Derby della Capitale dan Kebencian yang Tak Pernah Usang

Suporter Lazio melakukan vandalisme pada logo AS Roma di Derby della Capitale (15/4/2018). Foto: Marco Iacobucci Epp - Shutterstock.

Kalau perlu, kebencian terhadap rival sekota harus lebih besar daripada cinta pada klub sendiri.

Jika Kitab Suci memiliki kisah Kain dan Habel untuk membuktikan bahwa perseteruan paling sengit dan getir hampir selalu melibatkan orang-orang terdekat, sepak bola mempunyai Derby della Capitale.

Duel itu mempertemukan Lazio dan AS Roma dalam satu lapangan yang sama. Entah berapa banyak esai yang menyebut laga ini sebagai duel terpanas di ranah sepak bola Italia. 

Kebencian kepada Roma adalah nilai yang dipegang kuat-kuat oleh suporter Lazio. Aturan ini juga berlaku sebaliknya. Para suporter Roma harus mampu merawat kebencian mereka kepada Lazio. Kalau perlu, kebencian terhadap rival harus lebih besar daripada cinta pada klub sendiri.

Prinsip itu bukan idealisme besar bacot belaka. Pada Serie A 2009/10, suporter Lazio meminta timnya mengalah saja dari Inter Milan. Ketika itu Inter sedang bersaing ketat dengan Roma untuk merengkuh takhta juara. Kalau Lazio menang, besar kemungkinan Roma yang bakal menjuarai Serie A. 

Permintaan suporter itu terlihat jelas dari spanduk-spanduk yang dibentangkan di sepanjang laga. “Nando, biarkan bola melewatimu, maka kami akan tetap menyayangimu." "Zarate, jika kau mencetak satu gol saja, kami paketkan kau ke Buenos Aires." "Jika Lazio unggul pada menit 80, kami serbu lapangan.”

Spanduk-spanduk tersebut membuat Jose Mourinho yang kala itu melatih Inter geleng-geleng kepala. Ia takjub dengan kegigihan suporter Lazio merawat kebencian saat mereka sedang dalam situasi tak sedap. Ketika laga itu dihelat, Lazio ada di peringkat 17 alias dekat betul dengan zona degradasi. 

Hasilnya benar-benar sesuai harapan suporter Lazio. Inter menang 2-0, ultras Lazio merayakan kekalahan selayaknya kemenangan. 

Mundur beberapa musim ke belakang, suporter Roma melakukan hal yang prinsipnya serupa. Pada Serie A 2000/01, Roma menumbangkan Lazio 1-0. Ironisnya, gol semata wayang itu berasal dari bunuh diri bek Lazio, Paolo Negro. Pada derbi berikutnya, Negro mendapat standing applause dari suporter Roma saat memasuki lapangan. 

Tingginya tensi di tribune penonton juga dapat menjalar ke atas lapangan. Buktinya adalah derbi pada Desember 2016. Insiden siram-menyiram antara Danilo Cataldi dan Kevin Strootman tidak hanya berujung pada larangan bermain, tetapi juga cekcok di luar lapangan yang melibatkan Senad Lulic dan Antonio Ruediger.

Banyak yang meyakini bahwa akar permusuhan tersebut adalah keputusan Lazio menolak bergabung dengan tim-tim Kota Roma. Cerita ini bermula dari zaman pemerintahan Benito Mussolini. Sang diktator ingin mengembalikan kejayaan Roma seperti zaman Romawi Kuno. Ia menghimpun klub-klub sepak bola berbasis di Roma untuk bersatu. 

Mussolini memandang sepak bola sebagai alat yang tepat untuk mewujudkan ambisis fasisnya. Di mata Mussolini, sepak bola adalah gabungan dari harmoni, kedisiplinan, ketertiban, dan keberanian. Nilai-nilai itu dianggapnya pas untuk membangunkan kembali Romawi yang perkasa. Sepak bola juga dapat mengantarkan sebuah negara ke cita-cita Mussolini selanjutnya, berjaya di tingkat dunia. 

Meski demikian, Lazio menolak tawaran tersebut. Itu artinya, pada 1927 lahirlah AS Roma yang sekarang kita kenal yang merupakan gabungan dari Fortitudo-Pro Roma SGS, Roman FC, dan SS Alba-Audace.

Penolakan Lazio kabarnya berawal dari intervensi Giorgio Vaccaro. Sebenarnya Vaccaro dan Mussolini sama-sama fasis. Namun, penolakan ini membawa embel-embel status Lazio sebagai klub kalangan borjuis. Identitas ini berlawanan dengan identitas Roma yang mewakili semangat proletar. 

Italia bukan hanya negara yang gemar menjamumu dengan kesenangan dan makanan yang membuatmu tutup telinga terhadap ajakan diet. Negeri ini adalah tempat yang aneh, mereka begitu memuja regionalisme. Orang-orangnya lebih suka menyebut diri sebagai Roman, Sisilian, atau Tuscan, ketimbang orang Italia.

Kondisi demikian sudah muncul di era Mussolini dan sepak bolanya itu. Lazio yang terbentuk pada 1900 berkeras mengeklaim bahwa merekalah klub Roman yang sebenarnya. Dibandingkan AS Roma versi merger yang lahir pada 1927, tingkat ke-Roman-an mereka jauh lebih tinggi.

Suporter Roma tentu tidak terima. Dengan urat leher yang menegang mereka mencap Lazio sebagai tim yang bukan dari Roma. Pasalnya, identitas Lazio sebagai tim borjuis membuat mereka memiliki banyak suporter dari kawasan Italia Utara yang dihuni oleh kalangan berduit tebal.

