Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now

Darwin Nunez Adalah Opsi

Foto: Darwin99.

Di era Klopp, Liverpool tak punya striker seperti Nunez. Dengan kedatangannya, Liverpool akan punya opsi untuk jadi pengobat atas masalah-masalah mereka sebelumnya.

Darwin Nunez bukanlah striker yang dipikirkan bakal datang ke Liverpool.

Selama menangani Liverpool, Juergen Klopp belum pernah tertarik dengan striker sepertinya. Ya, tipikal pemain nomor sembilan yang tinggi, besar. Dulu memang ada Christian Benteke, tapi bukan Klopp yang membelinya. Divock Origi juga mungkin punya postur menjulang, tapi jelas tipikalnya tak sama dengan Nunez.

Orang-orang mungkin bilang bahwa Nunez juga bisa bermain di pelbagai posisi. Oke, itu mungkin benar. Ia bermain di pos sayap kiri dan gelandang belakang striker musim lalu, tapi persentasenya kurang dari 40% total menit yang ia dapatkan. Nunez lebih leluasa berada di dalam kotak penalti: 25 dari 26 gol liganya musim lalu berasal dari sana.

Atau, paling simpel, tengok saja empat gol yang Nunez ciptakan di laga uji tanding vs RB Leipzig. Semua menunjukkan kebuasaannya saat berada di dalam kotak penalti lawan. Nunez juga cepat dan amat buas, naluri golnya tinggi. Itu sesuai dengan yang dibutuhkan kriteria Liverpool.

Namun, dalam beberapa aspek, ia tak memiliki apa yang dimiliki oleh Roberto Firmino, Diogo Jota, atau Sadio Mane. Ketiga nomor sembilan andalan Klopp itu punya beberapa kesamaan: Mereka pintar membuka dan menemukan ruang, punya pergerakan yang liat, dan pintar bermain di ruang-ruang sempit. Mereka juga cakap dalam melancarkan pressing dan punya link-up play yang bagus.

Nunez belum memiliki itu semua. Anda mungkin heran karena acap melihat cuplikan video Nunez melakukan dribel cepat dan melewati beberapa lawan, tapi jika menengok data musim lalu, persentase dribel sukses pemain berambut gondrong ini tak lebih dari 50%. Ia memang cerdik, tapi pengambilan keputusan harus ditingkatkan.

Link-up play-nya Nunez juga buruk. Smarterscout memberinya rating 47 (terburuk 0, terbaik 99) untuk aspek itu. Persentase umpan suksesnya cuma 67,1%. Di Liverpool musim lalu, tak ada pemain depan yang mencatatkan persentase umpan sukses di bawah 73%. Nunez juga cuma mencatat 11,8 umpan pendek sukses per 90 menit. Catatan yang sedikit.

Selain itu, ia acap melakukan kontrol buruk. Musim lalu, ia mencatatkan angka 1,9 kontrol buruk per pertandingan. Jadi, jika kalian sering melihat Nunez melakukan kontrol buruk saat laga pramusim lalu, ketahuilah bahwa itu bukan hal baru. Buat Liverpool, yang terpenting adalah bagaimana cara menguranginya. Dan ini sangat mungkin, mengingat ia punya strength yang baik sebagai penyerang.

Dalam melancarkan pressing, ia juga tak punya angka yang mentereng. Di kompetisi Eropa dalam dua musim terakhir, persentase pressure suksesnya tak pernah lebih dari 23%. Sementara itu, sebagian besar pemain depan Liverpool punya angka pressure sukses di atas 30% pada musim lalu. Nunez jelas butuh peningkatan di sektor ini.

Beruntung Nunez pandai menemukan ruang. Dan perkara membuka ruang, ini yang bisa jadi soal. Namun, melihat ia sering bermain bersama, dan mampu menciptakan peluang buat, pemain depan lain seperti Roman Yaremchuk atau Goncalo Ramos, Liverpool punya harapan. Soal pergerakan, seperti yang sudah disebut, Nunez cepat dan cerdik. Hanya saja, ia perlu lebih liat lagi sebagai pemain depan Liverpool.

Memang ada banyak hal yang harus diasah dari Nunez, tapi perlu diingat bahwa ia juga mendatangkan hal baru buat lini depan Liverpool. Pertama tentu soal postur. Seperti yang sudah disinggung di awal, Liverpool tak memiliki sosok sepertinya. Dan ini jelas bisa menjadi opsi lain. Alternatif.

