Dari Amerika Serikat, Bertualang di Jerman

Twitter: @Bundesliga_EN

Jerman menawarkan pertualangan bagi para pemain dan pelatih Amerika Serikat. Membungkam segala ekspektasi yang meremehkan, mereka menjadi tulang punggung kesuksesan klub Jerman yang dibelanya.

Serupa dengan orang-orang Amerika yang menganggap novel On the Road sebagai jalan keluar, sejumlah pelatih Amerika Serikat menjadikan sepak bola Jerman sebagai pertualangan yang mengantarkan mereka pada hidup yang baru.

Buku itu lahir dari watak liar sang penulisnya, Jack Kerouac. Sebagian menyebutnya sebagai kisah yang menyenangkan. Sebagian lagi melabelinya sebagai cerita yang memuakkan karena satu-satunya alat yang digunakan Kerouac untuk mengambil napas adalah tanda koma. Mereka yang masuk dalam kelompok kedua menganggap bahwa membaca On the Road itu melelahkan.

Namun, perjalanan tidak hanya akan membuatmu bertemu dengan pemandangan indah, makanan sedap, kesempatan emas, atau kawan-kawan baru yang membuatmu bergembira sepanjang hari. Kelana juga bakal membawamu kepada jalan yang keliru, kehabisan uang, pergelutan dengan maling, serta rasa rindu pada kasur yang empuk dan selimut yang hangat.

Pada akhirnya, perjalanan tidak hanya akan membuatmu keasyikan, tetapi juga kelelahan. Hari ini kau tertawa lebar, besok kau menyesal karena menyusahkan diri sendiri dengan meninggalkan rumah yang nyaman.

Namun, bagi Kerouac susah-payah itu adalah harga yang pantas dibayar untuk menemukan jalan keluar baginya dan seluruh Generasi Beat.

Istilah Generasi Beat pertama kali tercetus pada 1948. Awalnya, itu adalah sebutan yang digunakannya untuk menggambarkan lingkaran pertemanannya dengan sesama penulis, mulai dari Allen Ginsberg, Carl Solomon, William Burroughs (kalau belum, cobalah untuk membaca Junkie), hingga Neal Cassady. 

Dalam perkembangannya, istilah ini juga merujuk pada mereka yang lahir pada masa The Great Depression pada 1930-an, yang tidak bisa lagi disebut anak-anak, tetapi belum cukup umur untuk baku-hantam di medan perang.

Mereka muak dengan orang tua yang menyebabkan perang besar. Amarah dan rasa muak yang mengakar pada akhirnya tumbuh menjadi pemberontakan. Masalahnya, mereka tidak tahu pasti bagaimana caranya memberontak.

Lewat On The Road, anak-anak muda itu menemukan cara untuk memberontak, yaitu dengan berkelana. Pada praktiknya berkelana di sini bukan hanya bicara tentang bepergian dari satu kota ke kota lain, tetapi juga meninggalkan norma yang sebaik-baiknya dipegang oleh para orang tua mereka. 

Anak-anak muda itu mencoba banyak hal baru. Mulai dari yang 'waras' seperti bepergian, melakoni pekerjaan yang sebelumnya masuk dalam kategori tidak difavoritkan orang tua, hingga yang membikin pening seperti narkoba. Dengan langkah itu mereka keluar dari cara hidup yang diyakini sebagai yang terbaik oleh para orang tua mereka. 

*****

Jika ada satu hal yang ingin membuat para pesepak bola Amerika memberontak dan memulai perjalanan mereka, barangkali itu adalah 'keterasingan' sepak bola. Di Amerika Serikat, sepak bola bukan olahraga populer. Pamornya kalah dibandingkan dengan bisbol, rugby, dan basket. Bahkan saat masih bocah, Weston McKennie menyebut ia tidak tahu bahwa di dunia ini ada olahraga bernama sepak bola. 

Amerika Serikat baru mulai mengakrabkan diri dengan sepak bola menjelang Piala Dunia 1994. Apa boleh buat, salah satu syarat untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia adalah negaramu memiliki kompetisi liga sepak bola. Dari situ, orang-orang Negeri Paman Sam membentuk MLS. Tak heran jika usia sepak bola di benua lain bisa mencapai 100 tahun lebih, di Amerika Serikat sana umurnya baru sekitar 28 tahun.

Meski pada akhirnya hidup, sepak bola belum populer-populer amat di Amerika Serikat. Kalau belakangan kompetisi ini mulai dilirik, itu karena diawali dengan eksodus para bintang menjelang masa pensiun. Seperti rumah peristirahatan, mungkin seperti itulah para pemain bintang menganggap liga sepak bola Amerika Serikat.

Kebalikan dengan Amerika yang menjadi perhentian terakhir para pesohor, Jerman menjadi batu loncatan pertama bagi orang-orang Amerika yang ingin berlaga di lapangan sepak bola yang lebih baik. Tak cuma McKennie, Christian Pulisic pun berhasil mendapatkan tempat di jejeran elite sepak bola Eropa. Sebelum berlaga bersama Chelsea, Pulisic tercatat sebagai penggawa Borussia Dortmund.

