Courtois

Foto: Instagram @thibautcourtois

Di laga final Liga Champions 2021/22, Thibaut Courtois membuat sembilan penyelamatan. Bayangkan apa yang terjadi pada Real Madrid jika bukan ia yang bertugas di depan gawang.

Di final Liga Champions, Thibaut Courtois tidak hanya menyelamatkan Real Madrid, tetapi juga melepaskan diri dari melankolia yang mengungkung seorang penjaga gawang.

Courtois tidak perlu mendengar omongan orang-orang tentang siapa dirinya. Ia tahu persis, di Inggris sana ada begitu banyak orang yang menghujamnya dengan caci-maki dan sumpah serapah. Itu semua adalah buah dari upaya ngototnya saat meninggalkan Chelsea demi menjejak ke Madrid. Dalam wawancara yang beredar jelang final di Paris, Courtois menegaskan bahwa ia tahu persis kemampuannya dan yakin akan dirinya sendiri.

Kata-kata itu bukan omong kosong. Courtois akhirnya melangkah ke podium puncak Stade de France pada Minggu (29/5/2022). Madrid keluar sebagai juara Liga Champions 2021/22 usai mengalahkan Liverpool 1-0, Courtois mencium keagungan Trofi Si Kuping Besar.

Eduardo Galeano, orang Uruguay yang menulis Soccer in Sun and Shadow, menggambarkan penjaga gawang sebagai kesepian mencekam yang berumur panjang. Katanya, di tempat penjaga gawang berjalan, di situ rumput tak pernah tumbuh.


Penjaga gawang adalah palang pintu terakhir pertahanan. Seharusnya pintu terakhir menjadi yang terkokoh, semestinya ia tak berdiri sendirian untuk menopang segala sesuatunya. Namun, sepak bola seringkali menjadi antitesis atas segala logika yang ada. Di depan gawang, seorang penjaga berdiri sendirian.

Menurut Galeano, jika seorang kiper beraksi mengamankan gawangnya, itu artinya para bek tak sanggup lagi bertahan. Itu artinya mereka sudah kalah menahan gempuran lawan. Tanggung jawab untuk menyelamatkan tim dari kemasukan gol dan kekalahan diberikan kepada ia yang berdiri sendirian di depan gawang. Dari situ, kesalahan individu dan kegagalan acap menjadi karib si penjaga gawang.

“Tidak pernah meninggalkan tujuan, kantornya adalah tiga batang kayu, dia menanti eksekusinya sendiri dengan cara melakukan tendangan gawang,” begitu tulis Galeano.

Lewat kalimat itu Galeano ingin berkata bahwa penjaga gawang sesungguhnya adalah martir. Yang namanya martir, ia sudah pasti mati. Tak akan selamat, tak akan meninggalkan medan perang bahkan dengan napas yang tinggal satu-satu. Ia sudah pasti tak akan bernyawa. Kalaupun kubunya menang, ia hanya kebagian jatah tersenyum dari atas sana.

Courtois rupanya tak sepakat dengan tulisan itu. Baginya, jika bisa bertahan hidup sampai peluit panjang dibunyikan, buat apa mati lekas-lekas? Ia turun arena sambil menenteng pemikiran itu, lalu membuat rangkaian penyelamatan yang memantik sorak pendukung Madrid.

Penyelamatannya pada menit 15 ketika Mohamed Salah meneruskan bola Trent Alexander-Arnold ke arah gawang sampai jatuh terduduk merupakan yang pertama. Courtois hanya punya waktu sepersekian detik untuk mengambil keputusan dan bereaksi menepis bola agar gawangnya selamat dari kebobolan dini.

Tak sampai semenit kemudian, gawangnya kembali diancam. Kali ini ia menggagalkan sepakan jarak jauh Thiago Alcantara dengan menangkap bola. Salah besar jika menganggap gempuran serangan berhenti sampai di situ. Pada menit 18, kombinasi Sadio Mane dan Salah memantik jerit ngeri para suporter Madrid.

Begitu pula dua menit setelahnya. Ini lebih dahsyat lagi. Setelah mengamankan tembakan keras mengarah gawang Mane yang membuat bola bergulir sedikit menjauhinya, Courtois harus buru-buru menangkap. Sebab, sudah ada Salah yang mengambil ancang-ancang menendang. Terlebih pada momen ini, jarak Salah dan gawang jauh lebih pendek dari sepelemparan batu.

