Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now

Derita Neymar

Foto: Instagram @neymarjr.

Cedera adalah kawan akrab Neymar. Alih-alih menertawainya, barangkali lebih baik kita menasihati Neymar untuk mengubah gaya mainnya supaya tak terus-terusan cedera.

Neymar jadi bahan olok-olok di Piala Dunia 2018. Alih-alih membawa Brasil menjadi juara, dia justru sibuk berguling-guling sampai entah ke mana. Neymar bergelinding menuruni bukit, meluncur di hamparan salju tebal, menabrak orang-orang di pemukiman, melintas di jalan raya, hingga berujung di jaring laba-laba.

Adegan itu adalah apa yang kita saksikan di banyak meme terkait Neymar pada hampir semua laga ajang tersebut. Waktu itu, Neymar memang berulang kali terjatuh dan berguling karena berduel dengan lawan. Dia bahkan jadi pemain yang paling sering dilanggar (10 kali) pada laga perdana Piala Dunia dalam 20 tahun terakhir.

Tiap kali terjatuh dan berguling-guling di rumput lapangan, ekspresi kesakitan Neymar terlihat amat nyata. Ia meringis perih, wajahnya memelas, salah satu tangannya memegang kaki yang terasa sakit, sementara tangan lainnya terangkat meminta bunyi peluit tanda pelanggaran dan hukuman kartu dari wasit.

Namun, lebih banyak yang menyebut Neymar melakukan diving ketimbang yang percaya. Orang-orang menyamakannya dengan aktor Hollywood kelas atas sebab ragu terhadap kebenaran di balik semua insiden terjatuh itu. Lantas, Neymar Challenge jadi tren sekaligus bahan olok-olok di jagat maya.

Banyak alasan untuk tak menyukai Neymar dan kebiasaan terjatuh yang seolah berpura-pura itu adalah salah satunya. Saking seringnya ini terjadi, orang-orang sampai tak percaya lagi terhadap semua kabar cedera pemain Paris Saint-Germain (PSG) itu, termasuk yang baru saja menimpanya pada laga melawan Caen bulan lalu.

Situs resmi klub mengabarkan bahwa sang megabintang menderita cedera aduktor longus kiri sehingga mesti absen cukup lama. “Setelah analisis dan pemeriksaan klinis dan pemeriksaan citraan, diperkirakan Neymar akan absen selama sekitar empat minggu, tergantung pada hasil pemeriksaan berikutnya,” demikian tertulis.

Sebagian mengira cedera itu hanyalah akal-akalan Neymar. Levelnya sama seperti yang kerap kita lihat di rumput lapangan tiap kali ia berguling-guling sampai entah ke mana. Yang jadi pembeda, kali ini Neymar diduga sengaja berpura-pura cedera karena ingin menghadiri pesta ulang tahun saudara perempuannya di Brasil sana.

Dugaan itu erat kaitannya dengan tanggal ulang tahun, yakni 11 Maret, yang berdekatan laga melawan Barcelona di babak 16 besar Liga Champions. Di sisi lain, ini seolah jadi ‘agenda’ tahunan. Pada 2017, 2018, dan 2019 Neymar juga mengalami cedera pada waktu yang tak jauh dengan hari ulang tahun si saudara perempuan.

Orang-orang lantas memodifikasi kalimat terkenal Benjamin Franklin dalam suratnya kepada Jean-Baptiste Le Roy pada 1789 untuk mengolok-olok Neymar. “Tidak ada yang pasti dalam hidup ini kecuali pajak, kematian, dan Neymar cedera saat ulang tahun saudara perempuannya.”

Namun, bagaimana jika ternyata Neymar benar-benar menderita cedera? Bagaimana jika yang dia rasakan selama ini, semua keluh-kesah yang kerap ia lontarkan, segala adegan berguling-guling dramatis di atas lapangan, memang betulan semenyebalkan dan semenyakitkan itu?

