Dari Tepi, Sayap-sayap Chelsea Menuai Ambisi

Ilustrasi: Arif Utama.

Selain kedalaman skuad, skema yang terstruktur serta pemfungsian pemain dengan tepat guna menjadi keunggulan dari Chelsea di era Tuchel. Di dalamnya, wingback punya peran besar.

Bila menunjuk salah satu tim Premier League yang performanya paling meyakinkan sejauh ini, Chelsea ada di barisan terdepan. Piala Super Eropa mereka sabet, disusul kemenangan beruntun di dua laga awal Premier League.

Satu-satunya "aib" mereka cuma imbang 1-1 melawan Liverpool pekan lalu. Namun, itu juga tak buruk-buruk amat sebenarnya. Lagi pula, hanya segelintir tim juga yang bisa menahan imbang The Reds di Anfield dengan hanya 10 personel, bukan?

Konsistensi Chelsea ini beririsan dengan kualitas Thomas Tuchel sebagai juru taktik. Bagaimana ia membentuk tim yang produktif dengan lini belakang yang kokoh. Dalam 19 pertandingan di edisi 2020/21, Chelsea-nya Tuchel rata-rata mencetak 1,3 gol dan kemasukan 0,6 gol per laga. Persentase kemenangannya menyentuh 57%, jauh lebih baik dari Frank Lampard yang "cuma" 42%.

Sementara pada musim ini, Chelsea baru kemasukan satu gol dari tiga pertandingan Premier League—hanya kalah dari Tottenham Hotspur yang angka kebobolannya masih nihil. Sementara jumlah gol The Blues ada di angka 6 atau terbaik kelima setelah West Ham, Manchester City, Everton, dan Manchester United. Menariknya, dua gol Chelsea di antaranya lahir dari sepasang wing-back mereka, Marcos Alonso dan Reece James. Nama yang disebut belakangan ini juga makin mencolok dengan torehan 2 assist.

Well, sebenarnya sudah menjadi rahasia umum bahwa full-back memainkan peran vital dalam beberapa dekade terakhir. Mereka lebih dari sekadar pemain belakang yang mengikis serangan.

Dari yang dulunya hanya mencegah pemain sayap melepas umpan silang menjadi komponen dalam aksi ofensif tim. Bergerak ke sepertiga area lawan atau memulai build-up serangan bukan lagi menjadi sesuatu yang aneh. Entah itu full-back dalam pakem empat bek atau wingback pada format tiga dan lima bek.

Chelsea sendiri punya memori indah akan itu. Lewat formasi tiga beknya, Antonio Conte mengantar mereka menjadi kampiun di musim 2016/17. Kala itu ia menggunakan Victor Moses dan Alonso sebagai wingback reguler.

Fungsinya, ya, demi menciptakan overload di sektor depan. Naiknya kedua pemain ini digunakan untuk mengompensasi masuknya dua winger Chelsea ke area half-space. Tak heran kalau kemudian Moses dan Alonso mengumpulkan 9 gol dan 5 assist bila dikalkulasi.

Pakem tiga bek Conte dan Tuchel tak bisa dibilang sama persis. Pelatih asal Jerman itu lebih taat kepada penguasaan bola ketimbang pendahulunya yang menganut skema direct. Walaupun begitu, keduanya sama-sama mendorong bek sayap ke garis depan untuk membantu serangan. 

Tuchel intens mengaplikasi pakem dasar 3-4-3 atau 5-3-2. Dalam fase ofensif, kedua wing-back ini akan bergerak maju membentuk 3-2-5. Ini terpampang saat Chelsea meladeni Crystal Palace pada pekan pertama. Alonso dipasang Tuchel sebagai wingback kiri, sedangkan Cesar Azpilicueta di tepi lainnya. Menurut catatan WhoScored, keduanya mengemas 72 dan 74 sentuhan yang mayoritasnya berada di area lawan.

