COVID dan Efek Jangka Panjangnya pada Atlet

Foto: Twitter @DeBruyneKev

Bahkan setelah dinyatakan sembuh, Kevin de Bruyne dan sejumlah atlet masih merasakan efek COVID-19.

Laporan yang menyatakan bahwa hanya 77% pemain klub-klub Premier League yang sudah divaksin COVID-19 secara lengkap dapat menjerumuskan kita pada persepsi keliru: Bahwa tanpa vaksin COVID-19, kita bakal baik-baik saja.

Toh, para pemain tersebut masih dapat mengejar bola dan kemenangan dengan leluasa atau mereka yang pada dasarnya bertubuh sehat akan aman-aman saja. Yang mungkin dilupakan oleh banyak orang, termasuk pemain Premier League yang belum atau menolak divaksin COVID-19, mereka akan baik-baik dan aman-aman saja jika tidak terinfeksi. Jika terinfeksi, ceritanya bisa berbeda.

Kevin de Bruyne merasakan sendiri efek infeksi COVID-19. Katanya, kondisi terparah adalah empat hari pertama. Setelah dinyatakan sembuh pun, ia merasa bahwa tubuhnya masih harus beradaptasi.

"Setelah sembuh COVID, saya kembali berlatih sekeras yang saya mampu. Dengan jadwal yang begini padat, semuanya jadi tidak mudah, tetapi saya rasa saya melakukannya dengan benar. Terkadang saya merasa tubuh saya masih beradaptasi karena saya masih merasakan efek COVID setelah berlari cepat dua atau tiga kali;" papar De Bruyne, dikutip dari The Guardian.

Ketika membicarakan efek post-infection COVID-19 tentu kita harus memahami bahwa tidak semua orang mengalaminya. Ada yang kondisinya tetap baik-baik saja, ada pula yang perlu mendapatkan perawatan medis lanjutan. Itu berarti, semuanya ada dalam konteks risiko. Namun, yang perlu disadari pula bahwa risiko dapat terjadi pada siapa pun. Karena itu tidak ada alasan untuk abai.

Salah satu mimpi buruk panjang bagi orang-orang yang pernah terinfeksi COVID-19, termasuk para atlet, adalah long COVID-19 . Istilah ini mengacu pada gejala jangka panjang yang muncul setelah penderita COVID-19 dinyatakan sembuh. Gejala-gejala tersebut bahkan bisa dirasakan hingga lebih dari 4 minggu setelah pasien dinyatakan negatif COVID-19.

Meski demikian, penyebab terjadinya kondisi tersebut belum diketahui dan terus diteliti. Salah satu teori menyebutkan bahwa gangguan pada keseimbangan jumlah probiotik di dalam tubuh ikut berpengaruh pada munculnya long COVID-19.

Dalam wawancaranya bersama CNN, atlet dayung Inggris, Oonagh Cousins, bahkan menjelaskan bahwa ia membutuhkan waktu lebih setahun untuk benar-benar pulih setelah terinfeksi virus corona pada Februari 2020. Pun demikian dengan atlet triatlon Wales, Chris Silver. Ketika dinyatakan positif COVID-19 pada Maret 2020, ia mengaku hanya mengalami gejala ringan. Sayangnya, Silver dinilai terlalu cepat kembali ke latihan intensif setelah dinyatakan sembuh. Dari situ, ia harus berjuang sekitar 10 bulan melawan long COVID-19.

Mohammed Bamba dan Jayson Tatum adalah dua pebasket NBA yang secara terbuka membahas jalan panjang mereka untuk benar-benar pulih setelah dinyatakan sembuh dari COVID-19. Meskipun masing-masing pulih dan tidak menunjukkan gejala, mereka merasa sulit untuk kembali ke performa terbaik.

Bamba menjelaskan, bahkan setelah 6 bulan sejak dinyatakan sembuh, ia belum pulih sepenuhnya. Dalam masa-masa tersebut, ia mengalami kelelahan dan nyeri otot panjang sehingga hanya mampu turun di 16 laga.

Bintang Boston Celtics, Tatum, dalam salah satu konferensinya pers memaparkan bahwa sejak dinyatakan sembuh COVID-19, ia justru merasa kesulitan saat harus turun arena. Katanya, berlari naik turun lapangan beberapa kali saja sudah membuatnya kesulitan bernapas dan begitu cepat lelah. Kondisinya memang lebih baik dari satu pertandingan ke pertandingan lain. Namun, ia tetap masih harus menyesuaikan diri.

