Dekat di Mata, Jauh di Klasemen

Ilustrasi: Arif Utama

Jika berbicara soal Derbi Merseyside, mengapa Everton terasa begitu inferior dibanding Liverpool? Mengapa "jarak" mereka begitu jauh?

Jarak Goodison Park ke Anfield begitu dekat. Kamu hanya membutuhkan waktu kurang dari 15 menit berjalan kaki untuk sampai ke markas Liverpool dari markas Everton itu. Kita juga bisa melihat banyak foto yang menampilkan Goodison Park dan Anfield hanya dipisahkan oleh sebuah taman. Sedekat itu.

Namun, kedekatan itu tidak tergambar di papan klasemen. Everton dan Liverpool terpaut jauh. The Toffees saat ini berada di posisi 14 klasemen. Sementara The Reds berada di urutan ketiga. 16 poin jarak antarkeduanya. Dan jarak yang lebar ini sudah berlangsung beberapa musim ke belakang.

Saat Liverpool jadi kampiun di musim 2019/20, misalnya, Everton hanya bisa duduk di posisi 12 klasemen. Musim lalu pun, saat Liverpool punya musim yang buruk dan cuma bisa duduk di posisi tiga klasemen, Everton hanya nangkring di posisi 10. Bahkan, sebelum menang 2-0 di Anfield musim lalu, Everton tak berhasil memenangi Derbi Merseyside dalam kurun waktu 10 tahun.

Terakhir kali jarak mereka dekat di papan klasemen adalah pada musim 2012/13. Kala itu, Everton berada di posisi enam dan Liverpool ada satu strip di bawahnya. Iya, di bawahnya. Everton memang tak melulu berada di bawah. Selama era Premier League, mereka tiga kali finis di atas Liverpool yakni pada musim 2004/05, 2011/12, dan 2012/13.

Jika mau melihat era yang lebih jauh lagi, tepatnya pada medio 1984 sampai 1987, Everton dan Liverpool saling bertarung di papan atas klasemen untuk memperebutkan gelar First Division (kompetisi teratas Inggris sebelum Premier League). Bahkan di musim 1984/85 dan 1986/87 Everton mampu menjadi juara dan menduduki tetangganya di tabel klasemen.

Akan tetapi, ya, itu: Belakangan Everton justru konsisten untuk tidak konsisten. Maksudnya, mereka punya potensi untuk terus berada dekat dengan tetangganya, tapi setelah itu mudah melorot lagi. Lantas, jika ditanya apa alasan di balik ketidakkonsistenan itu, jawabannya banyak. Banyak sekali.

Uang

Kita tak bisa menampik fakta bahwa, sebagai sebuah klub, Everton memang kalah besar dibanding Liverpool. Ini pula yang menyebabkan Everton sudah inferior duluan dibanding tetangganya untuk persoalan komersial. Jika menengok revenue pada tahun 2020, kita bisa menyaksikan angka yang didapat Liverpool dua kali lipat lebih banyak dibanding Everton.

Per data Deloitte Football Money League, Liverpool mendapatkan revenue sebesar 558,6 juta euro pada tahun tersebut. Sementara Everton hanya mendapat 212 juta euro. Jauhnya angka tersebut kemudian jadi berpengaruh terhadap perkembangan kedua klub ini. Tentu saja yang dapat lebih banyak akan lebih leluasa bergerak.

Namun, sebenarnya Everton punya pemilik yang lebih royal ketimbang Liverpool. Jika menilik data Swiss Ramble, sejak 2010 sampai 2020 para pemilik Everton telah menggelontorkan dana 348 juta poundsterling buat klub. Bandingkan dengan pemilik Liverpool (dalam hal ini Fenway Sports Group) yang hanya menggelontorkan dana 131 juta pounds dalam periode yang sama.

Grafis: Tifosy

Sayang saja, Everton tak punya strategi yang cukup bagus dalam memaksimalkan uang dan keroyalan pemilik mereka. Ketika di bursa transfer mereka memiliki anggaran yang lebih besar dari Liverpool, mereka tak melakukannya dengan baik (soal strategi transfer yang buruk itu akan kami jelaskan di bagian bawah).

Everton seharusnya mampu memaksimalkan itu dengan lebih baik. Setidaknya mereka kudu memiliki strategi yang lebih efektif ketimbang apa yang mereka lakukan saat ini. Sebab, klub yang pendapatan dan uang pemiliknya lebih rendah dari mereka seperti Leicester atau West Ham mampu punya prestasi lebih baik.

Strategi Transfer Buruk

Pada musim 2019/20, Everton menghabiskan 108,9 juta pounds untuk belanja pemain. Saat itu, total ada enam pemain (termasuk satu loan) yang mereka datangkan ke Goodison Park. Para pemain itu adalah Moise Kean, Jean-Phillippe Gbamin, Andre Gomes, Alex Iwobi, Fabian Delph, dan Djibril Sidibe.

Dan berapa di antara nama itu yang sukses? Well, kalau boleh jujur, sih, yang paling lumayan cuma Andre Gomes. Delph tak buruk, tapi juga tak gemilang. Sisanya yakni Kean, Gbamin, dan Iwobi boleh kita katakan sebagai transfer gagal. Kean bahkan sekarang sudah tak berseragam Everton--dia dipinjamkan ke Juventus dengan opsi pembelian.

Sementara Gbamin lebih banyak berada di ruang perawatan ketimbang di atas lapangan. Padahal ia didatangkan dengan mahar 22,5 juta pounds dari Mainz. Iwobi juga samanya. Sejak didatangkan dari Arsenal dengan harga 27 juta pounds, pemain berpaspor Nigeria itu tak mampu berbuat banyak. Dua musim terakhir ia cuma mencetak dua gol dan dua assist di Premier League.

