Dengan Jersi Three Little Birds, Ajax Menghidupi Kebebasan

Foto: Instagram @afcajax

Jersi ketiga musim 2021/22 Ajax mencuri perhatian. Jersi itu terinspirasi dari lagu Three Little Birds milik Bob Marley yang juga menjadi lagu kebesaran Ajax.

Gitar Gibson Les Paul, Alkitab, ganja, dan bola adalah empat benda yang dikuburkan bersama Bob Marley. Musisi tersebut meninggal dunia pada 11 Mei 1981 dan dikuburkan 10 hari setelahnya. Waktu yang panjang itu adalah kesempatan bagi dunia untuk memberi penghormatan terakhir baginya.

Barang terakhir, bola, adalah bukti bahwa Marley tidak pernah berjauh-jauhan dengan sepak bola. Saking dekatnya, ia tidak ingin melupakan sepak bola bahkan pada hari kematiannya.

Sakit yang merenggut nyawa Marley pernah dikaitkan dengan sepak bola. Marley didiagnosis mengidap kanker kulit (melanoma) ganas. Kabar buruk itu datang pada Juli 1977. Urban legend yang beredar saat itu menyebut bahwa lesi yang dimiliki Marley pada kulitnya adalah akibat dari cedera saat bermain sepak bola pada tahun tersebut. 

Namun, sejumlah dokter menentang. Kata mereka, itu adalah gejala awal si kanker ganas. Dokter-dokter yang menanganinya sangat merekomendasikan agar Marley pensiun dan beristirahat total. Dasar Marley, tak ada yang sanggup memisahkannya dengan musik, bahkan kanker ganas sekali pun. Marley tetap melanjutkan kariernya dan menelurkan album terakhir berjudul Uprising pada Mei 1980. Marley pada akhirnya kolaps saat joging di area Central Park dan langsung dilarikan ke rumah sakit.

Sejak bocah, Marley memang terkenal ahli menggiring si kulit bundar. Serupa dengan epik yang kerap mencuat di antara cerita-cerita lapangan hijau, Marley memulai sepak bolanya dari jalan raya dan gang-gang sempit. dari lapangan berbatu-batu yang permukaannya tak rata. 

Bola pertama Marley terbuat dari kardus. Entah bagaimana caranya ia membuat kardus bisa menggelinding. Marley tidak peduli dengan segala macam aturan yang membuat suatu permainan sah disebut sebagai sepak bola. Yang terpenting, ia bisa bergembira dengan bermain sepak bola.

Maka ketika Marley bertumbuh menjadi pribadi yang menggerakkan dunia dengan musiknya, sepak bola tidak pernah benar-benar pergi dari kehidupannya. Ke mana pun melakoni tur, Marley selalu membawa bola sepak. Terkadang ia bermain bersama kru dan bandnya, terkadang ia berlaga melawan para jurnalis.

Agustus 2008, Ajax melakoni laga persahabatan melawan Cardiff FC. Pada akhir pertandingan, suporter Ajax diminta untuk tinggal di tribune. Klub lalu menyanyikan lagu Three Little Birds milik Marley. Suporter Ajax menikmati dan ikut menyanyikan lagu tersebut. Itu adalah cinta pada pendengaran pertama. Sejak saat itu, suporter Ajax menggunakan Three Little Birds sebagai chant, berapa pun skor akhirnya.

Lagu itu berkata bahwa segala sesuatunya akan baik-baik saja. Dunia dan kehidupan tidak selalu menyuapimu dengan perkara-perkara manis. Namun, tidak ada manusia yang diciptakan hanya untuk diluluhlantakkan. Pada akhirnya, seberat apa pun hidup dan semenyebalkan apa pun dunia, kita berhak untuk berkata bahwa segala sesuatunya akan baik-baik saja.

****

Ajax tahu benar cara membuat dunia sepak bola mengalihkan pandangan kepada mereka. Pada musim 2021/22 ini, mereka tampil trengginas. Kemenangan besar menjadi headline yang melulu terdengar jika kita membicarakan Ajax. Sudah tujuh kali mereka menutup pertandingan dengan tak kurang dari 4 gol di kompetisi liga: Menang 5-0 masing-masing atas NEC, Vitesse, Fortuna Sittard, PSV, RKC Waalwijk, dan Willem II, serta 9-0 atas SC Cambuur. Di Liga Champions pun demikian. Setelah menang 5-1 atas Sporting CP, mereka memukul Borussia Dortmund 4-0.

Namun, pesona Ajax tak hanya terlihat dari cara mereka bermain dan pesta gol. Mereka pun memikat pencinta sepak bola dengan memunculkan jersi ketiga musim 2021/22 pada 20 Agustus 2021. Jersi itu unik. Menggunakan warna dasar hitam, pada leher bagian belakang terdapat gambar tiga burung kecil berwarna merah, kuning, dan hijau yang bertengger di atas tanda silang Andreas Amsterdam yang terdapat pada logo kebesaran Kota Amsterdam. 