Ayah Neymar pernah bercerita bahwa anaknya kerap menangis pada hari pertama tiap kali mengalami cedera. Neymar, sementara itu, berbagi di Instagram dan menyebut bahwa rasa sakit yang ia alami sangat luar biasa. Saking perihnya, Neymar sampai tak bisa berhenti mengeluarkan air mata. Begitu katanya.

“Untuk kesekian kalinya, lagi-lagi, saya mesti menjauh dari hal yang paling saya sukai, dari sepak bola,” ucap eks pemain Barcelona tersebut.

Pada akhirnya memang cuma Neymar yang paham semua yang dia rasakan. Kita, selain mengolok-olok, hanya bisa melihat bahwa semua cedera itu membuat dia mesti absen pada begitu banyak pertandingan. Bahkan bila dibandingan dengan Ousmane Dembele yang juga terkenal rentan cedera, yang dia alami masih lebih parah.

Jika Dembele tampil pada 106 dari 200 laga Barcelona sejak debut beberapa tahun lalu (53%), Neymar hanya terlibat dalam 103 dari 197 laga PSG sejak debut pada musim 2017–18 (52,3%). Bila kita rinci, sudah 19 kali Neymar menderita cedera selama berseragam Les Parisien.

Salah satu yang paling parah terjadi pada musim pertamanya di PSG. Waktu itu, Neymar absen selama 114 hari atau sebanyak 17 pertandingan PSG akibat cedera metatarsal. Angka tersebut bertambah menjadi 22 pertandingan jika cedera minor lain ikut ditambahkan.

Saat masih berseragam Barcelona, Neymar memang sudah karib dengan cedera. Namun, yang dia alami selama di Catalunya tak separah di Paris. Selama empat musim, cedera terparah yang dia derita hanya memaksanya absen selama satu bulan. Ini terjadi dua kali, tepatnya pada musim 2013–14.

Neymar sebetulnya punya masa depan cerah di Barcelona. Kombinasi mautnya bersama Luis Suarez dan Lionel Messi, yang kita kenal sebagai ‘trio MSN’, selalu sanggup bikin lawan bergidik ngeri. Capaian terbaiknya terjadi pada 2014–15 ketika meraih treble winner.

Konon, Neymar juga disiapkan sebagai penerus takhta Messi sebagai pemain terpenting di Barcelona. Namun, Neymar yang ambisius enggan sekadar jadi penerus. Dia ingin menjadi yang terbaik ketika Messi, juga Cristiano Ronaldo, masih aktif menggiring bola.

Untuk melakukannya, seperti yang pernah dikisahkan Dani Alves, rekannya sesama Brasil, Neymar ingin lepas dari bayang-bayang sosok Messi terlebih dahulu. Jordi Mestre yang waktu itu berstatus wakil presiden Barcelona mengamini hal tersebut.

“Neymar merasa tidak akan pernah menjadi nomor satu selama Messi di Barcelona. Dia akhirnya menyadari bahwa untuk bisa menjadi pemain nomor satu dunia, dia harus meninggalkan Barca dan saya kira bukan masalah jika dia berpikir seperti itu,” tutur Mestre.

Neymar punya segala hal untuk jadi yang terbaik di muka bumi. Dia cepat, jago dribel, kreatif, juga tajam. Selama empat musim di Barcelona, dia mampu mencetak 105 gol dan 76 assist. Di PSG, sayangnya, catatan cedera Neymar jauh lebih mencolok ketimbang performa di atas rumput lapangan.

Lantas, biaya transfer sebesar 222 juta euro dari PSG untuk menebus Neymar dari Barcelona seolah cuma investasi bodong. Harganya mahal, tetapi tak banyak yang bisa PSG dapat. Mereka boleh masih dominan di Ligue 1. Di Liga Champions, walau begitu, ceritanya sungguh berbeda.

Buat Neymar sendiri, riwayat cedera ini seolah memaksanya untuk segera melupakan ambisi menjadi pemain terbaik di dunia. Jangankan lepas dari bayang-bayang sekaligus merebut singgasana Messi, sinarnya bahkan semakin redup berkat kedatangan Kylian Mbappe beberapa musim lalu.