Alonso dan Azpilicueta bahkan melepaskan masing-masing satu tembakan di kotak penalti dalam situasi open-play. Artinya, Tuchel memang memfungsikan wingback sebagai tambahan penyerang. Ini menarik karena trio lini depan Chelsea relatif cair. Timo Werner, Kai Havertz, dan Mason Mount bisa bertukar posisi sesuai kebutuhan. Berbeda dengan era Conte yang mengandalkan target-man macam Diego Costa dan Eden Hazard sebagai wide playmaker.

Kedatangan Romelu Lukaku juga tak akan mengubah fluiditas lini depan Chelsea. Pertama, karena eks Everton itu mampu bermain di area tepi. Kecakapannya dalam menyajikan peluang menjadi penguat kedua. Musim lalu Lukaku menjadi top assist Inter di angka 11.

Kembali lagi ke wingback. Pada dasarnya, pakem 3-4-3 yang diusung Tuchel ini bertujuan untuk menambah jumlah pemain per lini. Azpilicueta punya peran penting di sini. Selain mafhum menjabat sebagai bek sayap, ia juga kerap diutus menjadi wide centre-back. Dengan kata lain, pemain asal Basque itu dilegalkan untuk maju ke depan sehingga membuat sisi kanan Chelsea overload.

Laga versus Arsenal di pekan kedua bisa dijadikan acuan. Tuchel memasang Azpilicueta sebagai bek sentral. Sementara pos wingback kanan diisi James. Skema semacam ini mudahkan James untuk terlibat dalam aksi ofensif.

Ada 12 sentuhan yang dibuatnya di kotak penalti Arsenal. Jumlah itu jauh meninggalkan Kieran Tierney yang mengukir 2 sentuhan. Makanya tak mengherankan kalau James berhasil mencetak satu gol dan menjadi pionir atas lesakan Lukaku.

Ngomong-ngomong, James ini memang sudah tampak menjanjikan sejak dipinjamkan ke Wigan Athletic. Itu yang kemudian mendorong Frank Lampard untuk memasangnya secara reguler di musim 2019/20. Kendati begitu, Tuchel-lah yang membawanya ke level yang lebih tinggi. Ia paham betul cara untuk mengakomodir potensi ofensif James.

“Dia memberi saya banyak nasihat kepelatihan, tentang situasi permainan, soal bagaimana dan di mana saya bisa meningkat kualitas. Pada beberapa kesempatan saya diperlihatkan cuplikan pertandingan dan juga berkonsultasi secara langsung,” kata James kepada The Athletic.

Tuchel adalah pelatih yang memikirkan hal-hal detail. Positional play yang ia anut melibatkan rotasi posisi pemain yang konstan. Itulah mengapa pemain wajib memahami apa yang ia mau. Ketika satu pemain menempati satu posisi—tergantung pada keberadaan bola dan lawan—pemain lainnya juga mesti mengetahui tanggung jawab mereka.

Dalam kasus wingback, James dan Alonso diharuskan cepat merespons saat timnya melakukan transisi. Sewaktu menyerang, keduanya akan membantu 3 pemain terdepan. Dalam mode bertahan, mereka akan mundur untuk menutup saluran tepi.

Menjadi spesial karena James dan Alonso ini punya kemampuan bertahan yang terbilang lumayan. Rata-rata tekelnya menyentuh 1,3 per laga atau tertinggi keenam di Chesea. Lebih-lebih lagi Alonso yang menorehkan rerata tekel dan intersep di angka 3,3 serta 2 di tiap pertandingannya. Ini menjadi salah satu faktor mengapa Tuchel memilih Alonso ketimbang Ben Chilwell.

Selain kedalaman skuad, skema yang terstruktur serta pemfungsian pemain dengan tepat guna adalah keunggulan dari Chelsea di era Tuchel. Wingback, memainkan peranan penting dalam aksi ofensif dan juga bertahan. Nyatanya baru sebiji gol yang masuk ke gawang mereka, itu pun via tendangan penalti. Kalau sudah begini, jangan heran kalau-kalau Chelsea keluar sebagai kampiun Premier League musim ini.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.