Di Pundak Mereka, Roma Menaruh Beban (dan Harapan)

Foto: @ASRomaEN.

Keputusan Mourinho melakukan perubahan terhadap Veretout, Mkhitaryan, dan Pellegrini berbuah manis. Kini, Roma tidak bisa dipandang sebelah mata.

Jose Mourinho enggan memulai eranya di AS Roma dengan cara yang biasa.

Di bawah Mourinho, Roma jadi klub Serie A yang paling banyak mengeluarkan uang di bursa transfer musim panas 2021. Duit 97 juta euro yang mereka keluarkan jauh di atas AC Milan, yang jadi tim kedua dalam urusan pengeluaran dengan 72 juta euro.

Beberapa pemain berkualitas datang, seperti Rui Patricio, Roger Ibanez, Eldor Shomurodov, dan Tammy Abraham. Abraham, yang didatangkan dari Chelsea dengan biaya 40 juta euro, bahkan jadi pembelian termahal kedua Roma sepanjang sejarah.

Masuknya nama-nama tersebut membuat Roma sekarang dinilai jauh lebih baik ketimbang musim lalu saat dipegang Paulo Fonseca. Mereka berhasil menyapu bersih dua pertandingan perdana dengan kemenangan. Baiknya lagi, Roma berhasil mencetak gol, setelah menang 3-1 atas Fiorentina dan 4-0 atas Salernitana.

***

Keputusan Roma melakukan transfer jitu disebut jadi sebab mereka berhasil. Abraham, sejauh ini berhasil mencetak 1 gol dan 2 assist. Pemain baru lain, Matias Vina, juga sudah membukukan 1 assist. Sementara itu, Patricio tangguh di bawah gawang dengan 3,5 penyelamatan per pertandingan.

Namun demikian, melihat 2 pertandingan awal, yang paling menonjol bukanlah nama-nama baru. Tiga nama, Henrikh Mkhitaryan, Lorenzo Pellegrini, dan Jordan Veretout, seakan lebih layak jadi bintang dan kunci keberhasilan Roma untuk sementara.

Di bawah Mourinho, Roma rutin menggunakan pola 4-2-3-1. Dari lima posisi di lini tengah, empat di antaranya rutin diisi oleh Bryan Cristante, Veretout, Pellegrini, dan Mkhitaryan. Satu posisi lain diisi Nicolo Zaniolo dan di laga kedua ditempati oleh Carles Perez.

Cristante dan Veretout jadi dua pemain yang mengisi dua pos di depan bek. Cristante memegang peran sebagai deep-lying playmaker. Sementara itu, Veretout memegang peran gelandang box to box.

Peran ini telah dilakoni oleh Veretout sejak musim lalu. Meski melakoni tugas yang sama, Veretout lebih gemilang sejauh ini. Hal tersebut tidak hanya dapat dilihat dari koleksi golnya, tapi juga kontribusinya terhadap serangan.

Salah satu kelebihan Veretout adalah penempatan posisi. Oleh Mourinho, kemampuan tersebut amat dimanfaatkan. Tugas Veretout kini tidak hanya terbatas dalam membantu mengorganisir serangan saja, melainkan juga membantu tugas gelandang serang dan penyerang dalam mencetak gol.

Dua gol yang ia ciptakan ke gawang Fiorentina jadi contoh kelihaian Veretout dalam mencari ruang di pertahanan lawan. Siapa yang menyangka ia, yang notabene adalah gelandang tengah, bergerak dalam posisi yang lebih tinggi ketimbang gelandang serang.

Kemudian ada Mkhitaryan. Mkhitaryan dikenal sebagai gelandang serang flamboyan. Tak ada yang dapat meragukan kapasitasnya dalam membangun serangan. Ia pandai memulai serangan sampai mengirimkan umpan terobosan.

Ada satu yang kurang dari Mkhitaryan. Ia tak punya kemampuan saat diberi tugas bertahan, seperti tekel dan intersep. Sejak bergabung Manchester United pada musim 2016/17, ia amat jarang terlihat berkontribusi besar saat tim kehilangan bola.

Mourinho seakan ingin mengubah cap tersebut. Di bawah kendalinya, Mkhitaryan coba ia sulap jadi gelandang serang yang siap merebut bola. Tugas tersebut ditunaikan dengan baik. Di mana pun bola berada, Mkhitaryan siap mengejarnya.

Tugas tersebut membuat catatan bertahan Mkhitaryan meroket, terutama yang berkaitan dengan tekel di daerah permainan lawan. Musim ini, ia sudah mencatat 0,59 tekel per 90 menit di sepertiga akhir pertahanan lawan. Paling tinggi sejak ia bermain untuk United.

Soal kontribusi terhadap serangan, apa yang ditunjukkan oleh Mkhitaryan sekarang tidak jauh berbeda ketimbang musim lalu. Ia masih diberi kebebasan untuk bergerak, entah dari area sayap atau tengah.

Kemampuan dalam mengirim bola ke kotak penalti jadi perkembangan paling signifikan Mkhitaryan di bawah Mourinho. Sejauh ini, ia sudah melepaskan 2,94 umpan per 90 menit ke kotak penalti lawan, lebih baik ketimbang musim lalu yang hanya 1,57 umpan per 90 menit.

Meningkatnya kontribusi Mkhitaryan dalam mengalirkan bola ke kotak penalti lawan bisa jadi disebabkan oleh meningkatnya tugas. Melihat gaya bermain Roma, Mkhitaryan tampak seperti mengambil porsi dari tugas Pellegrini.

Musim lalu, keduanya sama-sama bertindak sebagai penyuplai penyerang. Yang membedakan, Mkhitaryan berada di posisi yang lebih tinggi. Saat ini, tugas Pellegrini untuk mengalirkan bola ke depan jauh berkurang.

Pellegrini mencatat 1,42 umpan ke kotak penalti lawan musim lalu. Di musim ini, ia sama sekali belum mengirimkan umpan ke kotak penalti lawan. Ia justru mencatat pertumbuhan jumlah sentuhan di kotak penalti lawan dari 2,7 menjadi 3,68 per 90 menit.

Perubahan tersebut seakan menunjukkan bahwa Pellegrini lebih banyak diberi tugas untuk bergerak di kotak penalti lawan alih-alih mengirimkan umpan. Pilihan tersebut manjur, Pellegrini kini sudah mencetak dua gol.

***

Tangan dingin Mourinho sejauh ini mampu mengubah Roma. Berbagai macam pendekatan yang ia lakukan terhadap lawan terbukti lewat dua kemenangan.

Di atas lapangan, Veretout, Mkhitaryan, dan Pellegrini punya peran amat besar. Keputusan Mourinho menaruh beban kepada mereka seakan terbukti dengan penampilan brilian yang ditunjukkan. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada pemain yang lain, rasanya tiga pemain ini layak diberi apresiasi lebih.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia The Flanker

Jika kamu menikmati konten dari The Flanker, kini kamu bisa memberikan dukungan dengan mentraktir kami via Trakteer. Dengan sistem traktir minimal Rp20.000, kamu bisa terus mendukung The Flanker menghasilkan konten-konten berkualitas dan tanpa iklan yang mengganggu.