***

Abang saya dan saya adalah anak kembar. Meski cuma tua dua menit dari saya, tetap saja dia harus dipanggil abang. 

Awalnya memang menyebalkan. Namun, lama-kelamaan saya berpikir dan menyadari ada banyak hal yang bisa terjadi dalam dua menit, termasuk dalam sepak bola, yang membuat saya mempersetankan persoalan waktu yang tak seberapa itu. Kalau tidak percaya, silakan bertanya pada Zinedine Zidane, Sergio Aguero, atau Georginio Wijnaldum.

Kami dengan versi dewasa seperti sekarang adalah dua manusia yang cuek dengan apa-apa yang tidak kami anggap penting. Selama kami yakin kami berdua baik-baik saja, silakan menjalani hidup dan merengkuh impian masing-masing. Namun, dulu kami tidak seperti itu. Kami getol bersaing. Penyebabnya cuma satu, kuping kami panas dengan perbandingan. 

Entah bagaimana sebabnya, selama beberapa tahun kami pernah belajar di kelas yang sama. Orang yang membandingkan-bandingkan tambah rajin saja. Di titik itu, kami juga heran kenapa ada banyak orang--termasuk yang kami anggap terdekat sekalipun--begitu senang membanding-bandingkan, padahal mereka tahu kami punya bakat yang berbeda. 

Suatu waktu mereka akan berkata kepada saya untuk menjadi seperti abang yang mendapat nilai yang lebih tinggi. Di hari lain, mereka akan menyuruh abang saya untuk menjadi seperti saya yang mendapat peringkat lebih tinggi saat kenaikan kelas.

Perlakuan seperti itu melahirkan atmosfer persaingan yang cukup pekat antara abang dan saya. Kami memiliki keinginan yang sama, menjadi yang terhebat, diakui sebagai orang yang harus selalu dicontoh oleh masing-masing kami.

Lama-kelamaan keinginan itu berubah, dari diakui sebagai yang terhebat menjadi membuat abang saya tidak bisa menjadi yang terhebat. Begitu pula dengan abang saya. Dia berusaha sekuat mungkin untuk membuat saya tidak bisa dijadikan sebagai contoh.

Persaingan kami menjadi seperti pertengkaran saat adu layangan. Bukan bertengkar karena ingin menang, tetapi karena menginginkan layangan yang sama dengan teman sepermainan.

Roma dan Lazio mirip seperti itu. Rivalitas bertambah sengit begitu mereka resmi memiliki kandang yang sama, Stadio de Olympico, sejak 1953. Tadinya Lazio bermarkas di Stadion Rondinella, sedangkan Roma menjadikan Motovelodromo Appio sebagai kandang sebelum pindah ke Campo Testaccio.

Awalnya mereka hanya sama-sama ingin merengkuh kemenangan di stadion itu. Keinginan itu pada akhirnya bergeser, dari merengkuh kemenangan menjadi menyaksikan lawan gagal meraih kemenangan. 

Perubahan itu yang membuat permintaan suporter Lazio supaya tim mereka mengalah dari Inter jadi terkesan wajar. Hasrat seperti itu pula yang membuat para suporter sibuk mengolok-olok kekalahan rival sekota di media sosial, padahal pada saat yang sama tim mereka juga dihantam lawan.

Segala sesuatu yang dirawat akan bertumbuh, begitu pula dengan kesumat. Masalahnya, tidak ada yang mengetahui dengan pasti mengapa suporter Lazio dan Roma begitu setia merawat kebencian itu hingga sekarang. 

Kesumat itu relevan jika dikembalikan pada zaman Mussolini dan Vaccaro. Kedua tim sama-sama punya kewajiban untuk membuktikan bahwa bapak mereka adalah yang paling benar. 

Lazio yang ditopang oleh Vaccaro merasa perlu untuk membuktikan bahwa Roma yang ideal adalah Roma yang lahir dari sepak bola Lazio. Sebaliknya, AS Roma yang lahir dari "rahim" Mussolini percaya bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk membuat dunia mengakui bahwa Roma yang sebenarnya tergambar lewat sepak bola mereka.

Masalahnya, fasisme sudah mati. Para petinggi Italia sekarang pun menegaskan bahwa mereka menolak fasisme di Negeri Piza. Seharusnya kesumat macam itu juga ikut usang. 

Ketika para pemain serta pelatih sudah tak peduli-peduli amat dengan kebencian dalam laga derbi, suporter berkeyakinan lain. Barangkali itu pula yang membuat para pemain Manchester United dan Manchester City anteng-anteng saja untuk berpelukan usai laga, sedangkan Roy Keane yang statusnya sudah berubah menjadi suporter atau penonton murka dengan fragmen tersebut. 

Harga diri. Mungkin itu satu-satunya alasan yang membuat suporter Lazio dan Roma tetap merawat kebencian sampai sekarang. Harga diri yang ditentukan lewat keberhasilan memenangi perseteruan adalah bensin yang membuat suporter Lazio dan Roma gigih menghidupi kisah yang mirip legenda Romulus dan Remus: Bahwa jika ingin hidup di tanah Roma kau harus menjadi Romulus.

====

*Nando dalam spanduk suporter Lazio pada laga melawan Inter Milan mengacu pada  Fernando Muslera. ** Zarate dalam spanduk di laga tersebut adalah Mauro Zarate.

***AS Roma sempat bermarkas di Rondinella pada 1929.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.