Diego

Ilustrasi: Arif Utama.

Bagi para pemujanya, Maradona adalah Tuhan. Namun, bagi anak-anak yang berteriak girang saat menggiring bola di siang bolong, Maradona adalah orang dewasa pertama yang membuat gereja tak lagi terlihat membosankan.

Dua ribu tahun setelah berkata, “Marilah datang kepada-Ku semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu,” Tuhan menciptakan Diego Maradona.

Serupa tidak ada yang memahami mengapa Tuhan memilih Betlehem, tidak ada pula yang benar-benar mengerti mengapa Maradona sudi datang ke Naples. Dengan bola yang menjinak di atas kakinya, seharusnya Maradona memilih tempat yang lebih layak. Seharusnya ia berlaga di Milan dan Turin. 

Kedua kota itu, toh, ibarat surga di Italia sana. Italia Utara adalah bukti bahwa negeri ini bukan sekadar tempat bagi para penggila kesenangan. Dua kota tersebut adalah simbol dari modernisasi, kemajuan, dan kekuasaan. Industri dan pemerintahan mereka jadi yang terdepan. Tanpa orang-orang Italia Utara, Italia bisa hancur rata dengan tanah. 

Italia Selatan adalah si buruk rupa di Negeri Piza. Kota-kota di sana--termasuk Naples sebagai kota terbesar--dikenal sebagai wilayah miskin dan beban negara yang merepotkan. Bahkan orang-orang utara meyakini bahwa mereka memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan penduduk selatan.

Naples ternyata menjadi palungan yang mulia. Maradona membawa Napoli menjadi klub Italia Selatan pertama yang merengkuh scudetto, tepatnya pada 1986/87. Tak cuma sekali, pencapaian itu diraihnya kembali pada 1989/90.

Dengan bola di atas kakinya Maradona menggenapi nubuat bahwa mereka yang tidak terpandang, mereka yang dihina dan tidak masuk hitungan orang kebanyakan justru diangkat sampai ke puncak. 

Dengan dua gelar juara itu, orang-orang seantero Italia Selatan memiliki alasan untuk mempersetankan segenap kekayaan dan kekuasaan orang-orang Italia Utara. Semusim sebelum scudetto kedua itu, Napoli bahkan menjuarai UEFA Cup 1988/89.

Dua scudetti, satu gelar juara Eropa, serta masing-masing satu trofi Coppa Italia dan Supercoppa Italiana mungkin bukan pencapaian yang kelewat mentereng untuk tim-tim seperti AC Milan atau Juventus. Namun, Napoli berbeda. 

Dalam kolomnya di Mundial Magazine, James Bird berbicara dengan seorang tukang kayu asal Naples bernama Giuseppe. Si tukang kayu tidak ingat-ingat amat dengan apa yang terjadi pada scudetto pertama karena masih kecil. Namun, ia tidak akan lupa dengan gelar juara UEFA Cup. Katanya, ia dan 14 orang keluarganya menonton bersama di dalam garasi. Bagi mereka gelar juara itu sangat penting. 

Sebagai suporter Napoli, mereka terbiasa dengan kekalahan. Istilah sepak bola sebagai tempat pelarian yang membebaskanmu dari kekalahan dalam hidup sehari-hari tidak berlaku bagi orang Naples. Sudah bercucuran peluh dan pulang ke rumah sebagai orang kalah, mereka masih harus menyaksikan tim kesayangan kalah di pertandingan dan tak juara.

Itulah sebabnya Maradona begitu berarti bagi Giuseppe, orang-orang Naples, dan Italia Selatan. Setelah sekian lama dihantam kekalahan bertubi-tubi, mereka akhirnya mengalami sendiri seperti apa rasanya jadi pemenang. Untuk beberapa saat, hidup jadi terasa adil.

Maradona ditempa di jalanan. Ia tidak butuh didikan akademi sepak bola papan atas untuk mengerti apa artinya menjadi pesepak bola. 

Ia tidak pernah mendapat keistimewaan dan tidak pernah merasa perlu untuk berlagak jadi orang berkelas. Yang dilakukan Maradona dari hari ke hari adalah bertahan hidup. Supaya dapat bermain bola di jalanan Villa Fiorito, ia harus tahu cara melepaskan diri dari kejaran para preman yang mengincar uangnya.

Untuk mendapat tempat di atas lapangan bola, Maradona harus terus-menerus mendorong dirinya lebih unggul daripada pemain-pemain lain yang bertubuh atletis dan tinggi menjulang. Maradona, si anak jalanan boncel, tahu bahwa ia akan kalah jika menjadi sama dengan orang lain. Itulah sebabnya, di level elite mana pun ia bermain Maradona selalu memasukkan imajinasi jalanan ke dalam permainannya.

Jangan heran jika sepak bola ala Maradona adalah gabungan dari permainan liar, tidak tertebak, kurang ajar, dan indah sekaligus. Gol tangan Tuhan yang dicetaknya ke gawang Inggris boleh saja dianggap sebagai kontroversi terbesar dunia modern. 

Bobby Robson boleh mencak-mencak dan menyebut Maradona sebagai pemain tak tahu aturan karena tetap berlagak kegirangan meski tahu bahwa ia membobol gawang Peter Shilton dengan tangan. 

Robson benar, Maradona memang bajingan dan tak tahu aturan. Maradona menetapkan aturannya sendiri karena di dalam imajinasinya, dialah aturan itu sendiri.

Maradona hanya perlu empat menit untuk menebus kekurangajarannya dengan gol yang selamanya dikenang sebagai yang terindah dan paling tidak masuk akal. Entah berapa banyak esai yang membahas apa yang dilakukan Maradona di menit-menit itu, mulai dari menyebutnya melompat-lompat lincah seperti kijang hingga ber-grand-jete seperti pebalet profesional.

