam obsesi dengan formasi 4-2-4. Dia menulis soal formasi itu dalam tesisnya di Coverciano. 4-2-4 sendiri pernah dicobanya di Juventus tetapi gagal total. Conte pun akhirnya mengubah formasi Juventus menjadi 3-5-2 dan sukses mengantarkan mereka meraih Scudetto pada musim 2011/12. Formasi itulah yang kemudian jadi identik dengan Conte.

Dengan formasi itu pula Conte membawa Italia tampil mengejutkan di Euro 2016. Dibekali pemain-pemain yang disebut "salah satu yang terburuk dalam sejarah Azzurri", Conte berhasil mengantarkan Italia ke perempat final sebelum disingkirkan Jerman lewat adu penalti. Italia di Piala Dunia 2016 itulah yang kemudian menahbiskan Conte sebagai ahli taktik.

Formasi 3-5-2 tadi digunakan Conte untuk mengeluarkan kemampuan terbaik pemain-pemain yang sebetulnya kurang dipandang. Conte juga menularkan determinasinya dalam tim tersebut. Italia tak pernah berhenti berlari, tak pernah berhenti bertarung, dan akhirnya bisa meraih hasil optimal.

Kesuksesan di Euro 2016 itu pulalah yang akhirnya membawa Conte ke Chelsea. Kala itu, perkawinan Chelsea dengan Conte tampak seperti perkawinan ideal. Di satu sisi, Conte punya keinginan besar untuk membuktikan diri sebagai pelatih teras. Di sisi lain, Chelsea butuh sosok yang mampu mengangkat tim dari keterpurukan.

Pada musim 2016/17, Chelsea untuk pertama kalinya tidak tampil di kompetisi antarklub Eropa sejak 1996/97. Itu terjadi karena pada musim sebelumnya Chelsea mengalami turbulensi hebat akibat ulah Mourinho yang lebih suka menyalahkan orang lain atas ketidakmampuannya memenangkan tim.

Chelsea pun mengakhiri musim 2015/16 di bawah asuhan caretaker Guus Hiddink. Jelang musim baru, mereka butuh pelatih yang mampu menyegarkan tim. Pilihan The Blues lalu jatuh pada Conte. Dia dikontrak selama tiga musim.

Conte melihat Chelsea sebagai ladang kesempatan. Dia punya kans untuk memperkenalkan diri kepada publik sepak bola yang berbeda. Dia punya kans untuk membuat namanya dikenal oleh lebih banyak orang. Dia melihat Chelsea sebagai sebuah awal baru. Ada berlembar-lembar kertas kosong yang bisa diisinya dengan torehan-torehan indah.

Maka, apa yang dilakukan Conte pertama kali di Chelsea? Dia menghidupkan kembali obsesinya dengan formasi 4-2-4. Sebelum musim dimulai, dia secara spesifik mengumumkan bahwa formasi itulah yang akan digunakannya. Waktu itu, ucapan Conte terdengar masuk akal karena Chelsea memang punya pemain-pemain sayap berkualitas. Akan tetapi, obsesi tinggal obsesi.

Kekalahan 0-3 pada laga pekan kelima melawan Arsenal mengekspos segala kelemahan dalam formasi 4-2-4 milik Conte. Secara taktis, Conte sebetulnya punya ide yang bagus. Dia tahu kualitas pemain-pemainnya dan 4-2-4 dilihat sebagai cara paling masuk akal untuk mengeluarkan segala potensi yang ada. Namun, pada laga itu Chelsea betul-betul tak mampu membendung Arsenal di area tengah dan akhirnya kalah dengan skor telak.

Pada titik itu, Conte langsung melakukan perubahan. Perubahan yang dilakukan pun tidak seperti di Juventus. Pada musim pertama di Juventus, Conte beberapa kali menggunakan formasi 4-2-4 pada babak pertama lalu mengubahnya jadi 3-5-2 pada babak kedua. Di Chelsea, sesaat setelah kekalahan dari Arsenal tadi, Conte langsung membuat Chelsea bermain dengan pakem tiga bek dengan formasi 3-4-2-1.

Tujuan kedua formasi sebetulnya tak jauh berbeda, yaitu mengeksploitasi sisi tepi. Namun, dalam formasi 3-4-2-1, Chelsea jadi lebih terlindungi di area tengah karena memiliki pemain ekstra. Selain itu, mereka juga bisa mengeksploitasi area lainnya, yaitu halfspace. Eksploitasi halfspace ini pun tidak cuma dilakukan oleh dua gelandang serang, tetapi juga para bek tengah, khususnya Cesar Azpilicueta lewat umpan-umpan panjangnya.