Kecuali ia punya kekuatan super, rasanya mustahil Courtois dapat mengamankan gawangnya dengan begitu tenang. Ekspresinya datar, tak ada kegelisahan yang bergelantungan menutupi wajahnya. Tubuhnya seperti paham ke mana bola akan bergerak. Jika Diego Maradona menjinakkan bola dengan gocekan kedua kakinya, Courtois menenangkan bola yang menggebu-gebu ingin menghantam jaring gawang dengan kedua tangannya.

Pada menit 33 adalah sundulan Salah yang meneror gawang. Namun, serupa lubang hitam di luar angkasa yang menyedot setiap benda dan partikel ke dalamnya, tangan Courtois dengan sigap menghentikan laju bola.

Itu baru pada babak pertama.

Segalanya bertambah gila di babak kedua. Benar bahwa Madrid bisa menyerang sesekali. Bahkan di babak pertama Karim Benzema berhasil mencetak gol ke gawang Liverpool. Sayangnya manuver itu dianulir karena offside.

Namun, sebaik apa pun Madrid menyerang, Liverpool bertanding seperti tanpa hari esok. Serangan demi serangan dilepaskan, termasuk tendangan yang dikirimkan Alexander-Arnold dari sisi kanan pertahanan Madrid.

Courtois lagi-lagi menunjukkan bahwa ia bukan pesakitan layaknya olok-olok yang acap ditujukan padanya. Ia bukan sekadar kiper yang tahu duit, tetapi juga paham cara membuat suporter Madrid menarik napas lega. Pada momen itu, Courtois menepis bola sambil menjatuhkan diri. Kuda-kuda dan lompatannya seperti melawan gravitasi, seolah-olah di momen itu ia sedang menantang hukum alam.

Hanya karena para penulis tersohor acap mengecap penjaga gawang sebagai sosok yang membawa pilu dari satu lapangan ke lapangan lainnya, bukan berarti Courtois bermain dalam duka yang beranak cucu. Alih-alih demikian, ia tampil perkasa. Dengan tangan yang dilindungi sarung tebal, ia tak hanya sedang menepis bola, tetapi juga menghalau seluruh cerita muram tentang penjaga gawang.

Carlo Ancelotti tidak pernah membiarkan Courtois melawan sendirian. Meski di depan gawang tak ada kawan, pada kenyataannya ia memiliki mereka yang berupaya sedapat-dapatnya membangun tembok kokoh. Ini tercermin dari kegigihan Madrid menggunakan formasi 4-4-2 saat menggalang pertahanan. Dalam struktur ini, Ancelotti memastikan Toni Kroos dan Casemiro tak meninggalkan posisinya di depan empat bek yang pada dasarnya bermain dengan begitu rapat dan disiplin.

Dengan penumpukan pemain tersebut, mau tidak mau Liverpool harus menyerang lewat tepi. Masalahnya, jalur ini tidak akan bisa seagresif biasanya karena mustahil Juergen Klopp melupakan fakta bahwa Ancelotti adalah mahaguru dari segala serangan balik.

Toh, dari pertandingan yang sudah-sudah Madrid membuktikan bahwa sebenarnya dominasi lawan bukan masalah yang kepalang besar buat mereka. Dengan kegeniusan taktiknya, Ancelotti selalu menemukan cara agar pasukannya dapat keluar dan menyerang balik dengan efektif. Karena kondisi itu pula, bola dapat lebih mudah direbut. Kalaupun ada rangkaian serangan Liverpool, sebagian besar dilepaskan dari luar kotak enam yard sehingga memudahkan Courtois untuk mengantisipasinya.

Namun, tetap saja Courtois punya tugas besar, apalagi ketika tembakan dilepaskan dari dalam kotak. Sekitar delapan menit setelah gol Vinicius Junior yang mengguncang tribune pendukung Madrid, Salah melakukan manuver yang membawanya sampai hampir di pengujung garis gawang.

Dari situ ia melepas sepakan yang menyasar area gawang yang paling dekat dengannya. Pikirnya, berlari dari ujung kanan karena baru saja bersiaga mengamankan tendangan Jordan Henderson yang ternyata tak akurat akan mempersulit Courtois untuk mencapai sisi kiri gawang dengan tepat waktu.

Ternyata Salah memang salah. Courtois tahu persis ia tak akan sempat menggapai bola dengan tangannya. Maka yang dilakukannya adalah berseluncur ke arah tiang gawang untuk mengamankan bola dengan kakinya. Entah bola itu benar-benar mengenai kaki atau ujung sikunya atau tembakan Salah tak akurat, yang pasti gawang Madrid selamat dari kebobolan. Salah yang sudah berada di belakang gawang mendengus kesal, melepas tinju kecil ke arah bawah. Ekspresi itu dapat diwajarkan karena pada kenyataannya Courtois kelewat perkasa di depan gawang.