Mungkin tidak ada alasan jelas yang dapat menjelaskan mengapa pada akhirnya ada banyak pesepak bola Amerika yang hijrah ke Jerman. Yang jelas pemain-pemain seperti Eric Wynalda, Claudio Reyna, Landon Donovan, Jovan Kirovski, dan Brian McBride, mengawali karier profesionalnya di Jerman. Sinyal benderang bagi para pesepak bola Amerika mulai memendar ketika Juergen Klinsmann menjabat sebagai pelatih Timnas Amerika Serikat pada 2011. Konon, Klinsmann mendorong para pemain muda untuk mulai memberanikan diri berlaga di luar negeri, termasuk Jerman.

Ternyata undangan itu tidak hanya diambil oleh para pemain, tetapi juga pelatih. Walau jumlahnya belum semasif pemain, tetap ada pelatih Amerika yang menginjakkan kaki di lapangan hijau Jerman. Salah satu yang paling ternama adalah Jesse Mersch. Sosok yang kini berstatus sebagai pelatih Leipzig itu sebenarnya memulai kariernya sebagai pesepak bola di Amerika.

Langkah pertama yang diambilnya adalah menjadi gelandang di klub kampusnya, Princeton Tigers. Penampilan di situ pulalah yang membuatnya dilirik DC United pada 1996. Hanya berlaga dalam 15 pertandingan dan mencetak 4 gol dalam 2 musim, tidak berlebihan untuk menyebutnya sebagai pemain medioker.

Namun, Marsch tidak berhenti. Pada 1998 ia menjejak ke Chicago Fire dan bertahan selama 7 tahun sebagai andalan. Ia membukukan 200 penampilan, 19 gol, dan 5 trofi, termasuk 3 gelar juara US Open dan 1 trofi MLS. 5 Februari 2020 adalah epilog perjalanan Marsch sebagai pemain. Adalah Chivas USA yang menjadi klub terakhirnya. 

Marsch melanjutkan kariernya menjadi asisten Bob Bradley di Timnas Amerika Serikat. Sayangnya, Marsch dan Bradley hanya ada di sana selama setahun. Bertahan dalam 36 laga sebagai pelatih Montreal Impact mulai Agustus 2011, Marsch kembali berhadapan dengan pemecatan.

Jalan buntu selama tiga tahun belum terlalu hebat untuk menghentikan langkah Marsch di lapangan bola. New York Red bulls menggaetnya sebagai pelatih pada 2015. Orang-orang boleh mencemooh Red Bulls sebagai biang kerok muncul klub-klub yang mengandalkan kekayaan belaka. Kata mereka against modern football. Namun, serupa dengan anak-anak muda Generasi Beat yang menggugat seluruh tata cara hidup yang dipegang baik-baik oleh orang tua mereka, bersama Red Bull, Marsch menemukan jalan keluar yang membawanya pada babak baru.

Awalnya jalan Marsch bersama Red Bull terasa memuakkan. Karena ditunjuk sebagai pengganti pelatih favorit, Mike Petke, Marsch mendapat kecaman dari banyak suporter. Marsch merespons penolakan itu dengan trofi MLS Supporters' Shield. Berkat capaian itu, Marsch merengkuh gelar MLS Coach of the Year dan perpanjangan kontrak.

Usai memimpin New York Red Bulls di 151 pertandingan, Marsch ditugaskan sebagai asisten pelatih Ralf Rangnick di RB Leipzig pada 2018/19. Ia membantu Leipzig finish di peringkat 3 Bundesliga dan jadi runner-up DFB-Pokal. Setahun menimba ilmu di bawah kepemimpinan Rangnick, Marsch menggantikan Marco Rose di Red Bull Salzburg. 

Kecaman suporter kembali menjadi santapan Marsch. Akan tetapi, di musim pertamanya, ia langsung membawa RB Salzburg menjuarai Austrian Bundesliga dan Austrian Cup 2020. Lantas, pada 2021, Marsch didapuk sebagai pelatih Leipzig menggantikan Julian Nagelsmann.

Marsch tidak menjadi satu-satunya orang Amerika yang bertualang di Jerman. Pellegrino Matarazzo, yang lahir di New Jersey, kini tercatat sebagai pelatih kepala Stuttgart. Berbeda dengan Marsch, Matarazzo merupakan anak imigran Italia. Ia seorang sarjana matematika Universitas Columbia. 

Mantan gelandang ini pindah ke Jerman pada 2000 dan menghabiskan sembilan tahun bermain di divisi bawah sepak bola Jerman dengan membela Bad Kreuznach, SV Wehen, Preußen Münster, dan Wattenscheid sebelum gantung sepatu di tim kedua Nuremberg pada 2010. Jika ditotal, ia mengantongi 142 penampilan di liga regional yang berada di bawah tingkat ketiga dalam piramida sepak bola Jerman.