Namun, cerita belum sepenuhnya usai. Pada usia yang masih 29 tahun, kesempatan bagi Neymar untuk menunjukkan rupa sesungguhnya masih ada. Apalagi, sebetulnya capaian individu dia di PSG sama sekali tak buruk. Neymar mampu mencetak 83 gol dan mengkreasikan 47 assist dari 103 pertandingan.

Kuncinya terletak pada upaya untuk sebisa mungkin menghindari cedera.

Ada sejumlah cara yang bisa Neymar tempuh dan mengandalkan perlindungan dari wasit bukan salah satunya. Kenapa? Sebab ini sudah Neymar lakukan berkali-kali. Hasilnya terbukti tak efektif karena Neymar masih saja bolak-balik ruang perawatan.

Menurut Tim Vickery, koresponden ESPN khusus sepak bola Amerika Selatan, Neymar bisa mempertimbangkan untuk mengubah gaya main. Jika selama ini dia kerap mengandalkan kecepatan dan berbagai macam trik, mungkin sudah saatnya untuk bermain lebih cerdas dan efektif.

Perubahan itu bisa berdampak krusial sebab setidaknya mengurangi kemungkinan berbenturan dengan lawan. Apalagi, selama ini para pemain lawan kerap berusaha menghentikan semua magi Neymar lewat segala cara, bahkan pelanggaran keras yang disengaja.

Masih segar dalam ingatan ketika Xabier Etxeita mengejar lalu menghajar Neymar pada final Copa del Rey 2015 melawan Athletic Bilbao. Di pengujung laga, Neymar melakukan gerakan rainbow flick yang tentu sedap dipandang mata tetapi sama sekali tak berguna.

Neymar tak peduli kala itu, tetapi kini ia mulai melunak dan mempertanyakan apakah ada yang salah dari caranya bermain.

“Kadang-kadang saya merasa tidak nyaman dengan gaya main saya sendiri karena tiap menggiring bola, lawan terus-menerus menerjang. Namun, saya tidak tahu apakah masalahnya adalah saya atau apa yang saya lakukan di lapangan?” tanya Neymar.

Pada masa lampau, sebagian pemain bintang Brasil yang ditempa jalanan tak cuma punya keunggulan teknis luar biasa, tetapi juga fisik. Vickery menyebut nama Zizinho, bintang Brasil di Piala Dunia 1950, yang tak segan ‘menyakiti’ dan mengintimidasi lawan.

Zizinho menggambarkan hal itu sebagai keterampilan ‘bertahan hidup’ di sepak bola yang keras dan tanpa perlindungan. Namun, menurut Vickery, cara terbaik untuk bertahan hidup adalah kemampuan menilai kapan harus menggiring bola dan kapan harus mengoper ke pemain lain.

Hal seperti itu yang tak pernah dimiliki Neymar. Selama ini, sepak bola Neymar adalah sepak bola rumit dan penuh trik yang bisa memancing semua lawan untuk terus menghajar kaki-kaki ajaibnya.

Ayah Neymar boleh bilang bahwa sang anak akan selalu bangkit tiap kali diterjang lawan lalu menderita cedera. Pertanyaannya, mau sampai kapan?

Kaki Neymar tak terbuat dari besi, sedangkan waktu tak akan pernah berhenti. Jika belum ada perubahan, kita hanya akan menunggu salah satu dari dua hal: Neymar tak bisa lagi berlari karena terus-menerus cedera atau keburu pensiun tanpa pernah meraih catatan berarti.

Daftar The Flanker Academy

Dengan mendaftar Rp500.000, kamu akan mendapatkan kelas-kelas seputar konten sepak bola yang dibagikan langsung oleh para pakarnya. Mulai dari bahasa dalam kepenulisan bersama Dea Anugrah, scriptwriting dengan Rossi Finza Noor, penulisan opini oleh Ilham Zada, analisis taktik bersama Ruang Taktik, riset dalam sepak bola dengan Dex Glenniza, hingga personal branding bersama Coach Justin.

Sign up now