Bahkan sebelum tembakan Henderson tadi, Courtois sudah menghentikan bola dengan telapak tangan kanan yang dikirim Salah lewat tembakan jarak jauh. “Penyelamatan fantastis! Courtois melakukannya lagi,” entah berapa kali komentator yang mengawal pertandingan meneriakkan frasa-frasa itu untuk merayakan keajaiban yang dibuat Courtois di depan gawang.

Sepuluh menit jelang waktu normal berakhir Liverpool benar-benar mengerahkan segala yang ada untuk menyerang. Klopp bahkan memasukkan Roberto Firmino untuk menambah daya gedor. Selama Klopp jadi manajer Liverpool, Firmino ditugaskan sebagai defensive forward. Pelatih asal Jerman itu memang membutuhkan pemain depan yang memiliki atribut defensif bagus dalam menjalankan tekanan.

Firmino juga mau turun ke area lebih dalam untuk menjadi jembatan agar progresi bola Liverpool terus berjalan. Dengan keberadaan Firmino, Klopp berharap Liverpool memiliki lebih banyak opsi umpan yang tentu saja berimbas pada variasi serangan di pengujung laga.

“Dia tidak mencetak gol, dia berdiri dalam sunyi justru untuk mencegah orang lain mencetak gol. Gol adalah tujuan pesta sepak bola: Penyerang memercikkan api kesenangan dan kiper tak ubahnya kain basah yang harus memadamkan percikan itu.”

Galeano paham betul bahwa yang dinanti-nanti di setiap pertandingan sepak bola adalah gol. Banyak atau tidaknya gol adalah parameter yang menentukan apakah pertandingan berjalan menarik atau tidak. Gol adalah kunci yang membukakan pintu kemenangan bagi setiap tim. Itulah sebabnya gol selalu dinanti. Begitu datang ia akan disambut dengan perayaan, mereka yang mencetak gol bahkan acap disebut sebagai mesias.

Tugas seorang penjaga gawang berseberangan dengan para penyerang. Ia ditempatkan di lapangan untuk memastikan lawan tak mampu mencetak gol. Kalaupun ia berhasil, perayaan tak sering berlangsung di tempatnya. Bagaimana mau merayakan? Begitu gol gagal dicetak ia sudah harus kembali ke posisinya untuk bersiaga akan serangan selanjutnya.

Lagi-lagi Salah menyerang dengan beringas pada menit 82. Menerima umpan lambung dari tengah lapangan, ia berlari menggiring bola sampai beradu satu lawan satu dengan Ferland Mendy. Dengan sedikit gerakan tipuan, Salah melepas tendangan lambung mengarah gawang. Posisi Courtois awalnya seperti hendak menahan bola mendatar. Menyadari bahwa bola justru melambung, Courtois langsung melompat dan menghalau serangan dengan kedua tangannya.

David Alaba yang turut berlari mengejar Salah sambil mengawal Mane langsung melompat dan memeluk Courtois. Mendy mengikuti gesture kawannya. Benzema lantas menepuk-nepuk punggung Courtois sambil berkata entah apa. Baru kali ini kamera menyorot jelas wajah Courtois. Di sana belum ada kelegaan, melainkan wajah garang seorang pemburu yang siap menangkap mangsa.

Namun, pada menit-menit krusial itu, ketika pertandingan berjalan sengit, ada perayaan di depan gawang Madrid. Kali ini seorang kiper tidak merayakannya sendirian. Bukannya sang penyerang, justru si penjaga gawanglah yang memantik api kesenangan bagi timnya.

Courtois membuat sembilan penyelamatan di sepanjang laga. Itu artinya, jika bukan dia yang bertugas, bukan tak mungkin gawang Madrid kebobolan sembilan kali. Bagi orang-orang Madrid ia lebih dari sekadar pahlawan. Di laga ini ia adalah juru selamat.

Di atas lapangan sepak bola, memang tidak ada yang berlangsung selamanya, termasuk aib dan kehormatan. Tidak ada yang bisa menjamin para suporter akan terus mengingat rangkaian penyelamatannya di final ini. Namun, Courtois hanya perlu berjalan ke depan gawang, lalu melompat ke sana ke mari menggagalkan serangan lawan. Hingga langkah penghabisannya nanti, Courtois hanya perlu membuktikan sedapat-dapatnya bahwa ia adalah seorang penjaga gawang yang baik dan hebat.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.