Cristiano Ronaldo dan Dinamika Lini Depan Man United

Foto: Instagram @Cristiano.

Cristiano Ronaldo disebut-sebut sebagai bagian dari problem di lini depan Manchester United. Namun, benarkah seperti itu?

Akan ada selalu ada dua kubu untuk Cristiano Ronaldo: Mereka yang memujanya dan mereka yang terus-terusan mempertanyakannya. Ironisnya, kedua kubu seperti dua sisi pada sebuah koin yang sama.

Ronaldo, seperti apa pun kamu menilai permainannya, punya beberapa aspek yang sulit untuk dibantah. Pertama, naluri mencetak golnya masih bagus. Kedua, dia adalah seorang clutch player; tak jarang Ronaldo mencetak gol penyama kedudukan pada saat-saat kritis atau membobol gawang lawan untuk mengubah kedudukan sehingga timnya menjadi unggul.

Namun, ketika berbicara soal permainan tim secara keseluruhan, tentu saja sulit untuk berbicara soal individu semata. Ada kohesivitas yang biasanya turut masuk ke dalam faktor pembicaraan. Kohesivitas itu, tentu saja, erat kaitannya dengan sistem yang ingin diterapkan sebuah tim.

Ketika Ronaldo resmi berseragam United pada bursa transfer musim panas 2021, The Flanker pernah menuliskan bahwa salah satu kekhawatiran dari kehadiran Ronaldo adalah berkurangnya satu orang yang bakal melakukan pressing di lini depan. Catatan tersebut dilansirkan oleh The Athletic (berdasarkan data dari FBref) dengan membandingkannya dengan catatan pressing beberapa pemain depan lainnya.

[Baca Juga: Romantisme Akut Manchester United-Cristiano Ronaldo]

Catatan tersebut, nyatanya masih cukup relevan ketika Premier League sudah berjalan lewat dari 20 pekan. Kita bisa membandingkannya dengan performa pemain-pemain depan United sendiri yang sudah bermain di atas 1.000 menit. Sejauh ini, dari total 16 penampilan di Premier League 2021/22, Ronaldo sudah bermain selama 1.300 menit.

Ada dua pemain depan yang masuk kategori tersebut, yang pertama adalah Bruno Fernandes (19 penampilan, 1.606 menit) dan Mason Greenwood (16 penampilan, 1.150 menit). Bukan kebetulan juga bahwa ketiga pemain ini—Ronaldo, Bruno, dan Greenwood—merupakan para pencetak gol terbanyak United di Premier League 2021/22 sejauh ini.

Ronaldo, menurut catatan FBref, rata-rata melakukan 2,91 pressures per 90 menit di area final-third (sepertiga akhir lapangan). Bandingkan dengan intensitas Bruno (5,16 pressures per 90 menit) dan Greenwood (4,34 pressures per 90 menit) pada area yang sama. Tentu saja, ada alasan mengapa kita perlu memperhatikan catatan pressures seperti ini.

Sebelum didepak dari kursi pelatih, Ole Gunnar Solskjaer—per laporan The Athletic—pernah meniatkan lini depan United bermain dengan gaya seperti ini: Cair dengan permutasi posisi pemain yang luwes, plus kesediaan para pemain depan melakukan pressing supaya bola bisa terebut sesegera mungkin. Sebagai tim yang dikenal punya transisi bagus ketika melakukan counter, wajar kalau kebisaan melakukan pressing menjadi penting.

Yang jadi soal, cara melakukan pressing United pada era Solskjaer tidaklah kolektif; para pemain melakukannya sendiri-sendiri sehingga terlihat seperti sebuah tindakan reaktif alih-alih terencana dengan rapi. Hal inilah yang kelak, di kemudian hari, ingin diperbaiki oleh Ralf Rangnick supaya United bisa mengontrol pertandingan dengan lebih baik.

Kendati demikian, plan Solskjaer waktu itu sudah jelas. Maka, pembelian Jadon Sancho pada musim panas 2021—sebelum transfer Ronaldo terealisasi—sudah tepat. Untuk melihatnya sebagai sebuah keputusan transfer yang tepat atau tidak, kita bisa sedikit melihat catatan Sancho ketika membela Borussia Dortmund pada musim 2020/21.

Sebagai pemain depan yang biasa beroperasi dari tepi lapangan, Sancho bukanlah pemain sayap ortodoks. Sebaiknya, ia cukup sering melakukan kombinasi dengan pemain depan lainnya untuk menusuk masuk dan mengkreasikan peluang atau mencetak gol. Hal tersebut terlihat dari heatmap Sancho pada Bundesliga 2020/21 yang menunjukkan bagaimana ia juga acap menjorok ke tengah dan beroperasi di area halfspace.

Heatmap Sancho di Bundesliga 2020/21. Sumber: Sofascore.

Dengan gaya bermain seperti itu, Sancho sudah memenuhi satu kriteria bahwa ia bisa jadi salah satu personel lini depan yang luwes dalam melakukan pertukaran posisi. Selain itu, catatannya ketika melakukan pressing juga oke. Per catatan FBref, pada musim terakhirnya membela Dortmund di Bundesliga, Sancho rata-rata melakukan 4,89 pressures per 90 menit di final-third.