Dari catatan musim lalu, Liverpool terlihat amat membutuhkan striker berpostur tinggi di depan. Sebab, ternyata The Reds amat gemar melepas umpan silang. Tercatat musim lalu total ada 554 umpan silang yang dilepaskan, tapi hanya 93 yang sampai di kotak penalti dan tepat sasaran. Bahkan, di beberapa laga penting, deretan umpan silang yang dilepaskan tak ada artinya.

Pada laga kedua vs Tottenham Hotspur musim lalu, misalnya. Para pemain Liverpool melepaskan 31 umpan silang sepanjang laga, tapi cuma enam yang sukses menemui rekan setim. Di pertemuan pertama vs Chelsea, Salah cs. melepas 29 umpan silang dan tak ada satu pun yang berhasil berbuah gol. Kehadiran Nunez diharapkan mampu mengatasi solusi ini.

Namun, Nunez juga harus memperbaiki duel udaranya. Ia memang punya postur ideal sebagai penyerang tengah (187 cm), tapi persentase duel udara suksesnya bersama Benfica musim lalu hanya menyentuh angka 39%. Dari 26 gol yang dicetak di liga pun, hanya lima yang berasal dari kepala. Jika inkonsistensi itu terus berlanjut, masalah tak bisa diselesaikan. Nunez pun harus berbenah.

Liverpool juga bisa berharap hal lain dari kehadiran Nunez. Seperti yang sudah dituliskan, Nunez adalah pemain yang buas di kotak penalti dan kebetulan, musim lalu, banyak sekali peluang Liverpool diciptakan dari sana. Umpan silang pendek mendatar atau cut-back tercipta dari kaki Salah, Trent Alexander-Arnold, atau Andrew Robertson.

Umpan-umpan tersebut menyasar siapa pun yang berada di dalam kotak. Harusnya, Nunez bisa menjadi sosok yang mampu menyelesaikan umpan-umpan tersebut lewat gol. Terlebih 1 dari 2 tembakannya musim lalu pasti tepat saaran. Apa yang ia tunjukkan di laga vs Leipzig itu harus diteruskan. Ia harus agresif, berani berduel, dan cerdik mencari ruang kosong.

Jika semua berjalan sesuai rencana dan ada peningkatan dari sisi Nunez, Klopp akan punya opsi baru. Ia akan lebih leluasa lagi mengganti formasi. Pola 4-3-3 andalannya, yang dicurigai mulai mudah diantisipasi lawan, bisa dikombinasikan dengan 4-3-2-1 atau 4-4-2 dalam sebuah pertandingan. Semua sesuai situasi.

Di musim lalu, saat buntu, Klopp acap melakukannya. Biasanya ia memasukkan Firmino untuk berduet dengan Jota atau Mane di depan dan kemudian mengubah pola jadi 4-4-2. Pemain berpaspor Brasil itu juga bisa bermain sebagai pemain nomor 10, di belakang striker dalam pola 4-2-3-1. Selain Firmino, Fabio Carvalho juga bisa ditaruh di sana.

Dalam pola dua striker atau satu striker, Nunez bisa ditempatkan sebagai pemain depan yang tugasnya menggantung di depan. Ia bisa jadi pemantul dalam serangan balik cepat, atau pembuka ruang dan penarik konsentrasi lawan bagi rekan-rekannya yang akan bergerak cepat di sayap. Liverpool jadi punya banyak alternatif.

***

Klopp memang bilang bahwa Nunez akan jadi pilihan utamanya. Namun, juga seperti yang Klopp bilang, bahwa ia mendatangkan Nunez bukan karena ia merasa lini depan Liverpool kurang kualitasnya, tapi karena ia butuh opsi lain. Ia butuh pelengkap. Dan tak akan ada yang mengharamkan jika kemudian ia memilih Roberto Firmino lebih dulu di awal-awal musim.

Jika ternyata Nunez bisa beradaptasi cepat dan melebihi ekspektasi seperti Luis Diaz atau Salah, itu adalah anugerah yang harus disyukuri Liverpool dan pendukungnya. Akan tetapi, ketika ia membutuhkan waktu lebih lama seperti Fabinho, misalnya, kehadirannya sebagai opsi lain akan jadi penentu. Yang jelas, Nunez tak akan jadi Andy Carroll berikutnya buat The Reds

Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now