Apa pun penjabarannya, yang jelas lewat gol itu Maradona membuktikan bahwa ia lebih dari sekadar bocah kurang ajar yang selalu berlindung di balik kemurahan hati Tuhan usai mengacau.

***

Bagi Giuseppe dan teman-teman masa kecilnya Maradona lebih dari bintang. Singkat cerita, Giuseppe bertutur bahwa ia dan teman-temannya sering bermain bola di jalanan dekat lapangan latihan Napoli. Suatu waktu saat sedang bermain seperti biasa, Giuseppe--yang sedang mendribel--mendengar seorang dewasa berseru kepadanya “Passa, passa!” atau “Oper! Sini, oper ke saya!” 

Giuseppe menoleh. Tanpa berlama-lama ia mengoper bola kepada orang tadi. Giuseppe tahu kepada siapa bola itu diopernya. Maradona. Entah bagaimana awalnya, Maradona ada di jalanan itu. Mengoper bola kepada Maradona di jalanan? Kapan lagi bisa kau lakukan?

Bagi Giuseppe, Maradona tidak hanya memberikan trofi dan gelar juara, tetapi pengalaman masa kecil yang akan tinggal diam di dalam ingatan.

Barangkali cerita-cerita seperti itulah yang membuat Maradona begitu spesial bagi orang-orang Naples. Pengalaman masa kecil Giuseppe yang membuat Bird--si penulis Mundial tadi--cuma bisa bergumam “Fuck” adalah satu dari entah berapa kejadian yang membuktikan bahwa Maradona begitu dekat, sangat dekat, dan lebih dekat dengan orang-orang Naples dibandingkan pesepak bola mana pun yang berulang kali mengumbar kata cinta kepada para suporter. 

Orang-orang boleh memuja Maradona sebagai Tuhan di atas lapangan. Namun, di jalanan kota Naples Maradona adalah manusia biasa yang terkekeh saat melihat kawannya nyungsep saat menendang bola di atas genangan air. 

Para jurnalis dan pundit boleh menilai Maradona sebagai genius lapangan hijau. Namun, Maradona adalah orang pertama yang meyakinkan remaja-remaja Naples bahwa orang biasa seperti mereka pun berhak bersukacita. 

Yang diberikan Maradona lewat kemenangan Napoli atas Internazionale, Juventus, dan Milan adalah sukacita yang dirawat oleh para remaja itu hingga dewasa meski menjalani masa usia dewasa sebagai pedagang oleh-oleh jelas bukan perkara mudah.

Bagi para pemujanya, Maradona adalah Tuhan. Namun, bagi anak-anak yang berteriak girang saat menggiring bola di siang bolong, Maradona adalah orang dewasa pertama yang membuat gereja tak lagi terlihat membosankan. 

Anak-anak yang kegirangan itu bermain bola di halaman gereja. Tempat itu menjadi stadion pertama mereka. Di pelataran itulah mereka bergaya seperti Maradona setiap kali berhasil membobol gawang yang dijaga kawan sendiri.

Bagi kita yang tidak menyentuh tanah Naples, yang tak punya kesempatan untuk bertemu langsung, bahkan yang hanya bisa menyaksikannya menggiring bola dan mencetak gol lewat video internet, Maradona barangkali menjadi pesepak bola pertama yang tidak pernah memaksakan kita untuk memegang aksioma. Ia membuat kita berani mempertanyakan aksioma. 

Kiprahnya di Napoli membuat kita sah-sah saja untuk menganggap bahwa Inter, Juventus, dan Milan adalah tim yang biasa-biasa saja. Tingkahnya saat memimpin Argentina merayakan kemenangan atas The Three Lions mempersilakan kita untuk mencibir saat orang-orang Inggris menganggap tanah mereka sebagai rumah sepak bola. 

Cara Maradona menggiring bola dan mempermainkan kepungan lawan membuat kita menilai Barcelona yang bermain dengan tiki taka tak ubahnya sekelompok anak pintar yang membosankan.

Ketika hari buruk datang tanpa putus dan orang yang paling ingin kita ajak bicara adalah yang paling sering membuat kita tersekat, kita berlari kepada apa-apa yang tak mungkin membuat kita terluka. 

Sebagian dari kita memilih memandangi lukisan Pablo Picasso, sebagian lagi membaca novel Ernest Hemingway, sebagian lagi memilih menonton pemanasan Maradona sebelum Napoli berlaga melawan Bayern Muenchen di semifinal leg kedua UEFA Cup 1988/99 di Olympiastadion Muenchen. 

Merespons lagu 'Live is Life' di sesi pemanasan tersebut, Maradona menimang-nimang bola dengan kakinya seperti pemain sirkus. Menontonnya bermain-main dengan bola di sesi itu terasa menyenangkan. Setelahnya kita tersadar, sebelum laga dimulai, Maradona sudah berhasil mendiamkan semua perdebatan tentang siapa pemain terhebat di muka Bumi.

***

Selasa (25/11/2020) Maradona meninggal. Henti jantung menghentikan seluruh tariannya di atas lapangan bola. Dunia berkabung. Orang-orang Argentina, Naples, dan entah di mana lagi berduyun-duyun menangisi kepergiannya. 

Namun, di antara sekian banyak isak tangis tampaknya ada satu yang tersenyum. Mungkin kepergian Maradona membuat Tuhan tersenyum. Dengan jalan itulah, Ia bertemu kembali dengan tangan-Nya. Tidak, Tuhan bertemu kembali dengan kaki (dan) tangan-Nya.