Ketiga tanda silang pada logo Amsterdam itu adalah simbol bagi slogan Kota Amsterdam: Heldhaftig, Vastberaden, Barmhartig, yang berarti Gagah Berani (Valiant), Teguh (Steadfast), dan Welas Asih (Compassionate). Ketiga nilai itulah yang juga dihidupi oleh Ajax sebagai klub sepak bola meski menghajar lawan hingga 9-0 tidak berarti mereka melupakan nilai berwelas asih. Selain itu, pada bagian lengan terdapat aksen warna merah, kuning, putih yang juga menjadi warna kebesaran Marley.

Anak Marley, Cedella Marley, berkata bahwa gesture Ajax ini bersifat personal baginya. Siapa pula yang menyangka bahwa ayahnya yang orang Jamaika itu berhasil menyentuh puluhan ribu suporter Ajax yang sebagian besar hidup di Belanda? 

"Saya sangat tersentuh bahwa Ajax telah menggunakan Three Little Birds dan menjadikannya chant kebesaran mereka. Cerita seperti ini menghangatkan hati saya dan menunjukkan betapa berdampaknya lagu-lagu seperti Three Little Birds. Sepak bola adalah segalanya bagi ayah saya. Mengutip kata-katanya: Sepak bola adalah kebebasan," jelas Cedella.

Sadar atau tidak Ajax dan Belanda adalah kebebesan. Dengan racikan taktik geniusnya, legenda Ajax dan sepak bola dunia, Johan Cruyff, membebaskan sepak bola dari ruang yang sempit. Ia menggunakan imajinasi untuk menciptakan total voetball. Sejak kemunculan taktik itu, sepak bola tidak lagi berbicara tentang taktik dan intelejensi, tetapi juga imajinasi, fantasi. 

Sepak bola pula yang membebaskan entah berapa banyak orang dari kungkungan nasib. Marley tidak lahir dari keluarga kaya-raya. Sebelum menjadi musisi yang mendunia, ia berkawan karib dengan kemiskinan. Namun, sepak bolalah yang memberinya kebebasan untuk menikmati kebahagiaan.

Sepak bola adalah kawan yang mempersilakannya untuk tertawa riang seperti kaum berada. Sepak bola yang dikenal Marley adalah sepak bola yang tak mengenal aturan. Tidak peduli bolamu terbuat dari kardus atau sesuai standar profesional, tidak peduli lapanganmu berbatu-batu atau dilapisi rumput berskala stadion internasional, selama mau, kamu bisa menendang bola dengan gembira. 

Sepak bola adalah kunci yang membukakan pintu kesenangan bagi orang-orang yang hampir setiap hari menjadi pecundang dan pesakitan. Sepak bola adalah jalan terang bagi mereka--dan mungkin kita--yang saban hari hidup dalam pekat yang menyesakkan.

Sepak bola pula yang memberikan jalan keluar bagi Megan Rapinoe atau Josh Cavallo untuk terbuka tentang orientasi seksualnya. Sepak bola pula yang memberi harapan kepada Andres Iniesta untuk keluar dari cengkeraman gangguan jiwa. Sepak bola bukan senjata, tetapi kawan bagi kita untuk melawan vonis sang palu nasib.

****

Ketika muncul berita tentang larangan UEFA tentang jersi Ajax, tidak heran klub ini kembali menjadi pembicaraan. Dalam pernyataannya, UEFA menjelaskan bahwa sejak pengajuan rancangan jersi pada September 2020, mereka telah melarang Ajax untuk menampilkan tiga burung kecil tersebut pada jersi. Menurut mereka, itu melanggar aturan UEFA yang mengatur agar ornamen-ornamen tertentu pada jersi. 

Mengutip tulisan Zak Garner-Purkis di Forbes, pabrikan jersi Ajax, adidas, telah mengetahui larangan tersebut dan mereka mempersiapkan produk lain dengan tetap mempertahankan desain dasar. Itulah sebabnya, dalam laga melawan PEC Zwolle, Ajax tetap menggunakan jersi serupa.

Kata serupa menjadi kunci. Jika diperhatikan, pada jersi tersebut tidak ada gambar burung kecil seperti yang mereka tampilkan saat peluncuran resmi. Itu artinya, pabrikan jersi memang telah mempersiapkan pengganti sebelum berita tentang larangan tersebut merebak.

Jika ditelisik, ini adalah langkah cerdas. Strategi pemasaran dan penjualan. Ajax, meskipun dilarang, tetap menampilkan jersi dengan tiga burung kecil pada hari peluncuran jersi ketiga dan menggunakannya pada kompetisi lokal setelah laga melawan Zwolle tadi. 

Langkah yang terkesan rebel ini ternyata dapat menyedot animo publik. Sasarannya tentu saja meningkatkan penjualan merchandise dan penjualan secara global. Direktur Komersial Ajax, Menno Geelen, menjelaskan bahwa penjualan jersi ketiga itu lebih besar empat kali lipat daripada biasanya.

Ajax tidak menentang, tetapi menyiasati peraturan. Bukankah itu merupakan manifestasi cerdas dari watak rebel? Dengan strategi pemasarannya itu Ajax membebaskan diri dari hukuman dan larangan. Dengan strateginya itu pula, Ajax menghidupi sepak bola sebagai kebebasan, persis seperti yang dipercayai oleh Marley: Setidaknya kebebasan dari bermacam-macam aturan yang membuat pening.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.