Semua ini berubah ketika drama pada hari-hari terakhir bursa transfer musim panas berujung pada kepindahan Ronaldo ke United. Kubu ‘Iblis Merah’ tentu tidak rela melihat salah satu legenda hidup mereka bermain untuk Manchester City. Namun, konsekuensinya adalah mereka mesti menata ulang cara lini depan mereka bermain.

Kehadiran Ronaldo, yang naluri mencetak golnya masih tajam itu, membuat lini depan United kini bak memiliki sebuah titik fokus. Berbeda dengan, misalkan, kalau mereka memainkan pemain-pemain depan seperti Sancho, Bruno, Greenwood, dan Marcus Rashford yang biasanya bergerak cair—Greenwood dan Rashford malah bisa bermain sebagai penyerang tengah atau penyerang sayap.

Bahkan, salah satu penyerang murni mereka, Edinson Cavani, juga punya pergerakan tanpa bola yang bagus dan juga bisa melakukan pertukaran posisi. Perkara pertukaran posisi itu juga yang membuat Bruno, seorang gelandang serang, memiliki catatan gol dan assist impresif pada era Solskjaer; ia bisa masuk atau melepaskan sepakan dari lini kedua karena ia acap mendapatkan ruang akibat pergerakan rekan-rekannya.

Lantas, apakah kehadiran Ronaldo adalah satu-satunya problem United di lini depan? Well, tidak juga. Keberadaan Ronaldo mau tidak mau menjadikan pemain-pemain lain menjadikannya target di lini depan. Yang jadi soal, suplai kepada Ronaldo tak selalu bagus. Salah oper pada fase akhir serangan atau pengambilan keputusan yang buruk—memilih menendang daripada mengoper—masih kerap terjadi. Terlebih, baik Rashford atau Greenwood masih memiliki mentalitas “shoot first” (pokoknya tembak dulu) ketika mereka merasa memiliki kesempatan.

Oleh karena itu, alih-alih meratapi keputusan yang sudah diambil, United lebih baik mencari cara bagaimana memadu-padankan Ronaldo dengan pemain-pemain depan lain yang notabene punya karakteristik dan gaya bermain lebih cair. Rangnick, sebagai pelatih interim, bukannya tak paham soal ini.

Pada pertandingan melawan Aston Villa (yang berakhir imbang 2-2), pria asal Jerman itu memilih untuk bermain dengan 4-3-3, formasi yang mestinya menjanjikan kecairan lini depan ketimbang 4-2-2-2 yang sebelum ini sering ia gunakan. Mendengar komentar Rangnick belakangan ini, ada kemungkinan formasi yang sama bakal ia gunakan di kemudian hari, termasuk ketika menghadapi Brentford, Kamis (20/1/2022) dini hari WIB.

Dalam formasi tersebut, seorang penyerang tengah bakal diapit oleh dua orang penyerang sayap. Di lini tengah, Rangnick mengandalkan satu “nomor 6” (dalam laga melawan Villa, peran ini dilakoni oleh Nemanja Matic) dan dua “nomor 8 kembar” (Bruno dan Fred). Repotnya adalah cuma Matic yang betul-betul natural mengemban peran sebagai “nomor 6” di depan baris pertahanan. Ketika ia mulai kepayahan di babak kedua—atau ketika menghadapi lawan yang bermain sama intensnya—biasanya pertahanan United menjadi rawan.

Ada satu solusi yang sempat Rangnick sebut ketika intensitas pressing timnya mulai menurun pada babak kedua, yakni dengan mengubah formasi menjadi 4-4-2 berlian dan mengandalkan kerapatan di lini tengah. Formasi yang disebut terakhir ini juga memungkinkan Donny van de Beek masuk ke dalam tim sebagai gelandang serang sembari menjaga keseimbangan (ingat, Van de Beek bukanlah gelandang bertahan) sekaligus membuat Bruno, Fred, Scott McTominay ataupun Matic bisa berkonsentrasi menjaga kedalaman.

Formasi 4-4-2 berlian tersebut juga memungkinkan United untuk menjaga kerapatan antarpemain dalam fase bertahan dan, oleh karenanya, bisa melakukan pressing dengan lebih sederhana (karena tak ada banyak ruang untuk di-cover). Selain itu, United bisa tetap melakukan counter yang selama ini memang menjadi salah satu ciri mereka dengan baik jika tetap menempatkan dua pemain depan yang cepat sebagai duet ujung tombak.

Nah, pertanyaannya kembali ke lini depan: Bagaimana Rangnick memadu-padankan amunisi yang mereka miliki? Yah, kalau Ronaldo bisa melakukan pergerakan tanpa bola seapik Cavani dan piawai membuka ruang, semestinya satu problem bisa teratasi. Kalau Ronaldo masih menjadi titik fokus berarti rekan-rekannya kudu pintar-pintar membuat ruang untuknya supaya ia memiliki ruang leluasa untuk menyelesaikan peluang.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.