Dan, ya, transfer buruk Everton bukan cuma mereka saja. Masih ada Cenk Tosun, Davy Klaassen, Sandro Ramirez, Yannick Bolasie, sampai Oumar Niasse. Mereka dibeli dengan harga yang tak murah, tapi kemudian tak bisa memberi kontribusi sepadan. Bahkan lebih banyak dipinjamkan ke klub lain ketimbang dimainkan.

Dalam 10 tahun terakhir, Everton telah menghabiskan uang 664,4 juta pounds untuk belanja pemain. Angka itu adalah yang terbanyak ketujuh di Premier League. Everton hanya kalah dari para 'Big 6'. Oleh karena itu, harusnya Everton bisa lebih konsisten di liga. Setidaknya untuk bersaing memperebutkan satu tempat di kompetisi antarklub Eropa. Untuk menipiskan jarak dengan Liverpool.

Namun, kenyataannya tidak begitu. Terakhir kali mereka finis di posisi tujuh besar adalah pada musim 2016/17 dan terakhir kali mereka bermain di kompetisi antarklub Eropa adalah semusim setelahnya. Dalam rentang satu dekade, Everton bahkan tiga kali finis di luar 10 besar. Hasil yang tak sesuai dengan pengeluaran besar mereka.

Everton harus mulai memperbaiki strategi transfer mereka. Tak boleh asal beli pemain. Mungkin departemen pemandu bakat mereka perlu diperbaiki. Atau, mereka bisa belajar dari musim ini. Bahwa meski cuma mengeluarkan uang tak lebih dari 5 juta pounds, mereka mampu mendapat pemain seperti Demarai Gray atau Andros Townsend yang berimpak positif buat tim.

Di sinilah tugas Direktur Sepak Bola, Michael Brands. Brands mungkin bisa mengulangi pencapaiannya di AZ Alkmaar dan PSV Eindhoven di mana ia mampu membawa dua tim itu meraih juara setelah melakukan pembenahan pada strategi transfer dan memperbaiki jaringan pemandu bakat. PSV di bawah Brands saat itu bahkan jadi salah satu tim dengan rata-rata usia termuda yang meraih trofi Eredivisie.

Bingung Memilih Pelatih

Dalam satu dekade terakhir, Everton telah mempekerjakan tujuh manajer (permanen) berbeda. Dari tujuh nama itu, tentu saja yang paling sukses adalah David Moyes. Ialah sosok yang mampu membuat Everton finis di lima besar Premier League. Namun, selepas kepergian Moyes pada 2013, Everton seperti kebingungan memilih pelatih.

Roberto Martinez dan Ronald Koeman sempat terlihat menjanjikan, tapi kemudian angin-anginan dan pada akhirnya didepak juga. Everton juga sempat memilih Marco Silva yang ternyata lebih sering kehilangan poin ketimbang mendapat poin penuh. Kemudian ada Sam Allardyce yang, kita tahu, ya, seorang Allardyce.

Sebenarnya Everton mendapat asa saat berhasil punya Carlo Ancelotti. Jika melihat angka persentase kemenangan pun, catatan Ancelotti adalah yang terbaik di antara nama-nama pelatih yang kami sebutkan di atas. Dari 67 pertandingan (jumlahnya bahkan lebih banyak dari Koeman dan Silva), pelatih asal Italia ini mampu mencatat persentase kemenangan 46,27%.

Sayangnya, Everton tak bisa mempertahankan Ancelotti. Ketika tawaran kembali ke Spanyol datang, Ancelotti tak menolak. Ia lebih memilih Real Madrid ketimbang bertahan di Goodison Park. Keputusan yang pada akhirnya membuat Everton menunjuk Rafa Benitez. Sosok kawakan yang sejauh ini belum bisa membawa Everton tampil meyakinkan (cuma menang lima kali dari 15 laga).

Di sinilah harusnya Everton sadar. Mereka juga tak bisa asal menunjuk manajer. Mereka kudu punya rencana yang jelas atas timnya, seperti mau bermain bagaimana. Dari situ mereka bisa mencari sosok yang tepat. Bahkan mereka juga bisa mencari pelatih yang bisa memberikan identitas buat tim--katakanlah mirip penunjukan Ralf Rangnick di Manchester United baru-baru ini.

Everton kudu mencontoh tim seperti Brighton, Leicester, atau West Ham yang mampu naik kelas dan punya identitas karena ketepatan dalam menunjuk pelatih. Bukan kebetulan pula bahwa tiga tim itu adalah tim yang berhasil merusak tatanan 'Big 6' dalam beberapa musim terakhir--termasuk apa yang kita lihat musim ini.

Kendati pun mereka ingin terus percaya pada seorang Benitez, manajemen tetap kudu punya plan yang jelas. Mereka bisa meminta Benitez mau membawa Everton ke arah mana, sembari juga memfasilitasi manajer asal Spanyol itu. Karena bila keduanya sinergis, Everton mungkin bisa bernasib lebih baik.

***

Melihat apa yang sudah mereka lewati dan apa yang sudah mereka habiskan, Everton harusnya bisa lebih baik dari ini. Setidaknya mereka tak terpaut terlalu jauh di bawah tetangganya, Liverpool. Sebab, ketika derajat Everton naik, prestise Derbi Merseyside pun juga akan naik. Kalau kondisinya begini kan orang banyak yang tidak peduli. Derbi yang harusnya besar jadi dianggap tak penting karena berat sebelah.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.