Yang dialami De Bruyne, Tatum, ataupun Bamba mungkin tidak menimbulkan gejala yang kelewat mengganggu meski tidak dapat disepelekan begitu saja. Penggawa Buffalo Bills (tim NFL), Tom Sweeney, harus menyelesaikan musim lebih cepat karena miokarditis yang diduga sebagai efek pasca-COVID-19.

Secara sederhana, miokarditis dapat diartikan sebagai peradangan pada otot jantung. Umumnya, penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus tertentu. Pada tahap awal pandemi, perhatian difokuskan pada komplikasi pernapasan akut yang meningkatkan risiko mortalitas dan morbiditas. Namun, perhatian sekarang beralih ke dampak COVID-19 pada sistem kardiovaskular.

Pada atlet, termasuk pesepak bola dan pemain NFL, persoalan kardiovaskular dipandang sebagai isu krusial karena dapat mengancam nyawa. Bukan sekali atau dua kali kita mendengar kisah tentang serangan jantung pada pesepak bola, termasuk yang menyebabkan kematian mendadak. Celakanya, belakangan COVID-19 dihubungkan dengan miokarditis.

Dalam sejumlah kasus, miokarditis tidak menimbulkan gejala. Meski demikian, sebagian kasus menyebut bahwa miokarditis menimbulkan gejala seperti kelelahan parah, sesak napas, dan aritmia. Dalam kasus miokarditis akut, penderita bisa saja mengalami henti jantung dan kematian mendadak.

Pertanyaannya, tentu, mengapa COVID-19 bisa memicu miokarditis?

Mengutip Bhurint Siripanthong BA, Saman Nazarian MD PhD FHRS, Daniele Muser MD, Rajat Deo MD MTR, Pasquale Santangeli MD PhD, Mohammed Y. Khanji MBBCh MRCP PhD, Leslie T. Cooper Jr. MD, dan C. Anwar A. Chahal MBChB MRCP PhD, dalam jurnal mereka yang berjudul ‘Recognizing COVID-19–related myocarditis: The possible pathophysiology and proposed guideline for diagnosis and management’ yang dipublikasikan oleh US National Library of Medicine National Institutes of Health, dijelaskan bahwa virus corona dinilai dapat mengikat enzim pengubah angiotensin (ACE-2). 

Enzim itu pada dasarnya merupakan enzim yang mengubah protein ANG II yang sering menyebabkan tekanan darah tinggi dan peradangan. Ketika virus ACE-2, fungsinya ACE-2 akan terhambat. Dari situ, tidak ada yang mengubah ANG II. Semakin banyak ANG II, akan semakin banyak jaringan yang rusak.

Miokarditis juga dapat terjadi setelah 'sindrom badai sitokin' yang diamati pada beberapa kasus COVID-19 yang parah. Dalam kondisi ini, produksi sitokin yang menandakan respons imun dipercepat, menyebabkan peradangan sistemik yang meluas. Insiden miokarditis setelah infeksi COVID-19 yang parah sangat mencolok. Perkiraan menunjukkan 60-80% dari mereka yang dipulangkan setelah dirawat di rumah sakit karena COVID-19 menunjukkan miokarditis yang sedang berlangsung.

****

Juergen Klopp punya pandangan saklek tentang vaksin COVID-19. Bahwa siapa pun yang memang bisa divaksin, harus bersedia divaksin. Tak ada alasan karena bagaimanapun itu adalah kewajiban. Melindungi orang-orang yang ada di sekitarmu adalah kewajiban yang harus kau wujudkan sedapat-dapatnya. "Dari sudut pandang moral, divaksin adalah kewajiban. Saya percaya bahwa jika saya dapat membantu orang-orang di sekitar saya, maka itu adalah kewajiban." 

Bagi Klopp, para pemain Premier League yang tak mau divaksin adalah ancaman. Bayangkan kekacauan seperti apa yang berisiko muncul hanya karena mereka menolak divaksin. Lagi pula, selama diizinkan secara medis, apa susahnya menyingsingkan lengan baju dan membiarkan jarum menembus jaringan ototmu untuk satu atau dua detik?

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.