Direktur Perlu Bicara

Direktur Sepak Bola St. Pauli, Andreas Bornemann. Foto: Riiana Izzietova

Di Bundesliga, para direktur teknik hampir berbicara ke media tiap pekannya. Di Inggris, ini sangat jarang terjadi.

Baru saja akhir pekan lalu Andreas Bornemann berbicara secara terbuka, meladeni wawancara jurnalis.

Pada perbincangan itu, Direktur Olahraga (Sepak Bola) St. Pauli berbicara banyak hal: Strategi transfer klub di musim dingin ini, masa depan beberapa pemain yang ada di skuad, kemungkinan untuk merekrut pemain A, B, dan sebagainya.

Suatu ketika saya mewawancarai Bornemann soal strategi transfer St. Pauli yang banyak mengambil pemain dari Inggris Raya, dan ia menjelaskan alasannya dengan terbuka.

Saya pernah bertanya kepada Simon Rolfes, Direktur Olahraga Bayer Leverkusen, soal proses pencarian bakat serta strategi transfer mereka. Dan ia juga secara terbuka menjelaskan beberapa poin pada saya.

Saya melihat dan mendengar langsung direktur-direktur lain seperti Sebastian Kehl (Borussia Dortmund), Clemens Fritz (Werder Bremen), sampai Rouven Schröder (Borussia Mönchengladbach) berbicara, menjawab pertanyaan-pertanyaan perihal klub.

Di Jerman, seorang direktur olahraga bisa berbicara hampir tiap pekan kepada wartawan, hampir selepas laga kepada televisi. Mereka juga duduk di bangku cadangan saat laga berlangsung. Kehadiran mereka terbuka.

Direktur Sepak Bola di Bundesliga duduk di bangku cadangan selama pertandingan. Foto: Riiana Izzietova

Dan kondisi ini, buat saya, ideal: Karena mereka adalah pengambil kebijakan dalam tugas-tugas yang tidak dikerjakan pelatih, seperti transfer misalnya. Ide besar soal apa yang terjadi di lapangan juga adalah tugas mereka, jadi sepatutnya merekalah yang layak menjelaskan.

Situasi lain terjadi di Inggris, di mana para direktur olahraga atau teknik atau sepak bola jarang sekali tampil di publik. Padahal, publik atau media juga butuh penjelasan dari mereka perihal beberapa pokok terkait klub.

Saya sepakat dengan mereka yang telah menulis ini sebelumnya: Para direktur-direktur di Inggris patutnya muncul ke publik, berbicara dan menjelaskan.

Seperti yang ramai saat ini, berpisahnya Enzo Maresca dengan Chelsea atau dipecatnya Ruben Amorim oleh Manchester United, misalnya. Rasanya publik layak mendengar Laurence Stewart, Paul Winstanley, atau Dave Fallows untuk menjelaskan soal Maresca, serta Jason Wilcox untuk meluruskan desas-desus di balik pemecatan Amorim.

Bila situasi ini terjadi di Jerman, saya yakin sudah ada penjelasan akan pergantian pelatih ini. Simon Rolfes, misalnya, langsung menjelaskan mengapa ia memilih memecat Erik ten Hag saat Bundesliga baru berjalan dua laga.

Situasi di Inggris makin problematik karena saat ini Premier League sudah berganti era. Yang duduk di bangku cadangan bukan lagi seorang manajer, melainkan seorang pelatih.

Manajer, seperti Pep Guardiola, Jürgen Klopp, atau dulu Sir Alex Ferguson serta Arsene Wenger, punya kendali yang besar atas tugas-tugas di luar kepelatihan. Mereka juga bertanggung jawab atas transfer klub, hubungan dengan akademi, serta operasi keseharian klub tersebut.

Saat ini, situasinya tidak seperti itu. Memang masih ada Guardiola atau Mikel Arteta yang saat ini berstatus sebagai manajer dan punya hak untuk menentukan transfer (bersama direktur).

Namun, nama-nama seperti Maresca, Amorim, Thomas Frank atau Arne Slot hanyalah seorang pelatih (kepala). Tugas mereka hanyalah melatih: Meracik strategi, memilih siapa-siapa yang akan bermain, memimpin latihan atau singkatnya tugas mereka hanya seputar lapangan.

Well, tentu mereka juga bisa memberi masukan untuk transfer, tapi mereka tak memiliki kendali untuk memutuskan seperti para manajer. Kendali untuk ini sekarang dipegang penuh oleh para direktur.

Oleh sebab itu, sudah selayaknya para direktur-direktur ini hadir langsung untuk menjelaskan. Sebab bertanya kepada Slot atau Frank soal transfer rasanya kurang tepat sasaran, karena mereka tak punya kendali untuk itu.

Tak semua pelatih pula tampaknya mau menjadi tameng, menceboki para direktur dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Tak semua mau menjadi seperti Slot, misalnya, yang menjawab bahwa timnya tak butuh bek tengah baru saat mata telanjang bisa melihat bahwa Liverpool kekurangan pemain pada pos tersebut. Mungkin kemampuan menjadi tameng ini pula yang membuatnya masih bertahan (dan disukai manajemen).

Dan menjadi ironi pula bila seorang pelatih sampai dipecat gara-gara ia mengeluh, menunjukkan ketidakpuasan di konferensi pers ketika menjawab pertanyaan soal transfer atau kebijakan klub. Sebab, ini memang bukan ranah mereka. Bukan kewenangan mereka. Para direktur itulah yang seharusnya menjawab.

Amorim, misalnya, punya hak untuk berang saat dirinya ditanyai wartawan soal transfer-transfer Manchester United. 

Para pelatih tadi juga hanya bertahan beberapa musim (bahkan bisa kurang dari semusim) saja, dan karenanya kurang tepat bagi mereka untuk menjawab kebijakan atau strategi jangka panjang klub—toh, mereka belum tentu ada di sana.

Situasi ini juga mengurangi akuntabilitas—sesuatu yang pasti diinginkan para suporter. Sebab, para direktur inilah yang harusnya dimintai atau ditanyai pertanggungjawaban terhadap banyak hal dalam sebuah klub seperti pemain yang flop, pelatih yang gagal, kegagalan mendapat trofi, dan sebagainya.

Pelatih kepala saat ini rasanya hanya layak untuk berbicara soal apa yang terjadi di lapangan (taktik, strategi, kondisi atau performa pemain) serta apa yang terjadi di latihan. Sebab, ya, tugas mereka memang itu.

So, harusnya para direktur tak lagi bersembunyi. Mereka harusnya tak lagi punya kemewahan untuk tak pernah tampil ke publik atau meladeni wawancara jurnalis. Mereka harusnya tak hanya diam saat sesuatu terjadi pada klub, saat ada aspek yang gagal, saat ada keberhasilan.