Dengan formasi barunya, Chelsea melaju kencang. Mereka meraih 13 kemenangan beruntun dari Oktober sampai Desember. Pada 4 Januari 2017, Chelsea dikalahkan oleh Tottenham Hotspur. Namun, selama paruh kedua musim 2016/17, Chelsea cuma gagal menang lima kali. Mereka pun berhasil meraih gelar juara Premier League yang, kebetulan, merupakan titel liga terakhir Chelsea sampai sekarang.

Apa yang dilakukan Conte di Chelsea itu memicu sebuah revolusi kecil di sepak bola Inggris. Tiba-tiba saja pakem tiga bek jadi begitu digandrungi. Bahkan, Timnas Inggris yang begitu identik dengan formasi 4-4-2 pun ikut menggunakan pakem tiga bek di bawah asuhan Gareth Southgate. Hanya dalam semusim, Conte menjadi trendsetter.

Bagi Conte, menjadi trendsetter adalah hal baru. Dia tak pernah merasakan itu sebelumnya. Semua capaian Conte sebelum itu dilakukan dengan cara-cara yang dianggap lumrah. Menggunakan pakem tiga bek di Italia adalah hal lumrah, begitu pula dengan mengoptimalkan sosok regista seperti Andrea Pirlo. Di Inggris, situasinya betul-betul lain.

Keberhasilan instan Conte bersama Chelsea itu sendiri tidak diraih hanya berbekal profisiensi taktis dan determinasi. Lebih dari itu, Conte mampu membuat pemain-pemain di arsenalnya mengeluarkan kemampuan terbaik. Conte tak ragu menyulap Azpilicueta menjadi bek tengah dan Victor Moses, seorang winger, menjadi wing-back.

Dua pemain itu begitu bersinar di bawah Conte. Pemain-pemain yang memang sudah sepantasnya bersinar seperti David Luiz, N'Golo Kante, Cesc Fabregas, Eden Hazard, dan Diego Costa pun mampu menjalankan tugas-tugasnya dengan baik. Fabregas, dengan 11 assist, jadi salah satu kreator terbaik Premier League. Costa, dengan 20 gol, jadi salah satu bomber paling mematikan di liga.

Sayangnya, apa yang membuat Conte terdepak dari Juventus juga menjadi hal yang membuatnya terlempar dari Chelsea. Pada 2014, Conte berkata bahwa "mustahil kita bisa makan di restoran 1.000 dolar hanya dengan membawa uang 100 dolar." Pernyataan itu merupakan sindiran terhadap manajemen Juventus yang dianggap terlalu pelit sehingga mencederai upaya Conte menaklukkan Eropa.

Tiga tahun berselang, hal serupa terulang kembali. Pada musim keduanya di Chelsea, Conte begitu menginginkan Romelu Lukaku. Namun, Lukaku justru berlabuh ke Manchester United. Padahal, sebelum itu, Conte sudah terlebih dahulu menyingkirkan Diego Costa. Secara terbuka, Conte mengusir Costa dari Chelsea.

Kegagalan mendapatkan Lukaku itu membuat Conte kesal bukan main. Dia pun mulai mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang menyudutkan para petinggi Chelsea. Ketidakharmonisan Conte dengan manajemen Chelsea itu membuat performa tim ikut-ikutan anjlok. Pada musim ini Conte juga terlibat adu mulut sengit dengan Mourinho dalam beberapa kesempatan. Alhasil, Chelsea akhirnya cuma finis di posisi lima klasemen Premier League 2017/18.

Meski pada musim 2017/18 sukses mempersembahkan Piala FA, Conte tetap dipecat dan digantikan oleh Maurizio Sarri. Akan tetapi, pemecatan itu kemudian berbuntut panjang sampai ke pengadilan. Di akhir cerita, Chelsea dinyatakan bersalah karena telah memecat Conte secara tidak sah dan harus membayar kompensasi 26 juta poundsterling. Pemecatan Conte pun jadi pemecatan termahal dalam sejarah sepak bola.

Minggu (23/1/2022) malam WIB, Conte untuk pertama kalinya akan menyambangi Stamford Bridge setelah pemecatan tersebut. Kini, sebagai pelatih Tottenham Hotspur, dia punya misi tak kalah berat. Yakni, menaikkan level klub London Utara tersebut menjadi penantang serius di segala kompetisi. Tentu, pekerjaan Conte di Tottenham takkan selesai dalam waktu singkat. Namun, kemenangan atas Chelsea bakal memberi Conte dan anak-anak asuhnya rasa percaya diri yang amat mereka butuhkan.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.