Di Nuremberg, Matarazzo mendapatkan gelar kepelatihannya dengan menjabat sebagai asisten U-23 sebelum memimpin kedua tim U-17 yang finis ketiga di wilayah mereka di Bundesliga U-17 pada 2012/13. Matarazzo pindah ke Hoffenheim sebagai pelatih kepala tim U-17, lalu dipromosikan sebagai asisten Julian Nagelsmann pada Januari 2018. Hoffenheim pun mengamankan tempat ketiga di Bundesliga.

Matarazzo tetap di bawah Alfred Schreuder begitu Nagelsmann berangkat ke Leipzig pada musim panas 2019, sebelum VfB datang memanggilnya pada akhir Desember. Ini adalah kedua kalinya dalam 42 tahun Stuttgart tidak bermain di Bundesliga. Mereka duduk di urutan ketiga klasemen Bundesliga 2, setelah hanya memenangi tiga pertandingan liga dalam tiga bulan sebelumnya.

Keputusan Matarazzo untuk meninggalkan Amerika Serikat tidak menjadi perjalanan yang sia-sia. Di akhir 2019/20, Stuttgart asuhannya berhasil menembus Bundesliga. Dari Amerika ke divisi bawah sepak bola Jerman hingga menjejak ke liga elite Eropa, itulah cerita perjalanan Matarazzo.

Tidak ada yang benar-benar bisa menjawab mengapa Jerman menjadi tempat berlimpah susu dan madu bagi para pemain asing. Toh, para pemain dan pelatih Amerika tidak menjadi satu-satunya tamu di Jerman. Jangan lupa bahwa negara ini juga kerap menjadi tujuan bagi para pesepak bola Asia. 

Selain pemicu seperti Klinsmann, penyebab kedua yang disebut-sebut membuat Jerman diminati pelakon sepak bola Amerika adalah ekosistem sepak bolanya yang lebih terbuka bagi para pesepak bola asing--entah itu pemain atau pelatih--jika dibandingkan dengan liga top Eropa lainnya. 

Bagi para pemain, izin bermain dan visa di Jerman jauh lebih mudah. Tidak ada batas pemain non-UEFA bagi klub Jerman. Beda dengan Serie A, yang punya kuota pemain non-Uni Eropa (tidak berkewarganegaraan ganda) maksimal dua pemain. Spanyol punya tiga (dan sebab alasan bahasa serta kultur, lebih memilih pemain dari Amerika Latin ketimbang Timur Jauh).

Di Inggris tak ada batasan spesifik bagi pemain non-Uni Eropa. Meski begitu, mereka butuh izin kerja dan kriterianya cukup rumit untuk pemain sepak bola. Syarat seperti persentase pertandingan tim nasional seringkali jadi hambatan.

Keberadaan perusahaan raksasa seperti Red Bull pada akhirnya turut membukakan jalan bagi pelatih asing untuk berkarier di Eropa, khususnya Jerman. Memang tidak semua mendapat jalan demikian, tetapi itulah yang terjadi pada Marsch.

Saat membeli sebuah klub, Red Bull akan benar-benar merekonstruksi ulang. Warna jersi diganti menjadi putih merah yang identik dengan warna jenama Red Bull. Sejarah klub pun dianggap tidak ada. Para pendukung tim lantas didesak secara halus untuk menjadi pendukung Red Bull. Begitu pula dengan keputusan-keputusan klub, termasuk penunjukan pelatih. Cara ini mendapat perlawanan dari berbagai kalangan. Tak heran jika awalnya Marsch juga mendapat kecaman dari para suporter.

Meski demikian, Red Bull memberikan keuntungan bagi klub-klub yang dibelinya. Red Bull Salzburg, New York Red Bulls, dan Red Bull Liepzig dibuatkan stadion baru yang berkapasitas lebih besar dan berfasilitas lebih komplet daripada stadion sebelumnya.

Klub pun menjadi sehat dan memiliki energi untuk melakukan manuver-manuver, termasuk membentuk talenta muda dan orang-orang yang sebelumnya tak masuk radar elite. Para pelatih seperti Marsch mendapat 'jaminan' bahwa berkarier di Jerman bukan perjudian karena bergerak dalam satu sistem yang jelas. 

Tentu saja perusahaan seperti Red Bull bukan jalan tunggal bagi para pelatih Amerika untuk berkarier di Jerman. Selain Matarazzo, pelatih Amerika yang tak masuk dalam sistem Red Bull, tetapi mampu berkarier di Jerman, adalah Joe Enochs. Matarazzo bahkan menolak kala disebut sebagai perintis pelatih Amerika di Jerman. 

Dalam wawancaranya bersama ESPN, ia menyebut Enochs yang kini melatih FSV Zwickau sebagai trailblazer. Begitu pula dengan David Wagner yang sempat malang-melintang melatih Borussia Dortmund II dan Schalke.

Jerman menawarkan pertualangan bagi para pemain dan pelatih Amerika Serikat. Orang-orang ini tak berhenti pada status pionir dan ornamen marketing. Membungkam segala ekspektasi yang meremehkan, mereka menjadi tulang punggung kesuksesan klub Jerman yang dibelanya.